Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Yang benar saja?


__ADS_3

"Gak usah baper. Cuma bercanda," ujar Artha seraya menghempaskan tubuh Bunga ke tempat tidur. 


Gadis itu mencebik kesal. Saat berusaha bangun dari tempat tidur, Artha kembali menariknya sampai terbaring. Dia menimpa gadis itu dan memerangkapnya.


"Kamu!"


"Sstt …. Jangan berisik. Nanti mamaku masuk, loh," godanya seraya mencubit hidung Bunga.


"Apaan, sih? Siapa yang kasih izin buat colak-colek," gerutu Bunga sambil mendorong Artha ke samping.


"Haha …. Sudah selesai ditulis, kan?" 


"Sudah. Aku juga sudah menandatangani bagianku," jawab Bunga sambil membuka tasnya.


Mereka fokus membicarakan tentang surat kontrak pernikahan tanpa menyadari ada orang lain yang ikut mendengar hal itu. Seseorang yang merasa tertarik mendengarnya dan merasa bahagia mengetahui surat perjanjian mereka. Alden menyeringai menatap pintu kamar Artha.


Menarik sekali. Jadi, kalian melakukan pernikahan kontrak untuk menyenangkan hati orang tua dari kedua belah pihak. Ah, aku tambah semangat untuk mengganggu kalian.


"Alden!" seru Khumaira dari dapur.


"Ya, Ma!"


"Suruh mereka ke ruang makan! Kita makan bersama," perintah Khumaira kepada Alden.


Laki-laki itu berdiri di ujung tangga saat menyahuti panggilan dari ibunya. Alden sengaja mengeraskan suaranya agar Artha dan Bunga bisa mendengarnya. Belum sampai laki-laki itu di ujung tangga atas, mereka sudah keluar bersama.


"Oh, kalian sudah keluar. Mama memanggil kalian untuk sarapan bersama," kata Alden sambil menarik sudut bibirnya tinggi-tinggi.


Bunga sempat merasakan hawa dingin beberapa saat. Entah kenapa, laki-laki itu terlihat baik di waktu tertentu, dan terlihat menakutkan di saat tertentu juga. Bunga perhatikan, Alden selalu tersenyum sinis atau menyeringai saat matanya beradu pandang dengan Artha.


Apa mungkin, mereka punya masalah? Kenapa Alden selalu tersenyum sinis kepada Artha?


Bunga menggumam lirih sambil berjalan. Hampir saja, ia menabrak ujung kaki meja yang sama. Kali ini, Artha yang sigap menahannya agar tidak terjatuh.

__ADS_1


“Terima kasih,” ucap Bunga dengan canggung.


“Hm.” Artha menjawab dengan gumaman singkat.


Mereka sarapan dalam diam. Khumaira melirik anak bungsunya yang lebih banyak diam sejak kemarin. Sampai saat ini, Artha tidak mau meminta maaf kepada Alden, dan Hendry sangat kecewa padanya.


Dalam pandangan kedua orang tuanya Artha-lah yang bersalah. Namun, Bunga tidak berpendapat demikian. Ia merasa ada yang Artha sembunyikan terkait hubungannya dengan sang kakak.


“Pernikahan kalian dipercepat. Besok, kita pulang bersama ke kampung Bunga. Om yakin, kamu sudah dengar apa yang diminta ayahmu,” ucapnya sambil menatap ke dalam mata Bunga, calon menantu idaman istrinya.


“Bunga sudah dengar, Om,” ujar Gadis itu.


“Kamu … setuju? Tante bisa mengerti jika … kamu tidak—”


“Bunga tidak mau mengecewakan ayah, Tante. Bunga sudah membicarakannya dengan Artha dan kami sepakat untuk menikah,” tutur Bunga, menjelaskan kepada calon mama mertua yang super baik.


Hanya Artha yang diam tanpa berkomentar apa pun. Padahal, Bunga sempat menoleh untuk meminta laki-laki itu membantunya bicara. Gadis itu menghela napas saat harapannya tak bersambut.


Rasa kecewa merayapi relung hati gadis itu. Aneh karena ia tidak memiliki perasaan cinta, tapi seringkali merasa kecewa oleh sikap acuh tak acuh Artha padanya. Haruskah ia bertanya kepada laki-laki itu tentang sikapnya yang terkesan dingin?


Hendry berbicara secara pribadi dengan Amir di dalam ruang rawat inap. Bunga dan yang lain menunggu di depan pintu kamar. Gadis itu penasaran dengan apa yang mereka bicarakan, tapi ia tidak mungkin bersikap tidak sopan, lalu menguping pembicaraan Hendry dan sang ayah.


"Ar, bisa kita bicara sebentar?"


Artha hanya mengangguk kecil. Mereka berpamitan kepada Khumaira dan ibu Bunga. Artha menebak, sepertinya Bunga akan bertanya tentang sikapnya.


Mereka menyusuri trotoar jalan di sekitar rumah sakit. Suasana jalanan tidak seramai biasanya karena jam sibuk bekerja. Mereka yang memiliki pekerjaan di kantor atau pabrik pastinya sedang sibuk dengan tugas yang bertumpuk-tumpuk.


Artha berhenti di sebuah taman. Ia membersihkan kursi untuk tempat duduk Bunga. Mereka duduk dengan jarak lima jengkal.


"Ada apa?"


"Hah? Oh … itu … aku ingin bertanya sesuatu. Kenapa kamu jadi dingin?" Bunga bertanya seraya memperhatikan wajah laki-laki itu.

__ADS_1


Artha tidak mau mengalihkan pandangannya dari jalanan. Ia takut goyah dan berbicara hal yang tidak seharusnya. Meskipun tidak menoleh, ia dapat merasakan tatapan Bunga yang menggetarkan kalbunya.


"Kita hanya menikah kontrak, bukan? Setelah menikah, kita juga harus mengurus hidup kita masing-masing. Jadi, apa bedanya jika aku bersikap dingin, normal, atau hangat? Tidak ada," jawab Artha diselingi desah napas berat dan tertahan.


"Begitu, ya. Sebenarnya, aku ingin kita bersikap biasa-biasa saja. Mereka akan curiga jika kita berjauhan seperti ini. Setidaknya, kita harus terlihat hangat, dan penuh cinta," tutur Bunga sambil memainkan ibu jarinya.


"Ada harga yang harus dibayar untuk setiap keinginan yang kamu dapatkan, Bunga."


Gadis itu terbelalak. Apa maksud laki-laki itu berkata demikian? Bunga tidak mengerti arah pembicaraan Artha. 


"Maksudnya?" tanya Bunga seraya bangkit dari tempat duduknya.


Gadis itu berdiri di hadapan Artha yang duduk dengan sebelah kaki disilangkan di atas kaki lainnya. Artha mengangkat wajah, menengadah menatap wajah Bunga. Perasaannya tidak menentu setiap kali melihat cahaya yang seakan memancar di wajah gadis itu. 


"Jelaskan padaku, Ar!" desak Bunga.


"Jika kau ingin kita berpegangan tangan, kau harus mencium pipiku. Jika ingin aku memelukmu di hadapan orang tua kita, kau harus membayarnya dengan mencium bibirku. Jika ingin terlihat romantis, layani aku di atas tempat tidur. Selama pernikahan kontrak kita, aku akan bersikap sesuai bagaimana kamu bersikap padaku," paparnya panjang lebar.


Bibir tipis itu menganga lebar. Artha memberikan syarat yang sangat memberatkan dirinya padahal sebelumnya sudah setuju dengan isi surat kontrak yang mereka tandatangani bersama. Namun, Artha memberikan syarat tidak tertulis secara sepihak.


"Kamu gila, ya? Aku tidak mau!" Bunga menolak dengan tegas.


"Terserah. Aku tidak mau berakting cuma-cuma dan aku tidak butuh bayaran uang. Setelah kita menikah, aku akan mulai bekerja di perusahaan ayahku. Uang … aku pasti memiliki lebih banyak darimu," ucapnya dengan angkuh.


Kelopak mata gadis itu berkedip-kedip. Mulutnya tidak dapat tertutup saking terkejutnya. Ia merasa diperas oleh laki-laki yang lebih muda darinya.


"Dasar brondong mesum," gerutu Bunga dengan bibir mengerucut.


"Kemarin brondong labil, sekarang brondong mesum. Besok, apa lagi julukanku?" Artha protes sambil tersenyum lebar.


Entah kenapa, Bunga sangat menyukai suara tawa renyah dari Artha? Itu lebih baik dibandingkan Artha diam dan tidak bersuara sama sekali seperti tadi pagi. Bunga tidak menjawab pertanyaan Artha tentang syarat lisan yang dikatakan baru saja.


"Jangan menatapku terlalu lama. Bahaya kalau kamu sampai jatuh cinta," godanya sambil mencolek dagu Bunga.

__ADS_1


"Kalian di sini?"


*bersambung*


__ADS_2