Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Bersandiwara


__ADS_3

“Kenapa wajahmu seperti itu? Tidak senang bertemu denganku?”


“Sangat tidak suka. Minggir!”


“Aku sudah bercerai, Bubu. Aku datang karena ingin merajut kembali tali cinta kita,” ucap Pras.


Mulut Bunga menganga lebar. Rasa sakit hatinya masih basah. Ia masih mengingat bagaimana rasanya memberikan selamat atas pernikahan kekasihnya dengan sahabat karibnya sendiri.


Dengan tidak tahu malunya, dia datang kembali. Apa katanya? Dia ingin merajut tali yang sudah terputus dan kusut. Bunga tidak akan pernah memaafkan atau menerima kehadiran Pras kembali. Sekalipun di dunia hanya tersisa laki-laki itu seorang, Bunga akan memilih melajang seumur hidup.


“Jangan memanggilku seperti itu lagi,” ucapnya setengah bergumam.


“Apa yang kau katakan?”


Suara Bunga terlalu rendah. Pras tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Bunga. Ia mendekatkan wajahnya, menunggu gadis itu mengulangi apa yang diucapkannya.


“Kubilang, jangan pernah memanggilku Bubu lagi! Namaku Bunga! Bubu sudah mati!” teriak Bunga di depan wajah Pras.


Ia mendorong laki-laki itu, lalu berlari sambil menangis. Orang-orang memandangnya dengan iba. Seorang gadis menangis di tengah keramaian, pasti luka hatinya sangat dalam sampai ia tidak bisa menahan rasa sakit itu.


Bunga pergi ke toilet umum di lantai satu pusat perbelanjaan. Menangis sesenggukan di dalam salah satu bilik toilet. Ia berharap untuk tidak pernah lagi bertemu dengan masa lalunya.


Namun, laki-laki itu kembali hadir tanpa izin. Merobek luka lama yang sudah susah diatasi diobati oleh waktu. Berpacaran lima tahun dan ditinggal menikah tanpa kata putus, tanpa tahu salah, dan dosa. Bunga seperti orang bodoh yang datang ke pernikahan dua sampah yang mengaku menyayanginya.


"Nona …. Apa Anda baik-baik saja?”


“Ya. Saya baik-baik saja,” jawab Bunga sambil menyeka air matanya.


“Anda yakin?” tanya seorang wanita yang kebetulan sedang berada di toilet.


“Ya. Terima kasih, Nona,” ucap Bunga dengan sopan. Ia sangat berterima kasih atas perhatian wanita asing itu.


Bunga keluar dan mereka pun bertatap muka. Seorang gadis berusia 19 tahun berdiri dihadapannya. Usia gadis itu hanya terpaut satu tahun dari Ani. Namun, sikap mereka berbeda seratus seratus delapan puluh derajat.


Ani lebih cerewet dan kekanakan, sedangkan gadis di hadapan Bunga terlihat dewasa dan kalem. Gadis itu menyodorkan sebungkus tisu Anda. Bunga menerimanya sambil tersenyum tipis.


"Terima kasih," ucap Bunga.

__ADS_1


“Sama-sama.benar-benar, Anda lebih dewasa dari saya. Bolehkah saya memanggil kakak?”


“Sangat terlihat tua, ya?Pantas saja, mereka sangat takut aku menjadi perawan tua,” kelakar Bunga.


“Maaf, bukan maksud saya seperti itu. Anda tidak terlihat tua sama sekali,” kilah gadis itu dengan cepat.


“Saya hanya bercanda. Siapa namamu?”


“Ririn, Kak.”


“Ririn …. Terima kasih atas tisu dan perhatiannya. Namaku Bunga. Semoga kita memiliki takdir untuk bertemu lagi. Saat itu, izinkan aku untuk mentraktir makan siang.”


Bunga melangkah pergi setelah merapikan riasannya. Gadis itu melambaikan tangan yang dibalas senyuman lebar oleh Bunga. Ia merasa lebih baik setelah berbicara dengan gadis asing itu. Hatinya seperti tertarik oleh sesuatu, tapi entah apa.


Di lobby pusat perbelan, Pras berdiri di sudut toko baju seraya memperhatikan Bunga. Tangannya menggenggam erat sebuah kotak kecil berwarna merah marun. Niat hati ingin melamar, tapi dia ditolak sebelum mengungkapkan niatnya.


Ia masih belum menyadari besar sayatan luka akibat pengkhianatannya. Sungguh laki-laki egois yang tidak tahu malu. Bunga merasa sangat jijik saat laki-laki itu menyentuh tangan, apalagi saat dia memanggilnya Bubu, panggilan Pras kepada Bunga saat mereka masih menjalin tali asmara.


“Aku tidak akan menyerah, Bubu. Aku tahu, kau masih mencintaiku, sangat. Aku akan menyelami dasar hatimu dan meraih cintamu kembali,” gumam Pras sambil memasukkan kotak kecil itu ke saku celana hitamnya.


Bunga berdiri di depan pintu utama pusat perbelanjaan. Menunggu taksi yang menurunkan penumpang di sana. Saat berkeliling, ia melihat Artha keluar dari mobil bersama seorang gadis yang sangat manis ketika tersenyum.


Artha mengernyitkan kening. Dari parkiran, ia melihat Bunga sedang berdiri di dekat pintu. Namun, bukan itu yang dibuat terkejut.


"Sepertinya, aku pernah melihat laki-laki yang berdiri di belakang Bunga. Tapi...," gumamnya karena merasa ragu.


"Siapa, Ar?"Tania bertanya seraya menatap ke arah yang sama.


"Itu … laki-laki yang berdiri di belakang Bunga. Sepertinya aku kenal," jawab Artha tegas, meski tidak yakin.


“Bunga … tunanganmu?” Tania bertanya dengan mata melihat gadis yang ditunjuk oleh sepupunya.


Tania pernah melihat gadis itu di tempat yang sama yang mereka datangi saat ini. Ia hampir memekik tak percaya. Bagaimana bisa, gadis asing yang pernah ditolong oleh Artha kala itu, kini mereka bertunangan.


"Aku harus menemuinya," kata Artha sambil melangkah pergi meninggalkan parkiran.


"Aku ikut," ucap Tania sambil menarik lengan baju Artha.

__ADS_1


Mereka jalan Allah dengan tangan Tania menggamit lengan Artha. Bunga mengeratkan gigi. Walaupun tidak memiliki perasaan untuk laki-laki itu, tapi ia merasa marah jika melihat laki-laki yang selalu bergonta-ganti kekasih.


"Duh, mereka ngapain kesini, sih? Lagian, ya, tuh orang … pacarnya banyak amat," gumam Bunga dengan wajah kebingungan.


Bunga datang-pura tidak melihat mereka yang berjalan mendekat.Ia menemukan alasan agar bisa terlepas dari mereka.Kebetulan, Dokter Hadi keluar dari pusat perbelanja sekali itu.


"Sayang!" Bunga berseru sambil menghampiri dokter itu.


"Bunga, kan? Kamu, bicara pada …?" Dokter Hadi bertanya untuk meyakinkan pendengaranya sendiri bahwa dia tidak salah dengar.


"Ya, lah. Masa aku bicara dengan pintu," jawab Bunga sambil menggamit lengan laki-laki yang masih kebingungan.


"Sialan! Siapa lagi laki-laki itu? Mengapa banyak sekali laki-laki yang mendekati tunanganku?" Artha menggumam pelan.


Artha berjalan dengan langkah semakin cepat.Ia tidak suka melihat Bunga memeluk laki-laki lain.Apalagi, di sana juga ada Prasetyo yang merupakan mantan kekasih Bunga.


"Tolong saya, Dokter. Ada laki-laki playboy yang mengejar saya padahal dia datang dengan kekasihnya," bisik Bunga di samping telinga Dokter Hadi.


Embusan napas Bunga membuat bulu kuduk Hadi berdiri seketika. Suara lembut dan halus sedang berbisik di telinganya. Suara yang membuat jantungnya berdetak cepat.


"Oh, begitu. Saya pikir …."


"Anda pikir, saya gadis mesum, ya?"


"Bukan. Hanya—"


"Hai!" Artha menyapa Bunga dengan wajah masam.


"Hai. Kencan, ya...," goda Bunga dengan senyum yang dipaksa.


"Ya. Kamu …." Artha menjawab sambil menunjuk dengan ragu.


"Ya, benar sekali dugaanmu. Aku juga berakhir sedang. Jadi, kami pergi duluan karena kami sudah pergi. Sampai jumpa," pamit Bunga seraya menarik tangan Dokter Hadi.


Artha mengepalkan tangannya kuat-kuat. Rasanya ingin sekali melayangkan pukulannya ke wajah laki-laki yang membawa Bunga pergi. Namun, hal itu tidak sungguh-sungguh dilakukan karena khawatir membuat Bunga keberatan.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2