Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Khayalan malam pertama


__ADS_3

"Mama!"


***


Hendry memanggil seorang penghulu untuk menikahkan Bunga hari itu juga. Kondisi Amir semakin buruk dan ia ingin menikahkan putri semata wayangnya sebelum pergi. Laki-laki itu mewakilkan hak perwalian kepada penghulu.


Amir mengembuskan napas terakhirnya tepat disaat Bunga dan Artha dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri oleh penghulu. Tangis dan jerit histeris pun pecah, memantul di dalam hingga keluar ruang perawatan Amir. Bunga dan ibunya saling berpelukan dengan tangisan yang memilukan.


Artha mengangkat tangan, ingin memeluk bahu Bunga. Namun, ia menariknya kembali kala ia teringat surat kontrak yang sudah ditandatangani. Laki-laki itu ingin menjadikan bahunya sebagai sandaran Bunga, tapi wanita itu tidak menoleh padanya sama sekali.


Sekali saja, aku ingin kamu bersandar padaku. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu.


Keesokan harinya, Amir telah selesai dimakamkan di pemakaman umum setempat. Malam pertama dilewati dengan mengurus pemakaman dan malam kedua dihabiskan dengan menemani para tetangga yang begadang membacakan ayat-ayat suci. Pernikahan yang dipenuhi kemalangan, tapi Artha tidak pernah menyesalinya.


"Nak Artha masuk saja. Kita-kita tidak apa-apa ditinggalkan. Pengantin baru masa di luar rumah terus? Dari kemarin sudah sibuk mengurus pemakaman Pak Amir dan menemani kami begadang. Seharusnya, Nak Artha, melakukan malam pertama, kan?" Pak RT bertanya dengan suara setengah berbisik.


Keempat bapak-bapak yang lain terkekeh pelan. Mereka bahkan memprovokasi agar Artha segera membuka segel milik Bunga. Hendry datang dan bergabung dengan mereka.


"Biar papa yang menemani mereka. Kamu, pergi tidur sana. Tidak baik kalau terus-terusan begadang. Kamu bisa sakit nanti," ujar Hendry.


Artha mengetuk pintu kamar istrinya. Awalnya, Bunga tidak mengizinkan suaminya masuk ke kamar, tapi kedua orang tua Artha melihat interaksi mereka dari kejauhan. Terpaksa, ia mengizinkan Artha.


"Aku akan tidur di lantai. Jadi, tidurlah dengan tenang. Aku tidak akan melanggar kesepakatan," ucap Artha sambil menggelar tikar plastik.


Ia mengambil satu bantal dari tempat tidur. Berbaring membelakangi istrinya, Artha tidak dapat memejamkan mata meskipun terasa mengantuk. Bagaimanapun, dia laki-laki normal yang telah menikah. Dalam pikirannya tentu saja ada bayangan indahnya malam pertama.


*"Ar. Artha … bangun," ucap Bunga seraya mencolek pipi Artha.


Saat laki-laki itu membuka mata, seketika ia membelalak. Ia menelan saliva kala matanya tertuju kepada sang istri. Lingerie seksi yang membalut tubuh sintal Bunga sungguh menggoda hasrat kelelakiannya.


"Ka-ka … mu, tidak tidur? Kenapa berpakaian seperti itu?" tanya Artha tergagap.


"Loh? Kok, kamu masih tanya, sih? Malam ini, kan, malam pertama kita. Kamu … tidak mau naik ke ranjang?"

__ADS_1


"Hah?" Artha tercengang dengan mulut terbuka lebar.


Bunga merangkak di atas tubuh suaminya yang terbaring tegang. Tidak hanya tubuh yang tegang, tapi sesuatu yang mencerminkan gender-nya. Dengan nakal, Bunga bermain-main dengan tongkat milik Artha yang sudah tegang sejak ia membuka mata.


Artha melenguh, mencengkram selimut yang menggulung disampingnya. Bahkan, ia sampai menggigit bibir untuk meredam suara desahannya. Hingga beberapa saat kemudian, sesuatu yang hangat keluar dari tongkat itu.*


"Aku tidak tahan lagi," ucap Artha dengan mata terpejam.


Mendengar ******* dan suara orang berbicara, Bunga pun membuka mata. Ternyata, Artha bermimpi, dan mengigau. Tidak jelas apa yang digumamkan laki-laki itu. Namun, Bunga seperti mendengar namanya disebut.


"Hentikan, Bunga. Aku …."


Dia mimpi apa, sih? Mimpi bertengkar denganku? Atau dia bermimpi tentang malam …. Hah! Celananya basah!


Bunga memalingkan wajahnya yang terasa panas. Ia mengipasi wajahnya menggunakan telapak tangan. Namun, ia terpaksa menatap Artha karena harus membangunkan laki-laki itu.


"Ar. Artha, bangun! Artha!"


Bunga menepuk punggung tangan suaminya, tapi laki-laki itu tidak juga bangun. Ia mengambil air minum di gelas yang selalu tersedia di atas nakas. Bunga memercikkan sedikit air ke wajah Artha.


Artha terduduk dan matanya berkeliling. Ia tidak kebanjiran dan malam pertama yang dialaminya ternyata hanya mimpi. Sang istri memakai piyama panjang, tidak memakai lingerie seperti di dalam mimpinya.


Sial! Ternyata aku bermimpi. Tunggu! Kenapa sepertinya tempat tidur ini basah?


Artha melihat tangan Bunga memegang gelas, tapi isinya masih penuh. Tidak mungkin juga jika Bunga sampai menyiramnya. Teringat dengan mimpinya, Artha memandang ke bagian sensitifnya.


Grep!


Ia menyambar selimut secepat kilat. Menutupi celana yang basah dengan wajah bersemu merah. Artha mengumpat pelan.


"Sial."


"Kamu mengataiku? Heh, aku cuma membangunkanmu karena kamu berisik. Tidurku terganggu gara-gara kamu ngigau, tau, tidak," gerutu Bunga dengan ketus.

__ADS_1


"Apa … yang aku ucapkan saat mengigau tadi?" tanya Artha dengan ragu.


"Tidak jelas. Yang jelas, kamu basah, tuh. Sudah tua masih mengompol," goda Bunga sambil menahan senyum, tapi tidak berhasil.


Pada akhirnya, Bunga tertawa keras. Perutnya terasa melilit karena terlalu lama tertawa. Sampai Artha bangun dan membuka baju, baru Bunga berhenti tertawa.


Tubuh atletis dengan ABS yang cukup menggoda. Enam kotak otot perutnya menonjol kokoh. Bunga tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sana. Namun, saat Artha hendak melepas celana pendek, Bunga membalikkan badan.


"Mau apa … kamu? Jangan macam-macam padaku!" Bunga memperingatkan suaminya untuk tidak melanggar kontrak.


"Aku mau ganti baju, lah. Masa aku tidur pake pakaian basah," jawab Artha dengan santainya.


"Kamu, kan, bisa ganti baju di kamar mandi. Kenapa buka baju di sini, sih," protes Bunga.


"Kamar mandinya di luar. Aku … malu kalau —"


"Sudahlah. Aku saja yang keluar," ucap Bunga.


Setelah Bunga pergi, Artha merutuki nasibnya. Pertama kali tidur sekamar dan ia sudah melakukan hal memalukan. Bagaimana ia menghadapi Bunga kedepannya?


"Memalukan sekali," desahnya.


Di luar, Bunga masih terkekeh geli. Ia membayangkan seperti apa wajah Artha saat ini. Bunga yakin, Artha hanya terlihat tenang didepannya.


Hendry yang masuk ke rumah untuk mengambil kopi, berpapasan dengannya. Ia bertanya kenapa Bunga keluar dan gadis itu tidak bisa menjawab jujur. Bagaimana reaksi ayahnya jika tahu sang putra mengompol?


"Bunga kepanasan, Om. Jadi, keluar sebentar untuk mencari angin," jawabnya.


"Papa. Masa masih panggil, Om. Sekarang, papa sudah jadi papa mertuamu. Jangan sungkan terhadap papa dan anggap papa seperti ayahmu sendiri," ucap Hendry seraya mengusap puncak kepala Bunga dengan penuh kasih sayang.


Mungkin pernikahan itu sudah takdir dari Tuhan. Dengan menjadi menantu Hendry dan Khumaira, Bunga masih merasakan kehangatan seorang ayah. Di saat Hendry hendak pergi ke dapur, Artha keluar dari kamar dengan menenteng selimut serta pakaiannya yang basah.


"Wah … hebat juga kamu, anak nakal," puji Hendry sambil menepuk bahu telanjang Artha.

__ADS_1


Hendry salah paham dengan situasi yang terjadi. Dia pikir, selimut itu basah karena Artha dan Bunga melakukan malam pertama. Bunga mendelik kepada Artha, meminta laki-laki itu menjelaskan semuanya kepada sang ayah mertua.


*Bersambung*


__ADS_2