Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Pagi yang mengharukan


__ADS_3

Artha berdiri di samping pagar pembatas balkon kamar. Malam ini, ia telah menjadi tunangan Bunga. Ia menatap cincin yang tersemat di jari manisnya.


"Maafkan aku, Elena. Bahkan, jika kamu kembali … aku tidak akan bersamamu lagi."


Ia mengecup cincin itu sambil membayangkan wajah Bunga yang tersenyum lebar. Baru pertama kali, Artha merasakan perasaan yang muncul dalam waktu singkat. Saat pertama kali ia menjalin hubungan dengan Elena, itu karena Elena yang terus menempel padanya lebih dulu.


Perasaan cintanya tumbuh karena kebiasaan. Ya, kebiasaan bersama setiap waktu. Artha tidak merasa berdebar ketika ia memutuskan menjalin kasih dengan Elena.


Namun, perasaannya terhadap Bunga sangat berbeda. Baru tiga kali bertemu, ia selalu merasa gugup dan berdebar saat melihat wajah Bunga. Rasa bahagianya tidak mampu diukur atau dilukiskan dengan kata-kata.


"Aku tidak percaya ini. Aku … benar-benar bertunangan dengannya," gumamnya sambil senyum-senyum sendiri.


***


"Bunga! Kamu sudah tidur, Sayang?"


"Belum, Bu. Masuk saja, pintunya tidak dikunci," saut Bunga dari dalam.


Hartini mendorong pintu dan menghampiri putrinya. Gadis itu duduk di dekat jendela dengan wajah muram. Ia masih belum percaya bahwa, ia akhirnya membuat kesepakatan dengan Artha.


"Kamu … menangis?"


"Hiks …. Tidak, Bu. Ini karena mata Bunga gatal, jadi berair," jawabnya.


Bunga berusaha menyembunyikan kesedihannya dari Hartini. Namun, wanita paruh baya itu tidak bisa dibodohi. Dia melihat kesedihan di mata oval putrinya, tapi ia tidak bisa melakukan apa-apa.


"Nak Artha anak yang baik, Sayang. Ibu yakin, ayahmu tidak akan memilih laki-laki yang salah sebagai pendamping hidupmu. Mungkin … kamu belum memiliki perasaan cinta untuk Artha, tapi sesuai janjimu pada ibu dan ayah, kamu akan berusaha menumbuhkan perasaan itu. Ibu harap, kamu memegang janjimu," ucap Hartini. Ia mengakhiri ucapannya dengan kecupan di kening gadis itu.


Bunga hanya bisa mengangguk pasrah. Satu tahun. Ia harus bisa mencari cara untuk membuat Artha menyerah tentang pertunangan itu.


"Maaf, Bu. Bunga bisa berusaha menumbuhkan perasaan cinta jika Artha masih sendiri, tapi … laki-laki itu memiliki kekasih. Jadi, Bunga tidak ingin bersusah payah melakukan hal yang sia-sia. Bunga tidak bisa menepati janji," gumam Bunga, lirih.

__ADS_1


Gadis itu bergumam pelan setelah Hartini keluar dan menutup pintu kamar. Ia menatap cincin berlian minimalis yang tampak manis di jari kecilnya. Bunga membuka layar ponsel dan melihat hasil rekaman saat pertunangan tadi sore.


Ia mengirimkan video itu kepada Ani. Gadis belia yang sudah menunggu sejak kemarin. Ani bahkan mengirimi pesan berantai dengan kata-kata ancaman yang sama.


Jika itu dilakukan oleh orang lain, Bunga pasti gemetar ketakutan. Tapi, karena Ani yang mengirim, ia hanya tertawa saat membacanya. Tidak lama setelah video terkirim, Ani mengirim pesan singkat lewat medsos.


"Wah …! Dia tampan sekali, Kak. Tidak sabar, deh, buat lihat yang aslinya ."


"Ck! Dasar gadis centil. Apa bedanya di video dan asli? Orangnya itu-itu juga," gerutu Bunga.


Ia sedang enggan mengetik pesan. Seperti kebiasaan gadis itu, jika Bunga tidak membalas pesannya, dia pasti melakukan panggilan video. Namun, Bunga terpaksa menolak panggilan video dari Ani kali ini. Ia sangat lelah dan ia butuh istirahat.


Keesokan paginya, Hendry, Artha, dan Khumaira menjemput Bunga untuk pulang ke Jakarta bersama-sama. Sebelum pergi, mereka sarapan bersama terlebih dulu. Hendry berbicara dengan Amir, sedangkan yang lain hanya fokus menyantap makanan yang dimasak oleh Hartini dengan sepenuh hati.


"Sudah lama kau tidak datang ke rumahku. Ikutlah bersamaku ke sana beberapa hari. Itung-itung, kamu liburan bersama istrimu," ajak Hendry.


"Yah, memang sudah sangat lama. Tapi, aku tidak bisa merepotkan istriku untuk mengajakku jalan-jalan keluar kota. Kondisi tubuh ini sudah sangat rapuh. Ibarat pohon, sudah tinggal layu dan mati," kelakar Amir.


"Ayah harus berumur panjang kalau ingin melihat Bunga menikah," ucapnya pelan sambil menahan tangis.


Gelak tawa kedua laki-laki itu seketika terhenti. Suasana menjadi haru karena ucapan Bunga. Amir berdiri, lalu memutari meja, dan berhenti di samping putrinya.


Amir memeluk Bunga yang sedang duduk dengan kepala tertunduk. Kini, wajah gadis itu terbenam di perut kurus sang ayah. Tangisnya pecah, membuat Khumaira dan Hartini ikut terisak sedih.


"Hiks …. Hiks …."


"Sshh … jangan menangis. Ayah pasti akan menemanimu di hari pernikahan. Apa kamu tidak tahu kalau ayahmu ini sangat kuat? Ayah pasti akan melihatmu menikah dan memiliki beberapa anak yang lucu. Ayah akan menjadi kakek yang sangat bahagia," ujar Amir sambil menepuk-nepuk punggung putrinya.


Bunga adalah putri satu-satunya Pak Amir. Mereka pasti merasa berat untuk berpisah. Tapi, bukannya Bunga sudah lama hidup terpisah dengan mereka? Seharusnya tidak masalah, kan, kalau Bunga kembali ke kota bersamaku dan papa, mama?


Melihat tunangannya menangis tersedu-sedu, ia ingin sekali di posisi Amir. Memeluk dan menenangkan gadis itu, memberikannya perhatian, dan cinta yang besar. Artha menggelengkan kepalanya dengan kuat saat ia menyadari bahwa ia cemburu terhadap calon mertuanya sendiri.

__ADS_1


"Nak Artha, kenapa? Sakit kepala?" Hartini melihat laki-laki itu menggelengkan kepala dan berpikir Artha sedang sakit.


"Tidak, Bu. Artha baik-baik saja. Terima kasih atas perhatiannya," jawab Artha dengan canggung.


Acara hari itu pun berakhir setelah Bunga bisa menguasai diri. Gadis itu berhenti menangis, lalu pergi ke kamar untuk merapikan riasan wajahnya. Tiba waktunya, mereka harus kembali ke Jakarta.


"Karena nak Bunga membawa mobil, sebaiknya Artha duduk bersama Bunga."


"Baik, Pa." Artha menjawab dengan semangat yang membara. Ia membukakan pintu mobil untuk Bunga dan meminta kunci mobil milik gadis itu. Artha tidak mungkin membiarkan tunangannya yang berharga itu menjadi sopir.


"Amir, kami harus pergi sekarang. Jika ada sesuatu masalah, jangan ragu untuk menghubungi kami," pamit Hendry.


"Ya. Aku titip Bunga padamu. Kalian semua, hati-hati di jalan," balas Amir.


Hartini dan Amir mengikuti mobil Hendry dan Bunga sampai di pintu gerbang. Mereka melambaikan tangan sambil menahan tangis. Rasanya, seperti mereka tidak akan pernah bertemu lagi.


Di dalam mobil, Bunga pun sedang menangis. Artha tidak bisa menghiburnya karena ia belum begitu dekat dengan gadis itu. Ia merasakan sesak mendengar tangisan Bunga, tapi hanya bisa diam seribu bahasa.


Cekiitt!


Artha menepikan mobilnya dan dengan tiba-tiba memeluk Bunga. Kedua mata bermanik hitam itu melebar. Ia mendorong Artha hingga laki-laki itu membentur pintu mobil.


"Apa yang kau lakukan?! Brengsek!"


"Bagaimana bisa aku disebut brengsek, saat aku mencoba menghiburmu?"


"Apa?! Meng …. Heh! Kamu cuma cari-cari kesempatan saja, kan? Kamu pikir saya, ini, apa?"


Bunga mencaci-maki Artha yang dianggap tidak sopan. Mereka bertunangan karena paksaan kedua orang tua, bukan karena mereka saling mencintai. Bunga menganggap itu hal yang tidak pantas, ketika mereka tidak terikat cinta, tapi berani menyentuh.


"Lalu … bagaimana cara menghiburmu? Hem …." Artha menatapnya dengan bibir menyeringai. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki itu? Tatapan matanya yang tajam membuat Bunga seketika menutupi dadanya dengan kedua tangan bersilang.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2