
"Aku tidak mau membohongi orang tuaku."
"Aku tidak memintamu untuk berbohong. Asal kamu setuju, aku akan bicara dengan orang tua kita untuk~"
"Tunggu! Orang tua kita? Kita belum punya ikatan apa-apa, ya. Jadi, jangan memanggil mereka orang tua kita!" Protes Bunga. Ia tidak terima dengan istilah orang tua karena terdengar seperti mereka sudah terikat pernikahan.
"Oke, maaf. Orang tuaku dan orang tuamu. Apa kau puas?"
Bunga tidak menjawab. Artha melanjutkan ucapannya yang terpotong. Sementara kedua orang tua mereka berdiri di depan pintu, menguping pembicaraan Bunga dan Artha.
"Aku yang akan bicara kepada mereka."
"Oke. Deal! Kita tunangan."
Ceklek!
"Apa maksud kalian dengan kesepakatan?"
Hendry menerobos masuk. Amir sudah berusaha menahannya, tapi Hendry terlalu emosi mendengar putranya menawarkan kesepakatan kepada Bunga. Apalagi, Artha membahas tentang Elena, gadis yang tidak disukai Hendry.
"Bunga meminta syarat pertunangan selama setahun sebelum pernikahan. Apa salahnya kalau Artha juga meminta syarat atas perjodohan ini?"
Artha menjawab ucapan ayahnya dengan santai. Sikap cuek putranya membuat Hendry naik darah. Ia hampir saja memukul Artha jika saja Bunga tidak menghalangi.
"Bunga juga menyetujui syarat dari Artha, Om. Tolong, jangan memukuli Artha. Bagaimanapun juga Artha anak, Om, bukan," bujuk Bunga.
Dengan sikap yang ditunjukkan gadis itu, Artha semakin tertarik. Ia tersenyum tipis. Senyum yang bisa diartikan oleh keempat orang tua yang berdiri di hadapan Bunga.
Sementara gadis itu tidak dapat melihat senyuman Artha yang penuh ketertarikan padanya karena ia berdiri memunggungi laki-laki itu. Hendry melunak setelah melihat putranya tersenyum sambil menatap punggung Bunga. Dasar anak nakal! Anak itu ternyata hanya mencari alasan supaya pertunangan ini tidak dibatalkan, gumam hati Hendry.
__ADS_1
"Oke. Syarat apa yang kamu inginkan?"
"Bunga ingin bertunangan selama setahun. Sementara syarat dari Artha …. Artha ingin, Papa dan Mama tidak memaksa kami untuk menikah jika setelah satu tahun, kami berdua tidak merasa cocok satu sama lain."
Bunga berdoa dalam hati dengan mata terpejam. Kumohon … kalian harus setuju. Jika mereka setuju, aku bisa bebas memutuskan Artha setelah satu tahun. Kedua matanya kembali terbuka lebar saat mendengar kata yang sama seperti di dalam doanya.
"Kami setuju. Jadi, pertunangan hari ini bisa kita lanjutkan, kan?" Amir mewakili Hendry dan para istri.
Bunga mengangguk. Namun, karena ia sempat menangis, riasannya luntur. Penata rias dipanggil kembali untuk merapikan riasan di wajah Bunga. Sementara yang lain sedang menunggu di ruang tamu dan berkumpul bersama para kerabat dan tamu undangan.
Acara tukar cincin pun selesai dilangsungkan. Acara itu ditutup dengan pesta barbeque di halaman belakang. Para tamu undangan sangat senang karena disambut dengan hidangan mewah.
"Terima kasih atas undangannya, Pak Amir, Bu Amir. Hidangannya sangat enak," ucap salah seorang tetangga yang sedang berpamitan kepada tuan rumah acara.
"Sama-sama, Bu RT. Terima kasih sudah hadir dan menyaksikan pertunangan putri kami," balas Hartini sambil berjabat tangan.
Bunga duduk di sudut ruang tamu, menatap jari manis yang sekarang memakai cincin pertunangan. Ia menghela napas berat. Pada akhirnya, pertunangan itu tetap berlanjut.
Keluarga Hendry harus kembali ke hotel. Rumah Amir hanya memiliki dua kamar, tidak bisa menampung tamu untuk menginap. Hendry sangat memahami itu, makanya ia menyewa kamar di hotel terdekat.
"Bunga!" Panggil Hartini dari sudut lain di ruang tamu.
"Ya, Bu," saut Bunga. Ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri mereka.
"Nak Artha dan orang tuanya mau pamit kembali ke hotel. Tolong antar mereka ke teras, ya. Ibu sedikit lelah," ucap Hartini.
"Iya, Bu." Bunga tersenyum kepada Hendry dan Khumaira. Ia memersilakan mereka untuk melangkah lebih dulu di depan, sedangkan Artha berjalan di sampingnya. Bunga merasa risih, tapi dia tidak bisa berkata apa-apa sekarang.
"Nak Bunga, besok kami akan kembali ke Jakarta. Orang tuamu sudah setuju untuk membawamu bersama kami," ucap Khumaira.
__ADS_1
"Hah? Bunga tidak bisa tinggal di rumah Om dan Tante. Bunga …."
"Kami tahu. Nak Bunga punya rumah sendiri, kan? Maksud kami, hanya ingin menunjukkan alamat rumah kami. Bisa, kan, jika mampir sebentar. Kita tinggal di kota yang sama, loh. Masa tidak tahu alamat masing-masing," ujar Khumaira sambil tersenyum kecil.
"Benar. Setelah kami menunjukkan rumah kami, kami juga ingin berkunjung ke rumah, Nak Bunga. Boleh, kan?" Hendry melanjutkan ucapan istrinya.
"Oh … Bunga pikir …. Tentu saja, Om dan Tante, boleh berkunjung ke rumah sederhana Bunga," jawabnya dengan rendah hati.
Artha lebih banyak diam saat di depan Bunga. Hatinya sangat ingin mengajak gadis itu berbicara, tapi ia harus berpura-pura acuh tak acuh untuk saat ini. Ia tidak ingin menunjukkan ketertarikannya terhadap Bunga atau gadis itu akan membatalkan kesepakatan saat ini juga.
Dalam perjalanan menuju hotel, Artha diinterogasi oleh kedua orang tuanya. Mereka ingin memastikan bahwa dugaan mereka tidak salah. Senyuman itu, mereka setuju karena melihat senyuman Artha saat itu.
"Bunga tidak ada di sini sekarang. Jadi, katakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hendry yang sejak tadi ingin sekali bertanya.
"Apa yang ingin, Papa, dengar?"
"Semuanya. Tentang masalahmu dengan Bunga dan tentang kesepakatan yang kalian katakan tadi," jawab Hendry.
Sementara sang ibu hanya menyimak obrolan mereka berdua. Ia sudah merasa tenang karena Bunga tidak jadi membatalkan pertunangan. Tentang kesepakatan antara gadis itu dan putranya, ia tidak terlalu ambil pusing. Lagipula, ada waktu selama satu tahun untuk mereka saling mengenal satu sama lain.
"Mobil Bunga pernah menabrak mobil Artha. Saat itu adalah pertemuan pertama kami. Artha tertarik dengan Bunga saat itu, meski Artha tidak menjamin itu adalah perasaan cinta pada pandangan pertama."
"Oh … pantas saja dia sangat kesal saat melihatmu. Jadi, hari ini adalah pertemuan kedua antara kalian?"
"Benar, Pa. Selama ini, Artha tidak tertarik dengan gadis yang, Papa, kenalkan pada Arta. Tapi, Bunga berbeda, Pa. Artha tidak ingin kehilangan kesempatan untuk bisa dekat dengannya, jadi kesepakatan itu adalah jalan untuk tetap melanjutkan pertunangan," tutur Artha panjang lebar.
Hendry dan Khumaira melihat wajah putra bungsu mereka yang berseri-seri. Dari ekspresinya saja, mereka bisa melihat kejujuran dalam setiap kata yang keluar dari mulut Artha. Mereka juga ikut bahagia, karena akhirnya putra bungsu mereka bersedia menerima perjodohan itu dengan sukarela.
"Lalu … bagaimana dengan Elena?" Khumaira tiba-tiba teringat gadis itu.
__ADS_1
Hendry dan Artha pun saling melempar pandangan. Ayahnya jelas tidak setuju dengan hubungan Artha dan Elena, tapi ia khawatir gadis itu akan melakukan sesuatu kepada Bunga saat tahu Artha bertunangan dengan Bunga. Sementara Artha yang masih menyayangi Elena pun dibuat bingung. Saat ini Elena sedang berlibur di Jepang untuk dua bulan kedepan, tapi Artha tidak tahu apa yang harus dilakukan saat gadis itu kembali.
*BERSAMBUNG*