Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Salting


__ADS_3

"Cepat jalan! Kita sudah tertinggal jauh dari orang tuamu," ucap Bunga sambil memalingkan muka.


"Siap, Nona Manis!"


"Apa, sih," gerutu Bunga dengan wajah tersipu. Ia tidak pernah dipanggil nona seumur hidup. Panggilan itu terdengar memalukan, sampai-sampai wajahnya memerah.


Artha menyalakan mesin mobil. Tujuan mereka adalah rumahnya. Tanpa arahan Hendry pun Artha tidak mungkin salah alamat. Namun, Bunga justru mengkhawatirkan hal itu karena mobil Hendry sudah tidak terlihat lagi.


Bunga tertidur selama sisa perjalanan karena semalam ia tidak dapat tertidur dengan nyenyak. Gadis yang akan segera merayakan ulang tahun ke-31 itu terlihat sangat cantik saat tidur. Artha semakin tertarik padanya, bahkan saat ini, ia sangat ingin menggigit bibir tipis itu.


Hah .... Sejak kapan aku jadi berpikir kotor hanya karena menatap bibir seorang gadis yang sedang tertidur? Saat bersama Elena, aku tidak pernah merasakan hal segila ini.


Artha merasa geli sendiri dengan pikiran mesumnya. Kenapa dia sangat bergairah saat menatap wajah tunangannya? Ia sendiri bingung dan tidak tahu apa alasannya.


Dua jam kemudian, mereka tiba di rumah Hendry. Sepasang suami istri itu sudah menunggu Artha dan Bunga sejak tiga puluh menit yang lalu. Namun, Artha keluar dari mobil seorang diri.


Khumaira bertanya kepada putranya. Hendry mendengarkan percakapan ibu dan anak itu karena ia merasa penasaran. Ia sangat yakin, Bunga ada di mobil, tapi kenapa tidak mau keluar?


"Bunga sepertinya kelelahan, Ma. Artha tidak tega membangunkannya. Sebaiknya, Mama dan Papa, masuk ke rumah saja. Saat Bunga bangun, Artha akan membawanya ke dalam," ucap Artha sambil menoleh ke arah mobil Bunga.


"Oh …. Ya sudah," ucap Khumaira. Ia menarik lengan suaminya dan masuk ke rumah, sedangkan Artha kembali ke dalam mobil.


Ia menemani Bunga di dalam mobil. Gadis itu mengernyit dalam tidurnya. Bahkan, Artha mendengar gadis itu mengigau.


"Kamu jahat, Pras. Aku cinta sama kamu, hiks …."


Darah Artha seolah mendidih mendengar Bunga menyebut nama laki-laki lain. Ia memang belum mengenal Bunga dengan baik karena mereka baru tiga kali bertemu. Namun, nama laki-laki yang baru saja keluar dari bibir gadis yang tertidur itu membuat hatinya penasaran. Seperti apa masa lalu gadis itu dan siapa laki-laki yang begitu mujur sampai masuk ke dalam mimpi Bunga? Artha sungguh ingin tahu semua itu, tapi ia tidak mau membuat Bunga tidak nyaman dengannya.


"Siapa laki-laki itu, Bunga?" tanya Artha dengan suara sangat rendah. Ia berbisik di telinga Bunga yang masih terlelap. Tidak disangka, gadis itu menjawab pertanyaannya dengan keadaan masih tertidur pulas.

__ADS_1


"Mantan kekasihku."


Mantan kekasih? Jadi, dia masih mencintai mantan kekasihnya? Sial! Kenapa aku jadi kesal?


Artha tidak ingin mendengar nama laki-laki itu disebut lagi oleh Bunga. Meskipun tidak tega, akhirnya ia menepuk punggung tangan gadis itu. Dalam sekali panggil, gadis itu terbangun.


"Sudah sampai, ya? Maaf, aku ketiduran," ucap Bunga sambil melakukan peregangan otot. Tidur di kursi mobil yang keras, membuat tubuhnya terasa kaku.


"Sudah dari tiga jam yang lalu," jawab Artha dengan nada ketus.


"Ya, maaf. Lagian, kenapa tidak dibangunkan sejak tadi? Malah marah-marah tidak jelas. Dasar brondong labil," ketus Bunga. Ia tidak terima dimarahi oleh Artha karena ia tidak merasa melakukan kesalahan. Jika laki-laki itu membangunkannya sejak tadi, ia juga pasti sudah bangun.


Bunga bukan tipe wanita yang sudah untuk dibangunkan. Saat tidur pun, ia bisa langsung terbangun jika ada suara pesan dari ponsel. Kelemahannya hanya satu, suara manusia.


Saat tertidur, jika ada seseorang yang mengajaknya berbicara, ia akan menjawab dan merasa semua itu adalah mimpi. Karena itulah, isi hati Bunga mudah dikorek saat dia sedang tidur. Karena hal itu pula, akhirnya kekasihnya menikah dengan orang lain.


Ia tidak mengetahui dengan pasti apa alasan Pras menikah dengan gadis lain disaat Bunga sedang berjuang untuk meniti karir. Orang yang diharapkan dapat mendukungnya secara moril, justru menghilang disaat dibutuhkan. Lebih menyakitkan lagi, dia muncul dengan surat undangan pernikahan.


Bunga sangat asing dengan keramahannya. Biasanya, calon ibu mertua selalu menjadi orang yang sulit untuk dihadapi. Namun, berbeda dengan Khumaira, wanita itu justru sangat menyambut kehadiran Bunga. Sampai-sampai, gadis itu merasa canggung untuk berbicara.


"Terima kasih, Tante," ucap Bunga.


"Tidak perlu sungkan. Eh! Kamu mau kemana, Ar?"


"Artha mau mandi dulu, Ma. Lengket, gak betah," jawabnya sambil menaiki anak tangga.


Sampai acara makan malam selesai, Artha masih tidak keluar juga dari kamarnya. Khumaira tidak enak hati dengan sikap putranya yang terkesan menghindari makan malam bersama Bunga. Padahal, Artha mengatakan bahwa dia tertarik kepada gadis pilihan mereka.


"Maafkan Artha, Nak Bunga. Sepertinya, dia sudah tidur," ujar Khumaira yang berusaha mencari alasan.

__ADS_1


"Tapi … dia belum makan apa-apa sejak pagi," ucap Bunga. Walaupun tidak punya rasa, tapi ia tidak bisa membiarkan seseorang kelaparan.


Artha tidak makan apa pun sejak mereka berangkat. Di rest area, ia juga tidak ikut makan siang bersama Bunga. Gadis itu khawatir, perut Artha bermasalah jika melewatkan jam makan.


"Benar juga. Ah, kalau tidak … bagaimana jika, Nak Bunga, membawakan makanan untuk Artha? Mungkin, dia belum tidur," usul Hendry. Ia menggunakan rasa khawatir Bunga sebagai alasan untuk membuat Artha lebih dekat dengan Bunga.


"Sa-saya?" Bunga terbelalak. Bagaimana bisa ia diminta membawakan makanan untuk laki-laki itu? Apalagi, mereka sempat beradu mulut beberapa saat yang lalu.


"Iya!" Khumaira menjawab dengan cepat dan lantang, membuat Bunga sedikit terperanjat kaget.


"Baiklah, Om," ucap Bunga pada akhirnya. Namun, Artha turun sesaat setelah ia menjawab.


"Tidak perlu dibawakan. Artha akan makan di meja makan sekarang. Kalian, beristirahat saja," kata Artha sambil berjalan menuju meja makan.


"Ya sudah." Khumaira mengajak Bunga pergi ke kamar tamu yang berada tepat di bawah tangga.


Kamar itu sangat luas dan diisi dengan perabotan mewah. Bunga ternganga melihat bingkai lukisan yang terbuat dari emas murni. Namun, bukan bingkai itu yang membuatnya menganga, tapi foto anak laki-laki yang terpajang di dalam bingkai.


"Pfff …. Itu … dia? Ya ampun! Ternyata dia sangat lucu saat kecil," gumam Bunga yang berusaha keras untuk menahan tawa.


Gubrak!


"Akh! Siapa …."


Bunga terkejut saat Artha tiba-tiba menerobos masuk. Bahkan, saking terburu-buru, Artha terjatuh tidak jauh dari pintu. Matanya menatap foto itu dengan panik.


Bunga menatap ke arah mata Artha memandang. Lalu, pandangannya beralih ke wajah Artha yang tampak bersemu merah. Dia … malu? Lucunya ….


"Apa? Kamu pasti ingin menertawakan aku, kan? Itu foto masa kecil, makanya jelek," gerutu Artha sambil berusaha bangkit. Ia mengambil bingkai foto berukuran 10R itu dan berlari keluar dengan cepat. Tingkah lucunya membuat Bunga terbahak-bahak.

__ADS_1


"Hahaha …. Aduh, memang masih anak-anak. Jadi, sangat lucu dan menggemaskan."


*Bersambung


__ADS_2