
"Hah …. Kenapa mama masih menyimpan foto ini di sana, sih? Sudah kubilang untuk menyimpannya di gudang," gerutu Artha sambil menatap foto masa kecilnya.
Khumaira sangat ingin memiliki seorang putri. Jika saja ia tidak mengidap penyakit yang diharuskan untuk mengangkat rahimnya, mungkin mereka bisa memilikinya. Namun, harapannya pupus setelah kehilangan rahim akibat penyakit tumor ganas.
Saat kecil, Artha terlihat seperti anak perempuan. Khumaira memakaikan baju laki-laki, tapi dia mengikat rambut Artha yang saat itu gondrong. Ia mengabadikan foto itu sebagai kenang-kenangan sekaligus barang ancaman.
Karena foto itulah, Artha tidak berani lagi memiliki rambut panjang. Siapa sangka, foto itu masih dipajang di kamar tamu, kamar yang dulu ditempati Artha saat kecil. Alasannya sepele, dia enggan naik tangga.
"Gadis itu pasti sedang tertawa, kan?"
"Hahaha …."
Suara tawa Bunga terdengar sampai ke kamar Artha. Di kamarnya, Bunga sampai merasakan nyeri perut karena terlalu banyak tertawa. Tidak hanya Artha yang mendengar suara tawa gadis itu, tapi kedua orang tua Artha.
“Apa yang membuat Bunga tertawa sekeras itu?” tanya Hendry kepada sang istri yang sedang melepas kemeja dan menggantinya dengan piyama tidur.
“Tidak tahu. Biarin aja, Pa. Mama senang mendengar dia tertawa. Bukankah, itu berarti dia … menerima pertunangannya dengan putra kita?”
“Benar juga. Aku pikir, dia, akan menangis terus karena dijodohkan dengan putra kita yang urakan,” kelakar Hendry.
“Hush! Sembarangan saja! Anakku cuma salah bergaul. Dia tidak urakan. Kamu, kali, Pa, yang urakan saat muda dulu,” ketus Khumaira yang tidak terima Artha dihina oleh Hendry.
Mulut laki-laki itu pun terkatup seketika. Ia sangat takut jika sang istri sudah berbicara dengan nada kesal. Alamat dia bisa tidur di ruang kerja.
Mereka berbaring dan mematikan lampu. Di kamar masing-masing, Artha dan Bunga pun melakukan hal yang sama. Namun, keduanya tidak dapat terlelap.
Bunga ingin pulang ke rumahnya sendiri. Ia tidak pernah menginap di rumah orang lain sebelumnya. Gadis itu terpaksa menginap karena Khumaira memohon padanya.
Sementara itu, Artha pun memikirkan hal yang tidak jauh berbeda. Ia tidak sabar menanti pagi tiba karena mereka akan pergi mengunjungi rumah milik Bunga. Khumaira dan Hendry juga akan ikut bersama mereka.
***
__ADS_1
Di bandara, seorang laki-laki berperawakan sedang, berdiri sambil memejamkan mata. Ia merentangkan kedua tangannya, lalu menarik napas dalam-dalam. Laki-laki itu baru saja keluar dari pintu kedatangan luar negeri.
Alden Arkan Suryatama, putra pertama dari pasangan Hendry dan Khumaira. Ia kembali ke negara kelahirannya setelah mendengar kabar pertunangan Artha. Laki-laki itu mengundurkan diri dari pekerjaannya tanpa memberitahu siapa pun.
“Ah …. Segarnya ….”
Alden membuka mata dan tersenyum. Laki-laki dengan tinggi 168 cm itu memiliki lesung pipi yang cukup dalam, mirip dengan seorang penyanyi yang sangat populer. Saat Alden tersenyum, rasanya seperti ada es yang mencair, menghangatkan, melenyapkan kebekuan.
“Kita pergi sekarang, Mas?” tanya sopir taksi yang selesai memasukkan koper ke bagasi.
“Ya, Pak.” Alden masuk ke mobil dan duduk di bangku depan.
Ia lebih suka duduk di depan, karena ia tidak ingin terlihat lebih baik dari sopir itu. Dengan duduk di depan, ia merasa posisi mereka sama. Ya, begitulah sifat Alden, terlalu memikirkan pandangan orang lain. Padahal, belum tentu sopir itu merasa direndahkan olehnya.
Alden ingin membuat kejutan untuk kedua orangtuanya. Mereka sudah sering membujuknya untuk bekerja di dalam negeri saja, tapi Alden selalu menolak. Tanpa memberikan alasan yang jelas, ia tidak ingin kembali ke Indo. Namun, tiba-tiba saja dia berubah pikiran.
Mama dan papa pasti sangat terkejut melihatku. Tidak sabar rasanya untuk melihat reaksi mereka.
***
“Kenapa lama sekali? Aku ingin pagi cepat datang dan aku bisa cepat pulang. Rasanya tidak betah menginap di tempat asing ini,” gumamnya lirih.
Bunga mengambil ponsel dan membuka sosial media. Ia memiliki banyak teman di akun pribadi dan memiliki banyak customer di akun bisnis. Pribadinya yang humble, membuat orang lain sangat nyaman berteman dengannya.
Salah seorang teman dari luar negeri mengunggah status bahwa ia akan kembali ke Indo. Prince Andymion, nama salah satu teman online yang cukup akrab dengannya. Mereka sering bertukar kabar lewat pesan, tapi tidak pernah saling menunjukkan wajah.
“Wah! Prince kembali ke Indo! Hm … seperti apa wajahnya, ya?”
Bunga memejamkan mata, mencoba membayangkan wajah teman online-nya. Namun, tentu saja ia tidak akan berhasil. Ia tidak memiliki gambaran sama sekali tentang wajah Prince Andymion.
Sementara Bunga memakai nama Flower Rain sebagai nama akun sosial media pribadi, sedangkan untuk akun bisnis, ia memakai nama label bisnisnya ‘Bunga Frozen’. Bunga berharap bisa bertemu muka dengan Prince, karena mereka sangat memiliki kemiripan. Dari mulai buku yang disukai, makanan, minuman, bahkan sampai warna yang disukai mereka ternyata sama.
__ADS_1
Kira-kira ... aku bisa bertemu dengannya tidak, ya?
Ting! Tong!
“Hm? Siapa yang bertamu dini hari seperti ini? Tidak sopan, deh,” gumam Bunga.
Ia tidak ingin mengganggu istirahat penghuni rumah yang lain. Karena ia berada di lantai bawah, ia segera berlari keluar kamar untuk membuka pintu. Setelah suara bel menghilang, kini terdengar suara ketukan.
“Sebentar!”
Alden mengernyitkan dahi. Kenapa ada suara wanita muda di rumah? Seingatnya, hanya ada dua wanita paruh baya di rumah itu. Khumaira sang ibu dan Mbok Mun yang merupakan asisten serta pengasuh Alden dan Artha saat kecil.
Pintu terbuka dan kedua pasang mata itu beradu pandang, saling menyelidik. Alden mengangkat tangan dan menunjuk wajah Bunga. Baru membuka mulut, tapi ia tidak sempat berbicara.
“Mas, tahu sopan santun, kan? Masa bertamu jam segini? Lihat, tuh! Ini sudah jam dua pagi,” ucap Bunga dengan sopan sambil menunjuk jam dinding di ruang tamu.
“Tapi, saya ….”
“Walaupun sangat penting, tapi saya tidak bisa membangunkan pemilik rumah, Mas. Jadi, sebaiknya kembali besok pagi saja. Selamat tinggal,” ujar Bunga sambil mendorong pintu dan mengusir Alden.
“Tapi, Nona~ Hei! Dengarkan dulu,” pinta Alden.
Satu tangannya menahan pintu yang akan tertutup. Bunga menoleh dan menghela napas berat. Ia tidak tahu harus berbuat apa agar laki-laki dihadapannya itu pergi. Sekilas, matanya menangkap sebuah koper yang tergeletak di belakang Alden.
Kalau dia datang untuk bertamu, masa bawa koper? Siapa laki-laki ini?
“Saya kasih waktu dua menit untuk memperkenalkan diri. Saya mengantuk dan ingin tidur. Kalau Anda tidak ada kepentingan di rumah ini, saya tidak bisa mengizinkan Anda masuk.”
“Oke. Saya Alden, saya anak pemilik rumah sekaligus kakak dari Artha. Lalu, Anda siapa, Nona?”
Kedua mata Bunga membulat sempurna. Apa? Dia putra pertama yang tinggal di luar negeri itu. Gawat! Aku malah mau mengusirnya.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*