Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Rumah pengantin baru


__ADS_3

“Gara-gara kamu ngompol, tuh, papa jadi salah paham,” gerutu Bunga di pagi hari.


“Kamu yang salah. Kalau kamu kasih jatah, aku juga gak bakal sampe mimpiin hal seperti itu,” balas Artha, tidak mau kalah dengan istrinya.


“Kamu …,” ucap Bunga seraya menunjuk dan matanya mendelik.


“Ya, Sayang. Ini aku,” jawab Artha sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Nyebelin!” Bunga melengos pergi dengan wajah cemberut.


Artha sangat senang menggoda Bunga. Melihat wajah cemberutnya, dia ingin sekali mencubit pipi merah itu. Sayangnya, Artha tidak berani melakukannya.


Pagi ini, Bunga bangun lebih awal. Ia memasak untuk sarapan lebih pagi dari kemarin karena Hendry, Khumaira, dan Alden akan kembali ke kota lebih dulu. Sementara Artha, dia diminta tetap di sana sampai hari ketujuh mendiang Amir.


Hartini masih terbaring sakit sampai hari ini. Ia terlalu syok kehilangan suaminya. Laki-laki yang telah menemaninya selama puluhan tahun itu memang memiliki kepribadian yang sangat baik. Wajar saja jika ia sangat kehilangan sosok Amirudin.


“Bu, ayo sarapan. Bunga sudah memasak bubur untuk, Ibu. Ibu harus cepat sembuh. Bunga sedih melihat, Ibu, sakit,” ucapnya sambil menaruh mangkuk berisi bubur ke atas nakas.


“Ibu tidak selera makan, Sayang. Kamu bawa lagi saja buburnya,” ujar Hartini sambil tersenyum.


Wajahnya pucat dengan kulit bibir berwarna putih serta sedikit terkelupas. Miris melihat tubuh kecilnya semakin kering. Ditambah lagi, dia tidak mau makan sama sekali sejak kemarin.


“Permisi. Boleh Artha masuk, Bu?”


“Masuk saja, Nak Artha.” Hartini menjawab sambil melambaikan tangan kepada menantunya.


“Mama, papa, dan Kak Alden sedang menunggumu. Biar aku yang menjaga ibu,” ucap Artha kepada Bunga.


Bunga menuruti perintah Artha tanpa protes. Mereka setuju untuk bersikap seperti sepasang suami normal pada umumnya. Apalagi di hadapan Hartini yang sedang sakit, mereka harus menjaga sikap mereka baik-baik.


Artha memaksa menyuapi Hartini dan wanita paruh baya itu tidak bisa menolak keinginan menantunya. Ia makan sesuap demi sesuap meskipun mulut terasa pahit. Semua makanan terasa pahit dan hambar, seperti hatinya yang terasa hampa tanpa suaminya.

__ADS_1


“Sekarang, Ibu, harus minum obatnya,” ucap Artha dengan lembut.


Bunga yang berniat memanggil suaminya, tertegun di depan pintu. Laki-laki yang selalu membuatnya kesal, ternyata bisa bersikap lemah lembut. Bibir Bunga terangkat, membentuk garis lengkung yang cukup lebar.


Tok … tok ….


“Mama dan papa ingin berpamitan,” ucap Bunga.


“Oh. Aku akan ke sana sebentar lagi,” kata Artha sambil membantu menyelimuti Hartini yang kembali berbaring setelah minum obat.


Hendry, Khumaira, dan Alden pergi setelah berpamitan kepada Bunga dan Artha. Sebelum pergi, Alden melirik nakal kepada Bunga. Artha hanya mampu mengeratkan gigi dan menahan rasa marahnya.


Bunga memerhatikan ekspresi wajah suaminya. Dia ingin sekali bertanya tentang hubungan Artha dan Alden yang sebenarnya, tapi ia ingat perjanjian untuk tidak mencampuri urusan pribadi selama masa pernikahan kontrak mereka. Rasa penasaran itu ditelan kembali olehnya.


“Aku tahu, kamu pasti penasaran. Tapi, aku tidak bisa memberitahumu sekarang,” celetuk Artha.


“Hem? Tidak masalah. Aku juga tidak berniat mencari tahu atau memaksa kamu memberitahukan itu padaku. Cukup jalani pernikahan ini sampai batas waktunya berakhir," ujarnya seraya melangkah masuk ke rumah.


***


Sebulan berlalu, Bunga masih tinggal di kampung untuk merawat ibunya yang sedang sakit. Artha kembali ke Jakarta setelah tujuh hari kematian ayah mertuanya selesai diadakan. Selama rentang waktu tiga minggu, mereka berkirim kabar lewat pesan.


Terkadang, Artha melakukan panggilan video. Mereka berbicara dan bercanda layaknya sepasang suami istri yang saling mencintai. Bunga merasa nyaman dengan hubungan itu, hingga ia menyadari sesuatu.


Sejak mereka terpisah, Bunga merasa rindu. Panggilan video ataupun pesan tidak menghilangkan keinginan hatinya untuk bertemu laki-laki itu. Ia akui, perasaannya terhadap Artha sedikit berubah.


“Ibu tidak apa-apa ditinggal sendiri? Kenapa tidak ikut ke kota saja sama Bunga?”


“Ibu lebih nyaman tinggal di kampung. Lagipula, rumah ini menyimpan banyak kenangan bersama ayahmu. Ibu tidak mau jauh dari ayahmu, meskipun dia sudah tiada,” jawab Hartini yang sudah sembuh sepenuhnya.


“Ya sudah. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi Bunga atau Mas Artha,” kata Bunga tanpa sadar.

__ADS_1


“Tumben, tidak sebut nama,” seloroh Hartini.


Bunga memiringkan wajahnya dibarengi alis yang bertaut. Ia tidak mengerti maksud ucapan ibunya. Bahkan, sang ibu tidak mau memberitahu maksud ucapannya saat Bunga bertanya.


Bunga kembali ke kota, ke rumah mungilnya yang berada di samping rumah produksi ‘Bunga Frozen’. Ani menyambutnya dengan sebuah kado pernikahan. Ia turut berduka cita atas kepergian ayah Bunga. Gadis itu juga menyerahkan sebuah catatan kecil yang dititipkan Artha padanya.


“Apa ini?” tanya Bunga dengan dahi mengernyit.


“Baca saja. Ani tidak tahu isinya,” jawab gadis remaja itu.


Catatan itu berisi alamat rumah baru mereka. Rumah itu adalah hadiah pernikahan dari Hendry untuk mereka. Bunga enggan pindah, tapi hal itu akan menyebabkan mertuanya bertanya-tanya.


Sebenarnya, malas sekali aku pindah rumah. Tapi, nanti papa bertanya kenapa dan aku tidak bisa menjawab. Masa iya, aku harus jawab karena aku cuma nikah kontrak dengan putra bungsunya itu.


Bunga menelepon Artha, bertanya sedang dimana sang suami saat ini. Laki-laki itu hanya menjawab sedang sibuk. Bunga tidak bertanya lebih jauh dan mengakhiri panggilan begitu saja.


Ia mengirim pesan bahwa sore ini ia akan datang ke rumah baru mereka. Artha hanya menjawab dengan stiker ibu jari terangkat. Bunga sedikit kecewa melihat respon Artha biasa-biasa saja.


Tidak ada reaksi senang sama sekali. Memangnya, dia, tidak senang gitu? Nyebelin.


Bunga menggerutu dalam hati seraya melangkah pergi ke rumah produksi untuk berpamitan dengan para pegawainya. Ia akan sibuk sebagai ibu rumah tangga, meskipun pernikahan mereka hanya sebuah perjanjian. Bunga sudah mengatur beberapa orang untuk mewakilinya mengurus ‘Bunga Frozen’ karena dia tidak akan bisa datang setiap hari.


Setibanya di rumah baru, Bunga tercengang. Rumah itu terlalu besar untuk ukuran orang yang hanya hidup berdua. Bunga memasuki rumah menggunakan kunci yang dititipkan bersama catatan.


“Sudah datang?” tanya suara seseorang yang sangat dikenal Bunga.


Ia menoleh dan menatap laki-laki yang berdiri di pintu dengan setelan jas putih membalut tubuh tingginya. Sepatu hitam mengkilap serta dasi merah menjadi pelengkap pakaian formal itu. Bunga sampai mengedipkan matanya berkali-kali karena tidak yakin dengan penglihatannya. Penampilan rapi itu baru pertama kali dilihat oleh Bunga.


“Artha,” gumamnya pelan sambil melangkah mendekati laki-laki itu.


*BERSAMBUNG*

__ADS_1


__ADS_2