
Bunga menelan minuman itu sambil menutup mata. Setelah minuman melewati tenggorokan, ia membelalak tiba-tiba. Rasa minumannya cukup enak untuk dikatakan jamu.
"Hmm! Enak sekali. Apa nama minuman ini?" Bunga bertanya kepada Artha sambil mengangkat gelas minumannya.
"Jasuku," jawabnya dengan singkat.
"Ja-su-ku? Namanya mirip jasuke," gumam Bunga.
"Suka juga sama makanan itu?"
"Huh?"
"Jasuke. Apa kamu suka makanan itu?" Artha mengulang pertanyaannya dengan lebih detail.
Bunga menggelengkan kepalanya dengan kuat. Dia tahu nama itu bukan karena dia suka dengan makanan itu, tapi karena pedagang jasuke keliling selalu lewat setiap hari di depan rumahnya. Bunga tidak suka dengan keju dan jagung karena itu ia tidak pernah membeli jasuke.
"Aku tidak suka keju dan jagung," jawabnya sambil nyengir kuda.
"Aku kira suka. Seseorang sangat menyukai jajanan itu. Dia tidak peduli sekalipun dikatain anak kecil olehku," ucapnya sambil tersenyum tipis.
"Seseorang … kekasihmu?"
Bunga bersikap lebih santai dan berbincang sembari menghabiskan makanannya. Pertanyaan yang sia-sia karena ia tidak mendapatkan jawaban. Namun, ia yakin, seseorang itu pastilah kekasihnya.
"Sudah selesai makannya? Kalau sudah, kita pergi sekarang. Aku penasaran ingin tahu dimana rumahmu," kata Artha.
"Tidak ada yang spesial di rumahku. Bahkan, luasnya saja hanya 6x6meter persegi. Itu … lebih kecil dari ruang tamu rumah ini," balas Bunga.
Mereka pergi menghampiri yang lain. Khumaira, Hendry, dan Alden sudah duduk di mobil. Artha meminta kunci mobil milik Bunga.
Dua mobil keluar dari pintu gerbang. Jarak dari rumah Artha menuju rumah Bunga hanya dua puluh menit perjalanan saja. Perjalanan tidak terasa sama sekali karena mereka berbincang-bincang selama menyusuri jalan raya.
***
__ADS_1
Ani sibuk menyiapkan pesta penyambutan kedatangan Bunga dan keluarga calon suaminya. Bunga tidak memberitahu, tapi Ani selalu super tahu. Ia menelepon ke kampung halaman gadis itu. Dari Hartini-lah dia tahu, Bunga sudah ada di Jakarta.
"Kalian sudah siap, kan?"
"Siap, Mbak Ani!" Mereka menjawab bersamaan.
Sepuluh orang pekerja yang biasa mengemas frozen food telah membawa masing-masing sekuntum bunga mawar putih. Ani juga memesan makanan dan minuman untuk menyuguhi keluarga calon kakak ipar angkatnya. Semua persiapan selesai tepat disaat mobil Bunga berhenti di halaman.
"Selamat datang kembali, Kak Bunga," ucap Ani.
"Terima kasih, An." Bunga menjawab sambil menerima bunga dari para pegawainya.
Tidak cuma itu, mereka juga mengucapkan selamat atas pertunangannya. Bunga tersenyum kecut, berbeda dengan Artha yang terlihat sangat bahagia. Senyumnya yang cerah seakan mampu mengusir awan hitam.
"Oh, ya. Perkenalkan, dia ini, Ani. Adik angkat sekaligus asisten Bunga. An, mereka orang tua dan kakak Artha. Kalau Artha, kamu sudah tahu, kan?"
Bunga mengenalkan Ani kepada orang tua Artha. Gadis itu dengan sopan menyalami kedua orang tua Artha, lalu beralih kepada Alden. Ia hanya tersenyum ramah, lalu berlari ke sisi Bunga.
"Maafkan, Ani, Kak Alden. Sepertinya, dia malu untuk menyapa," ujar Bunga, menjelaskan sikap Ani yang seolah tidak ingin dekat dengan laki-laki itu.
Wajah Ani tersipu saat netra ovalnya beradu pandang dengan mata teduh milik Alden. Selesai saling menyapa dan berkenalan, mereka masuk ke ruang tamu. Bunga sempat khawatir memikirkan apa yang akan disuguhkan saat Hendry dan Khumaira datang berkunjung. Namun, ia bernapas lega setelah melihat banyaknya makanan dan minuman yang tersaji di meja.
"Silakan duduk, Tante, Om, Al. Maaf, rumahnya sumpek," ujar Bunga merasa rendah diri karena perbedaan antara rumahnya dengan rumah Hendry sangat jauh.
"Tidak sumpek, kok. Malah, rumah ini terasa hangat dan nyaman. Tante sangat bangga sama kamu, Sayang. Kamu sudah bisa memiliki rumah dari hasil keringat sendiri," ucap Khumaira sambil melirik ke arah Artha.
"Ya, ya. Artha cuma pemuda pengangguran," celetuknya.
Ya, dia hanya pemuda pengangguran manja yang cuma bisa menghamburkan uang orang tua. Tidak tahu, kenapa ayah bersikeras ingin aku menikah dengan laki-laki model begini. Hah ....
Mereka makan siang bersama di rumah Bunga. Ani memilih pergi ke rumah sebelah, rumah yang digunakan untuk ruang produksi. Ia tidak ingin mengganggu acara Bunga dan keluarga calon suami.
Setelah makan siang, Hendry dan Khumaira melihat-lihat ke ruang produksi frozen food di rumah sebelah. Alden tidak mau menjadi obat nyamuk di antara Bunga dan Artha. Ia menyusul kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Kamu, tidak ikut pergi ke sana?" tanya Bunga sambil memberikan secangkir teh.
"Masih ada banyak waktu di lain hari. Sekarang, aku ingin berbincang-bincang saja denganmu. Boleh, kan?"
"Tentu saja boleh. Mumpung om dan tante tidak ada di sini, bolehkah aku bertanya sesuatu?"
Bunga memendam rasa ingin tahu sejak mereka masih di kampung. Dengan hati-hati, ia mengungkapkan rasa penasaran yang menggelitik hatinya. Artha tersenyum kecil mendengar permintaan Bunga.
"Itu sudah bertanya," kelakarnya.
"Iya, juga. Hehe," kekeh Bunga.
Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Mendapat candaan seperti itu, Bunga jadi lupa dengan apa yang ingin ditanyakan pada Artha. Laki-laki berwajah oval dengan garis dagu yang tegas dan rahang yang kuat itu terus menatap wajah Bunga.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Bunga mengalihkan pandangannya saat bertanya.
"Karena kamu cantik. Jadi, Nona Cantik, apa yang ingin kau tanyakan padaku?"
"Hah? Oh … itu …. Bagaimana dengan hubunganmu dengan kekasihmu? Aku tidak memiliki kekasih. Jadi, tidak masalah untuk berpura-pura selama satu tahun. Kalau, kamu, kan, berbeda," ujarnya.
Artha terdiam. Ia menyeruput teh hangat itu dan melemparkan pandangannya jauh ke depan. Sejak pesta pertunangan, ia belum menghubungi gadis itu lagi.
Ia harus bertemu dengan Elena untuk memperjelas hubungan mereka. Namun, gadis itu tidak ada di Indo. Artha bisa saja menemuinya di negeri sakura sana, tapi dia tidak tahu harus bagaimana memutuskan hubungan dengan Elena.
Lagi-lagi tidak dijawab Yah, buat apa juga aku harus penasaran? Toh, pertunangan ini akan berakhir setelah satu tahun.
Bunga meninggalkan Artha di teras sendirian. Ia menyusul Khumaira ke rumah sebelah. Saat ia hendak masuk, Alden keluar. Mereka bertabrakan dan bibir Alden menyentuh pipi Bunga tanpa sengaja.
"Maaf, maaf. Aku tidak sengaja, sungguh. Maafkan aku," ucap Alden dengan gugup dan panik.
Tch! Dia pasti sengaja, kan?
Artha mendecih kesal saat melihat kejadian itu. Dari luar tampak akrab dan saling menyayangi, tapi di dalam hatinya, Artha membenci laki-laki itu. Ada masalah diantara mereka di masa lalu, masalah yang hanya bisa dipendam dan disembunyikan dari kedua orangtuanya.
__ADS_1
Sementara, Bunga hanya terpaku dengan wajah memerah. Ciuman itu terjadi tanpa disengaja, tapi semua pegawainya melihat hal itu, termasuk juga Artha. Rasanya sangat memalukan, sampai ia ingin masuk ke lubang tikus saja jika ada.
*Bersambung*