Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Pelukan hangat di pagi hari


__ADS_3

"Hoam …."


Bunga terbangun di ranjang empuk. Keningnya mengernyit. Dia berakhir tidur di ranjang tanpa sadar.


Saat mengedarkan pandangannya, tatapan itu berhenti di sudut kamar. Tepatnya di sebelah kiri ranjang, di dekat jendela. Laki-laki yang semalam tidur di ranjang justru terbaring meringkuk di sofa.


Wajah Artha tersorot matahari karena tirai balkon tidak ditutup kembali. Dia tampak bersinar di bawah pantulan cahaya mentari pagi. Bunga berbaring miring di ranjang sambil menatap wajah suaminya.


Dia cukup tampan. Ehm, bukan cukup, tapi memang tampan. Ah, apa yang aku pikirkan sebenarnya? Dia tetap saja brondong labil bagiku. Mana mungkin, aku ter …


"Sudah boleh buka mata belum?" tanya Artha dengan mata tertutup dan senyum lebar yang merekah indah.


"Kenapa harus bertanya padaku? Itu tubuhmu, milikmu sendiri. Terserah mau membuka mata atau terpejam selamanya," jawab Bunga, panjang lebar.


"Benar. Ini tubuhku, milikku, tapi seseorang sedang mengagumi keindahan milikku ini. Makanya, aku tidak membuka mata," jawab Artha seraya membuka mata perlahan-lahan.


Bunga tersipu dan wajahnya memerah seketika. Suaminya terus menatap bahkan ketika Bunga sudah mengalihkan tatapannya ke arah lain. Sialnya, ia menatap ke arah cermin yang memantulkan dirinya dan suaminya. Dari sana, Bunga melihat Artha menjilat bibir bawahnya sendiri dengan mata menatap ke arah pinggulnya.


"Melihat kemana?" Bunga menutupi pinggulnya menggunakan selimut sambil memarahi suaminya.


"Kemana saja juga boleh. Kamu, kan, istriku," godanya dengan mata berkedip-kedip nakal.


Wajah Bunga memanas seperti gunung berapi yang siap mengeluarkan lava. Ia berlari ke kamar mandi dan mengunci diri di sana. Bunga tahu Artha memang suka menggoda, tapi kata-katanya barusan telah membuat hati Bunga tergelitik. Ia hampir saja melemparkan bantal kepala pada suaminya.


Kamu akan segera menjadi milikku, Bunga-ku.


***


"Kalian sedang bertengkar?" tanya Khumaira sambil menuangkan air ke dalam panci.


Pagi ini, Khumaira ingin memasak untuk anak dan menantunya. Bunga membantu merajang bawang bombay. Dia tidak terlalu suka tauge, tapi ibu mertuanya ingin memasak tumis tauge yang dicampur dengan bihun jagung.


"Kenapa, Mama, berpikir seperti itu?" Bunga bertanya dengan canggung.

__ADS_1


"Karena mama lihat, kalian tidak terlihat romantis sama sekali. Mama tahu, kalian terpaksa menikah. Tapi, bukankah kalian sendiri yang mengatakan akan berusaha mencintai satu sama lain?" Khumaira bertanya dengan tatapan mata sendu.


Dia sangat mengharapkan kebahagiaan mereka bisa terwujud. Namun, ia tidak melihat mereka berusaha. Sudah dua hari Khumaira tinggal bersama mereka, tapi belum pernah melihat mereka mengobrol santai.


Mereka selalu terlihat sibuk dengan urusan masing-masing. Artha dengan tugas-tugas kantor dan Bunga dengan catatan keuangan frozen food miliknya. Jika Khumaira tahu mereka menikah kontrak, dia akan sangat terpukul. Bagaimana bisa sebuah pernikahan menjadi bahan mainan?


"Oh … itu karena kami sedang sibuk, Ma. Kami menghabiskan waktu berdua di akhir pekan," jawab Bunga seraya menggumam dalam hati.


Maafkan Bunga, Ma. Bunga dan Artha sudah berbohong.


"Begitu rupanya. Mama lega mendengarnya."


Bunga tersenyum tipis. Melihat rasa kecewa di wajah ibu mertua membuat Bunga sedikit merasa bersalah. Sepertinya, dia harus mulai membicarakan hal itu dengan suaminya.


***


Malam hari, di kamar. Bunga menunggu Artha pulang. Sejak mereka tinggal sekamar, Artha selalu pulang larut malam.


Laki-laki itu tidak bisa menahan hasrat saat berdekatan dengan istrinya. Dia takut kehilangan akal sehatnya dan menyerang Bunga. Artha tidak ingin dibenci oleh wanita yang dicintainya.


Bunga berbaring di sofa. Ia masih mencoba menahan matanya yang berat. Malam ini, dia harus bicara dengannya.


Kriet ….


Gadis itu bangun dari sofa dengan cepat. Artha terkejut mendapati istrinya masih terjaga. Namun, ia berusaha bersikap normal.


"Kamu belum tidur?" Artha bertanya kepada Bunga dengan nada sangat pelan.


Artha takut pembicaraan mereka didengar oleh Khumaira yang tinggal di kamar sebelah mereka. Laki-laki itu menyampirkan jas dan dasinya di sandaran sofa. Lalu, ia duduk bersandar dengan kepala menatap langit-langit kamar.


Percayalah, tubuh Bunga dibalik gaun tidur itu sudah membuat sesuatu menggeliat manja. Dia harus mengalihkan pandangannya ke arah lain jika ingin si kecil tertidur kembali dengan tenang. Namun, tiba-tiba saja Bunga bersimpuh dihadapannya. Mau tak mau, Artha pun menundukkan kepalanya, menatap istri yang meraih tangannya.


"Kenapa?" tanya Artha dengan lembut.

__ADS_1


"Mama bertanya padaku tadi pagi kalau …"


"Kalau apa?"


Artha penasaran dengan apa yang dikatakan sang ibu pada wanita dihadapannya saat ini. Bunga terlihat frustrasi. Terlihat kulit keningnya mengerut, seolah-olah ada banyak pikiran yang mengganjal di sana.


"Kita tidak terlihat romantis. Mama pikir, kita bertengkar," jawabnya sambil menghela napas berat.


Artha meremas tangan yang menggenggamnya. Ia bangun dari sofa dan berlutut di depan istrinya. Walaupun derajat suami lebih tinggi dalam sebuah keluarga, tapi Artha tidak pernah berniat merendahkan istrinya. Ia terganggu dengan posisi mereka, dimana Artha duduk di sofa sedangkan Bunga bersimpuh di lantai.


"Lalu—"


"Aku akan melakukan apa yang kamu katakan, asalkan bisa bersikap mesra di depan mama. Aku tidak tega melihat mama kecewa." Bunga memotong ucapan Artha dengan cepat.


"Ah, itu …. Ini sudah malam. Kita diskusikan lagi besok pagi," kata Artha seraya bangkit dan menarik tangan istrinya agar wanita itu berdiri.


Artha menuntun istrinya sampai ke ranjang. Menyelimuti tubuh indah yang tergolek di atasnya, lalu kembali ke sofa. Dia tidak berani tidur di samping Bunga tanpa izin.


Keesokan paginya, Bunga keluar dari kamar dengan keadaan rambut setengah basah. Trik untuk mengelabui mata ibu mertuanya. Itu berhasil. Khumaira tersenyum melihat rambut menantunya basah.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Khumaira dengan mata berbinar.


"Selamat pagi, Ma. Bagaimana tidurnya?" 


"Mama tidur sangat nyenyak semalam. Bagaimana denganmu? Apa kau bisa tidur?" Khumaira menggoda menantunya sambil menahan senyum.


"Ah? Oh … Bunga baru bisa tidur jam dua pagi," jawabnya dengan jujur.


Khumaira tergelak. Dia mengartikan ucapan Bunga bahwa Artha menggauli Bunga sampai jam dua dini hari, padahal tidak seperti itu kejadiannya. Namun, Bunga sepakat memainkan drama itu bersama Artha.


"Selamat pagi, Sayang. Selamat pagi, Ma," ucap Artha sambil menuruni anak tangga.


Laki-laki itu juga keluar kamar dengan rambut setengah basah. Senyuman lebar menghias bibir yang tidak terlalu hitam itu. Artha perokok, tapi tidak terlalu berat. Dia hanya merokok saat ingin saja. Terkadang, seharian tidak merokok sama sekali.

__ADS_1


Dia menghampiri Bunga, lalu memeluknya dari belakang. Khumaira hanya tersenyum, sedangkan Bunga hampir melompat kaget. Jantungnya berdetak cepat karena pelukan Artha yang tidak terduga. Seingatnya, mereka tidak membuat skenario pelukan.


*Bersambung*


__ADS_2