
“Kau jatuh cinta pada kakakku, kan,” tandas Artha.
“Hah ….”
Bunga mengembuskan napas dengan kuat, hingga anak rambut yang menjuntai di keningnya terangkat, lalu terjatuh kembali. Belum genap sebulan mereka bertunangan, Bunga sudah dibuat lelah dengan tuduhan dan kecurigaan Artha yang dinilai berlebihan. Mereka tidak dalam hubungan asmara yang normal. Pertunangan itu pun hanya sebatas kesepakatan.
Namun, Artha seolah memiliki hak penuh atas kehidupan Bunga. Ia merasa semua urusan pribadi Bunga harus dilaporkan padanya. Artha menyukai Bunga, tapi gadis itu tidak mengetahui isi hatinya. Lagipula, Artha belum mengungkapkan perasaannya kepada Bunga. Itulah kenapa, ia terlihat arogan dalam pandangan Bunga.
“Aku benar, kan?” tanya Artha sambil mendecih kesal.
“Cukup, Ar! Kamu lupa dengan perjanjian kita atau kamu sedang berpura-pura menjadi tunangan yang cemburuan? Aku rasa, keduanya bukan alasan yang tepat untuk kamu ikut campur kehidupanku. Kita urus hidup kita masing-masing setelah pesta pertunangan diadakan. Kamu lupa kata-kata itu keluar dari mulut siapa, hah!”
Bunga mencoba membuka pintu, tapi Artha sudah berjaga-jaga. Ia mengunci pintu agar Bunga tidak pergi seperti sebelumnya. Jika Bunga naik taksi, ia tidak tahu akan ada laki-laki mana lagi yang mengantar Bunga pulang.
“Buka pintunya!”
“Tidak. Aku akan mengantarkanmu sampai di rumah. Aku tidak mau memberikan Alden kesempatan untuk mengantarmu lagi,” jawabnya sambil menyalakan mesin mobil.
“Brengsek,” maki Bunga sambil menutup telinga Maya.
Gadis kecil itu mengedip-ngedipkan bulu mata panjangnya. Netra kecil berwarna hitam, bening, dan mengkilap cerah itu berhasil meredakan amarah Bunga. Ia tersenyum menatap wajah mungil itu bergerak-gerak ke kanan dan ke kiri. Rupanya, Maya mendengar nada dering panggilan di dalam tas Bunga.
“Pantas saja kamu joged. Kamu, dengar suara ponsel ibu, kan,” ucap Bunga sambil mencubit hidung Maya yang hanya sebesar jari kelingkingnya.
Maya mengangguk pelan. Dia sangat cerewet saat bersama Alden, tapi lebih pendiam di dekat Artha. Jika hanya bersama Bunga, Maya lebih aktif lagi. Artha memperhatikan hal itu.
Bunga sangat berbeda dengan gadis kebanyakan. Dia tidak merasa risih meski dipanggil ibu oleh anak orang lain. Bunga sangat mudah disukai oleh orang lain. Bukan cuma laki-laki, orang tua, bahkan anak kecil pun sangat menyukainya. Sainganku … terlalu banyak.
“Halo, An.”
[Kakak dimana? Buyung kecelakaan.]
“Hah? Kok, bisa? Bagaimana keadaannya sekarang?”
__ADS_1
[Dia dibawa ke klinik Dokter Hadi.]
“Ya sudah. Kamu urus dia sebentar, kakak masih di jalan soalnya. Nanti kakak menyusul ke sana,” pungkas Bunga sebelum mengakhiri panggilan.
Artha membuka mulut hendak bertanya, tapi telunjuk Bunga mengisyaratkannya untuk diam. Meskipun sangat penasaran, ia hanya bisa diam melihat kecemasan di wajah Bunga. Sedikit rasa cemburu menggelayut di wajah mendung laki-laki itu.
Setiap kali mendengar gadis itu menyebut nama laki-laki, Artha sangat frustrasi. Ia tidak pandai mencari topik pembicaraan yang bisa membuat mereka semakin akrab. Jika ia membuka mulut, selalu berakhir dengan pertengkaran.
***
Buyung tidak bekerja karena tangannya terjepit mesin penggiling daging. Meskipun hanya jari kelingking yang terpotong, tapi laki-laki itu trauma untuk kembali bekerja di tempat Bunga. Namun, Bunga tidak melepas tanggung jawab begitu saja. Ia menjamin setengah gaji bulanan kepada Buyung.
“Saya tidak bekerja lagi, Mbak. Untuk apa uang ini?”
“Ini upah minggu lalu sekaligus tunjangan kecelakaan. Kalau amplop yang ini, itu kompensasi dari saya, Mas Buyung.”
“Saya tidak mau menerimanya. Mbak bisa berikan uang ini pada mereka yang masih bekerja,” tolak Buyung sambil memberikan amplop kepada Bunga.
“Ini ungkapan ketulusan hati saya. Tolong diterima. Uang ini bisa dipakai untuk modal usaha, Mas. Tolong terima niat baik saya, Mas Buyung,” bujuk Bunga.
“Saya terima. Terima kasih atas kebaikan, Mbak. Semoga usaha ‘Bunga Frozen’ tetap lancar kedepannya,” ucap Buyung dengan mata berkaca-kaca.
Bunga tersenyum. Ia senang karena Buyung akhirnya menerima bantuan darinya. Buyung sudah bekerja cukup lama dengannya dan pekerjaannya sangat bagus.
Saat terjadi kecelakaan, Buyung sedang banyak pikiran. Ia yang biasanya selalu berhati-hati tiba-tiba saja mengalami kecelakaan kerja. Setelah ditelusuri, rupanya istri Buyung sedang sakit. Istrinya dirawat tanpa ada yang menemani karena anak-anak mereka masih kecil dan ditinggal di rumah.
“Kak Bunga! Kenapa melamun?”
“Aku sedang berpikir untuk mencari orang yang bisa menggantikan pekerjaan Buyung.”
“Ani punya teman. Dia baru keluar dari SMK. Kalau, Kak Bunga, setuju ….”
“Pacarmu, ya?” tanya Bunga dengan tatapan menyelidik.
__ADS_1
Ani tersipu malu. Dari gelagatnya saja, Bunga memastikan jawaban gadis itu. Bunga tidak memandang pendidikan dalam menerima karyawan. Baginya, asalkan mereka niat bekerja dan bisa bersungguh-sungguh, itu saja cukup.
“Bawa dia besok. Aku ingin membeli sesuatu di supermarket. Kalau ada pelanggan yang mencariku, bilang saja untuk datang besok pagi,” ucap Bunga sambil memakai sepatu kets berwarna hijau tosca.
“Katanya cuma ke supermarket? Memang mau berapa lama di dalam supermarket?” tanya Ani dengan dahi mengerut.
“Aku ingin berjalan-jalan sebentar. Otakku pusing,” seloroh Bunga sambil tertawa kecil.
“Tidak dijemput Bang Artha?”
“Shh …. Jangan menyebut nama itu didepanku, An. Justru dia itu yang membuat kepalaku pusing,” jawab Bunga dengan wajah kesalnya.
Ani semakin tidak mengerti. Mereka terlihat baik-baik saja kemarin. Namun, Bunga seperti sangat benci mendengar nama itu disebut.
***
Bunga berkeliling di sebuah pusat perbelanjaan. Ia selalu tampil sederhana, tapi pesonanya sangat luar biasa. Setiap berpapasan dengan laki-laki, mereka tidak segan menatapnya meskipun mereka jalan bersama pasangan. Bahkan, ada seorang wanita yang memutuskan kekasihnya saat berpapasan dengan Bunga.
“Kamu masih jelalatan saja, ya! Kenapa? Kamu mau jadiin cewek itu sebagai istri muda?”
“Ampun, Sayang. Habisnya, dia manis sekali,” jawab sang suami.
Bunga bergegas pergi dengan langkah panjang. Yang benar saja? Mereka bertengkar di samping orang yang dibicarakan. Kejadian itu bukan baru sekali terjadi. Ia tidak merasa aneh, tapi merasa sangat terganggu.
Itulah kenapa, aku lebih suka di rumah sambil membuat kerajinan tangan, sambil mengawasi para pekerja. Heran, deh? Ada aja yang model begitu.
Bunga menggumam lirih. Hanya satu persen dari ribuan pengunjung pusat perbelanjaan yang bersikap seperti itu. Namun, Bunga tetap merasa risi. Ia bergegas masuk ke supermarket untuk membeli kebutuhan dapur.
Selesai mengantri di kasir, ia keluar dengan banyaknya kantong plastik yang terisi penuh. Ia memasukkan dompet ke dalam tas sambil berjalan. Tiba-tiba ia menjerit karena menabrak tubuh kekar laki-laki yang lebih tinggi darinya. Dadanya yang keras membuat Bunga memekik kesakitan seolah ia menabrak dinding bata merah yang kokoh.
“Sudah selesai belanjanya?”
Bunga menengadah. Matanya membulat melihat seorang laki-laki berdiri dihadapannya sambil memamerkan senyum manis. Senyum yang membuat Bunga justru ingin sekali memakinya.
__ADS_1
*BERSAMBUNG*