
"Dek, serius ini kita mau kemana?" Tanya Varren kepada sang adik.
Setelah keberangkatan Nichol bekerja, Jessi mengajak Varren pergi keluar, alasannya untuk jalan-jalan, tetapi menurut Varren adiknya cukup aneh hari ini dan sikapnya sangat tak biasa.
"Jalan, Bang! Ayo cepet, Angel mau beli sesuatu, penting! ini limited edition!" Jawab Jessi sambil berjalan cepat dan menarik sang Kakak agar berjalan lebih cepat lagi.
"Emang mau beli apa sih? Kan bisa bilang dulu sama abang, biar abang beliin" Ucap Varren mengikuti langkah sang adik.
"Pliss deh, abang selalu ngomong gitu tapi selalu gak dapet, Bang Varren bukan Bang El, makanya Angel gak mau percaya lagi," Jelas Jessi mengingatkan sang Kakak.
"Iya deh, terserah adek aja" Ucap Varren mengalah pada sang adik. Jika adiknya sudah membandingkan nya dengan kakak tertua, Varren lebih memilih diam daripada lanjut berdebat, karena ia tahu pasti ini sangat penting untuk adiknya.
Jessi memasuki sebuah toko perhiasan, disana ia dilayani oleh seorang gadis penjaga toko.
"Selamat datang, ada yang bisa dibantu, kak?" Tanya sang gadis penjaga toko kepada Jessi.
"Halo, saya ingin mengambil pesanan saya atas nama Angel," Ucap Jessi diangguki penjaga toko tersebut.
"Sebentar saya ambilkan terlebih dulu," Ucap gadis itu diangguki Jessi. Sambil menunggu pesanannya disiapkan, Jessi melihat-lihat perhiasan yang ada disana.
Ia memang tak suka menggunakan perhiasan, tapi ia suka mengoleksinya. Tak sedikit perhiasan yang ia miliki, dan semuanya ia beli dengan uang sendiri. Semua hanya untuk mengapresiasi diri atas kerja kerasnya.
Penjaga toko itu kembali dengan membawa pesanan milik Jessi, "Ini pesanannya, kak. Ada tambahan lain?" Tanya penjaga toko itu sambil menyerahkan totebag berwarna putih dengan hiasan pita hitam.
Jessi melihat ke sekeliling, matanya tertuju pada cincin diamond merah dengan ukiran yang elegant. "Bisakah bungkus kan cincin itu juga untukku? tolong ya," Ucap Jessi diangguki penjaga toko itu.
Di belakang, Varren mengamati setiap perhiasan yang ada di toko tersebut sambil menggelengkan kepalanya. Di lihat dari luarpun ia sudah bisa menebak seberapa banyak uang yang dikeluarkan sang adik dan seberapa keras usaha sang adik untuk mengumpulkan uang agar bisa mengoleksi salah satu perhiasan dari sana.
"Emang ya, jaran Bang El gak main-main, dari iseng-iseng bisa sampai keterusan," Batin Varren mengingat ajaran kakaknya dulu.
__ADS_1
"Bang! Udah, ayo!" Panggil Jessi sambil menepuk pundak sang kakak.
"Hm?" Varren melihat tangan sang adik, ia mengangkat salah satu alisnya dan menatap sang adik dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa?" Tanya Jessi menatap aneh sang kakak.
"Tumben," Ucap Varren setelah itu berjalan keluar toko terlebih dulu.
Jessi menatap punggung sang kakak bergantian dengan belanjaan miliknya. Lalu ia bergegas mengejar Varren yang kini sudah jauh dari tempatnya.
......................
"Bang, serius gak mau ngenalin cewe abang sama adek nih?" Bujuk Jessi sambil memanyunkan bibirnya.
"Nichol yang ngasih tau kamu?" Tanya Varren diangguki Jessi. "Ck. emang ga bisa dipercaya tuh anak!" Gerutu Varren kesal sambil mengumpati Nichol.
Nichol yang merasa dirinya sedang dirutuki merasa hidungnya gatal dan bersin saat sedang membahas pekerjaan dengan sekretaris nya.
"Saya tidak apa!" Jawab Nichol berpindah tempat dan menjaga jarak dari sekretaris nya. "Silakan dilanjutkan," Ucap Nichol lalu gadis itu melanjutkan penjelasannya. 'kayaknya emang udah dipanggil buat pulang cepet nih,' Batin Nichol.
Kembali pada Jessi yang masih membujuk Varren, tiba-tiba seseorang datang menyiram Jessi dengan air. Tentu hal itu membuat Jessi, Kakaknya dan orang sekitar kaget.
"Apa-apaan ini!" Bentak Jessi pada wanita dihadapannya.
"Dasar cewe kegatelan! Berani-beraninya lo godain cowo gue!" Omel wanita tersebut sambil menunjuk Jessi.
Jessi yang merasa bingung dengan ucapannya, lalu melirik ke arah Varren. "Siapa cowo lo?!" Tanyanya menantang sang wanita itu.
"Dia! Dia cowo gue!" Jawab nya sambil menunjuk Varren.
__ADS_1
Jessi yang mendengar jawaban tersebut hanya tertawa, menertawakan hal lucu yang terjadi. "Dia? Cowo lo? Emang mau sama modelan cewe kayak lo?" Tanya Jessi berturut-turut membuat wanita itu geram. "APA! MAU NAMPAR GUE?!" Tantang Jessi yang melihat tangan wanita itu mengepal.
"Lo!" Wanita itu mengangkat tangan kanannya dan mengayunkannya ke pipi Jessi, namun sebelum tangan itu mendarat di pipi milik Jessi, Varren lebih dulu menahannya.
"Berani lo sentuh dia, gak segan-segan gue asingin lo ke pulau terpencil!" Ancam Varren menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar.
"Ren?" Wanita itu menatap nanar Varren, mendengar ancaman dari lelaki itu membuat nyalinya menciut.
"Mau apa lo ganggu gue lagi?" Tanya Varren kepada wanita itu.
"A-aku cuman mau minta pertanggungjawaban dari kamu, a-aku hamil empat minggu, ini anak kamu" Jawab Wanita itu.
"Sampai kapanpun gue gak bakal tanggung jawab! Yang diperut lo itu jelas bukan anak gue!" Ucap Varren dengan tegas.
"Kamu kok gitu? Jelas-jelas kamu ayah dari anak ini! Masa kamu mau lepas tanggung jawab!" Bantah wanita itu.
"Kita aja udah putus lama, dan lo baru dateng ke gue ngaku hamil empat minggu sedangkan dia tahun belakangan gue pindah ke luar negeri. Halu lo ngaku-ngaku itu anak gue," Jelas Varren membuat wanita itu terdiam. "Gue tegasin sekali lagi, gue bukan ayah dari anak lo itu, jangan ganggu gue ataupun keluarga gue lagi!" Ucap Varren dengan tegas.
"Ta-tapi.. dia?!" Wanita itu menunjuk Jessi dan menatapnya penuh kebencian.
"Kenapa sama adek gue? mau ngatain dia?" Ucap Varren berbalik tanya dan memojokkan wanita itu.
"Udah lah, kalo gak bisa dapetin abang gue mending lo ikut casting, gue yakin seribu persen lo bakal diterima. Daripada lo lontang-lantung gak jelas nyiram orang sana-sini ujungnya salah paham kan malu," Ucap Jessi sambil mengelap bajunya yang basah. "Masih mending lo nyiram gue pake air biasa, lah ini pake air es, Hachuu" Adu Jessi mencubit hidungnya yang gatal.
Melihat adiknya yang terlihat sangat buruk, dengan segera ia melepas jaketnya dan memakaikannya pada tubuh Jessi. "Pulang yuk, maaf bikin adek jadi gini," Ajak Varren memapah sang adik meninggalkan caffe tersebut.
"Dapet surprise dadakan emang gak enak, hachuu" Sindir Jessi pada kakaknya.
"Ya maaf atuh dek, serius abang gak ngira bakal gini" Ucap Varren merasa bersalah pada adiknya yang harus menjadi korban akibat kesalahan pahaman.
__ADS_1
"Lain kali Angel liat ramalan, sebelum pergi sama abang," Celetuk gadis itu mendapat sentilan di mulutnya membuat gadis itu merintih sakit.
"hust, jangan aneh-aneh kamu!"