
3 bulan kemudian...
Di 3 bulan ini setelah pernikahan ku dan Nichol, aku menyelesaikan kuliahku dan pindah ke london mengikuti Nichol.
Aku membuka caffe disana, tetapi aku juga tak mengesampingkan pekerjaanku di rumah. Jadi aku mengurus rumah dan caffe. Nichol sama sekali tak keberatan, asalkan aku bisa membagi waktu dan semuanya pun beres.
Pagi ini aku ke caffe tetapi bukan untuk mengurusnya, jadi aku mengganti kan Nichol untuk bertemu client.
Sesampainya di caffe, aku menemui client nya. Kami berbincang mengenai kerja sama kami dan semua berjalan dengan lancar.
Setelah itu aku kembali ke kantor, untuk memberikan dokumennya kepada Nichol.
"Nih dokumennya..." Aku memberikannya pada Nichol. Aku duduk di kursi kerja miliknya, sedangkan dia berdiri bersender pada meja.
"Cepet juga lu..." Ucap Nichol sambil membaca dokumen.
"Iya lah... cepet gak pake lama..." Jawabku.
"Minta tolong sekali lagi boleh?" Tanya Nichol.
"Nggak.."
"Sebentar doank.." Ucapnya. "Nanti gw kasih sesuatu..."
"Apa?"
"Uang?" Ucap Nichol.
"Nggak.."
"Emm.. baju atau perhiasan gitu..." Tawarnya
"Nggak..."
"Aih... susah bet sih lu..." Adu Nichol.
"Apa dulu pekerjaannya?" Tanyaku.
"Cek in keungan.. soalnya ada yg gk beres..." Ucap Nichol.
"Oke... makan malam lu yang masak..." Ucapku.
"Iya iya..."
Aku mengecek bagian keuangan, tapi sepertinya ada sebuah kejanggalan.
"Gawat nic..."
__ADS_1
"Apaan..."
"Gak ada apa-apa... cuman.."
"cuman apa?"
"Ini kok kayak ada yang kurang ya..."
"Apanya..."
"Aduh.... perut ku sakit..."
"Why?" Ucap Nichol menghadapku.
"Belum makan..." Jawabku sambil memegangi perut.
"Aih... ya udah... yuk makan..." Ucap Nichol.
Akhirnya... kejanggalan itu sudah tidak ada. Perutku tenang hatipun senang.
Nichol mengajakku makan di sebuah caffe.
"Minjem hp nya.." Ucapku.
"Lagi makan nanti aja..."
Selesai makan, Nichol mengajakku pergi ke suatu tempat.
"HP?"
"Nih ..." Nichol memberikan HP nya padaku.
"Ma'aci..." Aku membuka HP nya, banyak sekali pesan dari seseorang, namun nichol sama sekali tak membalas nya, boro-boro bales, di buka aja enggak. Aku membuka pesan itu, seperti dari seorang perempuan.
- Nichol...
- Apa kau masih mengingatku?
(dan masih banyak lagi)
What?! Aku membaca pesan itu membuatku kesal.
"Nichol.. siapa Emely?" Tanyaku.
"Kau tak ingat?" Tanya Nichol dan aku menggeleng. "Oke.. nanti di rumah ku jelaskan.." Ucapnya.
Tak lama kami pun sampai di rumah, Nichol mengajakku ke kamar dan duduk.
__ADS_1
"Ganti baju mu terlebih dahulu..." Ucap Nichol.
Aku mengganti baju ku dengan kaos yang lebih longgar dan sebuah celana pendek.
"Coba jelaskan.." Ucapku duduk di ranjang bersama Nichol.
"Tapi jangan marah.." Ucap Nichol.
"Iya nggak..." Jawabku.
"Umur kita beda berapa?" Tanya Nichol
"Satu... tahun.. kurang beberapa bulan..."
" Yang bener..."
"Iya iya... beda satu tahun kurang 21 hari.. " Jawabku.
"Jadi gw kan.. pernah keluar negri kan.."
"Emang yak?" Ucapku.
"hmm..."
"Iya iya..."
"Nah pas gw di luar negri gw ketemu cewe, namanya emeli... cuman gw gak suka sama dia... dia tuh tiap hari ganggu.. akhirnya gw balik ke indonesia.." Ucapnya.
"Oh.. jadi emeli tuh cewe yang suka ganggu lu.." Ucapku.
"Iya... tapi sayangnya gw balik ke indo.. bunda nyuruh gw nikah.. dikasih waktu sebulan.. kalo nggak gw di coret dari kk..." Ucap Nichol.
"Utututuuu... anak bunda..." Ucapku memeluk nichol.
"Gw bukan bayi.."
Aku melepaskan pelukanku, tetapi Nichol menarikku lagi ke dalam pelukkannya. "Boleh lah... main sekali.." Bisik Nichol.
"Emm... Jangan..." Ucapku ingin melepaskan pelukkannya, namun tenaganya lebih kuat dariku.
Nichol menciumku tanpa aba-aba.
"Berjanjilah Angel Nichol nggak akan kemana mana..." Ucap Nichol.
"Iya.. janji.." Kami saling berjanji.
Nichol melanjutkan permainannya.
__ADS_1