Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Ayo kita menikah


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan padaku?" Bunga bertanya kepada Artha dengan tatapan tajam.


"Seperti yang kau lihat," jawab Artha, ambigu.


"Hey! Aku tanya serius, apa yang terjadi tadi malam? Perasaan … aku tidur di sofa, deh," kata Bunga dengan yakin.


Artha memilih pergi begitu saja. Bahkan, ia mengabaikan seruan Bunga yang memintanya untuk tidak pergi. Gadis itu memiliki hal penting yang harus dibicarakan dengan Artha.


"An! Tolong tahan dia," ucap Bunga kepada Ani.


Gadis remaja itu mengejar Artha dan menghadangnya sesuai perintah Bunga. Ia harus menahan Artha sampai Bunga selesai memakai baju. Bunga tidak mungkin keluar dengan memakai baju dalam saja.


"Minggir!" Artha menghardik Ani.


Namun, gadis itu tidak mau beranjak pergi dari pintu mobil Artha. Jujur saja, kedua kakinya sudah lemas karena teriakan laki-laki itu, tapi ia harus bertahan. Ani sudah tahu apa yang akan dibicarakan oleh Bunga. Jadi, ia harus bertahan meskipun terasa menakutkan berada dibawah tekanan batin dari Artha.


"Saya mohon, Bang Artha … jangan pergi. Kak Bunga harus bicara dengan, Abang. Ini masalah pertunangan kalian," ujar Ani yang berusaha membujuk Artha untuk tetap tinggal.


Masalah pertunangan? Maksudnya, tentang perjanjian pertunangan yang kemarin dibicarakannya, kan? Tch! Buat apa juga aku membuat kesepakatan tertulis seperti itu.


"Katakan padanya, itu penting baginya, tapi tidak untukku. Cepat menyingkir dari mobilku!" Artha meninggikan suaranya karena sudah sangat kesal.


Ia ingin cepat pergi karena tidak ingin membahas masalah kontrak tertulis. Artha mencintai Bunga, tidak seperti Bunga yang terpaksa bertunangan dengannya. Jika ia menandatangani surat perjanjian seperti itu, hatinya merasa terluka.


"Tunggu, Ar!" Bunga berlari keluar sambil berteriak menahan laki-laki itu.


Ani segera masuk ke rumah setelah Bunga berdiri di depan Artha. Mereka harus membicarakan hal yang belum sempat dibicarakan kemarin malam karena Artha mabuk dan tertidur pulas. Bunga tidak membahas kenapa ia bisa berpindah tempat. Semua itu bisa ditanyakan nanti karena ada hal yang lebih penting sekarang.


"Kalau kamu mau membuat surat perjanjian itu, silakan. Tulis dan sertakan semua syaratnya di sana. Setelah selesai ditulis, baru ditandatangani, lalu berikan padaku. Jadi, aku tidak perlu berlama-lama di sini," ucap Artha dengan nada dingin dan acuh tak acuh.

__ADS_1


Siapa yang tahu, hatinya saat ini sedang menjerit. Kesal, marah, dan cemburu. Ia pikir, Bunga melakukan hal itu demi pria lain, pria yang pernah dicintai Bunga sepenuh hati.


"Ayo kita menikah," celetuk Bunga secara tiba-tiba.


"Apa! Aku tidak salah dengar? Kita berjanji untuk putus setelah satu tahun. Ini baru satu bulan sejak kita bertunangan dan kamu … menikah. Pernikahan bukan sesuatu yang pantas dibuat bahan candaan, Bunga," balas Artha, panjang lebar.


"Aku tidak bercanda. Semalam, aku mendapat telepon dari ibu di kampung. Ayahku … kritis. Keinginan terakhirnya adalah melihat aku menikah denganmu. Kita … menikah saja," ujar Bunga sambil menggenggam pergelangan tangan Artha.


Gadis itu gemetar. Nada suaranya dipenuhi kesedihan dan air mata meleleh begitu dia selesai berbicara. Artha tahu kini bahwa itu bukan sekedar gurauan.


"Tenangkan dirimu dulu. Kita bicara perlahan-lahan, supaya aku mengerti situasinya," ucap Artha seraya menghela napas berat.


***


"Bagaimana ini, Pa? Mama tidak bisa menghubungi Artha," ucap Khumaira dengan wajah panik.


Hendry yang lebih dulu menerima telepon dari Hartini. Ia sangat khawatir mendengar Amir masuk ruang ICU. Apalagi, Hartini mengatakan kondisinya masih belum sadarkan diri sampai sekarang.


"Ada apa, Pa?" Alden bertanya kepada ayahnya yang sedang mondar-mandir.


Alden belum mengetahui situasi yang sedang terjadi. Ia sudah tertidur pulas saat ayahnya menerima telepon dari kampung. Laki-laki itu penasaran dan terus mendesak ayahnya untuk bicara.


"Artha harus segera menikahi Bunga karena Amir sedang kritis. Dia ingin melihat Bunga dan Artha menikah sebelum ia tutup usia."


"Mungkin itu hanya kecemasan berlebihan saja, Pa. Mereka pasti sangat ingin melihat putri semata wayangnya segera menikah," sambar Alden.


Hendry termenung. Mungkin kata-kata Alden ada benarnya, tapi ia memang ingin hal itu segera diwujudkan. Artha masih tidak mau masuk ke perusahaan karena tidak memiliki tanggungan. Hendry harap, Artha mau bekerja setelah menikah.


***

__ADS_1


"Pernikahan kontrak? Ide gila apa lagi ini?" Artha bertanya pada gadis itu dengan wajah merah padam.


Tidak cukup berbicara tentang pertunangan kontrak, sekarang Bunga mengusulkan untuk menikah kontrak. Perasaannya semakin terluka. Bagaimana bisa cintanya dianggap lelucon oleh gadis itu.


"Cuma itu yang bisa kita lakukan, Ar. Aku mohon, tolong kabulkan keinginan ayahku …," ucap Bunga, lirih.


Artha menghela napas berat berkali-kali. Apakah ia harus menyatakan cinta pada gadis itu agar dia tahu seperti apa perasaannya? Atau, haruskah ia membuat baliho untuk memberitahu isi hatinya?


"Aku tidak bisa, Bunga," gumam Artha seraya mengusap kasar wajahnya.


"Apa katamu?" Bunga bertanya karena tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan laki-laki itu.


"Hah … lupakan saja. Jika kamu memang ingin kita melakukan pernikahan kontrak … lakukan saja sesuai keinginanmu. Aku akan pulang sekarang. Kedua orang tuaku pasti cemas mencariku," pungkas Artha.


Bunga tidak sempat berterima kasih kepada Artha karena laki-laki itu pergi tergesa-gesa. Ia menghela napas berat saat mobil laki-laki itu hilang dari pandangannya. Tanpa tahu perasaan Artha yang sedang terluka, Bunga pergi ke kamar, lalu membuat surat kontrak pernikahan.


"Aku akan meminta tanda tangan Artha besok," gumam Bunga seraya melipat kertas yang baru saja ditandatangani olehnya.


Di rumah keluarga Hendry, Artha sedang disidang. Mereka mencari Artha sejak kemarin karena ponselnya pun tidak dapat dihubungi. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa Artha ada di rumah Bunga sampai pagi tadi.


"Kamu tidak berbuat kurang ajar pada Bunga, kan?" Khumaira menginterogasi putra bungsunya dengan sabar.


"Harus berapa kali Artha bilang. Bunga bukan tipe wanita yang Artha cintai. Wanita tidak peka dan kejam itu bukanlah gadis yang patut diberi cinta," jawab Artha dengan kesal.


Semua yang keluar dari mulutnya adalah kebohongan. Namun, mereka bukanlah anak kemarin sore yang mudah ditipu. Mereka mengerti bahwa Artha sedang merasa kesal karena Bunga tidak menyadari perasaan cintanya.


Selesai disidang, Artha pergi ke kamarnya. Sang kakak mengikuti di belakang sampai mereka tiba di depan kamar. Artha ingin sekali memakinya, tapi kedua orang tua mereka sedang memperhatikan. Ia harus bisa menahan diri agar mereka tidak mengetahui pertikaian antara Alden dan dirinya.


"Aku akan menjadi orang pertama yang mencicipi madu di tubuh Bunga. Jadi, cepatlah nikahi dia, dan biarkan aku yang mewakili malam pertama kalian," bisiknya di dekat telinga Artha disertai tawa kecil yang merendahkan.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2