Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Jeritan pagi


__ADS_3

“Tadi menangis, sekarang tertawa. Kamu wanita dewasa yang labil, ya,” kelakar Artha.


“Kamu, tuh, brondong labil,” balas Bunga.


“Haha ….” Artha tertawa lebar.


Ia sedikit merasa bahagia karena Bunga menahan kepergiannya. Namun, ia masih merasa penasaran. Kenapa Bunga menangis seperti tadi.


“Jangan memanggilku Bubu seperti tadi. Aku membenci nama panggilan itu karena panggilan itu dibuat oleh Pras,” celetuk Bunga, mencoba menjelaskan alasannya menangis.


“Maaf. Aku tidak tahu hal itu. Pras … apakah pria yang datang kemarin pagi bersamaan denganku?”


“Ya,” jawab Bunga dengan singkat.


Apa yang dilakukan laki-laki itu kepada Bunga? Sepertinya … Bunga sangat membencinya.


"Jadi, bagaimana cara memanggilmu? Aku ingin memiliki panggilan sayang sendiri untukmu," celetuk Artha tanpa sadar.


"Hah? Sa-yang?" Bunga bertanya dengan kikuk.


Mereka tersipu malu. Baik Bunga maupun Artha sama-sama tidak bisa menahan desiran perasaan aneh yang merajalela. Sesuatu yang indah seperti sedang berputar mengelilingi mereka.


"Ngomong-ngomong … kita harus membuat perjanjian tertulis," ujar Bunga, mengalihkan pembicaraan.


Senyum Artha menghilang seketika. Sesaat yang lalu, ia sangat bahagia karena merasa seperti cintanya mendapat sambutan. Namun, sedetik kemudian, ia dipukul jatuh dalam sekali serang.


"Perjanjian tertulis?" Artha bertanya dengan mata memicing.


"Ya. Supaya kita tidak melewati batas seperti yang sudah-sudah," jawab Bunga sambil menyeka sisa air mata yang masih membasahi pipinya. "Aku tidak mau jadi baperan seperti ini, tapi … aku memang sedikit perasa," pungkasnya.


"Aku mengerti," ucap Artha dengan wajah lesu.


Ia pergi tanpa pamit setelah mendengar keinginan Bunga. Artha melampiaskan kemarahannya di arena latihan balap motor. Suasana hatinya yang buruk membuat perasaannya lebih sensitif dari biasanya.


"Wiih …. Gila, lu! Pecah rekor juga akhirnya," ucap salah satu teman tongkrongannya.


"Diem, lu!" Artha menjawab sambil melemparkan helm ke atas rumput di tepi lintasan.


"Kenapa, Lo? Sewot amat sama gue. Kayaknya gue gak buat salah sama, Lo," balas laki-laki berambut kribo yang selalu dipanggil sesuai gaya rambutnya.


"Udah, Bo. Bangbro kita ini sepertinya sedang patah hati," timpal laki-laki yang berdiri di samping Artha.

__ADS_1


Tiba-tiba saja, Artha mencekik leher laki-laki itu. Tatapannya nyalang bak serigala lapar. Sebuah pukulan mendarat di dinding samping laki-laki itu.


"Gak usah banyak bac*t! Lu, gak tahu apa-apa. Jadi, tutup mulut, lu, ngerti!"


Bruk!


Artha melepaskan cekikan di leher laki-laki itu seraya membantingnya ke samping. Tubuh laki-laki itu menabrak motor sport yang terparkir tidak jauh darinya. Artha pergi tanpa meminta maaf kepada teman-temannya.


Perasaannya bertambah buruk setelah bertemu dengan temannya. Dia memilih pergi ke klub malam untuk minum-minum. Meski sudah menghabiskan sebotol minuman, kata-kata Bunga masih saja terngiang-ngiang.


"Perjanjian tertulis? Hah! Kamu pikir perasaanku ini cuma omong kosong, hah? Jawab!" Artha menceracau. 


Seorang bartender geleng-geleng kepala. Sudah lebih dari sepuluh kali Artha berbicara seperti itu. Bahkan, seorang pelanggan wanita pun dimarahi dengan kata-kata yang sama. Pikirannya benar-benar kacau.


Bruk!


“Hah … akhirnya laki-laki itu ambruk juga,” desah bartender yang ikut dimarahi oleh Artha.


“Masalahnya, kita harus menghubungi siapa? Kamu, tidak tahu rumahnya, kan,” ucap pelayan wanita yang merupakan kekasih bartender.


Disaat mereka kebingungan, sebuah panggilan telepon memberikan mereka harapan. Namun, mereka tidak tahu kata sandi ponsel milik Artha. Layar ponsel terus berkedip-kedip, menampilkan nama pemanggil yang unik.


“Coba saja. Semoga saja berhasil,” jawab bartender.


Sebelum mengetik nama pemanggil, gadis itu memejamkan mata terlebih dahulu. Lalu, Bunga untuk Artha diketik di layar ponsel. Mereka menghela napas lega.


“Halo,” sapa gadis itu.


[Siapa ini? Bisa bicara dengan Artha?]


“Orang yang Anda cari sedang tidak sadarkan diri, Nona. Bisakah Anda menjemput pacar Anda?”


[Tidak sadarkan diri? Kirimkan alamatnya kepada saya.]


Panggilan berakhir. Gadis pelayan mengetik nama klub tempat mereka bekerja. Setelah mengirimkan lokasi, mereka duduk menunggu dengan gelisah.


Satu jam yang lalu seharusnya mereka sudah menutup klub. Namun, Artha membuat mereka terlambat pulang. Tiga puluh menit kemudian, Bunga datang dengan taksi.


“Dimana dia?” tanya Bunga dengan gelisah.


“Di dalam, Nona. Mari saya antar,” ucap bartender.

__ADS_1


Ia membawa Bunga ke meja Artha. Laki-laki itu terlalu mabuk untuk bisa berjalan di atas kedua kakinya sendiri. Bunga meminta tolong kepada bartender itu.


“Mana kunci mobilmu, Ar?” tanya Bunga.


“Mungkin di saku celananya, Nona,” kata gadis pelayan.


Artha tidak menjawab karena itu si gadis pelayan menjawab sesuai asumsinya. Bunga tampak kebingungan. Namun, sepasang kekasih itu mendesaknya untuk memeriksa saku celana Artha.


Yang benar saja? Aku harus merogoh saku celananya, gitu? Bagaimana kalau aku menyentuh sesuatu yang lain? Astaga … hentikan pikiran kotormu, Bunga.


Bunga memberanikan diri untuk merogoh saku celana Artha dengan hati-hati. Wajahnya berkeringat saking gugupnya. Beruntung, ia tidak perlu berlama-lama memeriksa dimana kunci mobil Artha berada. Gantungan kunci menyembul di sela lubang saku dan Bunga menariknya dengan mudah.


“Terima kasih sudah membantu saya. Saya juga minta maaf atas nama tunangan saya,” ucap Bunga sebelum pergi.


“Sama-sama, Nona. Hati-hati di jalan,” jawab dua sejoli itu.


Bunga membawa Artha pulang ke rumahnya. Jika laki-laki itu dibawa pulang ke rumah Hendry, bisa-bisa Artha habis dimarahi. Entah kenapa Bunga merasa peduli padanya.


“Hah … saat kita perlu bicara, kau malah mabuk seperti ini. Dasar brondong,” gerutu Bunga sambil menatap jalan raya.


Aku tidak ingin bicara denganmu dalam keadaan seperti ini, Bunga. Aku tidak yakin bisa mengendalikan diriku jika aku membuka mata.


Artha sudah sedikit sadar saat Bunga berterima kasih kepada dua pegawai klub. Namun, ia memilih berpura-pura tetap tertidur. Sesekali, ia mencuri pandang dengan mata setengah terbuka.


***


Bunga tertidur di sofa ruang tamu. Ia hanya memiliki dua kamar. Satu kamar ditempati oleh Ani. Gadis itu memiliki kebiasaan tidur yang buruk.


Jika ia tidur dengan gadis itu, sekujur tubuhnya bisa sakit karena ditendang atau mungkin terjatuh ke lantai karena didorong. Sofa merupakan pilihan terbaik baginya. Udara malam tidak sedingin biasanya, membuat Bunga membuka kemeja biru polos yang membalut tubuh rampingnya.


“Akh! …” Bunga berteriak histeris saat terbangun di pagi hari.


Ia mengedarkan pandangannya. Bunga mengingat dengan jelas bahwa ia tidur di sofa ruang tamu tadi malam. Namun, ia terbangun di samping Artha pagi ini.


Teriakan itu membuat Ani dan beberapa pekerja berhamburan keluar dari rumah produksi. Mereka menerobos masuk ke kamar yang tidak terkunci. Mulut mereka menganga lebar melihat pemandangan yang terpampang di atas tempat tidur.


Artha tidak memakai baju dan hanya mengenakan celana panjang, sedangkan Bunga memakai baju lapisan dalam yang tidak terlalu menerawang. Diantara kehebohan mereka, Artha menguap dengan santainya. Ia melakukan peregangan otot ringan sebelum turun dari tempat tidur.


“Apa yang kau lakukan padaku?”


*BERSAMBUNG*        

__ADS_1


__ADS_2