
“Mas Alden!” pekik Ani.
“Manggil Artha, Abang. Lalu, kamu manggil aku, mas,” protes Alden sambil berpose imut.
“Hah?”
Ani tersenyum canggung. Ia tidak tahu akan mendapat reaksi seperti itu dari Alden. Laki-laki itu sangat menggemaskan, hingga Ani ingin mencubit pipinya.
“Kenapa bengong? Aku … tampan, kan,” selorohnya.
“Huh … kepedean, deh. Mas, mau apa datang kemari?”
“Mau ketemu sama Bunga. Dia, ada, kan?” tanya Alden sambil mengedarkan pandangan.
Ia mencari sosok gadis yang dicarinya. Namun, Bunga tidak kelihatan berkeliaran di rumah produksi. Alden pikir, gadis itu ada di rumah sebelah.
“Kak Bunga baru saja pergi sama bang Artha. Katanya, sih, mau bertemu dengan mamanya di butik,” jawab Ani dengan polosnya.
“Ke butik, ya? Kalau begitu, terima kasih, An. Aku pergi menyusul mereka, bye!” seru Alden sambil berlari menuju mobilnya.
Ani menghela napas panjang. Ia sedikit kecewa melihat Alden pergi. Sepertinya, Dewa Cinta telah datang menyapanya.
***
“Laki-laki tadi pagi itu siapa, sih?”
“Tidak tahu,” jawab Bunga dengan malas.
“Kalau tidak tahu, kenapa wajahmu seperti kekasih yang ketahuan membawa selingkuhan dibelakangku?”
Artha terus memojokkan Bunga agar gadis itu mau menjawabnya. Ia sangat cemburu melihat ada laki-laki lain yang memerhatikan dan membawakan makanan untuk tunangannya. Sikapnya membuat Bunga gerah dan akhirnya meledak.
“Kalaupun aku berselingkuh dengan laki-laki tadi, terus kenapa? Apa hubungannya denganmu? Bukankah, kamu juga memiliki selingkuhan dibelakangku? Oh, salah …. Akulah yang menjadi selingkuhan karena kamu sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan gadis itu. Ch! Lucu sekali,” decih Bunga sambil menutup kedua telinga Maya menggunakan telapak tangan.
“Itu … tidak seperti ….”
“Tidak seperti aku maksudmu? Ingat, Ar! Pertunangan kita cuma sebuah perjanjian. Kita hanya ingin membuat orang tua kita senang dan kita akan berpisah setelah satu tahun. Jadi, jangan melewati batas dalam hubungan ini.”
__ADS_1
Sialnya, dia memang benar. Demi tetap bertunangan dengannya, aku sudah membuat perjanjian konyol.
Merasa sesak karena kesal, ia meminta Artha untuk menghentikan mobil. Gadis itu memilih untuk naik taksi daripada pergi bersama Artha. Bunga mengancam akan melompat saat laki-laki itu tidak juga mau menepi.
“Jangan seperti ini, Bunga. Aku minta maaf kalau kamu marah karena aku mencampuri urusan pribadimu. Kita pergi bersama ke butik, oke?”
“Kamu tidak tuli, kan? Aku bilang … aku mau pergi sendiri. Berikan alamatnya dan kita bertemu di sana saja,” jawab Bunga dengan wajah kesal.
Artha terpaksa menuruti keinginan Bunga. Ia menghadang taksi yang lewat dan membantu Bunga membukakan pintu. Mobil berwarna biru itu melaju pergi meninggalkan Artha yang mematung.
Tidak lama setelah taksi melaju pergi, sebuah mobil hitam tampak mengikuti. Artha tidak menaruh curiga dan melaju mendahului taksi yang membawa Bunga. Ia sengaja mengemudi di depan taksi agar mereka bisa datang bersamaan ke butik.
Namun, taksi yang membawa Bunga tiba-tiba berhenti karena dihadang mobil hitam yang mengikutinya. Sopir taksi terlihat ketakutan. Bunga memicingkan mata, mencoba melihat orang yang keluar dari mobil didepannya.
“Bagaimana ini, Mbak? Apa tidak sebaiknya menelepon mas yang tadi?”
“Tidak perlu, Pak. Biar saya keluar saja. Saya kenal orang itu,” ujar Bunga sambil menggendong Maya.
“Baiklah. Kalau dia berbuat jahat, saya akan memanggil warga,” ucap sopir dengan waspada.
Bunga keluar menemui laki-laki itu. Pras. Dia terus mengikuti Bunga sejak gadis itu keluar dari rumah bersama Artha. Entah apa maksud dan tujuannya?
“Tidak perlu basa-basi. Ada apa?”
“Dingin sekali. Aku merindukanmu, Bubu,” jawab Pras dengan panggilan sayangnya.
“Jangan panggil aku seperti itu lagi, Mas! Hubungan kita sudah berakhir sejak tiga tahun yang lalu. Jangan menggangguku lagi. Ingat! Kamu sudah punya istri,” maki Bunga sambil sesekali melirik Maya.
Ia takut gadis kecil itu menangis melihat Bunga berteriak. Benar saja. Maya menangis kencang, sampai menyita perhatian orang-orang yang berjalan kaki di trotoar.
“Kamu menakutinya,” ucap Pras sambil mengulurkan tangan hendak menyentuh kepala Maya.
"Dan itu karena kamu," balas Bunga.
Bunga melangkah mundur. Laki-laki itu sudah memiliki istri dan Bunga tidak mau terlibat dengannya. Apalagi, ia mengenal istri Pras dengan baik. Ia tidak mau disalahpahami oleh istri Pras.
“Tidak perlu takut, Bunga. Aku … bercerai dengan Tea.”
__ADS_1
“Lalu, kau pikir aku akan kembali padamu karena kamu duda sekarang? Maaf, Mas. Walaupun aku menjadi perawan tua, aku juga tidak akan kembali padamu. Permisi,” pamit Bunga dengan ketus.
“Tunggu!” Pras mencekal pergelangan tangan Bunga.
“Lepaskan tanganmu dariku, Mas,” ketus Bunga.
“Tidak akan. Sebelum kamu ikut denganku dan berbicara baik-baik denganku,” balasnya sambil mengeratkan cekalan tangannya.
Bunga meringis kesakitan. Namun, Pras tidak memedulikan hal itu. Hingga sebuah tangan menarik tangan Pras dan memelintirnya ke belakang punggung.
“Dia bilang … lepaskan! Kau tidak dengar, hah!” hardik Alden sambil mendorong Pras hingga tersungkur ke atas trotoar.
“Siapa kau? Ini urusanku dengan Bunga. Kau … tidak bisa ikut campur.” Pras bangkit dan memaki Alden. Ia mengibaskan kemejanya yang tampak kotor.
“Bagaimana, ya? Aku adalah ayah anak itu dan kau membuat anakku menangis. Bukankah, itu berhubungan denganku?”
“Tch! Bawa saja anak itu pergi karena dia juga bukan anak Bunga. Jangan mengganggu urusanku dengan Bunga,” ucap Pras dengan angkuhnya.
“Masalahnya … aku menyukai gadis yang disukai oleh anakku. Kau … mengerti, bukan,” pancing Alden.
Pras maju dan hendak memukul Alden. Namun, Bunga menghardiknya. Keduanya berhenti berdebat dan masuk ke mobil masing-masing.
Beberapa detik kemudian, Alden keluar lagi dari mobilnya. Ia membayar ongkos taksi dan membawa Bunga bersamanya. Mereka pergi ke butik dengan mobil Alden.
Tiba di depan butik, Artha sudah menunggu di depan pintu. Matanya mengkilat merah saat melihat Alden datang bersama Bunga. Rahang Artha mengeras diiringi suara gigi yang menggertak.
“Pantas saja tidak mau pergi denganku. Jadi, ada yang ditunggu,” cibir Artha dengan sinis.
“Aku mencari kalian ke rumah Bunga. Ani bilang, kalian pergi ke butik. Jadi, aku menyusul. Kami tidak sengaja bertemu di jalan,” tutur Alden dengan nada ramah dan sabar.
Munafik! Di depan orang lain seperti malaikat, tapi di belakang seperti iblis.
Artha mengumpat dalam hati. Permusuhan antara ia dan kakaknya tidak pernah tersiar ke muka umum. Bahkan, kedua orang tua mereka tidak pernah melihat mereka bertengkar.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Khumaira.
Artha dan Alden seketika membeku. Apakah sang ibu mendengar apa yang mereka katakan? Keduanya berharap tidak, tapi wajah Khumaira yang datar tanpa ekspresi senyum membuat mereka tidak yakin bahwa ibu mereka tidak mendengar perdebatan itu.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*