
Artha masih tertidur pulas di ranjangnya. Enggan bangun karena merasa lelah setelah mengemudi kemarin. Pinggangnya terasa kaku akibat duduk menemani Bunga yang tertidur di dalam mobil.
"Selamat pagi, Tante. Ehm ... maksud Bunga … selamat siang," sapa Bunga kepada Khumaira yang sedang menata bunga ke dalam vas.
"Selamat siang, Sayang. Kenapa tidak keluar untuk sarapan? Tante sama Alden sangat ingin makan bersamamu," kata Khumaira sambil tersenyum tipis.
Bunga merasa tidak enak hati. Ia terlelap di dalam bak mandi air hangat karena terlalu nyaman. Beruntung, ia tidak sampai menggelosor masuk dan tenggelam. Saat keluar dari kamar mandi, ternyata sudah jam sepuluh.
"Maaf, Tante. Bunga ketiduran di kamar mandi tadi," jawab gadis itu dengan wajah tertunduk malu.
"Ya ampun. Pasti, kamu, sangat kelelahan kemarin. Artha juga belum bangun, tuh," ucap Khumaira sambil menunjuk letak kamar Artha. "Tante bisa minta tolong, bangunkan Artha?"
"Hah?"
Gadis itu terbelalak. Khumaira meminta sesuatu hal yang berat bagi Bunga. Membangunkan seorang laki-laki yang baru dikenalnya. Mereka sudah bertunangan, tapi Bunga mana berani membangunkan Artha.
"Kenapa diam? Tante sedang sibuk, om Hen sedang memeriksa mesin mobil, Alden juga sama. Kita, kan, mau pergi ke rumahmu. Masa, dia tidak mau bangun," keluhnya dengan wajah lelah. Khumaira sampai mendesah agar Bunga merasa semakin tidak enak hati.
Wanita paruh baya itu berhasil membuat Bunga mengalah. Gadis itu menaiki anak tangga dengan langkah ragu-ragu. Semakin mendekati pintu kamar Artha, jantungnya mulai berpacu cepat.
Bak genderang perang yang ditabuh berulang-ulang dengan ritme yang sama. Bunga menoleh ke ruang tengah dimana Khumaira terus menatapnya penuh harap. 'Aku pasti bisa'.
Tok! Tok! Tok!
"Siapa?" tanya Artha dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Ini … aku."
Artha beranjak turun dari tempat tidur. Tubuhnya hanya dibalut celana pendek di bagian bawah, sedangkan dadanya terekspos bebas. Tanpa memikirkan ada seorang gadis di depan pintu, ia membiarkan tubuh bagian atas tanpa kain sama sekali.
Klik!
"Akh!" Bunga memekik sambil membalikkan badan dengan cepat. "Ka … kamu, tidak tahu malu. Kenapa tidak memakai baju?"
Artha terkekeh. Bunga berusia tiga puluh tahun, yang artinya lebih dewasa dari laki-laki itu. Namun, tingkah polosnya membuat dia terlihat seperti anak sekolah menengah pertama yang belum pernah melihat dada laki-laki.
__ADS_1
"Kenapa harus malu? Kecuali kalau aku ini wanita, baru aku malu. Lagian, memangnya kamu tidak tergoda, gitu? Dadaku … kekar, kan," goda Artha sambil mengeringkan sebelah matanya.
"Apa? Dasar brondong mesum," ketus Bunga tanpa berbalik. "Mamamu memintamu untuk segera bersiap-siap. Permisi," pungkasnya.
"Labil," gumam Artha.
Bunga yang belum jauh dari kamar, masih mendengar suara laki-laki itu dengan jelas. Ia melirik tajam sebelum akhirnya turun dengan hati super kesal. Dia wanita dewasa, tapi diejek labil. Rasanya tidak tepat, tapi itulah yang Bunga dengar tadi.
Mana ada, aku, labil. Dia, tuh, brondong labil. Sudah labil, mesum, dan sikapnya kekanak-kanakan.
Bunga menggerutu di dalam hati. Ia memasang senyum yang terpaksa. Artha yang membuat masalah, jadi ia tidak bisa melampiaskan kekesalannya terhadap orang lain.
"Bagaimana, Nak? Artha sudah bangun?"
"Sudah, Tante. Mungkin, sedang mandi," jawab Bunga sambil membantu memotong tangkai bunga mawar.
"Bunganya cantik, kan?"
"Iya. Cantik sekali, Tante," jawab Bunga tanpa tahu kemana arah pembicaraan yang dituju Khumaira.
"Terima kasih, Tante. Bunga jadi besar kepala, nih," balas Bunga dengan wajah memerah dan senyum tersipu.
Artha turun setelah mandi dan berganti pakaian. Ia melihat pemandangan yang sangat langka yang baru dilihatnya hari ini. Sang ibu tampak bahagia berbicara dengan gadis yang menjadi pendamping putranya.
Dulu, wajah Khumaira tidak tersenyum sama sekali saat Artha membawa Elena ke rumah. Bahkan, dia tidak menemani Elena bicara, dan meninggalkannya pergi keluar. Khumaira tidak pulang sampai malam hari, hingga Artha terpaksa tidak pernah membawa Elena ke rumah lagi sampai hari ini.
Dia ... memang gadis yang sangat menarik. Bukan cuma dimata laki-laki, tapi Dimata orang tua. Sepertinya ... aku akan mengingkari perjanjian satu tahun dengannya.
Artha berhenti di anak tangga terakhir. Sebuah suara berhasil mengalihkan lamunannya. Ia mengenal suara itu dengan baik, meski telah lama berpisah.
"Kakak! Kapan, Kakak, kembali ke Indo?" Artha berlari menghampiri kakaknya.
Alden masuk bersama Hendry setelah memeriksa mesin mobil yang akan mereka pakai untuk pergi ke rumah Bunga. Dia akan ikut bersama Hendry dan Khumaira, sedangkan Artha akan naik mobil yang lain. Saat melihat sang adik sedang terpaku menatap Bunga, hati Alden merasa tidak nyaman.
Aneh? Bunga adalah tunangan Artha. Kenapa aku merasa tidak suka melihatnya menatap Bunga dengan penuh cinta?
__ADS_1
"Kak! Kenapa malah bengong?" Artha menepuk bahu kakaknya.
"Hah? Oh, maaf, Ar. Kakak pulang tadi malam."
Artha memerhatikan kemana tatapan Alden tertuju. Keningnya mengerut, kedua alis bertaut, dan hatinya seperti tersiram air panas yang mendidih. Namun, ia tidak bisa mengatakan isi hatinya karena Alden adalah kakak kandungnya. Jika itu laki-laki lain, rasanya tidak akan selamat dari kemarahan Artha.
"Kenapa tidak membangunkanku? Apa, Kakak, tidak merindukanku?" Artha merajuk dengan bibir mengerucut.
"Tentu saja rindu. Sudah lama, aku tidak mengajakmu berkelahi," jawab Alden sambil menonjok pelan dada Artha.
"E … eh …. Baru bertemu sudah mau berkelahi? Tidak ada, ya! Berani kalian berkelahi, mama jewer kalian," seloroh Khumaira.
"Hahaha …."
Mereka tertawa renyah. Bunga ikut tersenyum melihat mereka berempat. Keluarga harmonis yang dipenuhi kasih sayang. Rumah itu terasa hangat, mengingatkan Bunga dengan rumah orangtuanya.
"Artha! Bunga! Ayo, makan!" Khumaira berseru dari ruang makan. Ia menyiapkan makanan untuk Artha dan Bunga yang melewatkan jam sarapan.
"Tante, tidak ikut sarapan?"
"Tante dan yang lain sudah sarapan. Kalian makan saja berdua," jawabnya sambil menuangkan jahe susu dicampur kunyit.
"Loh?" Bunga ingin pergi, tapi Artha menghalanginya.
"Kalau kamu mengabaikan kebaikan pemilik rumah saat kamu bertamu, itu tidak sopan. Mamaku sudah menyiapkan semua ini untukmu, terus … kamu mau pergi, gitu?"
Artha menarik kursi untuk gadis itu. Tanpa menunggu Bunga duduk, ia segera duduk di samping kursi itu. Duduk berdekatan dengan Bunga, ia bahkan tidak pernah membayangkan.
Bunga serba salah. Tidak duduk, tidak enak hati kepada Khumaira yang masih memperhatikan mereka dari ruang keluarga. Wanita paruh baya itu sedang menata bunga di sana. Bunga duduk dengan terpaksa.
"Gitu, dong," ucap Artha sambil meminum susu buatan ibunya.
Khumaira sangat menyukai minuman herbal, tapi tidak dengan anak dan suaminya. Untuk menyiasatinya, ia menambahkan susu ke dalam minuman herbal itu. Artha sudah terbiasa melihat dan meminumnya setiap pagi.
Berbeda dengan Bunga yang sedikit enggan untuk meneguknya. Namun, itu adalah minuman yang dibuat khusus oleh calon ibu mertua. Seteguk air berwarna oranye pucat itu masuk ke tenggorokan. Ia menelannya dengan susah payah.
__ADS_1
*Bersambung*