
Bunga tiba di rumah produksi lebih awal. Ia bangun subuh dan segera pergi setelah menunaikan ibadah wajibnya. Bunga enggan bertemu suaminya karena belum siap membicarakan tentang hubungan mereka.
"Bunga kemana, Bik?" tanya Artha yang baru keluar dari kamar.
Ia baru mencari Bunga di kamar tetapi sang istri sudah tidak ada di sana. Asisten rumah tangga pun tidak melihat kemana nyonya majikannya pergi. Saat ia mengambil baju kotor yang hendak dicuci, Bunga sudah tidak ada di tempat tidur.
"Mungkin sudah pergi, Tuan. Soalnya, mobil nyonya sudah tidak ada," jawab ART itu.
"Mungkin? Kok, mungkin?" Artha bertanya dengan mata memicing.
"Itu … karena saya tidak melihat nyonya pergi. Jam lima pagi tadi, nyonya sudah tidak ada di kamarnya," terang asisten rumah tangga itu dengan wajah ketakutan.
Artha mengibaskan tangan, memerintahkan wanita itu kembali ke dapur. Padahal sudah semalaman tidak tidur karena gelisah menunggu pagi. Rupanya, Bunga pergi lebih awal untuk menghindarinya.
Kesal tapi tidak tahu harus berbuat apa. Mau marah juga percuma. Belum hilang rasa kesalnya, Elena tiba-tiba muncul di ruang tamu.
"Sayang!"
"Elena!" Artha memekik seraya mengedarkan pandangan.
Asisten rumah tangga keluar dari dapur saat mendengar ada suara seorang wanita. Melihat ada tamu, ia menawarkan apa yang harus disuguhkan untuk Elena. Namun, kesopanannya dibalas jawaban sinis oleh gadis itu.
"Aku ini calon nyonya rumah yang sebenarnya. Jangan memperlakukanku seperti tamu begitu. Kalau aku datang, kau harus menyiapkan minuman dan makanan kesukaanku. Mengerti?" Elena bicara dengan kepala mendongak angkuh.
Siapa wanita ini? Kenapa dia berbicara seolah dia pemilik rumah ini? Jangan bilang kalau dia ini …
"Kenapa malah diam? Pergi sana! Buatkan aku minuman coklat panas," perintahnya sambil menggelayut manja di lengan Artha.
"Jangan begini, Elena," ucap Artha dengan halus.
"Kenapa? Kamu, kan, pacarku," sautnya manja.
"Hm. Kenapa kamu datang ke rumahku lagi? Aku, kan—"
"Kamu bilang akan datang ke apartemen aku dan kamu bohong," potong Elena sambil mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
Saat mereka berpisah, ia berjanji akan menemuinya di apartemen. Namun, ia tidak menepati janji itu karena ingin memberikan penjelasan kepada istrinya. Artha tidak ingin menemui wanita lain tanpa sepengetahuan Bunga.
Hatinya telah menjadi milik Bunga seutuhnya. Hanya menunggu waktu sampai wanita itu menyadari perasaan tulusnya. Artha sudah pernah mengungkapkan isi hatinya, tapi Bunga tertawa karena berpikir laki-laki itu sedang bergurau.
Andai mereka bisa berbicara dengan baik dari hati ke hati. Mungkin, hubungan mereka akan lebih intim dari sebelumnya. Setiap kali Artha menyatakan cinta, jawaban Bunga selalu sama. Gadis itu hanya menertawainya.
"Maaf. Aku masih sibuk," ujarnya, beralasan.
"Kenapa kamu pergi ke kantor sekarang? Bukannya, kamu tidak berencana bekerja di kantor papamu? Aneh," cibir Elena.
Ya. Artha yang mengatakan sendiri bahwa dia tidak ingin bekerja di perusahaan ayahnya. Semua ucapan itu keluar karena tekanan dari Alden.
Kini, ia memiliki istri yang harus dinafkahi. Mau tidak mau ia harus bekerja untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami. Meskipun sang istri memiliki penghasilan sendiri, tapi Artha tetap harus bertanggung jawab atas diri Bunga secara lahir batin.
Lahir terpenuhi, tapi batin masih mengganjal. Sampai saat ini, mereka belum bersatu. Artha tidak ingin melakukannya hanya karena kewajiban. Ia ingin bersatu dengan Bunga dengan landasan cinta.
"Kita bicara di tempat lain saja," ucap Artha sambil menarik tangan Elena.
"Tunggu! Kita mau kemana?" tanya Elena dengan hati kesal.
Sampai mesin mobil dinyalakan, Artha tidak juga memasangkan sabuk pengaman Elena. Gadis itu menyilangkan kedua tangannya di dada. Tatapan aneh dan marah membuat matanya memerah.
"Ada apa?" Artha bertanya dengan pandangan lurus ke jalan.
"Kamu nanya ada apa? Kamu sadar, gak, sih? Biasanya kamu memasangkan sabuk pengaman untukku," ketus Elena.
Artha terdiam. Sikapnya berubah karena ia telah menikah. Hanya Bunga yang pantas diperlakukan seperti itu saat ini.
Merasa tidak direspon, Elena pun menangis. Jurus andalan saat ingin diperhatikan oleh Artha. Elena sangat mudah mengeluarkan air mata, membuat siapapun merasa iba.
"Maaf. Jangan menangis," bujuk Artha sambil mengusap puncak kepala gadis itu.
"Aku tidak mau memaafkanmu," jawabnya sambil mengusap air mata di pipi.
Artha tidak menyahuti ucapan Elena dan hanya menghela napas berat. Bagaimana caranya untuk memutuskan hubungan dengan Elena? Pertanyaan itu mengambang di pikirannya.
__ADS_1
Di depan sebuah resto, Artha memarkirkan mobilnya. Ia mengajak gadis itu sarapan bersama. Kebetulan, Artha tidak sempat sarapan di rumah.
Mereka melupakan sejenak urusan asmara yang menggantung. Elena memesan menu sarapan salad buah dan sayuran. Artha memesan kopi dan roti croissant.
Resto itu memiliki menu khas dari beberapa negara. Selain roti croissant, ada juga kimchi khas negeri ginseng. Dorayaki di resto itu juga merupakan primadona di hati pelanggan saat mereka memesan menu sarapan.
Bagi yang tidak ingin makan berat, roti, kue, dan kopi saja sudah cukup mengganjal. Artha pun demikian. Dia memesan kopi dan roti sebagai pengganjal perutnya yang keroncongan.
"Papaku bertanya kapan kamu akan melamar," celetuk Elena.
"Uhukk … uhukk …."
"Pelan-pelan, Sayang. Nih, minum dulu," ucap Elena sambil menyodorkan segelas air putih.
"Terima kasih," ujar Artha.
Roti croissant yang besar dan panjang itu biasanya dapat dihabiskan olehnya. Ucapan Elena yang tiba-tiba bertanya tentang lamaran membuat Artha tersedak. Rasa laparnya menghilang, perutnya terasa penuh seketika.
"Jadi … kapan?" Elena mendesak jawaban dari laki-laki yang dicintainya itu.
"Elena, aku … kau tahu, kan kalau aku sudah menikah. Aku tidak bisa menduakan istriku," jawabnya dengan hati-hati.
Namun, jawaban itu seperti petir yang menggelegar, menyambar tepat di hati Elena. Artha memberitahunya bahwa pernikahan antara dia dan Bunga hanya sebatas kontrak. Lalu, kenapa Elena menangkap sinyal perasaan yang dalam kepada Bunga lewat sinar mata Artha?
"Tidak mungkin. Jangan bilang kalau, kamu, jatuh cinta pada gadis kampung itu?" Elena menutup mulutnya yang menganga lebar.
Kebisuan Artha seakan menjawab semua pertanyaan Elena. Memang benar, Artha telah jatuh cinta sejak pertama berjumpa dengan Bunga. Seolah Tuhan mendengar isi hati Artha, hingga ia dipertemukan dengan gadis yang telah menarik perhatiannya dari Elena.
"Aku tidak mau tahu! Kamu tidak boleh bersama wanita kampung itu. Tidak boleh!" Elena berteriak seraya bangkit dari tempat duduknya.
Teriakan gadis itu mengundang perhatian para pelanggan resto. Mereka menatap ke arah Artha dan Elena. Beberapa dari mereka berkasak-kusuk, menduga-duga apa yang menjadi penyebab pertengkaran sepasang kekasih itu.
Ada yang mengutuk Artha karena berselingkuh dengan wanita lain. Ada pula yang mencibir sikap Elena. Mereka merasa wajar jika Artha berselingkuh dengan wanita lain jika sikap Elena seperti itu.
"Apa yang kamu lakukan disini, Artha?" tanya seorang wanita yang tidak asing bagi Artha dan Elena.
__ADS_1
*Bersambung