Menggapai Surgaku

Menggapai Surgaku
H- 2


__ADS_3

Cek... Cek... !!!


Satu... Dua... !!


" Kurang pas iki Lek, sek gema kurang resik." Kata salah satu kang kang yang tengah mengecek mic.


" Coba mic sijine Ton. Ojok sing iku, sing gak gawe kabel ae. Nang kerdus sebelah kono mic'e warna kuning." Sahut teman seprofesinya yang umurnya lebih tua.


Kembali kang kang sound system itu mengecek mic yang kali ini sudah di ganti dengan mic warna kuning tanpa kabel.


Cek... Cek.. !!!


Dua... Dua... !!! Cek... Satu, Dua... !!!

__ADS_1


Dua... Cek... Satu, Dua... !!!


" Wes, pas iki Lek. Wes mantep."


" Saiki ganti mic sing di pasang nggo terbangan nang panggung iko Ton."


" Siap Lek."


Ummi mengadakan pengajian di depan rumah dengan memanfaatkan plataran rumah yang memang luas dan juga jalanan depan rumah, beruntungnya rumah kami ini di dalam komplek jadi bila ada hajat yang di tutup ya jalanan depan rumah saja tidak sampai mengganggu jalan utama. Ummi dan abah memang kerap mengadakan pengajian di rumah dari pada sewa gedung dan sebagainya, kata abah lebih baik pengajian di rumah biar rumah selalu terdengar lantunan ayat al quran, ben adem kata abah.


Kali ini ummi mengundang seorang penceramah wanita yang berasal dari kota surabaya juga, yang namanya memang sedang kondang di surabaya. Penceramah yang masih sangat muda dan mungkin umurnya tidak jauh beda dengan umurku namun sepertinya lebih di atasku, nama beliau juga sama seperti aku memanggil ibuku, " Ummi " .


Meskipun umur beliau jauh lebih muda di banding dengan jamaah yang akan mengikuti pengajian hari ini namun beliau mempunyai wawasan luas dan sudah berpengalaman menyebarkan dakwah kemana mana.

__ADS_1


Terlihat beberapa orang tengah bersiap menggelar karpet yang akan di gunakan untuk duduk lesehan di depan panggung dengan tinggi yang tidak seberapa itu. Karpet bludru berwarna biru panjang itu pun kini membentang di sepanjang jalanan depan rumah. Tiga kipas blower berukuran cukup besar di tata menyebar berharap agar semua jamaah tidak merasakan kegerahan saat jalannya acara nanti.


Sedangkan di dalam rumah terlihat kesibukan yang tidak kalah riwehnya dengan yang ada di luar tepatnya di area panggung, di sini terlihat para ibu ibu sedang bersiap mengepack bermacam macam jajanan yang ke banyakan adalah kue basah ke dalam sebuah kardus ukuran sedang, setiap satu kardus berisi kue basah yang jumlahnya sekitar tujuh macam dengan di tambah satu botol air mineral yang di kemas di dalam satu kantok plastik agar memudahkan saat pembagian.


Lain halnya dengan bagian dapur yang tengah bersiap untuk menyajikan nasi rames yang sudah di sajikan di atas piring dan di tata rapi di ruang tengah, makanan itu nantinya akan di sajikan sebagai konsunsi untuk panitia penyelenggara acara dan semua kru yang ikut membantu jalannya acra.


Aku yang hanya bisa melihat semua kehebohan di area dapur itu melalui celah pintu kamarku yang tidak tertutup sempurna karena baru saja sepupuku mengirimkan makanan untukku.


Ya di sinilah aku berada, di dalam kamarku menyaksikan segala aktifitas yang terjadi di rumahku tanpa bisa ikut terjun di dalamnya. Bukannya aku tidak mau beringan tangan dengan membantu mengerjakan yang ada di sana, atau sedang enak enakan berpangku tangan sambil menyaksikan yang lain repot memgerjakan ini dan itu. Aku ingin sekali membantu dan sudah pernah mencoba membantu dengan ikut menyiapkan beberapa hal yang ada di dapur waktu itu. Bukannya ucapan terima kasih yang kudapat justru aku mendapat omelan yang tidak habis habis dari bude budeku yang datang jauh jauh dari luar kota. Bukan omelan yang pedas dan kasar yang ku dapat, melainkan bentuk keperdulian beliau padaku namun di bungkus dengan tuturan khas orang tua.


" Lho... Lho... Lho... !!! Sopo sing ngongkon kowe melbu pawon nduk? Kowe iki calon nganten, mbisuk di braeni. Gak oleh nek melbu pawon." Katanya sambil menggandengku dan mengajakku kembali lagi masuk ke kamar. " Manten gak oleh nang pawon, ben mene nek di braeni manglingi." Ucap budeku menambahi kalimatnya yang tadi.


Dan dengan manutnya aku hanya mengikuti semua arahan dari sesepuhku saja. Aku tidak mau di salahkan nantinya karena tidak menurut apa yang di bilang oleh orang tua. Itu kenapa aku hanya bisa diam di kamar sembari melihat lihat keadaan sekitar dari balik pintu kamarku yang terbuka sedikit, Ummi hanya memperbolehkan aku keluar nanti saat mengikuti pengajian di teras rumah.

__ADS_1


__ADS_2