Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Elena kembali


__ADS_3

Keesokan pagi, mereka terbangun di ranjang yang sama. Wajah sepasang suami istri itu bersemu merah. Tidak ada kegiatan lain selain ciuman. Namun, mereka tidak menampik khayalan liar yang sempat singgah.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Artha sambil menatap wajah sang istri yang terbaring disampingnya.


"Selamat pagi," jawab Bunga dengan malu-malu.


Artha bisa saja menerkam sang istri yang terlihat seperti kelinci imut. Namun, ia belum mendapat lampu hijau untuk itu. Dia tidak ingin merusak momen bahagia bersama Bunga. Meskipun hanya sekedar sentuhan bibir, Artha sudah sangat bahagia.


Bunga yang merespon dan membalas pagutan bibirnya, sudah cukup membuat senyum cerah terbit di wajah Artha. Mungkin, Bunga masih belum berani bertindak lebih jauh karena masih ada sesuatu yang mengganjal dihatinya. Ia sadar, perasaannya pada Artha telah tumbuh semakin besar tanpa tahu kapan dimulainya.


"Berhenti menatapku seperti itu," ketus Bunga yang canggung melihat pandangan nakal sang suami.


"Seperti apa? Seperti ini? Atau begini? Atau—"


"Sstt! Jangan terlalu cerewet, aku tidak suka," ujar Bunga seraya menempelkan jari telunjuk di bibir Artha.


Cup ….


Artha mengecup jari telunjuk Bunga sambil menatap langsung ke dalam manik mata yang meneduhkan hati itu. Meskipun telah menikah, ia masihlah seorang gadis suci. Ia juga ingin menjadi istri yang sempurna bagi laki-laki itu, tetapi bayangan wajah Elena terus hadir dipikirannya.


Elena belum mengetahui pernikahan antara dirinya dan Artha. Entah apa yang akan dilakukan Elena saat dia kembali dari liburannya di negeri sakura sana? Artha tidak memikirkan kekasihnya sama sekali, berbeda dengan Bunga yang merasa bersalah karena merebut posisi Elena sebagai istri Artha.


"Aku akan lebih pendiam dalam kata-kata, tapi lebih aktif dalam tindakan. Itu, kan, yang kamu suka, hm," goda Artha sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Bunga.


"Ma-u apa, kamu?" tanya Bunga sambil memundurkan tubuhnya.


"Menurutmu?" Artha menjawab pertanyaan istrinya dengan pertanyaan yang semakin membuat wajah sang istri bersemu merah.


Bunga bangkit dari tempat duduknya dan pergi dengan berlari kecil. Ia mendengar sang suami terkekeh geli. Bunga menghentikan langkahnya, lalu membalikkan badan, dan kembali menghampiri suaminya.


"Kamu menertawakan aku? Nyebelin," gerutu Bunga sambil melipat kedua tangan di dada.


"Abisnya, kamu … lucu. Gemesin, tau," rayunya lagi sambil tertawa semakin keras.

__ADS_1


"Berhenti merayuku! Dasar jelek," protes Bunga.


Ia kesal dan membalas suaminya. Bunga menggelitik pinggang Artha membuat laki-laki itu terpingkal-pingkal. Seakan belum cukup hanya menggelitik, Bunga juga mencubit pinggang Artha.


"Hentikan, Bunga!" hardik Artha seraya mencekal pergelangan tangan Bunga. "Hasratku naik karena itu. Jangan lakukan hal yang membuatku semakin berhasrat untuk memakan dirimu," pungkasnya.


"Maaf," ucapnya singkat sambil menarik tangannya.


"Em, aku akan pergi ke kantor. Apa kau ingin kuantar ke rumahmu? Arahnya sama, kan," ucap Artha, mengalihkan topik pembicaraan.


Bunga menjawab dengan anggukan pelan. Biasanya ia menaiki motor matic-nya jika ingin bepergian. Namun, kali ini ia bersedia diantar oleh suaminya. Gadis itu khawatir Alden ada di rumah produksi, jadi lebih aman jika diantar oleh Artha.


Baru beberapa meter keluar dari gerbang, mobil Artha dihadang oleh taksi. Sopir taksi keluar dan membuka pintu penumpang. Seorang gadis berparas cantik bak model pun keluar sambil tersenyum.


"Elena," gumam Artha dengan mata memicing.


Dia … kembali.


Wajah Bunga seketika berubah sendu. Baru sejenak merasakan kebahagiaan, ia dihadapkan pada kenyataan bahwa Artha masih memiliki Elena disisinya.


Laki-laki itu mematung saat Elena memeluknya, mengucapkan rindu setelah hampir dua bulan lamanya berpisah. Elena pergi ke negeri sakura setelah bertengkar dengan Artha. Selama itu, ia hanya satu kali menerima panggilan dari Artha.


Sesaat sebelum Artha bertunangan dengan Bunga, ia menelepon sang kekasih. Sayangnya, gadis itu lebih memilih tinggal di luar negeri. Elena kembali ke tanah air tanpa memberitahu Artha terlebih dulu karena ingin membuat kejutan.


"Aku sangat merindukanmu," ucap Elena sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Artha.


Artha memundurkan tubuhnya, melepaskan dekapan erat sang kekasih. Ia menatap wajah Elena dengan rasa bersalah. Namun, ia harus bisa menghadapi masalah yang ditimbulkan olehnya sendiri.


"Ada denganmu, Sayang? Kenapa menghindar?" tanya Elena dengan manik bergerak-gerak mengamati ekspresi wajah Artha.


"Maafkan aku, Elena. Aku—"


Artha tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Tangannya meraih gagang pintu, lalu membukanya. Ia menunjukkan Bunga tanpa kata-kata.

__ADS_1


"Siapa gadis itu? Kenapa dia ada di mobil kamu? Dan … kenapa kamu bisa bersama gadis itu?" cecar Elena dengan pandangan sinis tertuju pada Bunga.


Ia memicingkan matanya, memperhatikan wajah yang terasa tidak asing. Elena merasa pernah bertemu dengan gadis yang ada di mobil sang kekasih. Ingatannya cukup tajam untuk mengetahui siapa gadis itu.


"Kamu! Kamu, gadis yang membuatku bertengkar dengan Artha. Kamu, kan, yang mobilnya menabrak mobil Artha?" tanya Elena seraya menunjuk Bunga.


Brak!


Artha menutup pintu mobil kembali. Ia menarik Elena menjauh dan menjelaskan situasi yang terjadi. Artha menjawab semua pertanyaan dan berakhir dengan sebuah tamparan keras dari Elena.


"Kamu jahat! Aku hanya pergi berlibur dan kamu meninggalkan aku seperti ini. Aku tidak bisa menerimanya. Aku akan mengusir wanita itu sekarang!" Elena marah-marah sambil berjalan cepat menghampiri Bunga.


Dia membuka pintu dan menarik tangan Bunga, menarik gadis itu sampai hampir tersungkur. Beruntung Artha menahan tubuh istrinya dari depan. Elena semakin emosi dan mencoba memisahkan mereka.


"Elena, cukup! Hentikan semuanya!" hardik Artha sambil menyembunyikan Bunga dibalik punggungnya.


"Kamu membentak aku demi melindungi wanita itu, hah! Dia sudah merebut kamu dariku!" Teriakan Elena mengalihkan pandangan pengendara motor yang melintas.


"Bunga, pergilah sendiri dengan taksi. Aku … harus berbicara dengan Elena," ucap Artha sambil mengantar Bunga ke mobil taksi yang masih menunggu Elena. "Tolong antarkan istri saya, Pak."


"Baik, Mas," jawab sopir sambil mengangguk pelan.


Artha memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu. "Sekalian sama ongkos taksi Elana tadi," ujarnya sebelum menutup pintu. Setelah taksi melaju pergi, Artha menarik tangan Elena, membawanya pergi dengan mobilnya.


Mungkin pernikahan itu adalah hasil perjodohan. Namun, Artha menyanggupi dengan tulus. Ia memiliki pertimbangannya sendiri.


Selain gadis itu tidak mendapat restu dari Khumaira, Elena juga selalu menolak saat Artha mengajaknya menikah. Elena sudah bersedia memeluk keyakinan yang sama dengan Artha, tapi masih terhalang restu dari kedua belah pihak keluarga.


Bunga adalah gadis yang baik dan Khumaira sangat menyayanginya. Artha tidak perlu bersusah payah memohon restu orang tuanya. Terlebih, ia menyimpan perasaan padanya.


"Jelaskan padaku sekarang, Ar! Kamu … tidak berniat memutuskan aku demi istri kontrakmu, kan? Jawab aku, Ar," desak Elena di dalam mobil.


Artha membisu. Ia menepikan mobilnya di sebuah minimarket. Helaan napas berat mengembus dari bibir coklatnya.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2