Menggapai Surgaku

Menggapai Surgaku
Prolog


__ADS_3

"Qobiltu nikahaha wa tazwijaha alal mahril madzkuur wa radhitubihi, wallahu waliyu taufig".


" Bagaimana saksi sah??" Tanya penghulu yang di sambut sorak sorai dari para saksi dan undangan dengan mengatakan " Sah!! Sah!! Sah!!!"


...----------------...


" Ummi, bilangin ke abah Alma mboten purun mondok."


" Wes toh, Nduk... Jangan ngerengek terus."


" Atau mondoknya nanti aja ya mik kalau Alma sudah besar."


" Tunggu sampai kamu tau rasanya mondok, nanti gantian kamu yang gak mau pulang ke rumah Ummi."


" Gak mungkin niku Ummi."

__ADS_1


Selama perjalanan aku tak henti hentinya membujuk Ummi untuk mengurungkan niatnya mengirimku ke pondok. Aku memang gak mau ke pondok, aku enggan kalau harus tinggal jauh terpisah dari kedua orang tuaku terlebih lagi kalau harus jauh dari Ummi. Mobil terus melaju kencang meninggalkan kota pahlawan, kota kelahiranku yang indah.


Entah berapa lama dan jauhnya perjalanan yang kami tempuh, yang aku rasa tidurku lumayan nyenyak dan tanek mungkin karena jarak yang di tempuh lumayan cukup jauh.


" Wes toh Nduk ojo nagis ae, isin karo Kyai Jabar dan Nyai Faridah." Tutur Ummi saat pertama kali mengantarku ke pondok, aku yang saat itu hanya menangis sesenggukan karna akan di tinggal pulang oleh Abah dan Ummi.


" Ummi, Ummi mboten sayang nggeh kaleh Alma?"


" Nduk, Rungok'ke Ummi arep matur."


Gak ada satu pun orang tua di dunia ini yang gak sayang sama anaknya, semua orang tua sayang dengan anak mereka dan mereka ingin memberi yang terbaik untuk masa depan anaknya kelak. Lepas bagaimana cara mereka menyampaikan niatnya setiap orang tua punya caranya masing masing. Begitupun yang Abah dan Ummi lakukan kami sangat menyayangimu Nduk, rasa sayang kami begitu besar untukmu Nduk. Itu kenapa kami ingin memberimu bekal yang paling baik untukmu menjalani hari harimu kelak, bekal yang mampu kami berikan bukan harta yang berlimpah namun ilmu yang bermanfaat bagi kehidupanmu kelak.


Mendengar wejangan Ummi yang panjang dan seolah penuh makna semakin membuatku berurai air mata tangisku pecah tak lagi dapat ku bendung, berulang kali aku mencoba menyeka kedua mataku dengan punggung tanganku namun tetap saja air mata ini meluncur deras dan jatuh ke kedua pipiku seolah ada aliran air dalam disana.


Ummi memelukku sambil mengusap punggungku membuat tangisku sedikit mereda dan hatiku lebih tenang meskipun nafasku masih tersengal sengal karena menahan badai tangisku yang tak habis habis. Belum juga bisa ku hentikan tangisku Abah dan Ummi kembali pamit untuk melanjutkan perjalanan kembali pulang ke surabaya. Seketika badai dahsyat kembali berkecamuk di dadaku air mata kembali membanjiri wajahku saat kedua orang tuanya masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi meninggalkanku di pondok pesantren milik Kyai Jabar.

__ADS_1


Seperti anak yang di buang, itulah perasaan yang aku rasakan saat itu. Merasa tidak di cintai, merasa tidak di sayangi dan merasa di tinggalkan. Pondok adalah rumah kedua untuk anak santri sepertiku dan yang lain,dimana waktu yang kami punya lebih banyak di habiskan di pondok dari pada di rumah orang tua kami sendiri.


Dan dari sanalah sebagian besar cerita hidup anak santri dimulai. Bagaimana kami yang di ajarkan untuk ikhlas, sabar dan legowo.


.


.


.


" Cah ayu kok nangisan." Ejek pemuda yang saat ini berdiri di sampingku. Aku yang sama sekali enggan untuk menanggapi perkataan pemuda yang kini melihatku sambil tersenyum mengejek. Dengan perasaan yang masih sebal, aku hanya meliriknya sekilas lalu menunduk lagi dan kembali menangis.


" Nangis terus opo ora pegel. Tak kandani ya ndek kene iki nggon sepi, Nek sepi iki biasane akeh demit'e pean gak wedi ta mbendino nangis nang kene??engko nek di parani demit yo'opo??"


" Sampean toh demit'e??" Balas ku sinis karena merasa terganggu dengan kehadirannya sambil mengusap air mata yang jatuh di pipiku.

__ADS_1


Pemuda itu hanya tersenyum melihat ku membalas kata katanya dan tak lagi menangis sesenggukan.


Begitulah awal mula pertemuan ku dengan mas Abhi, pemuda yang ku ketahui adalah anak pemilik pondok pesantren tempatku berada saat ini. Pertemuan yang sederhana namun memberi kesan untukku. Karena dari sanalah aku mulai bisa menerima diriku untuk tinggal dan belajar di pondok pesantren ini, tempat yang asing dan jauh dari rumah. Tempat yang mengajarkan aku tentang banyak hal baru dalam hidupku.


__ADS_2