
Bug!
“Ah! Artha! Apa yang kamu lakukan?” Khumaira memekik melihat Artha memukul wajah Alden.
Kedua orang tua Artha berlari menaiki tangga dengan terburu-buru. Wajah mereka memerah, bukan karena malu melainkan emosi yang meluap bak air bah. Mereka tidak tahu kenapa Artha sampai tega memukul Alden.
“Dasar anak kurang ajar! Kamu sadar apa yang kamu lakukan sekarang, hah! Kamu mengecewakan papa, Ar,” ucap Hendry dengan nada tinggi.
Suara bariton itu menggema di setiap ruangan. Artha menjadi bahan omelan kedua orang tuanya, sedangkan Alden hanya duduk di lantai sambil memegangi bibirnya yang sedikit mengeluarkan cairan merah kental. Laki-laki itu menyeringai kepada Artha dari belakang orang tua mereka.
Sialan! Brengsek! Kau benar-benar sampah. Coba saja kau berani menyentuh Bunga, akan kupastikan agar mereka semua tahu kebusukanmu selama ini.
Artha tidak mendengarkan ocehan kedua orang tuanya. Hanya amarah yang merajai hati dan emosi yang harus ditahan sekuat tenaga saat melihat senyuman Alden. Jika saja ia bisa membeberkan sifat asli sang kakak yang dikenal sebagai pangeran alim. Namun, hal itu bukan sesuatu yang mudah karena Alden tidak meninggalkan kesan buruk sama sekali kepada orang lain.
Hanya Artha dan Artha yang menjadi bulan-bulanan sikap buruk Alden selama ini. Teman-teman Artha pun tidak ada yang memercayai saat ia bercerita tentang sikap Alden padanya. Mereka pikir, Artha hanya cemburu karena Alden selalu menjadi pusat perhatian banyak orang termasuk kedua orang tuanya.
“Kamu dengar, tidak?” tanya Hendry sambil memukul punggung Artha.
“Hem,” jawab Artha sambil berlalu pergi dan masuk ke kamar.
“Ayo ke ruang tengah. Biar mama obati lukamu,” ucap Khumaira penuh perhatian.
Artha mendengar dari balik pintu. Desah napas berat terus diembuskan berkali-kali. Selama ini ia mampu bersikap tenang menghadapi provokasi dari kakaknya, tapi ia kehilangan akal hanya karena Alden menyebut Bunga.
Tubuhnya menggelusur turun dan terduduk di lantai, bersandar ke daun pintu. Kedua lutut ditekuk. Artha menyembunyikan wajahnya di antara lutut yang tertekuk.
Mungkin ini karma karena aku selalu melukai hati orang lain, tapi itu semua karena Alden yang memerintahkan. Seharusnya dia yang mengalami semua rasa sakit ini, bukan aku.
Kilasan kejadian di masa lalu pun terlintas kembali. Artha yang kala itu masih duduk di bangku SMA tiba-tiba melakukan pelecehan terhadap salah satu siswi di kelasnya. Tidak hanya menanggalkan baju seragam siswi itu, Artha juga memerintahkan kekasih siswi tersebut untuk merekamnya.
Rekaman itu dikirimkan kepada kakaknya. Memang, Artha tidak melakukan hal lain selain menanggalkan baju. Namun, hal itu cukup membuatnya dikeluarkan dari sekolah.
__ADS_1
Dalam tiga tahun masa belajar SMA, Artha harus pindah sekolah berkali-kali. Semuanya itu karena ulah Alden. Saat Artha lulus sekolah, Alden pergi keluar negeri untuk melanjutkan kuliah sambil bekerja di sebuah perusahaan besar. Tidak ada yang tahu nama perusahaan itu karena Alden menyembunyikan kehidupannya selama di luar negeri.
Semasa kuliah, hanya Elena yang menjadi pendengar semua keluh kesahnya. Mereka akrab sebagai teman, lalu meningkat jadi sahabat. Di semester dua, Alden tiba-tiba menelepon dan memerintahkan Artha untuk keluar dari fakultas ekonomi yang dipilihnya.
“Aku melakukan semua yang kau inginkan selama ini, tapi aku tidak akan mengalah lagi. Aku akan mencari bukti yang bisa membuat semua orang mengetahui kebejatanmu,” gumam Artha dengan gigi bergemeretak.
***
Bunga menghubungi Artha dan mengajaknya bertemu. Namun, laki-laki itu sedang malas melakukan apa pun. Dia hanya berguling-guling di atas tempat tidurnya.
Tidak mendapat respon, Bunga terpaksa pergi ke rumah Hendry. Alden yang pertama kali menyambut kedatangannya. Bunga merasa aneh melihat luka lebam di dekat bibir laki-laki itu.
Bukannya dia tidak pernah berkelahi kata tante? Kenapa wajahnya terluka seperti itu?
Bunga tidak memperhatikan langkahnya hingga ia menabrak tepi kaki meja. Beruntung tidak ada yang melihat, pikirnya. Namun, ternyata Artha melihat dari dekat tangga.
Melihat Bunga akan menaiki tangga, ia segera masuk ke kamar. Artha merasa lapar dan hendak sarapan, tapi ia mengurungkan niatnya karena Bunga. Ia berpura-pura tidur dengan posisi berbaring menghadap ke jendela.
“Ar … aku masuk, ya?” tanya Bunga sambil mengetuk pintu.
Seperti biasanya, wanita paruh baya itu sedang mengganti bunga di dalam vas. Ia mengganti bunga segar setiap hari. Selain sebagai hobi, ia melakukannya karena Alden sangat menyukai bunga.
“Tidak makan apa-apa, Tan? Apa dia sakit?” tanya Bunga.
“Entahlah,” pungkas Khumaira.
Bunga merasa ada yang disembunyikan oleh wanita itu. Wajahnya yang biasa ceria sekarang terlihat sedikit murung. Gadis itu mengira dia marah karena Artha pulang dalam keadaan masih mabuk kemarin pagi.
Huh … dasar brondong labil. Pantas saja mereka marah. Seharusnya sadar dengan kesalahan sendiri, bukan malah melakukan mogok makan seperti ini.
Bunga memutar knop pintu. Ia melangkah masuk dengan hati-hati. Matanya berkeliling mencari keberadaan Artha. Bunga masuk lebih dalam dan menemukan laki-laki itu sedang berbaring memunggunginya.
__ADS_1
“Aku tahu kamu tidak tidur,” kata Bunga seraya menghempaskan bokongnya di samping Artha.
“Kenapa kamu bisa tahu?” tanya Artha dengan kedua mata membelalak.
“Sebenarnya cuma nebak. Ternyata benar,” jawab Bunga sambil menyibak anak rambut yang menusuk mata.
“Ch … sial,” gerutu Artha yang merasa tertipu.
Bunga terkekeh melihat bibir Artha yang mengerucut. Gadis itu terus mengedipkan mata karena perih akibat tertusuk rambut tadi. Dalam pandangan laki-laki, gadis itu terlihat seperti sedang menggoda.
“Genit,” goda Artha.
“Hah? Siapa yang genit?”
“Kamu, lah. Tuh, ngedip-ngedip terus matanya,” seloroh Artha sambil tertawa geli.
“Mataku perih, tau. Seenaknya aja bilang menggoda,” gerutu Bunga dengan bibir mengerucut.
Artha menarik pinggang gadis itu hingga tubuh mereka merapat. Bunga menelan saliva dengan jantung yang berdetak cepat. Saking cepatnya, ia yakin laki-laki itu pasti mendengar suara detak jantungnya yang bertalu.
“Jangan salah paham. Aku ingin membantu meniup matamu. Buka matamu lebar-lebar,” ucap Artha dengan tenang.
Dasar playboy. Bisa-bisanya dia berbicara setenang itu disaat seperti ini.
Bunga membuka matanya lebar sesuai perintah Artha. Pandangan mata mereka beradu dengan jarak yang sangat tipis. Bunga dapat mencium aroma parfum di leher Artha. Aroma musk yang lembut itu membuat Bunga memejamkan mata sambil tersenyum.
Wanginya sangat nyaman dan menenangkan. Ternyata Artha suka parfum maskulin yang lembut seperti ini.
“Kenapa malah merem lagi, sih?” tanya Artha.
Bunga seketika membelalak. Ia lupa karena terhanyut aroma parfum laki-laki itu. Sangat memalukan hingga gadis itu menarik diri menjauh dari Artha.
__ADS_1
“Jangan menjauh dariku …” bisik Artha seraya menarik gadis itu ke dalam pelukannya. “Aku menyukaimu.”
*BERSAMBUNG*