
"Hah …."
Bunga menghela napas sambil mengumpat dalam hati. Ia terlalu ceroboh karena takut jika Alden adalah orang jahat. Ia lupa, di gerbang ada dua orang penjaga. Jika Alden tidak kenal dengan mereka, tidak mungkin dia bisa sampai di depan pintu.
“Ma-maaf, Mas. Silakan masuk,” ucap Bunga sambil membuka pintu lebar-lebar.
“Terima kasih,” ucap Alden sambil melangkah masuk.
Ia sangat merindukan rumah itu, terlebih pada pemilik rumah, dan mereka sedang berdiri di ujung tangga dengan mata berkaca-kaca. Alden tersenyum lebar sambil membuka tangan dan berlari menghampiri Khumaira. Dialah orang yang paling menginginkan Alden kembali ke rumah itu.
Puk! Puk!
Khumaira memukul pelan punggung putra sulungnya sambil menangis terisak. Pertemuan mengharukan itu membuat Bunga ikut meneteskan air mata. Ia berbalik dan menutup pintu. Rasanya, ia bisa menangis tersedu-sedu jika melihat mereka lebih lama lagi.
“Akhirnya, kamu, pulang,” ucap Khumaira di sela isak tangisnya.
“Ya, Ma. Alden pulang,” jawabnya sambil mempererat pelukan. Ia sangat rindu dengan pelukan hangat sang ibu, hingga ia melupakan satu hal.
“Ekhem! Kau … tidak punya ayah?” celetuk Hendry yang merasa iri kepada istrinya. Bagaimana tidak? Mereka berpelukan sangat lama seakan Hendry tidak terlihat.
“Ah, maafkan Alden, Pa. Papa sehat, kan?” tanya Alden sambil membuka satu tangan.
“Jahat sekali, kau, ini. Kalau papa tidak menyapamu lebih dulu, pasti papamu ini dilupakan begitu saja,” protes Hendry sambil melangkah maju dan memeluk putra dan istrinya.
Mereka sedang reuni keluarga. Sebaiknya ... aku kembali ke kamar diam-diam dan membiarkan mereka saling melepas rindu.
Bunga melangkah pergi, tapi suara Khumaira membuat langkahnya tertahan.
"Bunga!" panggil Khumaira.
"Ya, Tante!"
Ia menoleh dan tersenyum. Khumaira memintanya untuk berkenalan dengan calon kakak iparnya. Meskipun terasa canggung, ia tetap harus menyapa Alden.
__ADS_1
“Namanya Bunga, dia adalah tunangan Artha. Bunga, dia ... Alden. Ini putra sulung tante,” ucap Khumaira, memperkenalkan mereka.
“Bunga. Maaf untuk yang tadi, Kak,” ucap Bunga sambil mengulurkan tangan.
"Alden. Tidak apa-apa, itu bukan salahmu kalau kamu berpikiran buruk," jawab Alden sambil meraih uluran tangan gadis itu. Mereka berjabat tangan sekilas.
Hendry dan Khumaira saling melempar pandangan. Mereka tidak tahu apa yang terjadi antara Bunga dan Alden. Saat Hendry bertanya kepada Alden, laki-laki itu hanya menjawabnya dengan senyum tipis.
“Tadi Bunga~”
“Tidak ada apa-apa, Ma, Pa. Sepertinya, Bunga sudah mengantuk. Biarkan dia pergi ke kamar,” potong Alden.
Bunga ingin menjelaskan apa yang terjadi, tapi Alden sudah terlalu lelah. Jika mendengarkan Bunga menjelaskan, dia harus berdiri di sana lebih lama lagi, sedangkan Alden sudah ingin beristirahat.
“Oh, maaf, Sayang. Kembalilah ke kamar. Kamu juga, Alden. Kamu pasti lelah, kan? Ayo, mama antar kamu ke kamar,” ucap Khumaira sambil menyerahkan koper milik Alden kepada Hendry. “Tolong bawakan, ya, Pa,” pungkasnya.
“Tch! Ibu dan anak ini sama saja. Mereka selalu menomorduakan aku,” gerutu Hendry.
Bunga terkekeh geli. Ternyata, keluarga calon suaminya sangat lucu. Tidak hanya itu, mereka juga sangat baik.
Tidak mungkin. Masa aku jatuh cinta semudah itu? Apalagi, dia calon adik iparku.
Alden menggelengkan kepalanya. Ia akui, Bunga adalah tipe gadis idamannya. Sikap sopan, ramah, lucu, dan pemalu. Semua sifat itu telah menggelitik relung hati sang putra sulung.
Namun, apakah dia tega merebut calon istri Artha? Entahlah. Alden pun tidak mengerti dengan situasi saat ini.
"Sebaiknya, kamu cepat tidur. Mama perhatikan sejak tadi, kamu, terus geleng-geleng kepala. Pasti pusing karena mabuk pesawat," ucap Khumaira.
"Hah? Mama, ini, ada-ada saja. Memangnya Alden ini anak kecil," seloroh Alden sambil membantu ibunya menata pakaian di lemari.
Alden pulang tanpa membawa banyak barang. Hanya beberapa pasang pakaian dan oleh-oleh. Ia berencana memberikan hadiah kepulangannya besok pagi saat sarapan bersama.
"Sudah selesai. Istirahatlah. Mama dan papa juga sudah mengantuk," pamit Khumaira sambil membuka pintu kamar.
__ADS_1
Kedua orang tuanya pergi dan Alden segera melemparkan tubuhnya di atas tempat tidur yang dingin. Sudah lebih dari tiga tahun, kamar itu ditinggalkan oleh pemiliknya. Wajar jika kasurnya terasa dingin, karena tidak pernah ada yang meniduri ranjang king size itu.
Artha pun tidak berani masuk ke kamar itu, meski sang kakak sudah mengizinkan. Ia mengizinkan siapa saja untuk masuk saat ia berada di luar negeri, tapi mereka menghargai privasi masing-masing. Mereka percaya, Alden pasti akan kembali ke kamar itu suatu saat nanti.
***
Suara cicitan burung kenari milik Hendry membuat kedua mata oval Bunga terbuka. Ia terperanjat saat melihat jam dinding. Selama ini, ia tidak pernah bangun kesiangan.
Mungkin karena ia tidur dini hari, makanya ia bisa terlambat bangun. Tanpa membuang-buang waktu, ia segera berlari ke kamar mandi. Matanya bersinar, mulutnya menganga lebar dipenuhi kekaguman.
"Ini, kamar mandi? Besar sekali! Ck … ck …."
Bunga berdecak kagum. Kamar mandi itu memiliki luas yang sama dengan kamar milik Bunga di kampung. Di sisi kanan pintu terdapat wastafel dan kaca berukuran besar.
Di sisi kiri terdapat kran shower dengan tirai plastik yang menutup, melingkari area jatuhnya air. Bak mandi besar berbentuk bulat dengan air hangat yang terus mengalir dan bak mandi standar yang biasa dipakai untuk berendam air biasa. Bunga mencelupkan tangannya ke dalam bak air hangat dan ia tersenyum lebar.
"Hangatnya …."
Bunga menanggalkan pakaiannya dan masuk ke dalam bak mandi. Ia yang awalnya ingin segera keluar dari kamar, justru terlarut dalam ketenangan yang dialirkan ke seluruh tubuh. Berendam air hangat di saat tubuh merasa lelah adalah yang terbaik.
Di ruang makan, Khumaira terus melirik ke kamar tamu. Hendry, Khumaira, dan Alden sudah menunggu Bunga dan Artha sejak tadi. Namun, mereka masih belum muncul juga.
"Apa tidak sebaiknya dibangunkan saja, ya, Pa?" tanyanya kepada sang suami.
"Mereka pasti lelah, Ma. Tidak perlu dibangunkan. Lebih baik, kita sarapan duluan saja," jawab Hendry sambil meneguk kopi pahitnya.
"Papa benar, Ma. Kita sarapan duluan saja. Nanti, biar mereka sarapan berdua. Itung-itung, biar mereka semakin akrab," sambung Alden.
"Ya sudah."
Khumaira mengambilkan nasi goreng untuk Alden dan Hendry. Sementara, wanita itu lebih suka sarapan roti gandum. Alden makan dengan lahap, setelah sekian lama tidak merasakan masakan Bik Mun.
"Kamu tidak bawa calon istri, Al? Kalau bisa, cari calon istri yang seperti Bunga."
__ADS_1
"Ffhhh! Uhukk …." Semua makanan di mulut Alden tersembur saat ia mendapat pertanyaan yang sangat mengejutkan. Ia ingat dengan kata-katanya sendiri, bahwa ia akan pulang jika sudah memiliki calon istri. Nyatanya, ia pulang sendiri dan itu membuat kedua orang tuanya merasa penasaran.
*Bersambung*