Menggoda Suami Yang Nakal

Menggoda Suami Yang Nakal
Mencari hiburan, pelepas stress


__ADS_3

Bunga melamun di rumahnya. Ani memperhatikan sampai duduk di depannya. Namun, Bunga terlalu jauh tenggelam dalam pikirannya sampai tidak menyadari kehadiran Ani.


"Kak Bunga," panggil Ani seraya menepuk punggung tangan Bunga.


"Hm. Ada apa, An?" Bunga bertanya dengan malas.


Pikirannya sedang kacau balau. Malas untuk bekerja atau berbicara. Namun, Ani yang khawatir terus saja bertanya ada apa dengannya.


"Aku baik-baik saja. Pergi kerja sana," usir Bunga dengan nada bercanda.


"Kakak selalu saja menutupi masalah dariku. Apa aku begitu tidak bisa dipercaya?" Ani merengut sedih saat bertanya.


"Bukan begitu, An. Kakak ingin sendirian saat ini. Nanti, kakak pasti cerita, kalau kakak sudah siap," bujuk Bunga dengan lembut.


"Ya, sudah. Ani ke sebelah dulu. Kalau sudah lebih baik, panggil saja," pamit Ani sebelum pergi ke rumah produksi.


Bunga menarik senyum tipis. Ia tahu, Ani begitu peduli padanya. Tiba-tiba saja ia merasa rindu pada sang ibu. Seminggu sekali, Bunga menyempatkan untuk menelpon Hartini, ibunya.


"Aku merindukan ibu," gumamnya sambil menghela napas berat.


Bunga melihat jam di layar ponsel. Baru jam sembilan pagi. Jika Bunga pulang ke kampungnya, ia bisa kembali malam nanti.


Perjalanan pulang pergi selama enam jam. Dia bisa melepaskan rindu selama enam jam dan kembali sebelum jam sepuluh malam. Bunga pun pamit kepada Ani dan gadis itu diminta untuk tidak memberitahu Artha.


"Aku akan kembali malam nanti. Jadi, rahasiakan ini," pinta Bunga kepada Ani.


"Siap, Kak," jawab Ani.


***


Artha menyelesaikan pekerjaan lebih awal. Teringat percakapannya dengan Elena tadi pagi. Gadis itu menangis histeris dan menolak untuk diputuskan olehnya. Untuk meredakan tangis Elena, Artha berjanji akan menemuinya kembali besok pagi.


"Hah …," desah Artha sambil mengacak rambutnya.

__ADS_1


'Aku tidak mau menyakiti hati Bunga, tapi Elena juga terluka karena pernikahanku. Apa yang harus kulakukan untuk membuat Elena mengerti dan melupakanku?'


"Anda tidak pulang, Pak Manajer?" Asisten Artha bertanya setelah merapikan meja kerja.


"Oh. Saya akan pulang nanti. Kau bisa pulang duluan," jawab Artha pada laki-laki bernama Agam.


Agam adalah asisten pribadi Hendry. Dia sudah lama bekerja di perusahaan dan sangat baik dalam melakukan pekerjaannya. Hendry mengirim Agam untuk mengajari Artha segala hal tentang perusahaan mereka sebelum Hendry menurunkan kepemilikan atas perusahaan itu kepada putra bungsunya.


"Kalau begitu, saya permisi," pamit Agam.


Artha mengangguk pelan. Ia bangkit dari kursi kebesarannya. Berdiri di depan dinding kaca yang memperlihatkan gedung-gedung tinggi di sekitarnya.


Jika sejak dulu Artha menerima perintah ayahnya untuk bekerja di perusahaan, mungkin saat ini dia sudah mengambil alih kursi direktur utama. Dulu, ia terlalu malas berdebat dengan kakaknya. Alden yang selalu mengharapkan Artha menjadi anak yang tidak berguna.


Rasa iri dan cemburu Alden yang tersembunyi tidak pernah terendus kedua orang tuanya. Akhir-akhir ini, Artha menghindarinya, dan sering berdebat di depan orang tua. Khumaira sedikit merasa curiga, tapi Alden membantahnya.


"Sedang apa Bunga sekarang?"


Artha merogoh saku jasnya, mengambil ponsel untuk menghubungi sang istri. Jam empat sore, biasanya Bunga sedang bersiap-siap untuk pulang ke rumah. Namun, ponselnya tidak aktif.


"Aku harus pergi melihatnya," gumamnya seraya meraih jas dan kunci mobil di atas meja.


***


Bunga sedang dalam perjalanan pulang setelah bercengkrama dengan sang ibu. Walau hanya pertemuan singkat, sudah cukup untuk mengobati rindu. Keresahan hatinya pun sedikit terkikis setelah bercanda ria dengan Hartini.


"Dia pasti sedang bersama kekasihnya," gumam Bunga dengan wajah sendunya.


Bibirnya bergerak-gerak seperti sedang memaki. Ia kembali kesal mengingat kejadian pagi tadi. Artha memilih pergi bersama Elena dibandingkan dengannya.


'Aku pikir, kami bisa menjadi pasangan yang sesungguhnya. Tapi, itu hanya khayalanku yang terlalu tinggi. Sejak awal, dia memang sudah memiliki Elena dihatinya. Apa yang kuharapkan dari hubungan palsu ini?'


Pernikahan kontrak diam-diam di belakang orang tua. Tanpa Bunga ketahui, Artha sudah mengganti isi surat kontrak. Surat perjanjian pernikahan yang belum ditandatangani itu diubah, baru diberikan kepada Bunga untuk ditandatangani.

__ADS_1


Gadis itu tidak tahu, bahwa Artha telah mengganti waktu perjanjian menjadi seumur hidup. Kontrak pernikahan seumur hidup yang tidak bisa diberitahukan oleh Artha kepada Bunga. Ia ingin hidup bahagia bersama gadis itu selama sisa hidupnya.


Namun, Artha belum sempat membereskan masa lalunya bersama Elena. Perasaan cintanya kepada kekasihnya telah memudar sejak ijab kabul dilakukan. Dia telah berjanji di depan orang tua, penghulu, saksi, dan di hadapan Allah, bahwa ia akan menjaga, menyayangi, dan melindungi Bunga sampai maut memisahkan.


Pernikahan itu bukanlah sekedar permainan semata bagi Artha, meskipun Bunga beranggapan demikian. Ia ingin mengambil hati gadis itu perlahan-lahan. Hingga suatu saat nanti, ia akan memberitahukan masalah surat kontrak yang mereka sepakati bersama.


Tiba di teras rumah, Bunga disambut oleh suaminya. Sudah hampir jam sebelas malam dan laki-laki itu juga sudah memakai piyama tidur. Lalu, kenapa dia tidak pergi tidur, tapi malah menunggu Bunga dengan pakaian yang tipis itu?


Bunga sedikit merasa heran, tapi memilih bersikap masa bodoh. Ia berjalan melewati laki-laki itu begitu saja. Anehnya, Artha pun tidak menegur atau memanggilnya.


Artha hanya berjalan mengikuti istrinya sampai di depan pintu kamar. Saat Bunga berbalik, Artha hanya memamerkan senyum tipis yang terpaksa. Bunga tidak bisa mengabaikannya.


"Ada yang ingin kau bicarakan denganku? Katakan saja," ucap Bunga seraya membuka pintu kamarnya lebar-lebar. "Masuklah," sambungnya sambil berbalik masuk.


"Darimana?" Artha bertanya dengan posisi tubuh bersandar di tiang pintu.


"Aku tidak bertanya kemana kamu pergi bersama Elena. Jadi, kenapa kamu harus tahu kemana aku pergi hari ini?" Bunga balik bertanya dengan nada ketus.


"Itu berbeda," jawab Artha singkat.


"Heh … beda," gumam Bunga sambil tersenyum sinis.


Apa yang berbeda? Bagi Bunga, keduanya sama. Dia pergi tanpa memberitahu Artha begitupun sebaliknya. Impas, bukan? Namun, tidak bagi Artha.


Laki-laki itu melangkah maju mendekati istrinya. Menarik tangan Bunga yang terlipat di dada. Tubuh mereka bertabrakan sampai Bunga memekik kaget.


"Hek! Ap—"


Artha membungkam mulut istrinya. Kedua tangan Bunga disatukan di belakang punggung. Kecupan dalam dan panas yang mendominasi membuat Bunga tidak mampu melawan.


Air bening meleleh di kedua pipi lembutnya. Seiring Isak tangis pelan yang terdengar sendu di telinga Artha. Laki-laki itu mengakhiri kecupannya, lalu memeluk Bunga dalam diam.


Rasa khawatir membutakan pikiran Artha, hingga dia memaksa mengecup bibir istrinya. Sekujur tubuh Bunga telah sah menjadi miliknya, tapi tidak berarti ia harus melakukan hal itu secara paksa. Tanpa meminta izin, Bunga merasa sedang direndahkan oleh suaminya.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2