
“Uhuk ….”
“Al, bagaimana keadaanmu?”
Samar-samar, kedua manik mata Al bersinar melihat seorang gadis yang lama dipuja-pujanya. Seolah ada angin surga yang menerpa hatinya. Dingin, sejuk dan terasa damai. Ia menyunggingkan senyum tipis, lalu meringis kesakitan karena luka lebam di wajahnya.
“Bunga … akhirnya kamu melihatku. Aku sangat menyukaimu. Sejak awal, kamu seharusnya bertemu denganku lebih dulu, bukan dengan dia,” ucap Alden dengan suara lemah.
“Hah … ch,” decih Elena dengan wajah kesalnya. “Sepertinya, aku memang tidak akan menang melawan gadis kampung itu. Bukan hanya Artha, tapi kau juga sangat tergila-gila pada gadis itu, sampai tidak bisa membedakan siapa gadis itu dan siapa yang sedang berdiri dihadapanmu,” lanjutnya.
“Ah, ternyata bukan, ya. Kupikir, dia akhirnya memilihku, rupanya hanya angan-angan,” ujar Alden tanpa meminta maaf atas kesalahannya dalam mengenali Elena.
“Aku menyerah untuk mendekati Artha. Dia dibawa kembali ke rumah om Hendry bersama istrinya. Tidak ada kesempatan untukku mendekati dia. Jadi, aku datang untuk berpamitan padamu. Lebih baik aku kembali melanjutkan studi S2-ku di luar negeri. Mulai hari ini, apapun masalahmu dengan Artha dan istrinya, aku tidak mau terlibat lagi. Selamat tinggal, Al,” pamit Elena panjang lebar.
“Akhirnya kau juga pergi meninggalkanku. Orang tuaku, gadis impianku, dan kamu. Kalian pada akhirnya membuangku, meninggalkanku dengan kejam,” lirih Alden di sela rasa putus asanya akan kehidupan.
Elena yang tidak berpikir buruk, hanya tersenyum tipis sebelum keluar dari ruangan perawatan Alden. Gadis itu yang menemukan Alden tergeletak di jalan saat ia hendak pergi ke rumah temannya. Ia membawa Alden ke rumah sakit dan menemaninya dengan cemas sampai laki-laki itu sadarkan diri.
‘Maaf, Al. Sebenarnya, aku sedikit berharap padamu. Disaat aku sedang putus asa, kau datang menghiburku. Awalnya, aku pikir kita hanya partner yang akan menghancurkan kebahagiaan Artha dan Bunga. Semua sentuhan tubuh kita hanya sebagai timbal balik dari perjanjian. Namun, aku merasa diriku sudah berubah. Aku berharap kamu bisa melihatku saat kamu sadar, tapi dimatamu hanya ada Bunga.’
Elena meneteskan air mata. Seandainya ia menyadari perasaannya sejak awal, ia tidak akan membuang-buang waktu untuk mengejar hati Artha yang telah berpindah ke hati lain. Penyesalan memang menyakitkan, tapi Elena sudah berjanji kepada ayahnya untuk pergi keluar negeri sesuai perjanjian antara Hendry dan ayahnya, Juan Li.
Saat tiba di lobby rumah sakit, ia melihat sesuatu melayang dari lantai atas dan terjatuh tepat di parkiran. Semua orang menjerit saat melihat sesosok tubuh bergelimang darah di lantai parkiran yang hendak dituju oleh Elena. Banyaknya orang yang berkerumun membuat gadis itu tidak bisa melihat siapa orang yang sudah bertindak nekat itu.
“Permisi! Permisi! Tolong minggir!” Perawat yang berlari mendorong brankar, mengusir kerumunan orang yang menghalangi.
Deg!
__ADS_1
Jantung Elena seakan berhenti berdetak saat melihat dua orang laki-laki petugas UGD membalik tubuh tak bernyawa itu dan menaikkannya ke atas brankar. Tangannya menutupi mulut yang menganga dan kakinya terasa lemas. Ia terjatuh saat brankar didorong dan melewatinya begitu saja.
Gadis itu menangis dan menjerit sejadi-jadinya. Orang-orang pun keheranan melihat reaksi Elena. Mungkin gadis itu kekasihnya atau keluarganya? Mereka yang masih berdiri di parkiran pun menduga-duga hubungan Elena dan korban yang mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai lima.
Dalam keadaan kalut, ia mencoba menghubungi keluarga Alden. Namun, meskipun nomornya aktif, tidak ada yang menjawab panggilan telepon darinya. Ia pun pasrah dan pergi ke ruang UGD seorang diri.
***
“Kenapa tidak diangkat?” tanya Bunga.
“Malas. Jangan-jangan, nanti dia merengek memintaku untuk datang,” jawab Artha sambil fokus menatap jalanan.
“Siapa tahu, dia menemukan kak Alden. Jangan berburuk sangka dulu,” ucap Bunga, memberi pengertian.
“Ya, sudah. Kalau dia menelepon lagi, kamu saja yang angkat,” tutup Artha.
Ia enggan membicarakan tentang Elena. Menutup pembicaraan tentang gadis itu dan membahas hal lain. Namun, Bunga justru menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
“Aku tidak mau dengar. Kamu mesum, ih,” gerutu Bunga.
“Mesum apanya, sih. Serius,aku nanya, masih sakit tidak?” tanya Artha yang semakin semangat menggoda istrinya.
“Ngapain tanya soal begituan, coba. Dasar mesum,” sungut Bunga.
“Kamu … tidak ingat sama sekali? Padahal, kamu mende—”
“Diam! Aku tidak mau membahas tentang tadi malam,” potong Bunga sambil menutup mulut Artha dengan telapak tangan.
__ADS_1
Laki-laki itu menjilat telapak tangan Bunga sehingga dia melepaskan tangannya. Bibirnya mengerucut karena kesal. Bukannya minta maaf, Artha justru tertawa lebar.
Sebuah cubitan kecil mendarat di pinggang Artha. Meskipun, Bunga berpikir itu hanya mimpi, tapi ia mengingat semua kata-kata Artha tadi malam. Ia tersenyum mengingat ucapan Artha yang mengatakan bahwa dia mencintainya.
Sepuluh menit kemudian, panggilan telepon dari Elena kembali masuk ke ponsel Artha. Bunga meraih ponsel yang diletakkan di atas dashboard mobil. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum menekan tanda terima panggilan.
"Ya, Halo," sapa Bunga dengan ragu.
[Aku … ada di rumah sakit. Alden … dia ….]
"Ada apa dengan kak Alden? Halo! Halo, Elena!"
Sia-sia. Elena mengakhiri panggilan karena tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Hal itu membuat Artha dan Bunga penasaran. Elena belum memberitahu di rumah sakit mana dia berada saat ini.
Artha mencari di beberapa rumah sakit sampai akhirnya tiba di Rumah Sakit Harapan Bunda. Mereka mencari nama pasien bernama Alden. Namun, perawat yang bertugas di pusat informasi justru mengarahkan mereka ke ruang jenazah.
"Anda pasti salah, Suster. Kakak saya tidak mungkin ada di sana. Elena tidak mengatakan apa-apa soal itu," protes Artha yang tidak percaya pada ucapan perawat.
"Pasien meninggal satu jam yang lalu setelah melompat dari lantai lima. Jika Anda tidak percaya, silakan pergi ke ruang jenazah bersama saya," kata perawat yang lain.
Dia menunjukkan jalan sampai mereka tiba di depan ruang jenazah. Di depan pintu ruangan, Elena sedang duduk di lantai sambil sesenggukan. Melihat Artha datang, gadis itu segera beranjak bangun, lalu berlari ke pelukan laki-laki itu.
Rasanya nyeri hati Bunga melihat hal itu. Namun, ia bisa menahan perasaannya dengan baik. Keadaannya sekarang sedang tidak baik, jadi ia harus berusaha mengerti.
"Alden, Ar. Dia—"
"Aku tahu. Kenapa dia bisa sampai ada di rumah sakit dan apa alasannya melakukan hal bodoh ini? Apakah kamu tahu penyebabnya, Elena?" Artha masih tidak percaya bahwa Alden benar-benar pergi dengan cara yang tragis.
__ADS_1
Elena semakin erat memeluk punggung Artha. Bunga yang tidak tahan melihatnya, memilih pergi meninggalkan mereka. Ia menenangkan hatinya sambil mencoba menghubungi ayah dan ibu mertuanya.
*Bersambung*