
Prasetyo memukul dinding saat mendengar Bunga sedang berkencan dengan dokter itu. Bukan cuma bertunangan dengan laki-laki yang memiliki kekasih, Bunga juga memiliki kekasih lain. Pras memandang rendah ke arah Bunga.
"Tch … rupanya sama juga. Aku kira dia gadis baik-baik, ternyata tidak jauh berbeda denganku. Mungkin saja, dia juga berselingkuh dariku dulu," gumam Pras sambil mendecih.
Ia pergi sesaat setelah Bunga pergi bersama Dokter Hadi. Sementara Artha hanya mampu menatap mobil yang membawa Bunga hingga menghilang di sudut tikungan. Marah? Ya. Dia sangat marah, tapi tidak mampu berbuat apa-apa.
"Kenapa kamu mengatakan kita berkencan? Bukannya kamu suka sama dia? Terus, laki-laki itu …"
"Jangan membahas itu sekarang. Aku sudah cukup kacau melihat tunanganku berkencan dengan laki-laki lain," ucap Artha sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
Tania tidak tenang melihat ekspresi wajah Artha berubah murung. Ia membatalkan niatnya berbelanja dan mengajak Artha pulang. Sepanjang perjalanan, Artha tidak bicara sepatah kata pun.
Tangan yang memegang gagang kemudi terlihat gemetaran. Sepertinya bukan karena gugup. Tania merasa itu sebuah kemarahan dan kecemasan yang tidak mampu ditunjukkan di depan Bunga.
Sepertinya … Artha sangat menyukai Bunga? Hm ... mungkin bukan suka, tapi cinta.
"Aku tidak mengantar sampai rumah," ujar Artha setelah menepikan mobilnya di simpang jalan tidak jauh dari rumah Tania.
"Baiklah. Aku tahu tujuanmu kemana, tapi kusarankan untuk bicara dengan kepala dingin," ucap Tania memberi nasehat.
"Hm …."
Artha hanya menggumam pelan. Awalnya ia berusaha untuk tenang, tapi rasa cemburu yang membuncah membuatnya melajukan mobil ke rumah Bunga. Tiba di sana, gadis itu sedang duduk di teras.
"Ngapain kesini?" tanya Bunga dengan ketus.
"Aku, kan, tunanganmu. Tidak aneh kalau aku datang ke rumah tunanganku," jawab Artha pelan tapi tegas.
Bunga malas untuk berdebat dan memilih masuk ke rumah. Namun, Artha menahan pintu yang hendak ditutup. Satu jarinya terjepit dan terdengar suara jerit kesakitan dari Artha.
__ADS_1
"Kamu ini …. Sini, aku lihat!" Bunga memarahi Artha sambil menadahkan tangan.
"Biarkan saja sakit. Toh, kamu juga tidak peduli padaku," gerutu Artha berpura-pura merajuk.
“Apa aku harus peduli pada tunangan kontrak?”
Artha mendelik tajam. Ia tidak merasa membuat kontrak dengan Bunga. Sebuah perjanjian lisan yang mereka ucapkan hanyalah akal-akalan Artha yang tidak ingin melepaskan gadis itu.
“Kita tidak menulis surat kontrak, itu cuma kesepakatan lisan,” jawab Artha dengan suara pelan tapi jelas.
“Sama saja,” balasnya sambil menggunting kain kasa.
Ia membalut jari tengah Artha yang membengkak setelah diolesi salep sebelumnya. Tanpa diperban pun tidak masalah, tapi Artha masih ingin dipegang oleh Bunga. Berbagai alasan pun dibuat untuk berlama-lama dengan sang wanita pujaan.
“Sebelah sini terasa sakit,” rengeknya seperti anak kecil.
“Aku sudah mengoleskan obat di sini juga. Jangan manja, deh,” gerutu Bunga sambil memasukkan kasa dan obat ke dalam kotaknya kembali.
“Seharusnya kamu bermanja-manja dengan kekasihmu yang kamu cintai. Itu baru benar. Hubungan kita hanya sebatas kesepakatan, Ar. Jangan berlebihan apalagi melewati batas,” tandas Bunga sambil tersenyum sinis.
Apa kamu begitu membenciku, Bunga? Rasanya sulit sekali untuk merangkul hatimu.
Artha terdiam seribu bahasa. Ucapan Bunga terasa menusuk tepat dihati. Sejenak ia lupa bahwa hubungannya dengan Elena belum berakhir.
Jika dipikir kembali, Artha memang terlihat seperti laki-laki brengsek yang begitu mudah mendua. Ia mendecih kesal sambil mengumpat dalam hati. Bagaimana bisa ia mengharapkan cinta Bunga, jika ia saja masih memiliki wanita lain? Artha merasa mustahil bisa memenangkan hati tunangannya.
“Lukanya sudah diobati dan waktu makan malam sudah hampir tiba. Jadi, bisa cepat katakan apa tujuamu datang kemari? Aku ada janji makan malam dengan teman kencanku,” ujar Bunga sambil tersenyum lebar.
Bunga dengan sengaja mengungkit perihal kencan, mengingatkan Artha tentang pertemuan mereka tadi siang. Laki-laki itu menatap Bunga dengan pandangan yang sulit diartikan. Bahkan, gadis itu pun tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan Artha.
__ADS_1
“Gadis tadi … adik sepupuku. Dia bukan teman kencan seperti yang kamu pikirkan,” ujarnya, kesal.
“Aku tidak bertanya soal itu dan kamu tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan apa pun di sini. Aku hanya bertanya tujuanmu datang kemari, tidak lebih. Masalah pribadimu … itu ursanmu,” balas Bunga dengan santai.
Gadis itu tidak menyuguhkan air minum karena tidak berharap Artha tinggal lebih lama. Namun, Ani tiba-tiba muncul dari dapur dan membawakan teh manis hangat untuk laki-laki itu. Bunga memelototi Ani, seolah berkata, kenapa dibawakan minuman?
“Terima kasih, An. Kebetulan tenggorokanku kering. Dia … sangat pelit,” sindirnya seraya melirik Bunga.
“Tch ….”
Bunga hanya mendecih kesal. Sekarang, ia tidak bisa lagi menyuruh laki-laki itu pergi secepatnya. Setelah Ani berlalu pergi ke kamar, Bunga pun beranjak bangun. Niat hati untuk masuk ke kamar akhirnya diurungkan saat Artha bertanya.
“Apa kamu sangat membenciku, Bubu?”
Tubuh Bunga seketika gemetar, kedua tangan mengepal kuat, dan sudut matanya berair. Bubu, panggilan yang biasa diucapkan mantan kekasihnya, Prasetyo. Bunga sangat membenci panggilan itu setelah dikhianati oleh sang mantan kekasih. Lalu, Artha tiba-tiba memanggilnya seperti itu.
Bunga membalikkan badan dengan cepat. Ia menatap Artha dengan kedua mata basahnya. Luka yang seharusnya sembuh, kembali terkoyak tanpa ampun.
Tanpa meminta izin terlebih dahulu, Artha menyeka air mata yang meluncur di pipi gadis itu. Artha paling tidak bisa melihat seorang wanita menangis dihadapannya. Apalagi, jika dia gadis yang dicintainya.
“Jangan menangis. Maafkan aku jika … salah. Abaikan saja pertanyaanku tadi. Aku akan pergi sekarang, tapi … kumohon ... jangan menangis lagi,” lirih Artha di depan gadis itu.
Artha tidak tahu apa yang salah, tapi dengan mudah ia meminta maaf. Hatinya terasa berdenyut saat melihat wanita yang ia cintai menangis dihadapannya. Ia terlalu gegabah dalam berbicara karena memang seperti itulah sifatnya.
Artha hendak pergi dengan mobil hitamnya. Sementara itu, Bunga masih terpaku di ruang tamu dalam keadaan berdiri. Sesaat yang lalu, ia merasa sedih. Namun, ia merasakan kesepian saat laki-laki itu hendak meninggalkannya.
Tanpa pikir panjang, Bunga berlari ke halaman. Ia memanggil Artha, tapi tidak menggunakan namanya melainkan panggilan lain. Sebuah panggilan yang terucap spontan dari bibir tipisnya.
“Brondong!” panggilnya sambil menahan senyum seraya menyeka sudut matanya.
__ADS_1
Artha terkekeh mendengar panggilan aneh dari tunangannya. Ia memang berbeda tujuh tahun dari Bunga, tapi tidak seharusnya gadis itu memanggilnya brondong. Itu terdengar seperti tante-tante yang memanggil laki-laki yang masih remaja sedangkan Artha adalah laki-laki dewasa. Lalu, senyumnya tiba-tiba terhenti. Mereka saling memandang dengan tatapan yang berbeda dari biasanya.
*BERSAMBUNG