
Artha berdiri di balkon kamarnya. Sebatang gulungan tembakau terselip di antara kedua bibirnya. Pemandangan saat Alden dan Bunga bertabrakan tidak mau menghilang dari pikirannya.
"Sial!" Umpatnya kesal.
Sejak pandangan pertama, ia sudah jatuh hati kepada Bunga. Saat itu, Artha pikir hanya perasaan kagum sesaat saja. Namun, siapa sangka, ia sungguh-sungguh jatuh hati kepada gadis itu.
Artha melupakan Elena sejak beberapa hari terakhir. Dalam benaknya hanya ada bayangan wajah Bunga. Membayangkan ketika gadis itu tersenyum, ketika berbicara, dan berjalan.
Terbit seulas senyum diiringi rasa rindu yang menggebu. Ia ingin sekali berlari menemui gadis itu, tapi waktu tidak memungkinkan untuk saat ini. Apa yang akan dipikirkan Bunga jika Artha datang padanya di tengah malam?
“Ah …. Rasanya seperti jiwaku hilang separuh,” gumamnya pelan.
“Ar! Boleh aku masuk?” tanya Alden dari depan pintu.
Artha menghela napas panjang dan berat. Untuk apa laki-laki ingin bertemu di jam seperti ini? Artha menerka-nerka, tapi rasa penasaran membuatnya membuka pintu meski enggan.
“Apa kau sudah tidur?”
“Apa orang tidur bisa membuka pintu?” Artha balik bertanya dengan nada ketus. Pemandangan kakak beradik yang saling menyayangi pun hilang disaat mereka hanya berdua. Jika bisa, Artha tidak pernah ingin bertemu empat mata dengan laki-laki yang menyandang status kakak itu.
“Kamu lebih berani sekarang,” ucap Alden dengan wajah menyeringai.
Mata teduh yang dianggap sebagian orang sangat indah itu telah berubah menjadi mengerikan jika ditatap. Artha sangat takut dengan tatapan itu beberapa tahun yang lalu, tapi tidak dengan sekarang. Ia sudah bertambah dewasa bahkan memiliki tubuh yang lebih besar dari Alden.
“Apa tujuanmu pulang ke Indo kali ini?”
“Ayolah, Adikku …. Kamu sangat mengetahui seperti apa sifat kakak tersayang-mu ini. Jadi, kau … pasti tahu apa tujuanku,” jawabnya sambil menekan dada Artha dengan menggunakan jari telunjuk.
Artha menepis tangan Alden dengan kasar. Ia bukan lagi anak remaja penakut seperti lima tahun yang lalu. Apapun yang dilakukan oleh Alden, ia tidak akan merasa gentar sedikit pun.
“Jika kamu berani melukai orang-orang disekitarku … kau akan mati ditanganku!” ancam Artha.
Alden mundur satu langkah sambil bertepuk tangan pelan. Ia merasa tertantang setelah diancam. Dulu, Artha pasti berlutut dihadapannya saat ia mengancam keselamatan orang tuanya.
“Ck … ck …. Hebat sekali, adikku. Kau sudah tumbuh dewasa rupanya. Tapi, aku merasa hal ini semakin menarik. Terutama … gadis bernama Bunga itu. Dia sangat cantik dan menggoda. Aku penasaran dengan rasanya jika dia berada dibawahku,” pancing Alden.
__ADS_1
Artha yang emosi menarik kerah baju Alden dengan tatapan seperti singa yang terancam. Alden selalu menghancurkan kebahagiaan Artha karena laki-laki itu sangat membencinya. Namun, mereka tidak pernah menunjukkan permusuhan itu di hadapan kedua orang tua.
“Bunga bukanlah makanan! Berani kamu menyentuh seujung rambut Bunga … aku akan mencabik-cabik tubuh kotormu itu,” ucap Artha dengan penuh penekanan di setiap kata.
Artha melepaskan tangannya dari Alden, lalu menutup pintu dengan kasar. Ia mendengar tawa kecil merendahkan dari depan pintu. Perasaan Artha yang sedang buruk kini semakin buruk.
Alden pergi ke kamarnya dengan hati bahagia. Ia seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. Lima tahun yang lalu, ia meminta Artha untuk menjadi anak yang nakal, dan adiknya menuruti dengan patuh.
Kini, Artha yang dulu seperti kerupuk yang remuk saat diinjak telah berubah seperti sepotong baja tebal yang tidak mudah untuk diinjak-injak. Alden merasa hal ini sangat menarik. Setelah menutup pintu, ia tertawa lebar.
“Hahaha ….”
Sejenak kemudian, tawanya berhenti. Ia menatap foto-foto Artha yang menempel di dinding kamarnya. Foto sejak kecil sampai Artha memasuki bangku SMA.
Alden mengambil spidol berwarna merah, lalu menulis tanda silang di foto itu. Rahangnya mengeras, bibir bergerak-gerak seperti sedang mengumpat. Merasa tidak puas setelah mencoret-coret foto Artha, ia menusuk-nusuk bantal menggunakan spidol hingga bantal itu berlubang disana-sini.
“Aku tidak akan membiarkanmu bahagia, Artha Saskara Suryatama. Kau tidak boleh bahagia,” gumamnya dengan penuh kebencian.
***
Pagi-pagi buta, Artha sudah berdandan rapi. Ia mengenakan jaket hitam, sepatu kets, dan celana jeans biru gelap. Saat melewati ruang keluarga, Khumaira bertanya dan memanggilnya.
“Selamat pagi, Ma. Artha mau pergi ke rumah temen,” jawabnya setelah menyapa sang ibu.
“Teman atau teman …,” goda Khumaira sambil menahan senyum.
“Temen, kok. Beneran. Mama tidak percaya?”
“Nggak, tuh,” jawab Khumaira.
“Mama ….”
Khumaira terkekeh melihat putranya mengerutkan wajah. Ia mengerti seperti apa rasanya jika sedang jatuh cinta. Sang putra pasti berniat menemui Bunga karena sudah seminggu berlalu sejak kunjungan mereka ke rumah gadis itu.
“Sudah sana kalau mau pergi. Titip salam buat calon menantu mama,” kelakarnya lagi.
__ADS_1
“Si-siapa yang mau pergi ke rumah Bunga, sih, Ma. Orang … dibilangin Artha mau pergi ke rumah teman,” kilahnya sambil tersipu.
Niatnya terlihat jelas dan ia tidak bisa mengelak. Menghindari pertanyaan lain dari ibunya, Artha pergi secepatnya. Ia mengendarai mobil yang dulu pernah ditabrak oleh Bunga.
Artha bahkan tidak memperbaiki mobil itu. Ia memiliki niat tersembunyi untuk menemui Bunga. Senyumnya tersungging lebar.
Di rumahnya, Bunga sedang membuat bunga mawar menggunakan pita. Salah satu hobi yang menghasilkan selain usaha utamanya di bidang frozen food. Ani berlari menghampirinya dengan napas terengah-engah.
“Kak Bunga!”
“Apa, sih, An? Kamu bisa sesak napas kalau berlari seperti itu. Ingat, kamu punya asma,” omel Bunga.
“Soalnya … gawat. Eh, darurat. Ada ….”
“Bernapas dulu dengan benar! Masalah gawat apa yang membuat kamu seperti ini?”
“Ada Bang Artha di teras,” jawabnya sambil menunjuk keluar.
“Hah!” Bunga terperanjat. Ia melempar bunga mawar yang baru setengah jadi. Wajahnya menjadi tegang bahkan sampai berkeringat dingin. “Mau apa dia kemari?”
“Mana kutahu, Kak. Temui saja dulu,” kata Ani sambil melemparkan tubuhnya sendiri ke tempat tidur. “Sementara itu, biarkan aku beristirahat sebentar,” sambungnya.
“Pemalas. Aku temui dia dulu. Jangan beristirahat terlalu lama. Kalau kamu malas seperti ini, mereka bisa ikutan malas karena meniru kebiasaanmu,” celetuk Bunga.
“Bawel,” gerutu Ani.
“Berani?”
“Ampun, Bu Bos,” jawab Ani sambil nyengir kuda.
Bunga memukul bokong tipis Ani, lalu berlari. Mereka terbiasa seperti itu. Tidak menganggap sebagai hubungan angkat sama sekali.
“Selamat pa~”
Suara gadis itu seakan tersekat di tenggorokan. Tidak hanya ada Artha di sana, tapi ada orang lain yang wajahnya sangat familiar. Darahnya seakan berhenti mengalir, jantung berhenti berdetak.
__ADS_1
Mereka tersenyum menatap Bunga. Di tangan mereka sama-sama memegang sebuah bungkusan. Entah apa isinya, tapi Bunga menebak itu adalah makanan. Tanpa memberikan alasan kepada mereka, Bunga menutup pintu dengan kasar.
*BERSAMBUNG*