Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Diundang calon mama mertua


__ADS_3

“Kok, balik lagi?” tanya Ani dengan dahi mengernyit.


“Kenapa kamu tidak bilang kalau ada Pras di depan?” Bunga menjawab pertanyaan Ani dengan pertanyaan yang lain.


Gadis itu tentu saja kebingungan. Saat ia memanggil Bunga, hanya ada Artha di depan. Selain itu, Ani tidak tahu siapa Pras yang dimaksud oleh Bunga.


“Pras … siapa, Kak?”


Bunga baru menyadari kekeliruannya. Pras adalah mantan pacarnya di kampung. Ani belum pernah bertemu laki-laki itu. Wajar saja jika gadis itu tidak mengenalnya.


“Bukan siapa-siapa,” jawab Bunga dengan cepat.


Ani memerhatikan wajah Bunga yang dibanjiri oleh keringat dingin. Saat sedang panik, Bunga pasti berkeringat, dan Ani mengetahui hal itu dengan baik. Merasa penasaran dengan sosok Pras yang membuat Bunga gelisah, Ani pun keluar.


Artha datang ke sana pagi-pagi karena merindukan wajah gadis itu. Namun, Bunga justru tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Setelah membuka pintu sejenak, gadis itu kembali ke dalam, dan tidak keluar lagi.


Artha yang sejak tadi merasa kesal melihat Pras, mencoba untuk berbicara dengannya. Ia pikir, Bunga tidak nyaman bertemu dengan laki-laki disampingnya itu. Awalnya, ia berbicara sopan, tapi kemudian dia berkata dengan ketus.


“Keperluan Anda apa sebenarnya, Mas Pras?”


“Saya ingin mengantarkan sarapan untuk Bunga,” jawab Pras sambil tersenyum tipis.


“Hubungan apa yang kalian miliki?”


“Saya … pacar Bunga,” jawab Pras dengan canggung. Ia sengaja tidak menyebut kata mantan karena Pras sama sekali tidak ingin berpisah dengan Bunga.


“Sorry? Anda tidak salah, kan? Bunga tidak memiliki kekasih. Lagipula … dia adalah tunanganku sekarang,” ujar Artha yang tidak mau kalah dengan Pras.


Ia memiliki kekasih yang sedang berlibur dan ia juga berpikir bisa saja Bunga juga memiliki kekasih. Namun, ia tidak mau menyerahkan Bunga ke tangan laki-laki lain. Artha tidak peduli jika Bunga marah kepadanya karena mengusir kekasih yang datang membawakan sarapan.


“Saya tahu. Saya juga tahu, Anda juga memiliki kekasih, bukan? Jadi, jangan menjadi egois dan serakah.”


Artha terdiam seketika. Bertepatan dengan Ani yang membuka pintu. Gadis itu mendengar berita yang belum diketahuinya.


Fakta bahwa Pras kekasih Bunga dan Artha yang juga memiliki kekasih. Ani berkaca-kaca menyesali takdir buruk yang menimpa kakak angkatnya. Kedua laki-laki itu menoleh kepada Ani bersamaan.


“Selamat pagi, An. Apa aku bisa bertemu dengan Bunga?”

__ADS_1


“Selamat pagi, Mbak. Saya ingin menitipkan ini untuk Bunga. Katakan padanya, saya akan datang lagi besok pagi,” ucap Pras sambil menyerahkan sebuah bungkusan kepada Ani. Pras pergi sambil melirik Artha dengan sinis.


Kedua tangan Artha mengepal erat. Niat hati ingin bertemu untuk melepas rindu, tapi justru bertemu rival cinta. Bunga tidak memberitahu Artha tentang Pras, sedangkan gadis itu mengetahui Elena cukup banyak.


“Sebaiknya, Bang Artha, juga pergi saja. Bungkusan itu … untuk kak Bunga, kan?”


“Ya. Aku … titipkan padamu. Aku … pergi dulu,” pamit Artha setelah memberikan bungkusan berisi bubur ayam kepada Ani.


“Ya. Hati-hati di jalan, Bang,” ucap Ani sebelum menutup pintu.


Artha mengemudikan mobilnya dengan laju kecepatan melebihi batas. Beruntung, ia tidak terlibat kecelakaan atau bertemu dengan petugas polisi. Jika tidak memiliki keberuntungan, ia bisa mengalami salah satu diantaranya.


Pantas saja Bunga menolak bertunangan denganku. Ternyata, itu karena dia memiliki pacar. Ini tidak adil. Kenapa dia tidak mengatakan apa-apa padaku?


Sepanjang jalan, Artha menggerutu kesal di dalam hati. Sebuah panggilan telepon masuk dari Khumaira. Artha menepikan mobilnya.


Khumaira meminta Artha untuk mengajak Bunga ke butik. Wanita itu ingin berbelanja dengan calon menantunya. Artha sudah menolak dengan berbagai alasan, tapi Khumaira tidak mau tahu alasannya.


“Artha akan kembali ke rumah Bunga. Mama, tunggu saja di butik,” pungkas Artha mengakhiri panggilan.


Ia menghela napas berat. Entah Bunga bersedia atau tidak untuk menemuinya? Artha hanya perlu memberitahukan pesan ibunya kepada Bunga. Jika gadis itu tidak bersedia ikut, ia tidak akan memaksanya.


***


Bunga mengurung diri dikamarnya. Ia tidak mau keluar meski Ani memanggilnya berkali-kali. Sudah satu jam sejak kepergian Artha dari rumah.


“Kalau begini … cuma ada satu cara,” gumam Ani.


Gadis itu pergi mencari ibu penjual seblak di depan rumah produksi. Seperti biasa, ibu itu mengerti apa yang harus dilakukan jika Ani mendatanginya. Sambil berlari tergopoh-gopoh, ibu paruh baya itu mengetuk pintu rumah Bunga.


“Nak Bunga! Ibu harus pergi dan Maya tidak ada yang menemani,” kata Oom, ibu tetangga yang berjualan seblak ceker di depan gang masuk perumahan.


Bunga keluar dari kamar setelah merapikan rambut lurusnya yang kusut. Ia selalu mengasuh Maya, gadis kecil berusia dua tahun yang tinggal bersama nenek dan kakak laki-laki berusia tujuh tahun. Mario pasti sedang bersekolah saat ini.


“Bunga akan membawa Maya, Bu. Ibu, pergi saja,” ucap Bunga.


“Terima kasih, Nak Bunga.”

__ADS_1


Setelah Bunga pergi ke rumah Oom, Ani berlari menghampirinya.


“Terima kasih, Nek. Kalau, Nenek, tidak datang … kak Bunga pasti tidak mau keluar.”


“Ada masalah apa sekarang?”


“Percintaan. Ah, Ani harus cepat pergi sebelum ketahuan kak Bunga. Terima kasih sekali lagi, Nek,” ucap Ani sebelum masuk ke rumah produksi.


Para pegawai sedang sibuk mengolah aneka makanan. Bunga Frozen membuat berbagai macam makanan. Selain otak-otak keju, lumpia mayo, bakso tahu, juga ada mie khusus untuk penjual mie ayam.


Bunga juga memiliki sebuah toko yang menjual berbagai macam kerajinan tangan. Sebagian, ia yang membuatnya sendiri di rumah saat ia sedang senggang. Sebagian lainnya dikirim dari luar kota.


Sesaat setelah Bunga membawa Maya ke rumahnya, Artha tiba di depan rumah. Bunga hendak pergi menghindar, tapi laki-laki itu segera menghadangnya. Ia menyampaikan pesan dari Khumaira.


"Saya tidak bisa."


"Kenapa? Kalau kamu marah karena aku datang tanpa pemberitahuan, aku minta maaf," ucap Artha dengan tulus.


"Aku tidak bisa bukan karena apa-apa, tapi karena aku sedang menjaga anak tetanggaku. Maya sendirian karena neneknya ada keperluan. Aku tidak bisa meninggalkan Maya," ujar Bunga menjelaskan.


"Oh …. Kalau begitu, dibawa saja. Daripada mamaku marah-marah," kelakarnya.


"Boleh?"


"Bolehlah. Mama juga suka anak-anak. Mungkin … dia bisa akrab dengan mamaku," jawab Artha.


"Dia punya nama. Namanya~"


"Maya. Aku tahu. Aku sudah dengar tadi," potong Artha.


Bunga terpaksa pergi bersama Artha dan Maya. Ani melihat dari kejauhan. Ia tersenyum tipis sambil mengembuskan napas lega.


"Syukurlah …. Kak Bunga tidak mengurung diri terlalu lama. Maya memang malaikat kecil penyelamat kak Bunga. Kalau sudah berurusan dengan Maya, kak Bunga pasti luluh," gumam Ani.


"Siapa yang luluh?"


"Ah!" Ani berjingkat saat seseorang berbicara di dekat telinganya. Tidak tahu berasal dari mana, laki-laki itu tiba-tiba saja sudah berdiri dibelakangnya. Jantung gadis itu seolah melompat menembus tulang rusuk.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2