Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Mimpi atau ...


__ADS_3

Artha duduk bersandar di sofa tunggal. Melihat Bunga yang menggeliat di atas ranjang dengan kemeja bagian atas tersingkap sampai ke dada. Bunga merasa leluasa bergerak jika memakai kemeja longgar ketika bekerja.


Senja mulai tiba, menghadirkan warna jingga yang menyilaukan mata. Bunga beranjak bangun sambil menutupi kelopak matanya menggunakan punggung tangan. Pandangannya tertuju ke jendela yang tirainya masih terbuka.


Kaki telanjang gadis itu turun dan melangkah mendekati jendela. Tirai ditarik dan ia pun berbalik hendak ke kamar mandi. Namun, ia terkejut melihat suaminya sedang duduk menopang dagu dengan tangan kiri.


"Kapan kamu datang?" Bunga tersenyum canggung saat menyapa Artha.


"Dua jam yang lalu," jawabnya seraya menunjukkan senyum termanis yang pernah dilihat oleh Bunga.


"Hah! Kenapa kamu tidak membangunkan aku? Terus … kamu duduk di situ dari tadi?" Bunga bertanya dengan mata memicing.


Tidak ada jawaban dari suaminya menegaskan bahwa itu benar adanya. Mata gadis itu pun membelalak lebar. Kesal karena kelakuan suaminya, ia pun menggerutu.


"Dasar mesum! Ngapain lihatin orang tidur sampai dua jam," gerutunya sambil membalikkan badan.


"Melihat tubuh istri sendiri, kan, halal. Lagipula, dedek-ku tidak bangun. Kalau bangun, bisa berabe, kan," kelakarnya lalu tertawa lepas.


"De … dedek apaan maksudnya? Keluar sana!" Bunga menarik Artha dari sofa seraya mengusirnya keluar dari kamar.


Namun, Artha justru menarik tangan Bunga sampai terduduk dipangkuannya. Kedua tangan Artha melingkar di pinggang ramping sang istri. Jarak yang hanya bebera senti membuat ia dapat mendengar detak jantung Bunga yang sedang gugup.


"Lepasin a-ku, Ar," ucap Bunga dengan suara tertahan.


"Tidak mau. Semalam, kamu juga minta dilepaskan. Tapi, kamu pergi pagi-pagi sekali untuk menghindari ku. Aku tidak akan melepaskannya kali ini," protes Artha sambil mempererat pelukannya.


"Aku tidak akan lari," kata Bunga sambil menarik diri dari pelukan Artha.


Namun, pelukan sang suami tidak mengendur. Semakin Bunga mencoba menjauh, semakin erat pula kedua tangan Artha memeluk pinggangnya. Menyerah karena usahanya berakhir sia-sia.

__ADS_1


"Sudah tidak melawan lagi?" tanya Artha seraya mengendurkan pelukannya.


Bunga menggelengkan kepalanya pelan. Ia merasa gugup duduk di atas kedua paha Artha. Mau bagaimana lagi, ia tidak bisa mengingkari ucapannya sendiri.


"Dengarkan ucapannya baik-baik. Aku tidak akan mengucapkannya dua kali," tegas Artha sambil menarik napas dalam-dalam.


Ia perlu mempersiapkan hati untuk membuat pengakuan. Bukan hanya pengakuan cinta, tapi semua kebohongan yang ditutupinya. Ia ingin memulai hubungan baru dengan landasan kejujuran. Melenyapkan semua keraguan yang selama ini membelenggu diantara mereka.


"Aku ingin membuat sebuah pengakuan. Saat pertama kali mendengar mama menjodohkan aku, sebenarnya aku berencana menolaknya. Tapi, saat tahu bahwa gadis yang dijodohkan adalah kamu, aku berubah pikiran.


"Di awal perjumpaan kita, aku sudah tertarik padamu. Tidak pernah kurasakan perasaan yang begitu menggebu untuk memiliki seorang gadis seperti perasaanku padamu. Bahkan kepada Elena, aku tidak pernah merasa seperti itu.


"Maaf, aku berbohong saat memintamu menjadi istri kontrak. Surat perjanjian yang kamu tanda tangani bukanlah kontrak pernikahan selama dua tahun, tapi seumur hidup. Aku ingin hidup menua berdua denganmu selamanya," ungkap Artha secara terus terang.


Bunga hanya terdiam. Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Antara bahagia dan kecewa, perasaan gadis itu pun sedang bergejolak.


Baru berniat menggoda suaminya agar tidak pergi ke pelukan wanita lain, tapi laki-laki itu justru membuat pengakuan mengejutkan. Apakah ia bisa mempercayai semua kata-kata suaminya? Sehari yang lalu, suaminya masih pergi dengan wanita lain, lalu sekarang mengaku mencintai dirinya. Bunga tidak bisa percaya sepenuhnya dengan kata manis yang keluar dari laki-laki itu.


"Kamu pasti tidak percaya kalau aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Wajar, kok. Apalagi, aku memiliki kekasih saat itu," ujar Artha seraya melepaskan pelukannya di pinggang Bunga.


Gadis itu segera beranjak bangun saat ada kesempatan. Ia tidak tahu semerah apa wajahnya saat ini. Rasa panas menjalari seluruh tubuhnya saat ia mendengar pengakuan cinta dari suaminya.


"Ekhem! Permisi, Kak Bunga. Boleh Ani masuk?" Ani mendengar pembicaraan mereka secara tidak sengaja, karena itu ia sengaja berdehem sebelum mengetuk pintu.


Artha bangkit dari sofa dan membuka pintu tanpa banyak bicara. Ia melangkah pergi melewati Ani yang tersenyum menyapanya. Laki-laki itu bergeming sejenak, lalu kembali melangkahkan kakinya menuju teras.


Hah … sudah susah payah berbicara jujur, eh … dia masih belum percaya juga.


Sementara di dalam kamar, Bunga terduduk dengan wajah tertunduk. Ani duduk disampingnya dan mencoba mencari tahu apa alasan gadis itu tampak murung. Namun, Bunga memilih diam, memendam kegalauan hatinya sendirian.

__ADS_1


"Suruh Artha pulang, An. Aku ingin menginap disini malam ini," perintah Bunga kepada Ani.


"Oke. Istirahat saja dengan nyenyak disini, tapi Ani akan pulang ke rumah," ucap gadis itu.


"Hah? Kok, pulang? Kenapa tiba-tiba?" Bunga mencecar Ani dengan pertanyaan beruntun.


"Soalnya ada sepupu dari luar kota yang tiba-tiba datang ke rumah. Ani mau pamit tadi, makanya cari, Kak Bunga," tutur Ani panjang lebar.


"Ya sudah. Kamu boleh pulang juga. Aku tidak apa-apa sendirian," kata Bunga dengan penuh percaya diri.


Sebenarnya, dia gadis penakut. Jika sendirian, terkadang dia tidak bisa tidur. Mau pergi ke kamar mandi pun tidak berani saking takutnya.


Ani pergi berbicara dengan Artha. Bunga mengintip mereka dari balik jendela kamar. Sayang, ia tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Namun, satu hal yang pasti, Artha segera pergi setelah berbicara dengan Ani.


"Heh, tidak ada niat untuk membujukku pulang bareng gitu? Dasar suami gak peka," gerutu Bunga sambil menarik tirai dan mengunci pintu kamar.


Ia tidak perlu mengunci pintu depan karena sudah dikunci dari luar oleh Ani. Mereka memiliki masing-masing dua anak kunci. Bunga berbaring dengan posisi miring sambil memeluk bantal guling.


Sudah menjadi kebiasaan bagi Bunga, ia akan mencabut anak kunci untuk memudahkan Ani membangunkannya. Hati dan tubuh yang lelah membuat Bunga terlelap dengan mudah.


"Emh," gumam Bunga dengan mata tertutup.


Sebuah sentuhan lembut di bibirnya membuat Bunga menggumam lirih seperti orang yang mengigau. Semakin lama, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Hangat dan basah, benda apa yang menempel di bibirnya? Ia bertanya-tanya dalam keadaan setengah sadar.


Saat membuka mata, ia terperanjat bangun. Namun, segera tubuhnya ditarik kembali sampai terbaring di bawah impitan tubuh Artha yang bertelanjang dada. Belum sempat mencerna apa yang terjadi, Artha kembali menghujani wajah dan bibir Bunga dengan kecupan penuh hasrat.


"Ar … Artha—" pekik Bunga sambil menggigit bibir bawahnya sendiri.


Apa yang akan terjadi selanjutnya?

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2