
Bunga membuka mata dan menggeliat di atas tempat tidur. Ia menoleh ke samping, tapi tidak ada siapapun di sana. Gadis itu terkekeh geli sambil menepuk keningnya.
"Kenapa aku bermimpi hal mesum seperti itu? Ya ampun, memalukan sekali," gumamnya sebelum turun dari tempat tidur.
"Aw, hm …." Bunga membelalak sambil berusaha berdiri dengan tegak.
Jika kejadian tadi malam adalah mimpi, tidak mungkin ia merasa kesakitan sekarang. Bagian dalam dirinya terasa membengkak dan nyeri saat melangkahkan kaki. Tidak ada mimpi yang terasa begitu nyata seperti yang dialami Bunga saat ini.
"Ti … tidak mungkin! Kalau itu mimpi, kenapa aku merasakan sesuatu di bagian bawah?"
Gubrak…
Bunga merosot dan duduk bersandar di kaki tempat tidur. Ia mengalami malam yang panas tanpa mengingatnya dengan jelas. Apakah itu benar-benar sebuah mimpi? Kini ia meragukannya.
Klek!
Artha membuka pintu kamar. Sebuah baki kecil berisi sepiring nasi goreng dan segelas susu di tangan hendak diberikan untuk istrinya yang telah bekerja keras tadi malam. Kehadirannya di kamar itu tentu saja membuat Bunga seketika berteriak kaget.
"Aakh! Kenapa kamu masuk ke kamarku tanpa izin?"
"Sshh! Nanti mereka dengar," ucap Artha seraya menutup mulut Bunga dengan jari telunjuk.
"Jawab pertanyaanku! Malah bikin alasan," gerutu Bunga.
"Maaf, aku tidak bisa melakukan itu karena mereka memang ada di ruang tamu. Makan dulu, baru temui mereka," ucap Artha dengan tatapan mata tertuju ke paha sang istri.
Dia mendekati Bunga dan meraba bagian atas milik wanita itu. Bunga terkesiap dan mata indahnya membelalak lebar. Sejak kapan Artha menjadi berani menyentuh bagian sensitifnya?
"Lepaskan sekarang juga atau aku akan berteriak lebih kencang," ancam Bunga.
__ADS_1
Artha segera menarik tangannya keluar dari piyama Bunga. Mereka bicara dengan suara sangat pelan. Meskipun begitu, mereka yakin para tamu bisa mendengarnya dengan jelas.
"Aku akan menunggumu di luar. Jangan lupa, ganti piyamanya," ujar Artha seraya menunjuk satu kancing piyama yang terlepas akibat ulahnya tadi.
Bunga memelototi laki-laki itu sambil mengerucutkan bibirnya. Ia masih tidak percaya bahwa kejadian semalam bukanlah mimpi. Mereka memang melakukan hubungan suami-istri, tapi Bunga dalam keadaan setengah mengigau hingga ia berpikir sedang bermimpi.
'Konyol! Aku tahu, aku memang kebluk kalau sudah tidur. Tapi, masa iya sampai tidak sadar kalau semalam … ah, memalukan.'
Bunga mengutuk diri sendiri. Karena kebiasaan tidurnya yang terlalu pulas, ia sampai melewatkan masa yang hanya datang sekali seumur hidup. Masa dimana ia melepas kesuciannya untuk laki-laki yang telah mempersuntingnya.
Bunga cukup kesulitan untuk berjalan ke kamar mandi. Namun, ia terlalu malu untuk meminta bantuan pada suaminya. Apalagi, ada orang yang sedang menunggu di ruang tamu.
"Seberapa besar ukurannya sampai milikku membengkak seperti ini?"
Bunga menggumam seraya membersihkan diri. Setelah terkena air hangat, rasa lelah dan nyeri di tubuhnya sedikit berkurang. Namun, ia masih berjalan dengan pelan saat keluar dari kamar dan hendak menemui tamu yang menunggunya sejak tadi.
"Mama! Papa!" Bunga tercengang melihat mertuanya duduk saling merangkul sambil menangis.
Mereka semua terdiam. Bahkan, Artha pun kebingungan harus menjawab pertanyaan Bunga atau tidak. Ia pun masih sangat syok mendengar cerita tentang Alden yang ternyata bukanlah kakak kandungnya. Pantas saja, sejak dulu orang-orang mengatakan jika mereka berdua tidak memiliki kemiripan sama sekali.
Meskipun demikian, dia adalah bagian dari keluarga Hendry sejak dua puluh delapan tahun yang lalu. Artha dan kedua orang tuanya tetap mengkhawatirkan keadaan Alden saat ini. Apalagi, laki-laki itu tidak pulang ke rumah sejak pertengkaran kemarin.
“Mama dan Papa sebaiknya pulang saja dulu. Biar Artha dan Bunga yang mencari kak Alden,” ucap Artha dengan lesu.
“Alden hilang! Kok, bisa?” tanya Bunga yang masih belum tahu cerita yang sebenarnya terjadi.
“Yah, itu … nanti aku ceritakan sambil mencari kak Alden. Ceritanya terlalu panjang,” jawab Artha dengan wajah seperti kebingungan.
Artha bingung hendak mencari Al kemana. Dia tidak akrab dengan laki-laki itu karena Al sendirilah yang selalu menciptakan dinding pembatas diantara mereka. Sejak sekolah sampai lulus kuliah, Alden selalu memojokkan Artha untuk menjadi pribadi yang brengsek meskipun sebenarnya dia tidak seperti itu.
__ADS_1
Aldern hanya ingin ada satu anak laki-laki yang terkesan baik dan anak bungsu keluarga Hendry adalah sampah. Namun, sejak bertemu dengan Bunga, Artha tidak mau lagi mengikuti skenario sang kakak untuk terus menjadi sampah yang tidak berguna. Artha ingin melindungi dan menjaga Bunga disisinya karena ia sungguh-sungguh mencintainya.
***
“Jadi … Al?”
“Ya. Dia anak mantan kekasih papa yang sudah meninggal. Saat sedang kritis, dia menyerahkan kak Al kepada papa dan mama yang saat itu baru saja menikah.
“Kemarin, papa tidak sengaja mengungkapkan kebenaran itu dan kak Al pergi dari rumah. Jujur, aku merasa bahagia dia pergi dari keluargaku. Tapi, ada sebagian kecil di ruang hatiku yang mengatakan bahwa aku tidak bisa melakukan hal jahat seperti itu.
“Bagaimanapun juga, aku sudah menjadi adiknya selama dua puluh dua tahun. Dia memang sering berbuat jahat padaku, tapi tidak berarti aku pun harus membalasnya dengan hal jahat juga, bukan?” Artha berbicara dengan sikap yang dewasa dan penuh pertimbangan.
Aku pikir, dia hanya bisa berbicara vulgar dan kekanakan. Sangat diluar dugaan karena dia bisa berbicara dengan bijaksana layaknya pria dewasa pada umumnya. Aku jadi semakin tertarik padanya. Salahkah aku jika berharap hidupku bahagia bersamanya sampai kami menua bersama kelak?
Artha menoleh kepada Bunga. Pandangan mereka bertemu dan Bunga tertangkap basah sedang memperhatikan wajah Artha. Laki-laki itu tersenyum tipis lalu menggoda sang istri.
“Kalau mau lihat, ya lihat saja. Tidak perlu curi-curi pandang begitu,” godanya seraya mencubit pelan pinggang Bunga.
Bunga segera mengalihkan pandangannya keluar jendela. Wajahnya merona dan terasa panas karena ucapan suaminya. Ia tersipu malu karena ketahuan curi-curi pandang.
Di jalan yang sudah terlewati oleh mobil Artha, Alden sedang bersitegang dengan seorang preman jalanan. Rupanya, Alden menghabiskan waktu seharian di tempat perjudian dan minum-minuman keras. Dalam keadaan mabuk, ia berencana pulang. Namun, ia menabrak seorang laki-laki yang sedang berdiri di tepi jalan.
“Berikan semua uangmu untuk mengganti rugi!” pinta preman itu.
“Hah! Uang apa? Kau itu pantas ditabrak. Lebih bagus lagi jika kau tidak pernah ada di dunia ini. Kau itu pengganggu,” ceracau Alden yang ditujukan kepada Artha.
Ia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, hingga sebuah pukulan mengenai wajahnya. Tubuhnya terhuyung ke belakang, lalu teman preman itu memegangi kedua tangan Alden. Laki-laki itu menjadi bulan-bulanan sang preman yang tidak terima dengan kata-kata penghinaan yang dilontarkan oleh Alden.
Pukulan keras mendarat bertubi-tubi di perut serta wajahnya. Saat Alden sudah tidak berdaya dengan wajah lebam dan bibir yang mengeluarkan darah, kedua preman itu berlari pergi dengan cepat dan menghilang di salah satu gang kecil. Alden tergeletak dengan kondisi yang membuat semua orang meringis.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*