Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Siapa dia?


__ADS_3

"Hai," sapa Artha dengan senyum canggung.


Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Apalagi, Bunga terpaku menatapnya. Artha semakin salah tingkah.


"Kenapa melihatku seperti itu? Tidak cocok, ya?"


"Ah, nggak. Cocok, kok. Kamu terlihat lebih dewasa dan … ganteng," jawab Bunga dengan cepat.


Artha tersipu mendengar pujian dari sang istri. Ia sangat senang. Untuk pertama kalinya Bunga memberikan pujian kepada Artha. Biasanya selalu mengejek brondong.


"Terima kasih atas pujiannya. Baru kali ini, loh, kamu memujiku," godanya sambil mengedipkan mata diselingi senyum nakal.


"Gak mau dipuji? Ya, sudah. Aku tarik lagi kata-kata tadi," gerutu Bunga yang kesal karena godaan suaminya.


"Eh, jangan, dong. Memuji orang itu harus tulus, jangan plin-plan," kata Artha sambil memamerkan senyum kuda.


"Jelek," ketus Bunga.


Artha tertawa lebar melihat istrinya mulai kesal. Wajah cemberutnya tampak menggemaskan di mata Artha. Seperti itulah pandangan pria yang sedang jatuh cinta. Setiap hal yang dilakukan Bunga justru terlihat menarik.


Bunga diajak berkeliling rumah oleh Artha. Ada dua lantai dan delapan kamar di rumah itu. Bagi Bunga, itu terlalu besar untuk mereka berdua, tapi Artha mengatakan bahwa nanti akan ada pelayan yang membantu bersih-bersih, dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.


"Aku bisa, kok, bersih-bersih dan mengerjakan pekerjaan rumah. Buat apa buang-buang uang untuk mencari pelayan," ujar Bunga dengan senyum manis menghias bibir merahnya.


"Tugas kamu cuma melayani suamimu. Semua pekerjaan rumah, biar dikerjakan pelayan," celetuk Artha sambil melirik ke wajah sang istri.


"Ck! Nikah kontrak saja minta dilayani. Awas, ya, kalau macam-macam!" Bunga mengancam Artha dengan wajah masam.


Laki-laki itu tidak takut dengan ancaman Bunga karena tahu hal itu dengan baik. Mereka sudah sepakat untuk tidak melakukan hubungan badan. Namun, bukan Artha jika tidak bisa membuat Bunga naik darah.


"Tapi, persyaratanku berlaku sejak kita menikah," ujar Artha dengan wajah serius.

__ADS_1


"Persyaratan apa?" tanya Bunga dengan dahi mengernyit.


Artha menjawab seperti beberapa waktu yang lalu. Jika Bunga ingin pernikahan mereka terlihat harmonis, maka Bunga harus merayu suami kontraknya. Artha mengatakan bahwa dia tidak ingin menghabiskan waktu untuk berakting tanpa imbalan.


Saat itu, Bunga pikir Artha hanya bercanda. Kini, ia tahu jika suaminya itu serius meminta syarat untuk biaya aktingnya. Bunga tampak sangat terkejut, hingga ia terduduk di sofa ruang keluarga.


Jika ingin berpegangan tangan, Bunga harus mencium pipi Artha. Jika ingin berpelukan di hadapan orang tua , maka harus membayarnya dengan mencium bibir. Jika ingin terlihat romantis, Bunga harus melayaninya di tempat tidur. Selama pernikahan kontrak, Artha akan bersikap sesuai bagaimana Bunga bersikap. Semua kata-kata itu diingat dengan jelas oleh Bunga.


"Kamu serius?" tanya Bunga dengan ragu.


"Yup. Aku sangat serius," jawabnya sambil melengos pergi ke dapur.


Artha meninggalkan Bunga dalam kebimbangan. Semua itu harus dipenuhi Bunga jika ingin terlihat rukun oleh orang tua juga orang lain yang mereka kenal. Siap atau tidak, Bunga harus belajar merayu suaminya.


'Tidak ada cara lain, kan? Mau bagaimana lagi. Lagipula, kontrak atau bukan, toh, pernikahan kami tetap sah. Dicoba dulu saja.'


"Hah …" Bunga menghela napas berat.


Artha menyodorkan segelas air mineral di depan wajah Bunga. Istrinya terlihat sangat frustrasi, tapi Artha justru terlihat senang. Jika istrinya frustrasi, artinya dia sedang mempertimbangkan syarat yang diajukan olehnya.


Artha dan Bunga kelabakan memindahkan pakaian Artha ke kamar Bunga. Setelah selesai memindahkan semua barang-barang pribadi milik Artha, Bunga berlari ke pintu depan. Keringat membanjiri wajahnya saat ia mencium tangan sang ibu mertua.


Mereka pasti habis olahraga di kamar.


Khumaira tersenyum simpul. Pikirannya melanglang buana entah kemana. Keringat di wajah dan leher Bunga diartikan lain oleh wanita paruh baya itu.


"Maaf, mama datang mengganggu kalian," ucap Khumaira dengan wajah murung.


"Tidak sama sekali, Ma. Lagipula, rumah ini memiliki banyak kamar kosong. Mama bisa tinggal selama apa pun. Bunga dan Artha tidak keberatan, kok," ujar Artha sambil mengikuti lengan istrinya.


"Hah? I-ya, Ma," jawab Bunga dengan setengah hati.

__ADS_1


Bunga belum siap untuk terus tinggal sekamar dengan Artha. Jika ibu mertua tinggal di rumah itu terlalu lama, artinya Bunga harus siap menunjukkan keharmonisan rumah tangganya dengan Artha. Mengingat itu, tentu Bunga teringat syarat yang harus dipenuhi olehnya.


"Terima kasih, Sayang. Kalian tidur di kamar yang mana?" selidik Khumaira dengan mata memicing.


Artha menunjuk kamar tidur utama di lantai dua. Khumaira memutuskan tinggal di kamar sebelah kamar mereka. Tepatnya, kamar yang sebelumnya dipakai oleh Artha. Mereka sama-sama terkejut dengan mata yang seolah akan jatuh.


"Bagaimana ini?" tanya Bunga dengan berbisik.


"Tidak tahu. Lagian, kamu tinggal akting sama aku. Yang penting, upah akting jangan diutang," bisik Artha sambil tersenyum tipis.


Ih … nyebelin. Dia enak, aku rugi.


Bunga menaiki anak tangga sambil menggerutu dalam hati. Mulai malam ini, ia harus belajar akting di depan mertua. Apakah ia sanggup melakukan itu? Ia sendiri tidak yakin jika aktingnya tidak akan terbongkar di depan Khumaira.


Di dalam kamar, Bunga tidur di sofa. Artha tidak mau mengalah dan membiarkan istrinya tidur meringkuk di sofa. Bunga sangat kesal karena harus melihat laki-laki menyebalkan itu sekamar dengannya. Bahkan, Artha mengambil tempat tidur Bunga seenaknya.


Sampai malam merangkak semakin larut, Bunga belum bisa memejamkan mata. Sofa itu terlalu pendek untuk Bunga, meskipun tinggi badannya hanya sekitar 150an sentimeter saja. Merasa jenuh, ia membuka akun di aplikasi sosial media miliknya.


Prince Endymion sedang aktif. Apa dia tidak bisa tidur sepertiku?


Bunga hanya melewatkan notifikasi pembaruan status teman online-nya. Ia sadar, bahwa ia bukan lagi gadis lajang sekarang. Interaksi dengan laki-laki lain mulai dihindari olehnya.


Namun, tidak dengan laki-laki itu. Dia mengirim pesan pribadi cukup banyak, tapi Bunga tidak membalasnya. Sampai sebuah pesan membuat Bunga merasa penasaran.


(Aku tahu, kamu sudah menikah dengan laki-laki bernama Artha. Selamat, ya. Tapi, jangan putuskan hubungan pertemanan kita begitu saja. Aku tulus, kok, berteman denganmu.)


"Maaf, tapi aku tidak bisa," jawab Bunga dengan gumaman pelan.


Ia tetap tidak membalas pesan itu. Meskipun, ia sangat ingin mengetahui dari mana laki-laki itu mengetahui tentang pernikahannya? Bunga mondar-mandir di balkon, memikirkan siapa laki-laki yang kemungkinan mengenalnya.


Artha menatap punggung istrinya yang kini sedang bersandar di pagar pembatas balkon. Sejak tadi, ia hanya berpura-pura tidur. Maksud hatinya hanya ingin menggoda sang istri dengan membiarkannya kesal disuruh tidur di sofa.

__ADS_1


Siapa yang sedang kamu pikirkan, istriku? Kau … membuatku cemburu.


*Bersambung*


__ADS_2