
"Lepaskan aku," pinta Bunga dengan suara lirih.
"Tidak mau. Kamu masih ngambek soalnya," kata Artha tanpa mengendurkan pelukan.
"Tidak. Lepaskan aku sekarang," ujarnya dengan malas.
"Aku minta maaf soal Elena. Bisakah kau memberiku waktu untuk menjelaskan?"
"Aku lelah, Ar. Kita bicarakan lain kali saja," jawab Bunga sambil menundukkan wajah.
Ia tidak ingin menunjukkan wajah kecewanya. Ia mengharapkan penjelasan, tapi hatinya belum siap. Bagaimana jika Artha memutuskan untuk berpisah dengannya dan kembali kepada Elena?
"Baiklah. Selamat tidur," ucap Artha seraya mengecup puncak kepala Bunga.
Bunga tersenyum tipis. Ada rasa bahagia di tengah kecewa yang sedang mendera. Bisakah ia menjadi serakah, menginginkan hati laki-laki itu menjadi miliknya.
***
Khumaira duduk di teras belakang. Secangkir teh hijau hangat dan suara musik relaksasi menemani acara santai paginya. Hendry datang membawa segelas kopi susu tanpa ampas.
"Masih pagi, sudah melamun. Ada apa, Ma?" Hendry mengingat kebiasaan istrinya dengan baik.
Saat ada masalah yang mengganggu pikiran, Khumaira akan memutar musik relaksasi dari ponsel. Dia yang biasanya sedang sibuk menata bunga di dalam pot, tapi memilih duduk santai. Mengabaikan semua pekerjaan yang biasa menemani hari-harinya.
"Tidak ada apa-apa, Pa," jawabnya sambil menyeruput teh.
"Jangan bohong. Papa tahu betul, kalau Mama duduk pagi-pagi di sini, pasti ada yang sedang dipikirkan. Kasih tahu papa," ucap Hendry, membujuk istrinya untuk bercerita.
Khumaira pun menceritakan kegundahan hatinya. Ia mendengar kabar dari salah satu karyawan butik yang tidak sengaja melihat Artha bertemu dengan Elena. Wanita itu takut anaknya akan kembali bersama Elena dan menceraikan Bunga.
Hendry mendengarkan keluh kesah istrinya yang sangat mengharapkan hubungan Artha dan Bunga berjalan mulus. Istrinya sangat menyukai Bunga, begitupun dengan Hendry. Ia juga sangat menyukai Bunga yang memiliki sifat baik dan penurut.
__ADS_1
"Artha bilang sendiri, kok, sama papa. Dia bilang, dia cinta sama Bunga. Jadi, mana mungkin dia kembali pada Elena. Mama tenang saja," hibur Hendry.
"Tapi, Pa … Elena sudah berpacaran dengan Artha bertahun-tahun, sedangkan bersama Bunga baru beberapa bulan. Mama khawatir perasaan Artha berubah," tuturnya dengan wajah sedih.
Di belakang kaca jendela, Alden mencuri dengar perbincangan kedua orang tuanya. Dia tersenyum jahat. Kedatangan Elena seolah mendatangkan keuntungan baginya.
Bagus. Jika Elena datang untuk merebut Artha dari Bunga, maka aku bisa mendapatkan Bunga dengan bantuan Elena. Aku harus bertemu Elena dan mengajaknya bekerja sama.
Alden melangkah pergi dengan terburu-buru sampai kakinya terantuk kaki meja di ruang tamu. Vas bunga di tengah meja pun terguling, airnya tertumpah, dan membasahi karpet serta ujung celana panjang Alden. Suara berisik itu terdengar sampai ke teras belakang.
"Ada apa, Al?" Hendry bertanya sambil menatap kaki Alden.
Hendry dan Khumaira berlari ke ruang tamu karena terkejut mendengar suara benda jatuh. Rupanya, vas bunga yang tidak sengaja terjatuh. Mereka mengkhawatirkan keadaan Alden sampai memutar tubuh laki-laki itu untuk memeriksa.
"Kamu baik-baik saja, Sayang? Tidak terluka, kan?" Khumaira bertanya setelah memutar tubuh putranya.
"Al tidak apa-apa, Ma. Sebaliknya, vas bunga kesayangan, Mama, jadi pecah. Maaf, Ma," ujar Alden dengan wajah bersalahnya.
Ia memperhatikan penampilan Alden dari kepala sampai kaki. Biasanya Alden bangun lebih siang jika tidak ada pekerjaan. Namun, hari ini dia bangun lebih pagi.
"Al mau pergi cari hiburan, Ma. Suntuk di rumah terus," jawabnya, beralasan.
"Bukan pergi kencan? Adikmu sudah menikah, loh," goda Hendry sambil tersenyum penuh arti.
"Doakan saja, Pa. Mudah-mudahan Alden bertemu bidadari di taman, haha," kelakar Alden.
Mereka tertawa renyah. Setelah Alden berlalu pergi, senyum riang Khumaira berubah menjadi sendu. Ia menatap kepergian Alden sampai mobil hitam itu tidak terlihat lagi.
"Apa, Papa, merasakan hal yang sama dengan mama?" Khumaira bertanya spontan.
"Merasakan apa?" tanya Hendry sambil menatap ke arah yang sama dengan mata memicing heran.
__ADS_1
Tidak ada apa-apa setelah mobil Alden hilang di ujung jalan. Apa yang dilihat istrinya? Kenapa wajahnya seolah memiliki beban pikiran yang berat?
"Alden, dia …."
Khumaira mengalihkan pandangannya pada sang suami. Dia tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya. Saat menatap wajah sang suami, hati Khumaira tidak tega.
Mereka telah berjanji untuk tidak membahas masa lalu Alden sampai mati. Namun, belakangan ini hati Khumaira sedikit terganggu oleh sikap Alden. Laki-laki itu bersikap seperti biasa di rumah tetapi begitu berbeda saat keluar dari pandangan kedua orang tuanya.
"Mama ingat, kan, perjanjian kita? Apa, Mama, akan membahas asal-usul Alden sekarang? Mama tahu kalau papa tidak suka dengan itu, tapi … lupakan saja."
Hendry berlalu pergi ke kamar. Dia merasa kesal saat Khumaira membicarakan Alden, padahal belum mengucapkan apapun. Asal-usul Alden memberikan kenangan buruk bagi rumah tangga mereka.
Bagaimana tidak? Saat mereka masih menikmati indahnya bulan madu, seorang wanita datang dengan membawa seorang anak laki-laki. Sebelum memutuskan berpindah keyakinan, Hendry pernah menjalin hubungan dengan wanita itu.
Alden bukanlah darah daging Hendry. Namun, karena ayah kandung Alden tidak mengakuinya, mantan kekasihnya pun membawa Alden padanya. Keadaan wanita itu sedang sakit parah dan nyawanya tidak terselamatkan.
Mau tidak mau, Hendry merawat Alden sebagai putranya. Hendry pindah rumah untuk menyembunyikan fakta bahwa Alden bukanlah anak biologisnya. Mereka bersumpah untuk membawa kebenaran itu sampai mati.
"Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ayah kandung Alden adalah pria brengsek. Bukannya aku tidak tahu kelakuan Alden di luar sana, hanya saja … hah," desah Hendry sambil menghela napas berat.
Hendry selalu mengawasi Alden dan Artha melalui anak buahnya. Meskipun ia tampak tidak ikut campur dalam hidup kedua putranya. Namun, ia tetap memantau untuk memastikan mereka tidak membuat onar di luar rumah.
Aku tahu, Ma. Kepulangan Alden dari luar negeri kali ini bukanlah sekedar liburan semata. Dia tertarik dengan hubungan Bunga dan Artha. Tapi, aku tidak akan membiarkan dia merusak kebahagiaan putra kita, Ma. Tidak akan.
Hendry meraih telepon seluler yang tergeletak di atas nakas. Menekan sebuah nomor kontak dan memerintahkan sesuatu. Wajahnya sangat dingin seperti kutub utara yang membeku.
"Pastikan kamu tidak tertangkap oleh mereka!" ancam Hendry sebelum mengakhiri panggilan suara di ponselnya.
Dia melangkah menuju balkon dan berdiri dengan menyeringai. Kedua tangannya memegang pagar pembatas balkon dengan kuat. Giginya menggertak sampai kerutan di lehernya tertarik ke atas. Hendry yang berwajah santai dan berwibawa, kini terlihat seperti seekor serigala yang hendak pergi berburu. Wajah yang tidak pernah sekalipun ia perlihatkan di hadapan istrinya yang berhati lembut.
*Bersambung*
__ADS_1