Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Gaun seksi pilihan calon mama mertua


__ADS_3

"Tidak ada, Ma. Ayo, masuk," ucap Alden sambil menggandeng tangan Khumaira.


"Berikan Maya padaku. Biar kamu sama mama bisa memilih baju dengan bebas," kata Artha dengan wajah cemberut.


Maya menangis melihat wajah Artha padahal laki-laki itu tersenyum ramah. Si kecil ketakutan karena Artha terlihat menyeramkan baginya. Jangankan mau digendong, didekati saja sudah menjerit-jerit.


"Sepertinya, dia takut padamu. Biar bersamaku saja," ucap Bunga sambil melangkah masuk ke butik.


"Apa aku seseram itu? Sepertinya tidak," gumam Artha.


Di dalam, Alden dan Bunga sedang bercengkerama. Maya duduk di pangkuan Alden dengan nyaman. Anehnya, gadis kecil itu tampak senang bercanda dengannya.


“Sialan …. Aku kalah oleh iblis,” umpatnya kesal.


Tidak ingin mood-nya semakin buruk, ia memilih pergi ke ruangan ibunya. Ya, butik itu milik sang mama. Jadi, Khumaira mengundang Bunga untuk memilih salah satu gaun di sana. Acara pertunangan mereka sudah diadakan di rumah Amir, tapi Hendry juga ingin memperkenalkan calon menantunya kepada kolega bisnis.


“Bunga!” seru Khumaira dari dalam.


“Ya, Tante! Al, aku titip Maya, ya?”


“Ya. Bicaralah dengan mama. Santai saja, dia pasti aman denganku,” jawab Alden sambil tersenyum lebar.


“Ibu mau kemana?” celetuk si kecil. Maya sudah bisa bicara dengan fasih meskipun usianya baru dua tahun lebih.


“Ibu mau bicara dulu dengan nenek. Maya sama om dulu, ya,” ucap Bunga dengan sabar dan penuh perhatian. Ia terbiasa dipanggil ibu padahal mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Baginya tidak masalah jika Maya memanggilnya ibu, walau Ani sering protes.


Gadis itu selalu mengkhawatirkan Bunga. Dia takut, panggilan ibu itu akan memengaruhi jodoh Bunga di masa depan. Kini Ani bisa bernapas lega setelah Bunga resmi bertunangan.


Khumaira meminta Bunga mencoba gaun yang dipilihnya untuk pesta syukuran atas pertunangan Bunga dengan Artha. Gadis itu sebenarnya enggan menghadiri acara pesta seperti itu, tapi mau bagaimana lagi. Jika Bunga menolak, itu akan menyakiti hati orang tua Artha.


“Tante tunggu di sini,” ucapnya sambil mendorong Bunga masuk ke kamar pas.


Hah …. Aku pikir, mereka tidak akan mengadakan syukuran di sini. Rasanya tidak akan nyaman bagiku untuk bergaul dengan kalangan atas.


Bunga yang hanya lulusan SMK, merasa dirinya lebih rendah dari keluarga Artha. Lalu, seperti apa orang-orang yang akan menghadiri pesta syukuran itu? Bunga tidak bisa membayangkan berapa banyak orang kelas atas yang akan hadir di acara itu.

__ADS_1


Khumaira memilih gaun dengan belahan dada yang tidak terlalu terbuka. Namun, gaun itu tetap terlalu terbuka bagi Bunga. Gadis itu tidak terbiasa mengenakan gaun tanpa lengan.


“Ini terlalu seksi, meskipun bagian bawahnya panjang. Bagaimana cara mengatakannya kepada tante?”


Bunga mondar-mandir di dalam kamar pas. Khumaira terus memanggilnya dan ia terpaksa keluar dengan canggung. Wanita itu tersenyum melihat gaun pilihannya sangat pas di tubuh Bunga.


"Kamu sangat cantik, Sayang. Gaun itu seperti dibuat sesuai ukuranmu," pujinya.


"Terima kasih, Tante. Tapi …." Bunga mencari kata-kata yang tepat untuk menyampaikan pendapatnya. Namun, otaknya tidak bisa berpikir sama sekali. Ia hanya termangu tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Tapi? Kenapa?"


"Itu~"


"Gaunnya terlalu terbuka, Ma," potong Artha.


Bunga dan Khumaira menoleh kearahnya. Ia keluar dari ruangan Khumaira karena tidak ingin membiarkan Bunga berdekatan dengan Alden. Tidak disangka, gadis itu sedang berdiri di depan ruangan bersama Khumaira.


Gadis itu menatap Artha seperti pangeran berkuda putih yang datang menyelamatkannya. Kata yang tidak bisa keluar dari bibirnya telah diucapkan oleh Artha. Bunga merasa sangat tertolong dan berterima kasih di dalam hati.


Syukurlah. Untung dia peka. Bunga bernapas lega.


Artha bertanya-tanya sendiri. Kenapa sang ibu menatapnya penuh selidik seperti itu? Ia lebih suka mengungkapkan rasa penasarannya dibandingkan dengan memendamnya di dalam hati.


"Kenapa menatap Artha seperti itu, Ma?"


"Mama cuma tidak menyangka. Ternyata …. Lupakan saja." Ucapan Khumaira mengambang, menciptakan rasa penasaran yang lebih besar. Artha terus mendesak ibunya agar menjawab, sampai wanita itu menyerah.


"Ayo, Ma. Katakan pada Artha kelanjutan 'ternyata' itu," desak Artha sambil menggelayut manja di bahu Khumaira.


"Ternyata kamu bisa memahami perasaan Bunga. Padahal, mama tidak tahu Bunga mau bicara apa," terangnya.


Bunga tersipu malu. Ia merasakan hal yang sama dengan Khumaira. Artha seakan bisa membaca pikirannya yang terlalu sulit untuk diungkapkan. Hari ini, Bunga mulai sedikit tertarik dengannya.


"Benarkah?" Artha menatap Bunga dari belakang punggung ibunya.

__ADS_1


Wajah cantik Bunga bersemu merah. Ia segera menundukkan wajahnya karena tidak ingin dilihat oleh Artha. Hatinya seperti musim semi pertama setelah melewati musim dingin yang panjang. Ia melupakan rasa pahitnya ditinggal menikah oleh Pras.


"Gara-gara, Mama, tuh," celetuk Artha.


"Hah? Mama? Perasaan mama tidak bicara apa-apa. Kenapa kamu tiba-tiba menyalahkan mama?" tanya Khumaira yang kebingungan kemana arah pembicaraan Artha.


"Ya, karena … Mama, tadi mengatakan Bunga dan Artha sehati secara tidak langsung. Bunga jadi malu, kan," ujarnya dengan penuh percaya diri.


Khumaira menoleh ke arah Bunga. Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan kuat. Mana mungkin dia mengaku jika dirinya sedang merasa malu.


Alden menyusul Bunga karena Maya menangis. Ia menelan saliva saat matanya menangkap tubuh indah berbalut gaun tanpa lengan berwarna biru laut yang lembut. Lekuk pinggang kecil Bunga membuat pikiran Alden menjadi liar.


Pinggangnya sangat pas dalam pelukanku. Seandainya aku bisa benar-benar memeluknya.


"Al, berikan Maya padaku," ucap Bunga yang ternyata sudah mengganti baju.


Sayang sekali, tubuhnya ditutup lagi.


Alden memberikan Maya. Pikiran kotornya masih membayangkan tubuh seksi Bunga saat memakai gaun biru. Lamunan lebih liar saat membayangkan jika Bunga memakai gaun tidur tipis menerawang.


"Aku benar-benar terangsang," gumamnya tanpa sadar.


"Apa katamu, Al?" tanya Bunga dengan mata menyipit.


Bunga mendengar gumamannya karena berdiri tidak jauh darinya. Jantung Bunga seperti dipukul palu besar. Laki-laki itu mengatakan hal mesum didekatnya padahal dia tidak terlihat seperti laki-laki brengsek.


"Hah? Tidak ada. Aku harus pergi bertemu teman. Aku pergi duluan, Bunga, Artha, Ma."


"Ya. Hati-hati di jalan, Sayang," balas Khumaira.


Sementara Artha dan Bunga hanya mengangguk kecil. Mereka ikut berpamitan kepada Khumaira. Bunga khawatir nenek Maya mencarinya. Ia pulang diantar Artha, meski ia ingin menolak. Khumaira terus menatapnya hingga Bunga tidak enak hati untuk menolak tawaran Artha.


Di tengah perjalanan, Artha tiba-tiba menepikan mobilnya di depan sebuah minimarket.


"Apa kau jatuh cinta pada kakakku?"

__ADS_1


"Hah?"


*Bersambung*


__ADS_2