
Setelah pertemuan mereka di cafe, kini el sudah berada di apartemen dan tengah duduk santai di ruang keluarga. El duduk di sofa yang ada di ruang keluarga dan meminta alma untuk ikut duduk, kini keduanya duduk bersebelahan dengan jarak yang tidak terlalu jauh.
Posisi seperti ini membuat alma susah berkonsentrasi karena dirinya terlalu gugup mengingat mereka tidak pernah berada di satu ruang yang sama dengan posisi duduk yang bersebelahan seperti sekarang di tambah lagi el meminta alma duduk di sampingnya saat tak ada keluarga keduannya disana, mungkinkah suaminya itu sudah mulai membuka hatinya untuk alma.
Alma yang berusaha untuk tenang saat berada di samping el, meskipun tak dapat di pungkiri bahwa saat ini jantungnya berdetak lebih cepet dari biasanya. Bahkan mungkin saat ini alma membutuhkan pemeriksaan medis untuk memeriksa kondisinya karena sepertinya ada yang tidak beres pada tubuhnya akhir-akhir ini terlebih saat dirinya berada di dekat El.
Itu terlihat dari telapak tangannya yang mulai basah, bahkan kini keningnya pun mulai muncul bintik-bintik keringat.
El memecah keheningan dengan memulai pembicaraan.
" Al ada yang harus aku sampaikan ke kamu."
" Ada apa Mas?"
" Kamu tau kan pernikahan ini bukan aku yang mau. Aku menikahimu karena permintaan kedua orang tuaku."
" Alma faham Mas, Mas juga sudah pernah menyampaikan hal itu pada alma."
" Kamu juga tau kan Al, kenapa aku gak bisa menerima kamu di sisihku."
__ADS_1
" Mas tenang aja, Alma cukup sadar posisi Alma disini." Alma mengatakan itu sambil menahan tangisnya agar tidak pecah di hadapan suaminya yang sama sekali tak mengharapnya.
" Aku tidak membencimu Al, tapi aku juga tidak bisa mencintaimu."
Alma hanya diam tanpa menjawab perkataan suaminya, mendengarnya saja sudah membuat Alma sakit. Apalagi harus menjawab perkataan yang akan semakin mempertegas posisinya bahwa dirinya tidak pernah di harapkan disana.
" Sebenarnya apa yang ingin Mas sampaikan ke Alma. Langsung saja ke intinya."
" Besok, setelah pulang dari kantor aku akan menjemputmu untuk bertemu dengan kekasihku. Aku juga tidak tau kenapa dia ingin menemuimu?"
Mendengar setiap kata yang keluar dari mulut El seperti mengandung belati yang setiap katanya menggores hati Alma.
Hati alma begitu sakit mendengar setiap kata yang diucap suaminya, dadanya terasa begitu sesak hingga untuk bernafas saja membuatnya kesulitan.
Pandangan matanya tertutup kabut air mata entah berapa banyak buliran air mata yang sudah jatuh membasahi kedua pipi dan jilbabnya. Alma tidak ingin suaminya tau kalau dia sedang menangis.
Dengan menahan sesak dan air mata dia berusaha menjawab pertanyaan suaminya.
" Iya mas, Alma akan pergi kemana pun mas minta." Alma mengambil nafas sejenak sebelum kembali melanjutkan kata-katanya.
__ADS_1
" Kalau sudah tidak ada yang di sampaikan, Alma permisi ke kamar." Tanpa menunggu jawaban dari el, Alma sudah lebih dulu berjalan masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam.
Sesampainya di dalam kamar Alma berlari masuk ke dalam kamar mandi menghidupkan keran wastafel dan juga shower tidak hanya itu alma juga menyalakan keran bathtub tujuannya supaya meredam suara yang mungkin saja terdengar keluar saat ia menangis.
Alma menangis sejadi-jadinya dan kali ini dia tidak bisa membendungnya lagi hatinya begitu sakit, tidak tau apa yang harus dia lakukan ingin rasanya dia menyerah tapi dia juga tidak ingin mengecewakan ummi dan abahnya. Lama sekali alma menangis di kamar mandi dan selama itu juga air terus mengalir.
Alma baru keluar dari kamar mandi saat tangisnya mulai reda namun hati dan perasaannya tetap saja terluka, terluka karena perkataan dan juga sikap El padanya. Alma tidak pernah menyangka dirinya akan merasa sesakit ini hanya karena kata-kata yang El ucapkan padanya.
Alma memutuskan untuk merebahkan dirinya di kasur dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Saat waktu makan malam tiba alma yang sudah bangun tetap pada posisinya di bawah selimut menjadikan selimut sebagai benteng pertahanannya yang kuat. Terdengar suara pintu kamarnya di ketuk.
" Al, apa kamu tidur al?"
Alma yang mendengar El mengetuk dan memanggilnya pun enggan untuk sekedar membalas dan menanggapinya, Alma memilih untuk tetap diam.
" Al." Suara itu terdengar lagi.
" Alma... Apa kamu sudah tidur?" Kali ini suara terdengar sedikit lebih keras. Namun alma masih juga tidak menjawab rasa sakitnya membuatnya mengacuhkan panggilan itu.
Karena merasa panggilannya di abaikan oleh Alma, El pun memutuskan untuk masuk ke kamarnya sendiri.
__ADS_1