Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Bulan madu


__ADS_3

Setahun setelah kematian Alden, rumah keluarga Hendry kedatangan anggota keluarga yang baru. Putra pertama Artha dan Bunga telah lahir pagi ini. Mereka sepakat memberinya nama Fajar Abimana sesuai jam kelahirannya yang mendekati matahari terbit.


"Wah, lucunya," puji Ani yang sangat ingin menggendong bayi itu.


Namun, dia belum pernah menggendong bayi yang baru lahir. Ia takut mencelakai bayi itu dan hanya bisa memendam keinginannya. Dalam hatinya, ia merasa iri dan ingin segera menikah lalu memiliki anak yang lucu seperti Fajar.


“Bunga masih tertidur. Maklum saja, dia sudah begadang semalaman sambil menahan sakit. Kita biarkan dia beristirahat dengan nyaman,” ujar Khumaira seraya mengajak mereka pergi ke lobby. 


Sementara Fajar diambil oleh perawat untuk dibawa ke ruang perawatan khusus bayi. Artha masih ingin melihat bayinya, tapi Hendry menariknya pergi. Setelah kepergian Al, Hendry tidak mengizinkan Bunga dan Artha pisah rumah. Saat ini, ia hanya memiliki Artha seorang sebagai putranya.


Penyesalan Hendry atas kekhilafannya membuat ia sering melamun ketika menatap foto Alden yang tergantung di sudut kamar. Meskipun Alden sudah pergi, ia tidak membersihkan kamar atau mengosongkannya. Semua barang milik almarhum masih tertata rapi di tempatnya.


Jika saja waktu dapat diputar kembali, Hendry akan mengubah masa depan yang disesalinya seumur hidup. Dengan kedua tangannya, ia membesarkan Alden dengan penuh kasih sayang layaknya putra kandung. Namun, satu kata yang diucapkan dalam keadaan emosi itu telah menghancurkan segalanya.


Saat mendengar kabar bahwa Alden mengakhiri hidupnya, Hendry sangat syok, begitupun dengan Khumaira. Hendry merasa menjadi penyebab keputusasaan Alden. Dia jatuh sakit selama beberapa hari sampai harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit yang sama dengan tempat Alden mengakhiri hidup.


Awalnya, Artha ingin memberi nama Alden pada putra pertamanya sebagai bentuk mengenang laki-laki itu. Namun, wajah Hendry seketika berubah murung saat mendengar usulan Artha. Tidak ingin membuat ayahnya terus merasa menyesal atas kematian Alden, mereka pun bermusyawarah untuk mencari nama yang tepat.


Seminggu kemudian, mereka mengadakan acara aqiqah untuk Fajar. Meskipun hanya pesta syukuran kecil-kecilan, tapi setidaknya dua ratus orang ikut hadir untuk merayakan kelahiran putra pertama Artha. Selain para karyawan perusahaan Hendry, juga ada sebagian kecil kolega yang menyempatkan hadir.


Bunga menggendong Fajar untuk disusui sebelum melakukan ritual potong rambut. Bayi itu tidak begitu rewel, mirip seperti Bunga ketika bayi menurut penuturan Hartini. Sampai acara selesai pun, bayi itu tetap tenang dan tidak menangis sama sekali.


“Setelah menyusui dedek bayi, boleh gak kalau aku ikutan?” tanya Artha sembari tersenyum jahil.


“Gak boleh! Kamu harus libur dulu selama dedek masih bayi,” jawab Bunga sedikit menggerutu kesal.

__ADS_1


"Bercanda, Sayang. Lihat betapa rakusnya dia minum susu. Bagaimana mungkin aku tega berebut dengannya," kelakar Artha seraya mengusap pipi Fajar yang sedang asyik minum ASI eksklusif dari sang ibu.


Bunga tersenyum lebar menatap wajah sang putra. Ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan kontrak yang dijalaninya berbuah manis. Sebelumnya, ia merasa ragu dengan perasaan Artha karena kehadiran Elena ditengah-tengah mereka.


Namun, Elena enggan melanjutkan obsesinya terhadap Artha karena perasaannya telah berubah. Sayangnya, laki-laki yang membuat hatinya berpindah haluan justru meninggalkannya tanpa pernah mengetahui perasaan tulusnya. Hidup memang tidak pernah bisa diduga.


Kapan kita akan bahagia? Kapan kita akan berduka? Jodoh, rejeki? Semuanya rahasia Yang Maha Kuasa. Kita hanya bisa menjalaninya dengan ikhlas.


Buah keikhlasan Bunga telah diterima. Memiliki suami dan keluarga baru yang sangat menyayanginya layaknya orang tua kandungnya sendiri. Bunga tidak pernah merasa tinggal di rumah mertua karena mereka memperlakukan Bunga dengan penuh kasih sayang dan perhatian.


***


Hari-hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa, Fajar telah memasuki usia empat tahun. Hari ini, ia akan pergi ke taman kanak-kanak bersama Ani. 


Kemana Bunga dan Artha? Mengapa mereka tidak mengantar putranya? Ternyata, mereka berdua dipaksa pergi berbulan madu kedua oleh Hendry.


Stress cukup berpengaruh dalam hubungan suami istri. Hendry tidak ingin hubungan mereka terganggu karena terlalu sibuk dengan bisnis masing-masing. Mau tidak mau, mereka berangkat ke Pulau Dewata Bali karena desakan Hendry.


"Papa benar-benar, deh …," celetuk Artha.


"Benar-benar, kenapa? Kamu tidak suka liburan berdua bareng aku?" Bunga bertanya dengan wajah merengut.


"Papa benar-benar pengertian, maksudku. Tahu, aja, kalau aku pengen berduaan sama kamu," jawab Artha melanjutkan ucapannya yang terpotong.


"Oh …."

__ADS_1


"Oh, kenapa? Bagaimana mungkin aku menolak berlibur berdua denganmu. Di rumah, kan, tidak bebas. Aku sangat ingin mendengar desah—"


"Jangan mulai, deh. Sehari saja tidak bicara vulgar, bisa tidak," gerutu Bunga sambil melenggang masuk ke sebuah hotel  mewah, diikuti Artha yang membawa dua koper menuju bagian resepsionis.  


"Selamat sore, Pak. Ada yang bisa kami bantu?" Resepsionis bertanya dengan sopan sambil tersenyum tipis.


Melayani dengan ramah merupakan keharusan bagi seorang petugas resepsionis. Namun, Bunga yang sedang kesal justru menatap tajam kepada gadis petugas resepsionis itu. Seketika, gadis itu cemberut.


"Saya sudah reservasi atas nama Artha. Bisa tolong dicek?" 


"Tuan Artha … ah, ini dia. Kamar Anda di lantai sepuluh, kamar nomor 1032. Ini kuncinya," ucap petugas tanpa melihat ke arah Bunga karena takut dipelototi lagi.


"Terima kasih, Mbak." 


Artha menerima kunci dan berjalan sambil menggandeng tangan istrinya yang masih merajuk. Sementara koper dibawa oleh room boy. Mereka menaiki lift menuju lantai sepuluh. Artha memberikan uang tip kepada room boy sebelum menutup pintu.


Tanpa menunggu rasa lelah setelah perjalanan menghilang, Artha langsung menyerang sang istri dengan kecupan-kecupan ganas yang membuat Bunga kewalahan. Artha memang memiliki hasrat yang tinggi dan Bunga sangat mengerti hal itu. Meskipun tubuhnya lelah, ia tetap melayani dengan baik.


"Kalau dipikir-pikir, ini bulan madu pertama kita, kan? Kita tidak pergi berbulan madu setelah hari pernikahan," kata Artha seraya menutupi tubuh polos mereka yang baru saja berpacu dalam hasrat yang membara.


"Aku tidak ingat," jawab Bunga dengan mata setengah tertutup.


Bunga kelelahan setelah perjalanan jauh dan melayani hasrat sang suami di ranjang. Ia merasa mengantuk dan ingin tidur barang sejenak. Namun, Artha yang masih bersemangat, kembali menyergap tubuh polos Bunga.


"Ah!" Bunga memekik saat tangan Artha menyentuh benda kenyal di dadanya.

__ADS_1


Remasan halus itu berhasil membuat Bunga terjaga dari rasa kantuknya. Lagi dan lagi. Mereka melakukannya sampai malam menjelang. Makan malam pun di dalam kamar karena Bunga terlalu lelah untuk pergi makan di luar.


*TAMAT*


__ADS_2