
Khumaira menatap sinis Elena. Putranya sudah menikah tetapi gadis itu masih menempel. Jika Elena gadis yang baik, dia tidak akan melakukannya.
"Bukannya mengantar istri pergi kerja, kamu malah sarapan di resto bersama perempuan ini. Kamu tidak bisa berhubungan dengan Gadis lain setelah kamu memiliki istri. Apa kamu berniat memadu Bunga, begitu?" tanya Khumaira sambil melirik sinis kepada Elena. "Dan, kamu! Kamu itu seorang wanita. Harusnya kamu hindari laki-laki yang sudah beristri," pungkasnya.
"Dari awal Artha pacar saya, Tante. Tante saja yang memaksa dia menikahi wanita itu," serobot Elena yang tidak terima disalahkan.
"Menantu kesayanganku punya nama. Dalam keyakinan kami, tidak ada yang namanya pacaran. Lagipula, suka atau tidak, Artha sudah menikah sekarang. Jangan ganggu putraku lagi," tukas Khumaira seraya menarik telinga Artha seperti anak kecil.
Elena mendecih kesal. Tatapan orang-orang terhadapnya berubah, yang awalnya merasa kasihan kini memandang rendah padanya. Bagaimana bisa seorang gadis mendekati laki-laki yang sudah beristri? Meskipun mereka memiliki hubungan sebelumnya, tapi laki-laki itu sudah berkeluarga. Artinya, dia bisa dicap sebagai pelakor jika terus menempel padanya.
"Apa! Urus urusan kalian sendiri! Hmp!" Elena menghardik para pelanggan yang berbisik-bisik mencemoohnya.
Dia pergi tanpa membayar dan petugas kasir segera mengejarnya ke parkiran. Artha tidak sempat membayar tagihan karena langsung dibawa pergi oleh Khumaira. Elena menjerit kesal dan menyebut nama Artha.
"Artha! Nyebelin!"
Tagihan resto tidak seberapa, tapi rasa malu Elena karena menjadi pusat perhatian yang membuatnya kesal bukan main. Mereka bahkan belum selesai berbicara saat Khumaira tiba-tiba datang. Entah apa yang membuat wanita paruh baya itu begitu membenci Elena?
Gadis itu sudah bersedia mengikuti keyakinan keluarga Artha, tapi Khumaira masih saja tidak memberikan restu. Terlebih, putranya, Artha seperti terpaksa menjalani hubungan dengan Elena. Sebagai seorang ibu, Khumaira hanya ingin melihat putranya hidup bahagia.
Di dalam mobil, Khumaira terus menceramahi Artha. Dia tidak memberikan putranya kesempatan untuk membela diri. Bahkan, baru membuka mulut saja sudah disuruh diam.
"Kalau sampai mama melihat kamu bertemu dia lagi, mama akan mengembalikan Bunga pada orang tuanya!" Khumaira mengeluarkan ancaman.
"Jangan, dong, Ma," protes Artha sambil menepikan mobilnya di depan sebuah warung kopi.
"Kenapa? Bukannya kamu lebih suka sama pacarmu? Mama tidak mau hati Bunga terluka. Jadi, lebih baik dikembalikan kepada orang tuanya," ujar Khumaira sambil menahan senyum geli.
Ia tahu, putranya mencintai Bunga. Itu sebabnya, Khumaira mengancam akan mengembalikan Bunga pada Hartini. Ia harap, ancaman itu bisa membuat Artha sadar dan berhenti menemui wanita lain di belakang Bunga.
__ADS_1
"Artha tidak sengaja bertemu dengan Elena. Dia datang ke rumah, Ma. Artha takut dia bertemu Bunga, karena itu Artha ajak Elena keluar," terang Artha.
"Yakin? Mama tidak percaya kalau kamu tidak menyukai dia lagi," cibir Khumaira sambil melirik putranya.
"Artha tidak punya alasan untuk membenci Elena, Ma. Tapi, perasaan cinta Artha untuknya sudah tidak ada. Artha butuh waktu untuk memberikan Elena pengertian. Tolong, percaya sama Artha. Kali ini saja," pintanya seraya menggenggam telapak tangan sang mama.
"Mama percaya. Tolong jaga janjimu yang akan membahagiakan Bunga. Dia gadis yang baik," ucap Khumaira sambil menghela napas.
"Terima kasih karena, Mama, percaya sama Artha. Artha janji akan menyelesaikan urusan dengan Elena secepatnya," pungkasnya lalu mengecup punggung tangan ibunya.
Mobil kembali melaju di jalan raya. Artha mengantar ibunya ke butik, baru ia pergi ke kantor. Kepalanya terasa pusing memikirkan Elena yang berani datang ke rumah.
"Permisi, Pak Manajer. Ada tamu untuk Anda," ucap asisten manajer.
Gadis berperawakan tinggi serta berisi itu baru bekerja dua bulan yang lalu. Namun, dia mudah beradaptasi dengan baik dengan pekerjaannya. Artha merasa sangat terbantu oleh gadis bernama lengkap Mariana Surendra.
"Persilakan masuk, Maria. Sekalian, tolong kamu buatkan dua cangkir kopi," kata Artha.
Gadis itu membuka pintu lebar-lebar. Alden berjalan masuk bersama Elena. Sontak Artha tercengang.
Setahunya, mereka tidak akrab satu sama lain. Sejak kapan keduanya menjadi sedekat itu? Apa lagi rencana sang kakak kali ini dengan membawa Elena?
"Selamat siang, Ar. Apa kedatangan kakak mengganggumu?" tanya Alden, berbasa-basi.
"Ada apa ini? Kenapa, Kakak, datang bersama Elena?" Artha bertanya dengan tatapan penuh selidik.
Benar saja. Walaupun sudah memiliki Bunga sebagai istrinya, tapi dia masih mencintai Elena. Sepertinya, ini pilihan yang tepat untuk bekerja sama dengan Elena.
"Yah, kami tidak sengaja bertemu di jalan. Karena aku berencana datang menemuinya, jadi kuajak dia bersamaku. Apa kau cemburu?" Alden bertanya dengan nada menyindir.
__ADS_1
"Artha sibuk. Jika ada kepentingan, katakan dengan cepat," ujar Artha sambil merapikan dokumen di atas meja.
Hari ini tidak ada pekerjaan mendesak. Bisa dikatakan, ia sedang senggang. Namun, ia enggan berbicara dengan Alden. Apalagi, laki-laki itu membawa Elena yang ingin dihindarinya.
"Aku ingin mengajakmu makan siang. Sekaligus, ada hal penting yang ingin kusampaikan," kata Alden sambil tersenyum misterius.
Artha enggan mengiakan, tapi rasa penasaran membuatnya ikut makan siang. Alden sengaja mengajak makan di kantin kantor. Mereka bertiga menjadi pusat perhatian.
Kedua calon pewaris perusahaan yang memiliki paras tampan itu selalu menjadi pusat perhatian. Beberapa pegawai wanita bahkan pernah menyatakan perasaan secara tidak sengaja. Hendry sering membawa mereka ke kantor saat mereka masih bersekolah.
Mereka makan dalam diam. Sesekali, Artha melirik jam tangannya. Niat hati ingin menemui sang istri, tapi halangan selalu saja ada.
Alden memperhatikan tingkah Artha yang sedang gelisah. Ia pikir, itu karena Artha cemburu melihat Elena bersamanya.
"Aku dan Elena akan bertunangan," celetuk Alden tiba-tiba.
"Apa?" Artha terkejut bukan main.
Hm! Kamu terkejut bukan? Tiba-tiba saja aku ingin bertunangan dengan kekasihmu, kau pasti sangat terkejut. Lebih bagus lagi jika kau melepaskan Bunga dan menikahi Elena secepatnya.
Alden begitu percaya diri. Dia menggumam bangga di dalam hati. Pikirnya, rencananya menghancurkan pernikahan Artha dan Bunga telah berhasil. Alden yakin, Artha akan memilih Elena dibanding Bunga.
"Hahaha …. Jangan bercanda, Kak. Mama tidak akan menyetujuinya," kata Artha sambil beranjak bangun dari tempat duduknya.
"Aku tidak peduli. Aku yang akan menjalani, untuk apa memikirkan keinginan mama. Setuju atau tidak, aku akan tetap melaksanakan pertunangan ini," tandas Alden seraya menarik tangan Elena.
Mereka pergi meninggalkan Artha yang masih menganga tak percaya. Tadi pagi, Elena masih menggelayut di tangannya. Namun, siang hari sudah berpegangan tangan dengan Alden. Bahkan, mereka hendak bertunangan.
"Ini konyol," gumam Artha dengan gigi mengerat.
__ADS_1
Ia tahu dengan jelas, Alden hanya ingin membuatnya terlihat buruk. Tidak diduga, Alden sampai melakukan hal menggelikan seperti itu. Bertunangan tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada orang tua mereka, mustahil bisa terjadi.
*Bersambung*