
Artha sampai lupa jika ia ingin menemui bunga. Kabar mengejutkan yang didengarnya langsung dari Alden membuat perasaan Artha tidak karuan. Bukan karena ia tidak rela Elena bersama Alden, hanya saja hubungan mereka terlihat seperti sebuah kesepakatan.
Artha khawatir jika Alden berusaha untuk mengganggu rumah tangganya bersama Bunga. Bagaimana jika mereka berdua bekerja sama membuat sebuah rencana yang tidak ia ketahui. Wajar jika dia merasa khawatir dan cemas.
Alden menyukai Bunga dan Elena masih tidak mau melepaskan Artha. Keduanya bisa diuntungkan jika bekerja sama. Namun, Artha tidak memiliki bukti atas dugaannya.
Sementara itu di parkiran, mereka duduk di dalam mobil. Membahas rencana selanjutnya untuk memisahkan Artha dan Bunga. Alden meminta Elena untuk terus meneror Bunga dengan cara apa pun, sedangkan ia akan membuat rencana untuk menjelek-jelekkan Artha di depan orang tuanya.
"Antarkan aku ke rumah si kecubung itu," pinta Elena.
"Tidak bisa!" Alden menolak tegas.
"Loh! Kenapa? Katanya aku disuruh pepet si kecubung biar meminta pisah sama Artha?" Elena tidak mengerti jalan pikiran Alden sampai bertanya dengan nada heran.
"Ya, betul. Tapi, kalau aku yang nganterin kamu, dia bisa tahu rencana kita, dong. Kamu pakai taksi aja," papar Alden.
"Oh, ya juga. Nanti ketahuan kalau kita barengan. Ya udah, aku naik taksi di halte depan sana. Anterin," ucapnya dengan manja.
Mereka hanya membuat kesepakatan menjadi sepasang kekasih, tapi sikap Elena seolah mereka benar-benar sepasang kekasih. Anehnya, Alden tidak menolak sentuhan-sentuhan nakal Elena saat gadis itu menggelayut disampingnya. Alden dengan santai tetap mengemudikan mobilnya sampai di depan halte yang tidak jauh dari kantor Artha.
Setibanya di rumah Bunga, Elena masuk tanpa permisi ke rumah pribadi. Pintu rumah itu memang selalu terbuka untuk memudahkan pekerjaan Bunga dan Ani yang sering bolak-balik antara rumah pribadi dan rumah produksi. Saat Elena masuk, Bunga dan Ani sedang makan siang di ruang tamu.
"Siapa kamu? Masuk ke rumah orang gak permisi, gak ketuk pintu," hardik Ani yang sontak beranjak berdiri dari sofa.
"Gak ada urusannya sama kamu. Minggir! Aku mau bicara sama dia, tuh," tunjuk Elena dengan mata sinisnya.
"Dia siapa, sih, Kak? Gak sopan banget, deh," ketus Ani sambil melirik kesal kepada Elena.
__ADS_1
Setahu Ani, kakak angkatnya itu tidak memiliki teman yang kurang ajar. Semua orang yang datang ke rumah Bunga rata-rata sopan dan baik. Baru kali ini, mereka kedatangan tamu yang kurang ajarnya tidak ketulungan. Bahkan, Ani ingin sekali menyumpal mulut pedas Elena dengan tahu bulat yang ada di meja.
"Kamu pergi makan di dapur saja, An. Kakak mau bicara dulu dengannya," kata Bunga dengan bijak dan pelan.
Dia tidak ingin terpancing emosi yang bisa menimbulkan pertengkaran. Bunga harus menahan diri dari amarah dan kecemburuan yang hinggap saat melihat wajah Elena. Bagaimanapun juga, dia dan Artha masih memiliki hubungan asmara yang belum usai.
"Ada apa, Nona Elena? Saya yakin, Anda tidak datang untuk berteman dengan saya," kata Bunga seraya bangkit dari sofa.
"Berteman? Cih! Ngapain berteman dengan orang kampung macam kamu. Aku datang untuk memberitahukan sesuatu padamu. Segera ceraikan Artha atau aku menikah dengan Alden!" Elena berkata dengan suara ditekan.
Menikah dengan Alden? Bunga tidak peduli dengan siapa Elena hendak menikah. Apa urusannya dengan meminta ia menceraikan Artha. Aneh. Kata itu membuat Bunga terkekeh geli.
"Urusannya apa dengan pernikahanku? Kalau kamu mau menikah dengan Kak Alden, ya silakan. Kenapa aku harus repot-repot menceraikan suamiku?" Bunga bertanya heran dengan senyum tipis yang seakan merendahkan.
"Perlu kamu tahu, kalau aku menikah dengan Alden, aku akan menggunakan segala cara untuk mengganggu dan membuat Artha kembali padaku. Dia mencintaiku dan kamu hanya wanita yang dijodohkan dengannya. Pernikahan kalian tidak didasari cinta dan—"
"Dan apa lagi? Apa pernikahan tanpa cinta bukanlah pernikahan? Meskipun tanpa cinta, pernikahan kami sah di mata agama dan negara. Sekedar pemberitahuan, Nona Elena, saya tidak akan menceraikan suami saya demi Anda. Silakan Anda goda dia dengan cara Anda dan saya akan mengambil hati suami saya dengan cara," tantang Bunga dengan penuh percaya diri.
Bunga menghela napas berat. Karena terpancing emosi, dia mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal. Menggoda suami? Bagaimana mungkin dia bisa melakukannya. Hanya sekedar berbicara mesra saja ia tidak pernah, lalu bagaimana caranya menggoda Artha?
"Konyol," gumamnya.
"Apa yang konyol?" tanya Ani yang sejak tadi mendengarkan pertengkaran Bunga dan Elena.
"Ah, gak tau, ah," ucapnya, lesu.
Ia terduduk di sofa dengan lemas. Kenapa juga dia harus menantang Elena yang jelas-jelas kekasih suaminya? Bunga tidak percaya diri bisa mendapatkan hati Artha.
__ADS_1
Mereka pernah beberapa kali berciuman, tapi itu bukanlah jaminan bahwa Artha memiliki perasaan yang dalam padanya. Andai Bunga tahu, perasaan Artha lebih dalam dari yang dipikirkannya. Sayangnya, Artha belum bisa mendapatkan kepercayaan dalam setiap pengakuannya.
"An," panggil Bunga dengan suara setengah berbisik.
"Hm," jawab Ani dengan gumaman singkat.
"Ajarin cara ngerayu laki-laki, dong," ucap Bunga sambil tersenyum aneh.
"Uhuk …. Kakak masih waras, kan? Mau merayu siapa? Kakak sudah menikah. Kakak tidak boleh merayu laki-laki lai—"
"Sstt! Nyerocos panjang banget, dah kaya kereta ekspres. Dengerin dulu. Aku mau merayu Artha, biar gak balikan sama pacarnya," terang Bunga yang memotong ucapan Ani dan menutup mulut gadis itu dengan bantal sofa.
"Hmm … hehitu," ucap Ani.
"Kamu ngomong apa, sih?" Bunga bertanya sambil menaruh bantal sofa kembali ke pangkuannya.
"Hm, begitu. Makanya, mulutku jangan dibekap. Gak ngerti, kan, aku ngomong apa," kata Ani sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya, maaf," kata Bunga sambil tersenyum lebar.
Ani baru berusia delapan belas tahun. Dia belum berpengalaman dalam hal merayu laki-laki. Kebanyakan, laki-laki yang datang merayunya. Bunga tidak tahu harus belajar dari mana untuk bisa merayu Artha.
Tiba-tiba saja, ia teringat dengan ibu mertuanya. Sepertinya, ia akan meminta bantuan sang mama mertua untuk mengajarinya. Akan tetapi, ia tidak berani melakukannya. Bagaimana cara dia meminta tolong hal seperti itu kepada orang tua?
Gimana caranya ngomong sama mama? Masa aku minta tolong seperti itu. Ah, aku pusing.
Bunga jadi tidak bersemangat melakukan pekerjaannya. Dia menyerahkan semua pekerjaannya hari itu kepada Ani. Gadis itu tidak merasa terbebani karena sudah terbiasa mengurus pekerjaan Bunga. Sementara Bunga yang sedang frustrasi hanya berbaring di kamarnya.
__ADS_1
Menyusun berbagai kalimat yang akan diucapkan kepada ibu mertuanya. Sampai berkali-kali, ia tetap merasa hal itu tidak pantas. Akhirnya, ia tertidur karena pikiran yang kelelahan.
*Bersambung*