
Deghh...
Gus Faaz langsung tertegun melihat gadis belia yang berdiri di belakang Mbak Marwah dan menurutnya usianya tak beda jauh dengan Aisyah sepupunya itu.
Meski Ana menundukkan kepalanya Gus Faaz masih bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.
'' Cantik " batin Gus Faaz yang benar benar kagum dengan sosok gadis belia itu.
'' Ehem,, siapa namanya ? saya akan memasukkannya ke daftar absen '' tanya Gus Faaz berusaha menutupi rasa gugupnya.
'' Ana Humaira '' jawab Mbak Marwah masih dengan posisi menunduk.
" Nama yang cantik seprti orangnya " batin Gus Faaz lagi lalu menyunggingkan senyumnya yang mana membuat santriwati di kelas itu meleleh oleh senyumnya.Bahkan para fans fanatik Gus Ilzam sedikit terlupakan dengan sosok Gus Ilzam.
'' Ya sudah silahkan duduk di bangku yang kosong '' ujar Gus Faaz setelah menuliskan nama Ana di daftar absen kelas satu aliya santriwati.
Marwa dan Ana sama sama mengangguk,Ana lalu segera melangkah mencari bangku yang kosong dan kebetulan letaknya ada di paling belakang.
Seketika santriwati di kelas itu ada yang merasa kagum ada juga yang iri ketika melihat Ana berjalan ke arah bangku paling belakang pasalnya Ana memiliki paras yang sangat cantik dengan postur tinggi badannya yang menurut mereka ideal,bahkan Neng Aisyah yang menurut mereka paling cantik kini seakan akan langsung tergser oleh santriwati baru itu.
Tetapi mereka ingin tahu seberapa pintar santriwati baru itu jika di banding dengan Neng Aisyah yang terkenal cerdas bahkan selalu menjadi bintang kelas.
Gus Faaz kembali menyimak santriwati yang setor hafalan nadzom alfiyah,meski Gus Faaz terlihat serius menyimak dan menulis di buku nilai milik santriwati tetapi kenyataannya diam diam Gus Faaz mencuri curi pandang pada Ana.
Tepat pukul setengah tiga sore waktunya santriwan maupun santriwati yang masih di sekolah di madrasah istirahat sebentar untuk mengikuti sholat ashar berjamaah di masjid.
'' Kak Ana '' panggil seseorang yang berdiri tepat di depan bangku Ana.
Ana mendongakkan kepalanya dan seketika langsung berdiri saat tau orang yang memanggilnya adalah Neng Aisyah.
'' Iya Neng '' timpal Ana dengan menundukkan kepalanya,sedangkan Neng Aisyah tersenyum melihat Ana yang sangat sopan padanya itu meski sesungguhnya dirinya agak risih.
'' Kak Ana jangan terlalu sopan gitu sama Ais,Ais gak suka '' ujar Ana tersenyum.
'' Maaf Neng saya tidak bisa,Neng Ais putri Kiyai yang harus saya hormati '' timpal Ana dengan penuh kesopanan.
__ADS_1
Neng Ais tidak bersuara lagi,dan tiba tiba Ana di buat terkejut oleh Neng Ais yang tiba tiba memeluknya,dan kebetulan suasana kelas sangat sepi,semua santriwati berangkat ke masjid kecuali Neng Ais dan Aan karna keduanya sedang haid.
'' Ais boleh jujur gak sama Kak Ana ?'' tanya Neng Ais tanpa melepas pelukannya, Ana hanya mengangguk.
'' Sejujurnya pertama kali Ais lihat Kak Ana di depan kantor madrasah kemarin Ais sudah suka sama Kak Ana,Ais juga berharap bisa berteman dekat sama Kak Ana meski misalnya Kak Ana beda kelas sama Ais,dan syukur alhamdulillah ternyata kak Ana satu kelas sama Ais '' ungkap Neng Ais panjang kali lebar yang mana membuat Ana melongo mendengarnya.
'' Gimana,kak Ana mau kan berteman dekat sama Ais ?'' bujuk Neng Ais memelas.
Ana benar benar tidak bisa berkata apa apa selain menganggukkan kepalanya,mau menolak tidak enak karna Neng Ais adalah putri Kiyai,tapi jika dia berteman dekat dengan Neng Ais pasti teman temannya akan tidak menyukainya Ahhhh terserahlah pikir Ana pasrah.
'' Beneran Kak Ana mau berteman sama Ais ?'' tanya Neng Aisyah memastikan lagi.
'' Iya Neng '' jawab Ana tersenyum.
Neng Aisyah semakin mempererat pelukannya,karna bahagia Ana mau berteman dengannya.
Tepat pukul setengah empat semua santriwan dan santriwati sudah kembali ke kelasnya masing masing,begitu juga Ustadza dan Ustadazah yang juga kembali ke kelas yang akan mereka ajar.
Gus Faaz berajalan di lorong madrasah santriwati dengan terus tersenyum,entah hal apa yang membuatnya tersenyum
Gus Faaz di buat menoleh ke samping melihat siapa yang memukul bahunya dan ternyata kakak sepupunya Gus Fathan.
'' Kanapa senyum senyum gak jelas ?'' tanya Gus Fathan.
'' Gak papa Bang '' jawab Gus Faaz gugup.
Gus Fathan dan Gus Faaz usia keduanya sama sama duapuluh tahun,tetapi Gus Fathan hanya mengajar di madrasah kelas enam ibtidaiyah,karna memang mampunya hanya di kelas itu,dan Gus Fathan juga mengakuinya.
selain itu Gus Fathan juga mengakui kalau dirinya tidak secerdas kedua sepupunya Gus Ilzam dan Gus Faaz dan juga adiknya Neng Aisyah yang juga dia akui kecerdasannya tepat di bawah Gus Ilzam dan Gus Faaz.
Gus Fathan berpamitan pada Gus Faaz saat sudah tiba di depan kelas yang di tujunya,begitu juga Gus Faaz yang langsung masuk ke kelas saat sudah tiba di kelas satu aliyah.
Saat baru masuk ke dalam kelas dan mengucapkan salam,Gus Faaz langsung di buat tertegun karna tak sengaja melihat senyuman dari salah satu santriwati yang duduk di bangku paling belakang yang tak lain tak bukan adalah Ana Humaira santriwati baru.
'' Subhanaallah.... apa benar ini bidadari dunia " batin Gus Faaz yang mengagumi kecantikan Ana Humaira saat tersenyum.
__ADS_1
'' Ehem,, mari kita mulai pelajaran tafsir '' ujar Gus Faaz yang tak ingin terus terusan hanyut dengan rasa kagumnya pada sosok Ana.
Gus Faaz segera membacakan makana dengan bahas jawa pada kitab tafsir yang tanpa harokat dengan lancar,semua santriwati di sibukkan dengan tangan yang harus bergerak cepat untuk memberi makna pada kitabnya agar tidak ketinggalan dan juga memasang telinganya tajam tajam agar tidak salah dalam memberi makna pada kitabnya.
πΊπΊπΊπΊ
Jika di pesantren Gus Faaz dengan persaan senang dan kagum,maka tidak dengan seseorang di belahan bumi yang berbeda tepatnya di negara Malasyia dimana Gus Ilzam dan Akaml berada saat ini.
Akmal yang duduk di salah satu sofa yang terletak di lobi hotel di buat heran saat melihat sang atasan yang keluar dari pintu lift dengan wajah yang di tekuk.
'' Kenapa bos ?'' tanya Akmal saat Gus Ilzam sudab berdiri di depannya.
'' Mobilnya sudah tiba ?'' bukannya menjawab Gus Ilzam malah balik bertanya.
'' Sudah dua puluh menit yang lalu '' jawab Akmal dengan nada sedikit meledek pasalnya dirinya sudah menunggu bosnya itu lima belas menit yang lalu sedang apa bosnya di kamar pikirnya.
Gus Ilzam segera keluar dari lobi hotel yang di ikuti oleh Akmal di belakangnya.Gus Ilzam segera masuk ke dalam mobil milik perusahaan yang memang di sediakan saat dirinya perjalanan bisnis ke luar negri.
Gus Ilzam dan Akmal sama sama duduk di kursi penumpang,Akmal masih di buat heran dengan bosnya yang masih menekuk wajahnya.
'' Zam kenapa ?'' tanya Akmal tanpa embel embel bos lagi.
Gus Ilzam menghela nafasnya sedikit kasar. '' Umi '' jawab Gus Ilzam yang seketika membuat Akmal reflek menatap Gus Ilzam dengan tajam.
'' Umi kenapa ?'' tanya Akmal serius bahkan nadanya terlihat hawatir.
'' Umi gak papa '' jawab Gus Ilzam.Akmal mengrinyit heran.
'' Lalu ?'' tanya Akmal semakin di buat penasaran.
Apa yang di lakukan Umi Ana kenpa sampai sampai membuat Ilzam menekuk wajahnya begitu pikir Akmal.
πΊπΊπΊπΊ
'' Umi mau jodohin aku ''
__ADS_1