Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Prahara


__ADS_3

Laki-laki paruh baya duduk dengan tegang di depan Hendry. Keringat dingin bercucuran bak air terjun di musim penghujan. Entah ada masalah apa antara dirinya dan Hendry hingga mereka harus terlibat dalam situasi yang rumit?


"Ada apa, Pak Hendry? Maafkan atas ketidaktahuan saya dalam mengenali Anda," ucap laki-laki paruh baya yang dipanggil Pakde oleh orang terdekatnya.


"Saya tidak ingin berbasa-basi. Anda adalah ayah dari Elena, bukan?" Hendry bertanya terlebih dahulu sebelum menyampaikan maksud hatinya.


"Benar. Tapi, ada apa dengan putri saya? Kenapa Anda bisa mengenal putri saya, Elena?" Ayah Elena tidak pernah merasa mengenal Hendry karena Elena merahasiakan hubungannya dari sang ayah yang selalu sibuk bolak-balik keluar negeri.


"Elena memiliki hubungan dengan putra kedua saya sebelum menikah. Saat ini, putra saya sudah menikah dan putri Anda terus mengganggu rumah tangganya. Saya tahu, ini bukan salah Anda, tapi saya datang untuk membuat kesepakatan dengan Anda, Pak Juan Li. Bagaimana?"


Hendry dan Juan Li sama-sama pebisnis. Mereka tidak hanya memikirkan keluarga semata, tetapi para karyawan yang bekerja di bawahnya. Dalam hal ini, Juan Li sadar posisi putrinya tidak tepat.


"Anda ingin putri saya menjauhi keluarga putra Anda, begitu?" Juan Li yang awalnya tegang, kini merasa di atas angin.


Jika Hendry ingin Elena menjauh, mau tidak mau, dia harus menuruti permintaan Juan Li. Demi keamanan dan kenyamanan bersama, mereka pun sepakat untuk bekerja sama dengan syarat Elena harus dikirim keluar negeri. Mereka menandatangani surat perjanjian kerjasama, lalu berpisah di parkiran resto.


***


"Tidak bisa! Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini?" Alden berteriak kesal seraya melempar ponsel ke atas tempat tidur.


Ia sedang berada di apartemen milik Elena. Baru saja, Elena diberitahu oleh Juan Li untuk bersiap-siap pergi ke negeri kincir untuk melanjutkan pendidikannya. Baik Alden atau Elena sama-sama tidak tahu jika itu hanya alasan Juan Li untuk mengirim Elena pergi dari tanah air.


"Bagaimana, dong, Kak? Aku tidak bisa melawan keinginan papa. Kalau aku pergi, artinya aku harus merelakan Artha. Aku tidak mau," ceracau Elena dengan frustrasi.


Dia baru menantang Bunga. Jika ia pergi keluar negeri, Bunga-lah yang menang atas tantangan itu. Elena yang memiliki harga diri tinggi tentu saja tidak ingin kalah dari siapapun.


"Aku juga tidak tahu," kata Alden sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


Rupanya, ini bukan pertama kalinya Alden menginap di apartemen Elena. Mereka bahkan sudah beberapa kali berhubungan badan tanpa status resmi. Ya, begitulah Elena. Dia termasuk gadis yang berpikiran terlalu terbuka bahkan dalam pergaulan bebas.


Saat berlibur di negeri sakura, ia juga tidur dengan laki-laki asli negara itu. Tinggal satu atap selama dua bulan bersama laki-laki asing tanpa ikatan pernikahan. Setelah bosan, ia kembali ke tanah air dan mendapati kekasihnya sudah menikah dengan gadis lain.


"Ah, kita pergi ke rumahku. Aku akan memperkenalkan kamu sebagai kekasihku. Dengan begitu, orang tuamu akan menunda kepergian kamu," usul Alden dengan sangat percaya diri.


Elena yang tidak bisa berpikir jernih pun hanya mengiakan usulan itu. Ia pergi bersama Alden tanpa tahu apa yang akan dihadapi mereka nantinya. Asalkan bisa menunda kepergiannya, ia akan melakukan apapun.


***


Prang!


Hendry membanting vas bunga yang ada di atas meja di ruang tamu. Dihadapannya, Alden berdiri sambil menggandeng tangan Elena. Dia sangat marah mendengar Alden ingin menikahi Elena.


"Hari ini, kamu membuktikan bahwa kamu bukanlah darah dagingku!" Ucapan itu akhirnya keluar dari mulut Hendry sendiri.


"Papa! Apa maksud, Papa, berkata seperti itu!" Khumaira menghardik suaminya dengan gugup.


Ia memandang Alden dengan perasaan bersalah. Sikap gugup Khumaira membuat Alden merasa yakin bahwa itu bukanlah sekedar luapan kemarahan. Alden percaya bahwa itu benar adanya.


"Haha …. Pantas saja, Papa, tidak pernah mengizinkan Alden untuk mengambil alih perusahaan. Rupanya—"


Alden sangat terpukul mendengar kebenaran yang tersimpan selama dua puluh tahun lebih. Selama ini, ia merasa yakin bahwa ia akan mewarisi perusahaan milik ayahnya. Namun, ayah yang ada dihadapannya bukanlah ayah kandungnya.


"Alden masuk saja dulu ke kamar. Nanti, biar Elena diantar oleh sopir," ucap Khumaira sambil menarik tangan Alden dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Tidak perlu ditutupi lagi, Ma. Dia sudah menunjukkan perbedaan antara kita. Artha yang merupakan darah dagingku dengan patuh menjauhi Elena, tapi dia … hah, biarkan dia pergi," ucap Hendry sebelum masuk ke kamar.

__ADS_1


Alden berlari keluar tanpa membawa Elena bersamanya. Hatinya terasa tercabik-cabik. Kemarahan dan kebenciannya terhadap Artha pun semakin besar.


Kenapa dia yang selalu mendapatkan semua keberuntungan. Orang tua, kekayaan, Bunga, dan semua yang kuinginkan, selalu menjadi miliknya. Kenapa?


"Al! Alden!" Khumaira berlari mengejar Alden seraya memanggil namanya dengan suara parau.


Tangis Khumaira pecah saat Alden pergi tanpa menghiraukan panggilan darinya. Apa yang dikhawatirkan wanita itu kini terbukti. Keluarga bahagia yang selama ini mereka jaga, pecah karena satu kata amarah dari Hendry.


Asal-usul Alden terbongkar di hadapan Elena dan para asisten rumah tangga yang sedang sibuk membersihkan halaman. Setelah ini, mereka yakin akan ada badai yang terjadi di dalam rumah Hendry. Rumah yang selalu aman dan nyaman dengan dipenuhi kasih sayang telah berubah menjadi neraka bagi Alden dan semua penghuninya.


"Jadi, tuan muda pertama bukan anak kandung tuan besar. Terus, dia anak siapa?" Asisten wanita yang sedang memegang sapu lidi itu berbisik dengan tukang kebun yang sama terkejutnya dengan yang lain.


"Saat saya mulai bekerja di rumah ini, tuan muda Alden sudah bersama mereka. Kalau tidak salah, dia sudah berusia dua bulan kala itu," jawab tukang kebun seraya mengingat-ingat kembali awal dia bekerja di rumah itu puluhan tahun yang lalu.


Usianya sudah lima puluh dua saat ini. Dia sering mengajak Alden kecil bermain sepeda jika si kecil Artha sedang merajuk dan tidak mau lepas dari gendongan Khumaira. Sang nyonya begitu menyayangi Alden sehingga tidak terlihat bahwa anak itu bukan anak yang lahir dari rahim yang sama dengan Artha.


"Berarti, Pak Min, sudah dua puluh tahun lebih bekerja pada tuan?" tanya asisten rumah tangga yang baru bekerja setahun yang lalu.


Ia tampak terkagum-kagum. Bisa dibayangkan sebaik apa pemilik rumah jika para pekerjanya bisa bertahan sampai puluhan tahun. Gadis itu merasa tenang karena bekerja di rumah yang tepat.


Suara tangis Khumaira yang semakin memilukan, membubarkan para asisten rumah tangga yang sedang bergosip. Mereka menghampiri wanita paruh baya yang terduduk di atas paving blok. Tidak tahu bagaimana caranya menghibur wanita itu dan hanya bisa mengusap-usap bahunya.


"Sabar, Nyonya. Tuan muda pasti kembali," hibur Pak Min yang berjongkok di depan Khumaira.


Siang itu, awan mendung mengelilingi rumah keluarga Hendry. Cahaya matahari yang menyilaukan mata seakan tidak mampu menepis hujan duka yang dialami Khumaira. Dengan kedua tangannya sendiri, ia merawat Alden dengan penuh kasih sayang. Namun, ia harus kehilangan laki-laki itu dalam sekejap mata.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2