
Seusai sarapan, Bunga mengantar suaminya ke depan. Artha berjalan di sampingnya sambil merangkul pinggang. Setibanya di dekat mobil, laki-laki itu membisikkan sesuatu saat mereka berpelukan.
"Aku sudah melakukan tugasku. Giliranmu, untuk memberikan hadiahku," bisiknya pelan diakhiri tiupan ringan di telinga istrinya.
Jantungnya seakan berhenti berdetak untuk sesaat kala laki-laki itu meniup telinganya. Hadiah yang diminta Artha merupakan kewajiban bagi Bunga sebagai imbalan akting bersikap mesra di depan orang tua. Dia lupa isi perjanjiannya dengan sang suami.
"A … lupa … tidak ditulis," jawab Bunga dengan suara tersendat-sendat.
"Untuk permulaan, kau bisa mencium pipiku," jawab Artha sambil melirik ibunya yang sedang menyiram tanaman di halaman.
Artha tahu, wanita itu hanya mencari alasan untuk mengawasi mereka berdua. Ada tukang kebun yang bertugas merawat tanaman di halaman. Jadi, baik Bunga ataupun Khumaira tidak perlu mengkhawatirkan tanaman-tanaman itu.
"Bisa tidak kalau … nanti malam saja?"
"Mana hadiahku? Mama sedang melihat kita, loh," jawab Artha dengan senyum nakalnya.
Cup. Bunga mengecup pipi suaminya dengan cepat. Artha sampai terperanjat.
Imutnya istriku.
Artha menggumam dalam hati sambil menyunggingkan senyum tipis. Dia membalas dengan kecupan ringan di kening. Bunga pun tersipu dengan wajah merah merona.
Khumaira ikut tersenyum geli melihat kemesraan mereka. Walau masih terlihat canggung, tapi perasaan keduanya sedikit berkembang. Mungkin Bunga belum menyadari perasaannya, tapi Khumaira dapat melihat pancaran sinar cinta di matanya saat melihat Artha pergi.
Selesai mencuci piring, Bunga bersiap pergi ke tempat kerjanya. Sudah dua hari, Bunga bekerja di rumah. Setiap hari, salah seorang pegawai membawakan catatan produksi harian karena disuruh oleh Ani.
"Mau kemana, Sayang?"
"Bunga mau ke rumah Frozen, Ma," jawab Bunga sambil merapikan buku-buku yang akan dibawanya.
"Yah …" desah Khumaira dengan wajah lesu.
"Kenapa, Ma? Mama perlu sesuatu? Katakan saja sama Bunga," bujuk sang menantu sambil meraih telapak tangan hangat itu.
"Tadinya, mama mau jalan-jalan ke mall bareng kamu. Tapi, kalau kamu sibuk, pergi saja. Mama tidak apa-apa," ujar Khumaira penuh perhatian.
__ADS_1
"Bisa, kok. Bunga cuma mau diskusi bareng Ani sebentar. Kita bisa pergi ke mall setelah Bunga memberikan buku-buku ini pada Ani," kata Bunga sambil tersenyum lebar.
"Ah, gadis kecil itu, ya? Bagaimana kalau dia juga diajak? Mama suka sama dia, soalnya dia imut, dan manis."
"Oke."
Khumaira bergegas masuk ke kamar. Ia mengganti baju rumahnya dengan gamis mewah. Meskipun sudah berumur, sisa kecantikan di waktu muda masih melekat di wajahnya. Terlihat cocok memakai baju apa pun dan riasan tipis sederhana saja sudah membuatnya sangat cantik.
Mereka pergi bersama ke rumah Bunga. Selama menantunya berbicara dengan Ani, Khumaira berjalan-jalan di tempat produksi. Melihat proses bagaimana nugget ayam dibuat, dimasak, lalu dikemas. Melihat para pekerja yang sangat ramah dan terampil.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa salah seorang pegawai.
"Selamat pagi. Itu apa?" tanya Khumaira sambil menunjuk makanan yang dikemas pegawai.
"Oh, ini. Ini namanya nugget tahu, Nyonya," jawab pegawai itu.
"Oh …."
Khumaira berpamitan kepada mereka karena tidak ingin mengganggu pekerjaan. Bertepatan dengannya keluar, Bunga keluar dari rumah bersama Ani. Gadis itu bersedia ikut setelah dibujuk beberapa kali oleh Bunga.
"Jangan panggil nyonya. Kata Bunga, kamu itu sudah seperti adiknya. Jadi, kamu juga anak mama. Panggil mama saja," kata Khumaira sambil menggamit lengan gadis itu.
"Saya tidak bisa, Nyonya. Kalau panggil ibu …"
"Oke. Panggil ibu juga tidak apa-apa. Ayo berangkat!" Khumaira berseru riang.
Terkadang, terlintas pikiran jelek di benak Bunga. Khumaira pergi dari rumah suaminya karena sedang bertengkar. Namun, wajahnya tidak tampak sedih sama sekali. Setiap hari, dia selalu tampak bersemangat seolah tidak ada masalah apa pun.
***
Di pintu mall, ternyata Alden sudah menunggu kedatangan Khumaira. Mereka memiliki janji bertemu di sana untuk makan siang bersama. Bunga sedikit canggung karena berjalan di samping laki-laki selain suaminya.
Dia menarik Ani agar berjalan di belakang bersama Alden, sedangkan Bunga menggamit lengan ibu mertuanya. Helaan napas panjang itu membuat Khumaira tersenyum simpul. Alden tidak menakutkan sama sekali, tapi Bunga sangat tertekan berada di dekat laki-laki itu.
Kenapa Bunga seperti takut pada Alden? Apa Artha mengatakan hal buruk tentang Alden?
__ADS_1
"Kakakmu itu sepertinya takut padaku," celetuk Alden.
"Hah? Anda salah paham, Tuan muda. Kak Bunga mana mungkin takut pada kakak ipar sebaik Anda," jawab Ani.
"Bukannya sudah kubilang kalau … aku tidak suka dipanggil tuan muda. Terakhir kali, kamu memanggilmu Mas Alden," protes Alden saat Ani kembali memanggilnya tuan muda.
"Ah, saya lupa, Mas …"
"Tidak apa-apa. Kalau lain kali lupa lagi, aku gigit bibir kamu," kelakar Alden sambil tertawa kecil.
Ani terbelalak. Bagi gadis remaja seusianya, candaan seperti itu merupakan hal yang memalukan. Apalagi, Ani memiliki kekasih. Jika sang kekasih mendengar, pasti terjadi kesalahpahaman nantinya.
Gadis itu terdiam dan melangkah mendahului Alden. Ani tidak suka dengan laki-laki yang suka mengucapkan kata-kata yang menjurus ke hal dewasa. Dia bahkan belum pernah berciuman dengan kekasihnya. Lalu, Alden bilang ingin menggigit bibirnya.
Memangnya siapa dia? Pantas saja kak Bunga malas dekat-dekat dengannya.
Ani menyusul Bunga yang berjalan di depan bersama Khumaira. Ani memegangi tangan kanan, sementara Bunga merangkul lengan kiri. Khumaira semakin merasa aneh. Kenapa kedua wanita baik-baik seperti Bunga dan Ani, takut kepada Alden?
Pasti ada yang salah. Kalau Bunga merasa canggung terhadap Alden, itu bisa dimaklumi. Mungkin Bunga tidak ingin membuat Artha cemburu. Tapi … Ani juga menghindari Alden. Itu sangat aneh.
Khumaira menggumam dalam hati. Beberapa detik, ia menoleh, dan memperhatikan wajah putranya. Tidak ada yang salah.
"Mama mau membeli apa?" tanya Bunga sambil mengedarkan pandangannya.
"Kita ke butik mama dulu, ya. Setelah itu, kita makan siang bareng di resto," jawabnya seraya menunjuk ke sebuah butik.
"Mama punya butik di sini juga?" tanya Bunga, antusias.
"Ya. Tapi, mama tidak sering datang. Ada bawahan mama yang memegang butik di mall ini. Kalau mama, biasanya cuma jaga butik yang lebih dekat ke rumah." Khumaira menjelaskan panjang lebar kepada menantunya.
Mulut Bunga membentuk huruf 'O' tanpa suara. Hendry memiliki bisnis real estate dan Khumaira memiliki beberapa butik gaun muslimah yang cukup terkenal. Setiap tahunnya, butik Khumaira selalu membuat rancangan baru untuk semua usia.
Bunga pun memiliki usaha frozen food yang sudah luas pemasarannya. Bahkan, Bunga pernah mendapat orderan dari luar negeri. Namun, mereka tidak menjadi sombong atas semua kekayaan yang mereka miliki.
"Tch! Kenapa semua keberuntungan harus selalu berpihak pada gadis sialan itu? Lihat saja! Aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang, sahabat tercintaku," gumam seorang wanita yang bersembunyi di belakang Alden.
__ADS_1
*Bersambung*