Menikah Dengan Ustadzku

Menikah Dengan Ustadzku
Bab 15


__ADS_3

Setelah sholat maghrib Umi Hana mengajak Abi Umar untuk bergegas ke pesantren ketika Umi Jamila mengatakan jika calon mantunya tinggal di pesantren untuk beberapa hari.Umi Hana juga tak lupa membawakan oleh oleh untuk calon mantu kesayangannya itu.


'' Assalamualaikum Mbak '' ucap Umi Hana saat sudah masuk ke kediaman sang kakak.


'' Waalaikumsalam,,,, eh dek Hana ayo masuk '' sahut Umi Jamila yang kebetulan berada di ruang keluarga dengan cucunya Neng Zahira.


'' Mantuku mana Mbak ?'' tanya Umi Hana sembari duduk di sampik kakak iparnya.


'' Bentar ya,Mbak suruh panggilkan dulu '' jawab Umi Jamila lalu beranjak dari tempat duduknya.


Sedangkan Gus Ilzam setelah selesai mengajar tadi langsung meninggalkan pesantren karna akan bertemu klayen di salah satu restoran.


Setelah sholat isyak Gus Ilzam maupun Umi Hana sudah tiba ke mansion bahkan mobil keduanya tiba di mansion hampir bersamaan.


'' Assalamualaikum,, Umi sama Abi dari mana ?'' tanya Gus Ilzam setelah keluar dari mobilnya dan melihat kedua orang tuanya juga baru keluar dari dalam mobil.


'' Waalaikumsalam,, Umi sama Abi habis jenguk calon mantu '' jawab Umi Hana.


Gus Ilzam hanya ber Oh ria saja meski dalam hatinya ingin bertanya sedang apa dan bagaimana keadaan calon istrinya itu.


'' Kamu gak tanya kabar calon istri kamu Zam ?'' tanya Umi Hana heran.


'' Gak,lagian Ilzam juga sudah tahu kabar dia '' jawab Gus Ilzam cuek.


'' Tahu darimana kamu '' tukas Umi Hana sembari berjalan masuk ke dalam mansion yang di ikuti oleh suaminya dan Gus Ilzam.


'' Ilzam tadi ngajar di kelasnya '' timpal Gus Ilzam sembari mengikuti langkah kedua orang tuanya masuk ke dalam mansion.


'' Oh ya ya.. Umi lupa kalau kamu gurunya '' ujar Umi Hana terkekeh.


Gus Ilzam dan Abi Umar menggelengkan kepalanya saja.


🌺🌺🌺


Setelah selesai makan malam Gus Ilzam segera masuk ke dalam kamarnya yang sangat luas,bukan untuk tidur melainkan mengerjakan beberapa berkas berkas yang belum ia selesaikan tadi saat masih di kantor.


Ketika jari jemarinya sedang serius menari di layar kibroad tiba tiba ada notif pesan yang masuk di akun WA nya.


Ting...


Gus Ilzam hanya melirik layar ponselnya yang ternyata nama Mbak Aisyah yang mengirim chat wa pada dirinya,tetapi Gus Ilzam di buat mengerutkan dahinya ketika chat yang di kirim oleh Neng Aisyah adalah berupa gambar bukan pesan.


Awalanya Gus Ilzam mengabaikan pesan yang di kirim oleh Neng Aisyah tetapi beberapa detik kemudian karna penasaran Gus Ilzam segera membuka layar ponselnya.


Gus Ilzam lansung tersenyum ketika melihat gambar yang di kirim oleh Neng Aisyah di nomor WAnya.Dan ternyata gambar yang di kirim oleh Neng Aisyah adalah foto Ana yang sedang duduk di teras kamar abdi dalem sembari membaca buku yasin berukuran kecil mungkin sedang mengirimkan bacaaan yasin dan tahlil untuk kedua orang tuanya, kan sekarang malam jum'at pikir Gus Ilzam.


Gus Ilzam segera membalas pesan pada Neng Aisyah.


πŸ“² ( Dek Ilzam )


Kok dia ada di sana ?

__ADS_1


πŸ“² ( Mbak Aisyah )


Dia namanya Ana Humaira, kalau Dek Ilzam lupa πŸ™„πŸ™„


Gus Ilzam terkekeh membaca balasan pesan dari Neng Aisyah,tidak tahu saja jika Gus Ilzam memberi nama pada nomor Ana di kontak ponselnya dengan nama '' Humaira ''


πŸ“²(Dek Ilzam )


Iya aku tahu,dia sedang apa di sana ?


πŸ“² (Mbak Aisyah )


Untuk beberapa hari ini Ana tinggal disini,karna Paman dan Bibinya pergi ke Jogja dan kebetulan ART di rumahnya juga sedang pulang kampung.


πŸ“²( Dek Ilzam )


Oh


Neng Asiyah benar benar kesal oleh balasan chat dari Gus Ilzam yang terkesan tak begitu peduli dengan Ana.


'' Astaghfirullah...nih orang cuek bener deh ama calon bini '' gumam Neng Aisyah heran.


Neng Aisyah tak lagi meneruskan cahatingannya dengan Gus Ilzam dan memilih menemui Ana yang ternyata sudah selesai membaca yasin dan tahlil.


'' Kak Ana '' panggil Neng Aisyah saat melihat Ana akan beranjak dari tempatnya duduk.


'' Eh Neng Ais '' sahut Ana. '' Ada apa Neng ?'' tanya Ana ketika Neng Aisyah sudah duduk di sampingnya.


'' Gak ada,cuman ingin ngobrol dengan Kak Ana saja '' jawab Neng Aisyah tersenyum.


Setelah menaruh buku yasin dan tahlil di dalam kamar Ana segera kembali ke teras dimana Neng Aisyah yang masih setia duduk menunggunya.Keduanya mengobrol banyak,Neng Aisyah juga bertanya tentang kehidupan Ana saat masih tinggal di Jogja,karna terlalu asyik mengobrol keduanya tidak sadar jika jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam.


Lima hari kemudian Ana sudah kembali ke rumah,karna Paman Danu dan Bibi Fida sudah kembali dari Jogja.Begitu juga dengan Art yang juga sudah kembali dari pulang kampung.


Malam hari saat akan makan malam Ana tak segera turun atau seperti biasanya yang membantu Bibi Fida dan Artnya untuk menyiapkan makan malam.


'' Bu.. tumben Nak Ana gak bantu di dapur ?'' tanya Art yang bernama Mbak Lala.


'' Iya ya Mbak ya,biasanya anak itu mesti ikut bantu bantu kita di dapur '' jawab Bibi Fida merasa heran.


'' Ya sudah Mbak saya liat ke kamarnya dulu '' pamit Bibi Fida.


'' Iya Bu ''


Bibi Fida segera melepas apron yang ia pakai dan langsung berjalan keluar dapur menuju lantai atas dimana kamar Ana berada.Dan saat sudah sampai di depan kamar Ana,Bibi Fida segera mengetuk pintunya.


Tokkk


Tokkk


Tokkk

__ADS_1


Bibi Fida sedikit heran karna Ana tak segera membuka pintu kamarnya bahkan juga tak bersuara,padahal biasanya hanya di ketuk satu kali Ana langsung bersuara tapi ini kenapa sepi sekali.


'' Ana,Bibi masuk ya '' ujar Bibi Fida yang tak dapat jawaban dari si empu pemilik kamar.


Ckelkkkk


Kreatttt


Bibi Fida yang masuk ke dalam kamar Ana sedikit heran pasalnya lampu kamarnya sudah mati hanya sisa lampu tidur saja yang menyala.


'' Sayang,kamu sudah tidur ?'' tanya Bibi Fida sembari berjalan mendekati ranjang Ana.


Ana yang berbaring dengan tubuhnya terbungkus dengan selimut tebal hingga batas lehernya masih tak bersuara.


Bibi Fida yang heran denga Ana yang sudah tidur sebelum jam makan malam segera membuka selimut yang di pakai Ana dengan pelan,dan seketika Bibi Fida terkejut melihat wajah Ana yang memerah dan bibirnya juga sangat pucat.


'' Astaghfirullah,,, sayang badan kamu panas sekali '' ujar Bibi Fida ketika telapak tangannya menyentuh dahi Ana.


'' Sayang Bibi panggil Paman kamu dulu ya '' Ana mengangguk lemah.


Bibi Fida segera keluar dari kamar Ana dan berteriak memanggil suaminya .


'' Mas...Mas Danu '' panggil Bibi Fida dengan berteriak.


Paman Danu yang berada di ruang kerjanya segera keluar ketika mendengar istrinya memanggilnya dengan berteriak.


'' Ada apa Dek ?'' tanya Paman Danu.


'' Badan Ana panas sekali Mas '' jawab Bibi Fida cemas.


'' Ya sudah Ana kamu kompres dulu,Mas akan menghubungi Dokter Andre untuk keseini '' tukas Paman Danu yang juga tak kalah cemas dari Bibi Fida.


Bibi Fida mengangguk dan segera turun ke lantai bawah menuju dapur dan mengambil baskom berisi air es untuk mengompres Ana dan tak lupa handuk kecil.


Setelah kembali ke kamar Ana Bibi Fida segera mengompres Ana dengan telaten,Bibi Fida benar benar sangat cemas melihat Ana yang lemah seperti ini.


'' Mas dokternya kapan datang ?'' tanya Bibi Fida pada Paman Danu yang duduk di samping Ana.


'' Sebentar lagi Dek '' jawab Paman Danu sembari memijat mijat kepala Ana dengan pelan.


Beberapa menit kemudian dokter yang di hubungi oleh Paman Dani sudah tiba dan segera memriksa keadaan Ana.


'' Bagaimana Ndre ?'' tanya Paman Danu pada dokter Andre yang kebetulan adalah sahabatnya saat kuliah.Dan dokter Andre sendiri adalah salah satu dokter di rumah sakit milik keluarga Farizi.


'' Kita tunggu saja sampai besok,jika sudah di minum obat yang aku resepkan tapi panasnya belum turun Ana harus di rawat di rumah sakit biar dapat perawatan yang lebih baik '' jawab dokter Andre.


'' Baiklah Ndre terimakasih '' ucap Paman Danu.


'' Ini resep Obatnya,dan lebih baik cepat kamu belikan di apotik biar cepat di minum sama Ana. '' kata dokter Andre.


'' Baiklah,ayo sekalian kamu aku antar pulang '' timpal Paman Danu.

__ADS_1


'' Dengan senang hati '' sahut Dokter Andre terkekeh.


Sebelum pergi ke apotik Paman Danu lebih dulu berpamitan pada Bibi Fida dan mengatakan sekalian mau mengantarkan dokter Andre pulang ke rumahnya.


__ADS_2