
Artha turun dari taksi. Ia menatap rumah di depannya. Dekorasi sederhana menghias pintu masuk dan tiang teras.
"Oke, Artha. Kau hanya harus bertunangan selama setahun. Setelah itu, kau bisa memutuskan pertunangan nanti," gumam Artha yang ingin memberi semangat pada diri sendiri.
Di dalam, suasana hangat terasa mengalir saat Amirudin menceritakan masa kecil Bunga. Hendry pun demikian. Ia menceritakan masa kecil Artha kepada sahabat yang sudah lama tidak dijumpainya.
Bunga yang gugup, merasa ingin buang air kecil. Ia berpamitan sejenak untuk pergi ke dalam kamarnya. Bertepatan dengan Bunga menutup pintu, Artha masuk ke ruang tamu, dan menyapa mereka semua.
"Selamat siang. Maaf, Artha terlambat," ujarnya sambil melangkah menghampiri kedua orang tuanya, lalu duduk di samping sang ayah.
"Ini … Artha?" Tanya Amirudin dengan wajah takjub. Calon menantunya sangat tampan dan sopan.
"Benar. Ini, Artha, anakku. Dia ini anak kedua," jawab Hendry.
"Oh …. Dia sangat tampan, sama sepertimu saat masih muda dulu. Haha …."
Mereka semua tertawa riang. Keriuhan tiba-tiba berhenti saat Bunga keluar dari kamarnya. Gadis itu belum sempat melihat calon tunangannya dan langsung duduk di samping sang ayah. Bunga terus menundukkan kepalanya dan tidak siap untuk melihat calon tunangannya. Apalagi dia tahu bahwa calonnya berusia lebih muda darinya.
Aku kira, dia benar-benar melarikan diri. Akan lebih baik kalau dia beneran kabur, kan.
Bunga justru berharap Artha tidak pernah datang. Namun, laki-laki itu kini sedang duduk di samping Hendry. Ia ingin melihat, tapi masih gugup.
"Nak Bunga … bisa angkat wajahnya sebentar? Biarkan, anak om ini, melihat wajah cantikmu, Sayang," ucap Hendry.
Artha sangat penasaran dengan wajah calon istri yang dipilihkan orang tuanya. Hendry bahkan bersikap sangat ramah dan lembut. Berbeda dengan caranya saat memperlakukan Elena ketika Artha membawa gadis itu untuk bertemu sang ayah.
Bunga mengangkat wajahnya perlahan-lahan. Ia mencoba menunjukkan senyum tipis meski sangat sulit. Betapa terkejutnya gadis itu saat kedua netranya bertemu dengan mata elang milik Artha.
Sorot mata yang tegas, rahang kuat, dan garis wajah yang sempurna bak lukisan mahakarya master pelukis dunia. Sosok yang menjadi incaran para gadis di kotanya, tapi justru menjatuhkan pilihan pada gadis yang materialistis. Artha tersenyum lebar saat melihat wajah Bunga.
"Kamu!"
"Kamu!"
__ADS_1
Keduanya memekik bersamaan. Bunga dan Artha saling tunjuk. Namun, perasaan mereka berbanding terbalik. Bunga yang terlihat marah melihat wajah laki-laki itu, tapi Artha menatapnya dengan wajah bahagia.
Ternyata hidupku sangat beruntung. Gadis yang membuatku penasaran kini sedang duduk dihadapanku sebagai calon tunanganku.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Hendry dengan wajah sumringah. Akan lebih baik jika memang mereka saling mengenal sebelumnya. Pertunangan ini akan berjalan sesuai rencana, pikir Hendry.
Bunga bangkit dengan cepat. Ia tahu, Artha memiliki kekasih. Terlepas dari itu, laki-laki itu juga sangat mesum di pertemuan pertama mereka beberapa hari yang lalu.
"Bunga!" Amirudin menarik tangan putrinya, meminta agar gadis itu duduk kembali. "Tidak sopan," bisik Amirudin.
"Bunga menolak perjodohan ini, Yah. Maafkan Bunga, Om, Tante. Bunga permisi," pamit Bunga tanpa menghiraukan ucapan ayah dan ibunya. Ia masuk ke kamar dan membuat para tamu undangan terperanjat.
"Bagaimana ini, Pa? Tadi, Bunga setuju, tapi malah menolak setelah bertemu Artha?"
Wanita dengan sanggul tinggi itu tampak cemas. Ia sangat menyukai Bunga dan ingin gadis itu menjadi menantunya. Ia sudah sangat bahagia, tapi tiba-tiba gadis itu berubah pikiran.
Hartini bergegas mengejar Bunga ke kamar. Sementara suasana di ruang tamu menjadi tegang. Para tetangga dan kerabat yang hadir sudah tidak tahan untuk bergunjing.
"Maaf, Hen. Aku rasa, ada kesalahpahaman antara Bunga dan anakmu," ucap Amir.
"Artha tidak tahu, Pa," ucapnya. Ia juga sedang merasa sangat khawatir. Bagaimana jika Bunga tidak bersedia melanjutkan acara pertunangan itu?
Di dalam kamar, Hartini mencoba membujuk Bunga. Namun, segala usahanya berakhir sia-sia. Karena keduanya tidak juga keluar, Amir pun menyusul ke kamar.
"Dia lebih muda tujuh tahun dari Bunga, Yah. Masa, Ayah, tega menjodohkan Bunga dengan laki-laki seperti itu?"
"Kamu sudah tahu masalah umur sejak menerima perjodohan ini dua hari yang lalu. Jadi, alasan kamu sekarang ini tidak masuk akal. Kalau memang karena umur, kenapa tidak sedari awal kamu menolak?"
"Tapi, Yah …."
Bunga tidak tahu lagi harus menjawab apa. Memang benar, ia sudah diberitahu bahwa laki-laki yang dijodohkan dengannya berusia jauh lebih muda darinya. Namun, ia menerima karena tidak pernah berpikir bahwa laki-laki itu adalah Artha, orang yang pernah berseteru dengannya karena kecelakaan mobil.
"Bunga tidak peduli kalau, Ayah, ingin menikahkan Bunga dengan anak kecil sekalipun. Bunga akan terima, asal jangan dia."
__ADS_1
"Daripada kamu jadi perawan tua," ucap Amirudin dengan wajah meringis menahan sesak.
"Ayah!" pekik sang istri.
Hartini melarang suaminya berkata kasar. Bagaimana bisa seorang ayah mengatakan hal buruk tentang anaknya sendiri?
"Kita bisa bicarakan baik-baik," ujar Hartini.
Amirudin bersikeras untuk melanjutkan pertunangan itu, sedangkan Bunga terus menolak. Hendry dan Khumaira mengetuk pintu kamar. Mereka meminta bertemu dengan Bunga.
"Nak Bunga, Tante minta maaf kalau sekiranya Artha pernah berbuat salah. Nak Bunga … masih bersedia menjadi menantu Tante, kan?"
Bunga memalingkan wajahnya. Ia ingin menjawab, tapi tidak tega melihat wajah Khumaira yang memelas padanya. Hendry ikut membujuk gadis itu, berharap dia akan mengubah keputusannya.
Tok … tok … tok….
Artha mengetuk pintu kamar yang terbuka. Ia ingin berbicara empat mata dengan Bunga. Keempat orang tua itu saling melempar pandangan.
"Kamu pikir, aku ini wanita apaan? Ingin berbicara empat mata denganku? Di kamarku? Yang benar saja," ketus Bunga. Ia tidak peduli dengan pandangan orang tua Artha padanya. Jika pertunangan gagal, Bunga hanya perlu meminta maaf.
"Aku tidak akan melakukan apapun padamu. Ada kedua orang tuaku, orang tuamu, juga para tamu di depan sana. Apa aku punya kesempatan untuk berbuat kurang ajar?"
Bunga terdiam. Sebenarnya, ia malas untuk berbicara dengan Artha. Namun, ia juga penasaran dengan apa yang ingin dikatakan laki-laki itu.
Hendry dan istri, serta Amir dan Hartini pun keluar dari kamar. Artha menutup pintu dan mencari tempat duduk. Matanya berkeliling, menyapu setiap sudut ruangan.
"Kamarmu sangat rapi, sama seperti pemiliknya," puji Artha.
"Tidak usah basa-basi! Cepat katakan apa yang ingin kau katakan," desak Bunga yang merasa canggung berada di kamar berdua dengan laki-laki asing.
"Sama sepertimu yang terpaksa menerima perjodohan ini, aku juga seperti itu. Kamu tahu, kan, aku punya kekasih? Jadi, mari buat kesepakatan," ucap Artha sambil memamerkan senyum licik. Entah apa yang ada di dalam pikirannya?
"Apa?"
__ADS_1
*Bersambung*