
"Hai, Sayang. Kakak disini juga?" tanya Artha.
"Ya. Kamu–"
"Oh, itu. Artha datang karena Bunga bilang sedang makan siang dengan, Kakak," jawab Artha sambil menarik kursi di samping Bunga.
"Kayaknya itu suaminya? Tertangkap basah selingkuh, deh," cibir ibu yang sama.
Artha menoleh ke arah wanita itu. Dia tidak tahu situasinya, tapi menebak jika orang-orang berpikiran salah tentang istrinya. Bunga, wanita yang dinikahinya bukanlah wanita buruk. Rasanya ingin sekali memarahi orang yang berbicara buruk tentang Bunga, tapi dia tidak mau mempermalukan dirinya di depan umum.
"Kamu sudah makan, Sayang?" tanya Artha dengan lembut.
Bunga menengadah, menatap manik mata sepekat dark coklat. Jantungnya berdetak cepat mendengar panggilan sayang dari suaminya. Tersipu sedikit rasa sedih karena laki-laki itu hanya suami kontraknya. Apalagi saat bayangan wajah Elena muncul di ingatan Bunga, mendadak air mata meluncur tanpa permisi.
"Kenapa menangis? Maaf kalau aku sedikit terlambat datang, macet soalnya," hibur Artha sambil menyeka air mata di pipi kenyal istrinya.
"Tidak apa-apa. Aku cuma … rindu," ucapnya dengan wajah tersipu.
"Aku juga sama. Aku sangat merindukanmu," jawab Artha dengan tatapan yang dipenuhi cinta.
Kedua tangan Alden mengepal di bawah meja. Menatap sepasang manusia yang sedang jatuh cinta. Alden pikir, pernikahan Artha yang terpaksa, tidak akan membuat sang adik jatuh cinta. Terlebih lagi, dia masih memiliki Elena.
"Ekhem! Aku tahu kalian ini pengantin baru, tapi tidak perlu pamer didepanku juga, kan. Ck!" Alden berpura-pura menggoda mereka.
Artha hanya menanggapi dengan senyuman tipis. Saat menerima pesan dari Bunga, ia sangat marah. Pesan Bunga yang mengatakan tidak nyaman makan siang berdua dengan Alden membuat emosinya memuncak.
Jika bukan di tempat umum, Artha pasti sudah memukul kakaknya karena berani mendekati Bunga. Arti gadis itu telah menggantikan posisi Elena sejak mereka pertama kali bertemu. Disadari atau tidak, ia jatuh cinta kepada Bunga sejak saat itu.
***
Makan siang berlalu lebih tenang setelah Artha datang. Kini, mereka sudah tiba di rumah. Bunga masuk ke kamarnya dan Artha duduk di sofa ruang keluarga.
Punggung bersandar dengan sebelah lengan menutupi mata. Perasaannya semakin tidak karuan melihat sang kakak memandang Bunga seperti mangsa saat di cafe tadi, seperti laki-laki itu ingin merebut Bunga darinya.
"Sialan! Beraninya dia mendekati istriku," gumam Artha yang geram memikirkan tingkah Alden.
Bunga yang baru keluar kamar setelah mengganti baju, tidak sengaja mendengar umpatan Artha. Hatinya berbunga-bunga melihat Artha cemburu. Terpikir ide jahil untuk memancing kecemburuan yang lebih besar.
"Kamu tidak kembali ke kantor?"
"Tidak," jawab Artha, singkat.
"Kenapa? Aku baru mau pergi," ucap Bunga sambil melirik laki-laki disampingnya.
__ADS_1
Artha mendelik tajam, lalu berkata, "mau kemana lagi?"
"Ke rumahku, lah. Memangnya mau kemana lagi," sungut Bunga.
"Alden ada di sana, kan?" tanyanya dengan mata memicing.
Dia mencurigai Bunga karena ingin kembali ke rumah produksi padahal Alden sering datang ke sana. Jangan-jangan dia hanya tidak ingin ketahuan selingkuh baru memanggil Artha ke cafe? Apakah mereka memiliki hubungan yang spesial? Semua pertanyaan penuh kecemburuan itu berkelebat di hati Artha.
"Em … mungkin … ada," jawab Bunga dengan ragu.
"Terus, kenapa mau kembali ke sana? Bukannya tadi bilang tidak nyaman dengan dia? Kamu … tidak berencana selingkuh dariku, kan?" Artha bertanya sambil menunjuk wajah Bunga.
"Setahun kemudian, kan, aku single. Tidak ada salahnya mencari calon pengganti sekarang. Tapi, kamu tenang saja karena aku tidak akan selingkuh dengan kakakmu," godanya dengan nada manja.
Grep!
"Ah!" Bunga menjerit kaget.
Artha menarik tangan Bunga sampai tubuhnya menabrak dada bidang sang suami. Gadis itu membelalak saat bibir Artha menempel dengan cepat di bibirnya. Lembut, basah, dan hangat. Sensasi yang tidak pernah dibayangkan selama ini.
Bunga memberontak lemah, tapi suaminya memeluk lebih erat. Perlahan tapi pasti, mata gadis itu mulai menutup. Suasana panas di siang hari membuat keduanya berkeringat.
"Lep–"
"Aku belum selesai bicara," gerutu Bunga dengan bibir mengerucut.
"Belum selesai bicara pun, aku tahu apa yang akan kau katakan. Tetaplah seperti ini, sebentar saja," ucap Artha seraya menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri.
Embusan napas berat Artha menyapu leher Bunga. Berdesir darah gadis itu. Degup jantungnya naik sampai terasa sesak bernapas.
"Suaranya indah," gumam laki-laki itu.
"Hm? Suara apa?" Bunga mengerutkan keningnya.
"Detak jantungmu, suaranya sangat indah. Aku menyukainya," jawab Artha sambil menarik diri dari istrinya.
"A-aku … mau pergi," ucapnya dengan canggung.
Bunga bangkit dari sofa dengan wajah bersemu merah. Langkah kaki cepat menuju kamar dan membanting pintu dengan tergesa-gesa. Tubuhnya merosot dan duduk bersandar di balik pintu.
Dia pasti marah sampai-sampai membanting pintu.
Artha menghela napas berat. Semakin frustrasi dengan keadaan rumah tangganya yang dilandasi surat kontrak. Andai waktu dapat terulang, Artha akan memilih berbicara jujur. Ia bersedia menikah dengan Bunga karena ia memiliki perasaan.
__ADS_1
"Apa aku bisa memperbaiki kesalahan ini?" Artha menggumam risau.
***
Sampai malam merangkak, Bunga tidak keluar dari kamar. Ia hanya mengirimkan pesan singkat kepada Ani, memberitahu gadis itu bahwa ia tidak akan kembali ke rumah produksi hari ini. Ia masih terlalu canggung untuk bertemu dengan suaminya.
Suara ketukan pintu terdengar. Artha memanggil Bunga untuk makan malam. Asisten rumah tangga sedang pergi berbelanja bersama sopir.
Entah kebetulan atau memang direncanakan oleh Artha? Hingga mereka selesai makan, asisten rumah tangga maupun sopir masih belum kembali. Mereka duduk di ruang keluarga sambil menunggu kedua orang itu pulang.
"Kenapa masih belum kembali juga?" Artha bergumam sambil memandang pintu.
"Mereka, kemana?" tanya Bunga, memecah keheningan.
"Disuruh beli dasi buat rapat besok pagi," jawab Artha.
"Dasi? Bukannya, sudah banyak? Buat apa beli lagi? Mana nyuruh malam-malam begini lagi," sungut Bunga.
"Ya, sih. Cuma, kayaknya gak ada yang cocok sama jas yang mau kupakai besok," ujarnya sambil menggaruk kepala, lalu tersenyum tipis.
"Masa? Ikut aku! Coba aku lihat," ucap Bunga sambil menarik tangan Artha agar membawanya ke kamar.
Artha tersenyum dengan tatapan yang sulit dimengerti. Seakan semua berjalan sesuai rencana. Apakah ia sengaja membuat skenario itu? Membuat istrinya agar mau pergi ke kamar pribadi Artha.
Tiba di dalam kamar, Bunga melepaskan tangan Artha. Lalu, tangannya membuka lemari pakaian. Mencari-cari dasi yang warnanya cocok dengan jas merah marun yang akan dipakai Artha besok pagi. Sebuah dasi bergaris diagonal menarik perhatian Bunga.
"Karena kemeja dan jasnya berwarna gelap, kurasa warna dusty ini akan cocok. Coba dulu aja," usul Bunga.
"Tidak perlu. Apapun yang kamu pilih, aku akan memakainya," goda Artha sambil mencolek dagu sang istri.
"Ish … apa, sih," gerutu Bunga yang tersipu.
"Hey," panggil Artha dengan lembut.
"Apa?"
"Ayo, lakukan lagi," jawab Artha dengan senyum misterius.
"Lakukan … apa?" tanya Bunga seraya menatap kedua manik mata coklat itu dengan pandangan aneh.
"Ciuman," jawabnya dengan singkat.
"Hah?"
__ADS_1
*Bersambung*