Menikah Dengan Musuh Kesayangan

Menikah Dengan Musuh Kesayangan
eps. 45 MDMK


__ADS_3

Suasana terasa sepi, jarum jatuhpun dapat terdengar diruangan yang luas ini. Sinar matahari masuk melalui jendela untuk menerangi ruangan.


"Jess, jangan marah lagi.. gw minta maaf, sampai kapan gw berdiri kayak gini" Ucapnya yang terlihar kesusahan.


"Gw terima permintaan maaf lo, tapi hukuman masih tetap berlangsung! Diam ditempat, angkat satu kaki lu, jangan sampe piring piring itu pecah!" Ucapku dengan tatapan sinis.


"Lu cemburu ya?" Tanya nya.


"Menurut lo cewe mana yang ngga marah kalau liat cowonya yang pamit kerja malah ke mall bareng cewe lain?!" Ucapku dengan penuh penekanan.


"Gw ngga bermaksud sumpah! Gw cuman mau beliin lu sesuatu, trus ngga tau tuh ulet dateng darimana tau-tau nempel.. gw ngga boong" Jelasnya lalu menaruh piring-piring itu dilantai, berjalan menuju meja dan mengambil sesuatu di laci meja tersebut.


"Ngapain lu?! Hukuman lu kan belum kelar!" Ucapku.


Ia berjalan menuju arah ku, dengan kotak merah ditangannya. Ia duduk disampingku dan memberikanku kotak merah tersebut. "Buka coba" Pintanya dan aku menurutinya.


"Ini.."


"Gw cuman mau ambil ini yang udah gw pesen jauh-jauh hari, gw tau lu suka ngoleksi novel-novel kayak gini makanya gw ikut pre-order, trus niatnya mau beli beberapa barang buat lu juga trus ngga jadi karena ada si ulet jadi gw langsung balik lagi ke perusahaan.. gw ngga boong" Jelasnya.


"Serius ini buat gw? tapi kenapa kemarin lu juga marahin gw gegara uang bulanannya gw pake buat traktir makan anak-anak sedangkan lu beliin gw ini" Ucapku mengintimidasi.


"Gw gak marah soal itu, cuman kaget aja karena tumben lu pakai uangnya buat belanja"


"Kemarin gw liat cewe itu meluk-meluk lu!"

__ADS_1


"Gak! Liat darimana lu"


"Trus pegang sana sini"


"Ngga jes! Gw bahkan ngehindarin"


"Boong ya.. gitu banget reaksinya" Ledekku.


"Astaghfirullah.. ngga jes, ngga dipegang sama sekali kok" Ucap Nichol. "Jangan marah lagi ya" Bujuknya sambil menggenggam tanganku.


"Uumm.. Ya ngga marah lagi"


"Beneran?"


"Kenapa takut banget gw marah dah, bukannya dulu sering.." Tanyaku heran. Aku membenarkan posisi duduk, untuk duduk bersender di leher ranjang, sedangkan Nichol tiduran dengan pahaku sebagai bantalannya.


"Apa bedanya?"


"Dulu lu marah gw bodo amat.." Ucapnya membuatku menyerngitkan dahi. "Kalau sekarang lu marah, ntar gw ngga dapet jatah"


"Yee.. dasar mesum" Ucapku kesal dengan menghembuskan nafas kasar.


Kami menghabiskan waktu sepanjang hari hanya bermalas-malasan diatas ranjang. Hingga..


"Nic"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Apa yang paling lu takutin akhir-akhir ini?"


"Ngga ada"


"Masa sih?" Tanyaku, lalu menaruh novel diatas nakas.


"Ada, gw takut kehilangan lu" Jawabnya membuatku tertegun. "Ngga tau kenapa akhir-akhir ini gw ngerasa ngga tenang aja"


"Ada masalah apa hm?" Tanyaku membelai pipinya.


"Ngga ada kok.." Jawabnya bohong. Ya, wajahnya sangat jelas terbaca kalau dia sedang berbohong, ada sesuatu yang ia sembunyikan dan ia tak ingin aku tahu.


"Yaudah.." Ucapku mengalah, cepat atau lambat pasti ia akan memberitahuku. "Nic laper, pingin rujak serut kayaknya enak" Ucapku sambil membayangkan rujak serut.


"Tumben, ya udah.. mau beli dimana?" Tanya Nichol.


"Pingin buatan ibuu, pulang rumah ibu yuk.." Ucapku.


"Yaudah sekalian nginep disana, kan semenjak balik gw belum nemuin ibu toh.." Ucapnya bergegas beranjak dari posisinya.


"Yes! Nginep" Ucapku senang.


"Seneng banget, padahal baru beberapa hari lalu ninggalin gw cuman buat nemuin ibu" Sindirnya membuatku terkekeh.

__ADS_1


"Yah masih diinget masa, kan cuman pingin aja" Ucapku. "Tapi.."


__ADS_2