
Seminggu berlalu, wajah Artha semakin terlihat lesu. Lingkaran hitam di bawah mata menunjukkan kurangnya waktu istirahat. Artha gelisah setiap malam. Berpikir antara pergi ke kamar Bunga atau tidak.
Namun, tentu saja hasilnya sama. Artha tidak memiliki keberanian untuk menemui istrinya. Surat kontrak yang menjadi pembatas hubungan mereka.
"Selamat pagi, Tuan."
Asisten rumah tangga menyapa sambil menarik kursi untuk Artha. Dia duduk di depan meja makan tanpa gairah sama sekali. Sang asisten memperhatikan dan memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa Anda sedang sakit, Tuan? Wajah Anda tampak pucat," ujarnya sambil menuang segelas air mineral.
"Hah … entahlah, Bik. Rasanya malas untuk pergi bekerja, malas makan, dan malas ngapa-ngapain." Artha menjawab sekenanya dan sesuai apa yang dirasakannya.
"Apa bibi boleh tahu alasannya?" tanya sang asisten.
Artha menggelengkan kepalanya. Dia sendiri tidak yakin apa penyebabnya. Namun, ia seperti kehilangan sesuatu dalam hidupnya. Apalagi, pagi ini Bunga sudah pergi saat ia keluar dari kamar.
"Maafkan saya, Tuan, jika saya lancang. Mungkin … karena tidak tidur sekamar dengan nyonya, baru Anda merasa kesepian, Tuan," tuturnya dengan wajah tertunduk.
Gawat! Bagaimana kalau tuan marah karena kelancanganku?
Artha tampak berpikir. Mungkinkah seperti itu? Apa ia merasa kesepian sehingga tidak lena tidur dan makan? Pertanyaan itu berputar di benaknya.
Sebelum laki-laki itu menjawab, sang asisten rumah tangga sudah pergi. Artha minum air putih itu, lalu pergi tanpa berpamitan. Entah kemana tujuannya, sang asisten rumah tangga tidak berani bertanya.
***
Alden datang ke rumah produksi. Mendekati Ani perlahan-lahan dengan tujuan yang tidak baik. Dia ingin menggoda adik iparnya yang saat ini sedang bekerja di ruangannya.
Menjelang liburan, pesanan makanan beku aneka macam terus meningkat. Bunga disibukkan dengan laporan dan catatan pesanan yang menumpuk. Dia tidak tega membiarkan Ani bekerja sendirian disaat pesanan sedang ramai.
Selain pekerjaan, ada hal lain yang membuat Bunga memilih pergi ke rumah produksi setiap hari. Setiap kali bertemu muka dengan suaminya, ia tidak dapat mengendalikan debaran aneh didadanya. Bahkan, ia merasa canggung untuk sekedar makan semeja dengan Artha.
"Kak Bunga!" panggil Ani dengan suara keras.
__ADS_1
"Astaga! Kamu ini …"
Bunga merengut kesal. Hampir saja ia terguling dari kursi. Untung saja masih bisa ditahan oleh tangan Ani.
"Lagian, Kakak … aku panggil-panggil, diam saja."
Ani membela diri. Dia masuk setelah sepuluh kali memanggil nama Bunga. Namun, Bunga tengah larut dalam lamunannya, dan tidak mendengar panggilan Ani.
"Ada apa?" tanya Bunga sambil merapikan nota pesanan yang sudah dikirim.
"Bang Al mau bicara katanya," jawab Ani dengan wajah berbinar.
"Bicara apa, sih? Biasanya juga bicara sama kamu, kan," goda Bunga dengan senyum kuda.
Bunga malas bertemu dengan Alden. Setelah beberapa kali mendengar kata-kata rayuan maut yang membuat bulu kuduk berdiri. Bukan tersentuh, tapi merasa jijik.
Seorang kakak ipar merayu adik ipar. Dilihat dari segi manapun, itu bukan hal yang baik. Sebagai pria dan wanita yang bukan pasangan, mereka akan menjadi cibiran orang jika terlihat akrab.
Sebuah panggilan telepon masuk, menjeda perbincangan Ani dan Bunga.
[Ini nomorku, Flower Rain atau … aku harus memanggilmu 'Bunga'? Kau masih mengingatku, kan? Ini aku, Prince Andymion.]
Mata coklat itu membulat. Prince? Nama itu sangat akrab di hati Bunga. Teman chatting yang memiliki banyak kesamaan dalam berpikir. Makanan, minuman, serta hobi mereka juga sama.
"Siapa, Kak?" selidik Ani sambil melongok, mengintip layar ponsel Bunga.
Bunga menyembunyikan ponselnya ke belakang punggung. Entah kenapa, rasa penasaran kembali bergejolak. Dia ingin bertemu dengan teman pria satu-satunya yang dikenalnya dari dunia maya.
Bunga membalas pesan itu. Dia meminta waktu untuk bertemu. Ajakan itu ditanggapi oleh Prince dan mereka akan bertemu satu jam sejak pesan dikirim.
Bunga juga mengirim pesan singkat kepada suaminya. Dia meminta izin pulang terlambat karena akan bertemu temannya. Tidak dijelaskan secara rinci siapa teman yang dimaksud.
Gadis itu sangat penasaran karena Prince mengetahui nama aslinya. Jantungnya berdebar kala kakinya melangkah masuk ke sebuah cafe. Di sana, ia akan berjumpa dengan orang yang tadi berkirim pesan dengannya.
__ADS_1
Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia bisa tahu namaku?
"Bunga!" Suara laki-laki yang tidak asing di telinga itu memanggil Bunga.
"Kak Alden?" Bunga menggumam heran.
Suara Alden terdengar kembali. Mau tidak mau, Bunga melangkah menuju meja tempat sang kakak ipar. Di atas meja telah tersaji makanan favorit Bunga, minuman, serta kue kesukaannya.
Keheranan gadis itu bertambah saat melihat semua hidangan yang dipesan Alden. Seingatnya, bahkan Artha pun tidak mengetahui apa seleranya. Hanya Prince yang pernah bertanya apa makanan dan minuman favoritnya. Laki-laki itu saja yang mengetahui semuanya dengan baik berkat Bunga yang memberitahu.
"Kenapa? Kok, kamu heran gitu?" tanya Alden sambil menarik sebelah sudut bibirnya.
"Ka-kak … sedang menunggu seseorang? Makanannya banyak sekali," kata Bunga sambil tersenyum canggung.
Dia berusaha menyingkirkan pikiran buruk yang ada dibenaknya. Namun, ucapan Alden seakan meruntuhkan bangunan cafe, dan menimpa tepat di kepala Bunga. Bagaimana tidak? Hal yang dianggapnya tidak mungkin, justru benar-benar terjadi.
"Aku sedang menunggumu. Perkenalkan, aku … Prince Andymion. Salam kenal, Flower Rain," ucapnya seraya menarik tinggi kedua sudut bibir.
Senyum yang mengisyaratkan kebahagiaan saat bertemu teman lama. Berkebalikan dengan gadis yang ada dihadapannya. Alden berbicara panjang lebar, tapi Bunga tidak merespon.
"Bunga," panggil Alden sambil menepuk punggung tangan Bunga.
"Ya! Ma-maaf, Kak. Bunga masih belum bisa percaya kalau … Kak Alden adalah Prince," jawab Bunga beralasan.
"Bisa dimaklumi, sih. Aku juga tidak percaya, gadis yang kucari ternyata berada di depan mata selama ini. Meskipun, aku sedikit kecewa karena kamu menikah dengan adikku."
Alden mendorong pelan piring berisi ayam bakar kesukaan Bunga. Segelas jus alpukat tanpa tambahan gula dan susu pun digeser ke arah gadis itu. Alden memberitahu bahwa ia mengingat apa yang disukai dan apa yang tidak disukai oleh Bunga.
"Ayam bakar pedas dan jus alpukat tanpa tambahan pemanis. Ini, kan, makanan favorit kamu," tuturnya dengan suara lembut.
Di meja lain, orang-orang tampak menatap ke meja Alden dengan wajah mengernyit. Tatapan sinis dan jijik mereka tunjukkan pada Bunga. Bahkan, gadis itu mendengar seorang ibu yang duduk di meja samping berbisik kepada suaminya.
"Pasti gadis gak bener. Masa selingkuh sama kakak ipar seperti," bisiknya pada laki-laki berjanggut yang dipanggil 'Mas'.
__ADS_1
Hatinya terasa nyeri mendengar kata-kata itu. Tanpa mengetahui apa yang terjadi, mereka sudah menilai Bunga sebagai wanita yang buruk. Penghakiman tanpa pembelaan, sungguh hal yang melukai hati putih milik Bunga Shandya. Bunga putih bersih itu ternoda dalam pandangan orang lain.
*Bersambung*