
Di dalam ruangan sang Persedir , Gus Ilzam yang sibuk dengan pekerjaannya sesekali melirik keberadaan istrinya yang sedang duduk bersila di sofa panjang yang berada di ruangan itu sembari membaca kitab yang di bawanya dan juga sesekali menulis sesuatu pada buku catatan yang selalu di bawanya ketika masuk sekolah.
Gus Ilzam beranjak dari kursi kebesarannya dan perlahan mendekati istrinya , lalu mendaratkan bokongnya tepat di sebelah sang istri.
'' Sayang , gak ingin makan cemilan ?'' tanya Gus Ilzam.
Karna melihat hanya ada teh hangat yang berada di atas meja.
'' Mau '' sahut Ana.
Tok
Tok
Tok
'' Masuk '' ucap Gus Ilzam
Ckelek
'' Mal , suruh Lukman ke sini '' printa Gus Ilzam ketika melihat Akmal hendak masuk ke dalam ruangannya.
'' Baik ''
Akmal kembali menutup pintu ruangan sang atasan , lalu berjalan ke arah ruangan sekertaris sang bos yang letaknya lima langkah dari ruangan sang bos.
'' Man ''
'' Iya Pak Akmal '' sahut Lukman.
'' Di panggil Pak Bos '' ujar Akmal.
'' Oh , baik Pak ''
Akmal berjalan lebih dulu dan di ikuti oleh Lukman di belakangnya .
Akmal langsung masuk ke ruang sang atasan tanpa mengetuk puntu terdahulu , dan Lukman juga ikut di belakangnya.Akmal langsung saja duduk di depan sepasang suami istri di depannya tanpa izin , dan Gus Ilzam tak mempermasalahkannya , sedangkan Lukman memilih berdiri menunggu printah sang atasan.
'' Humaira ingin makan apa ?'' tanya Gus Ilzam.
Ana yang duduknya masih dengan posisi bersila menaruh kitab yang ia pegang di atas pahanya.
__ADS_1
'' Emm,,, bakso lava sambelnya tiga sendok , rujak cingur terus minumnya es teh poci tiga '' ucap Ana yang sudah membayangkan bakso lava akan masuk di mulutnya.
Gus Ilzam mengangguk lalu beranjak ke meja kerjanya dan mengambil uang lima ratus ribu dari dalam dompetnya , dan menyerahkannya pada Lukman.
'' Ini kamu belikan yang di minta istriku , dan tambah lagi bakso biasa tiga bungkus sama lontongnya empat , sisanya buat kamu mau di belikan apa terserah '' ucap Gus Ilzam.
'' Baik Pak , terimakasih '' sahut Lukman senang .
Atasannya selalu seperti itu ketika menyuruhnya untuk membelikan sesuatu pasti uangnya di lebihkan dan sisanya untuknya.Lukman segera beranjak dari ruangan sang atasan , untuk membelikan apa yang di minta oleh sang atasan.
Gus Ilzam kembali duduk di sebelah Ana setelah kepergian Lukman.
'' Ada apa Mal ?'' Tanya Gus Ilzam.
'' Nanti jam dua siang , ada orang dari perusahaan jawelry ingin bertemu denganmu , untuk mengajukan proposal pekerjaan '' jawab Akmal.
'' Suruh jam tiga saja '' ucap Gus Ilzam.
'' Ok '' Akmal segera menghubungi orang perusahaan jawelry agar datang ke Farizi Corps jam tiga saja.
'' Kak aku mau ke kamar mandi '' ujar Ana tiba tiba.
'' Di situ sayang kamar mandinya '' ucap Gus Ilzam menunjuk sebuah pintu yang berada di pojok ruangan.
'' Bukan hanya kamar mandi , kamar tidur juga ada '' sambung Akmal.
'' Benarkah ? Sebelah mana ?'' Ana sedikit terkejut karna ini pertama kalinya dirinya masuk ke ruang kerja sang suami , dan tadi dirinya langsung duduk di sofa tanpa berkeliling dulu.
'' Ya di situ sayang , di balik pintu itu adalah kamar istirahat juga kamar mandi '' ujar Gus Ilzam.
Ana manggut manggut lalu melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu di pojok ruangan dan membukanya , dan benar saja saat pintu terbuka tampakklah ranjang yang tak terlalu besar dan juga ada lemari di dalamnya , Ana yang sudah kebelet bab segera masuk ke dalam dan menuju kamar mandi.
Setelah Ana menghilang di balik pintu kamar , tak berselang lama Gus Faaz datang dan duduk bersebelahan dengan Akmal.Karna sudah jadi kebiasaan Faaz yang akan ke ruangan sang Abang ketika waktu jam makan siang .
'' Gimana dia Az ?'' tanya Akmal.
Kedua pria kakaka beradik itu langsung paham dengan pertanyaan dari saudara tapi tak sekandung mereka itu , karna di antara mereka bertiga Akmal yang paling terlihat jika tak menyukai Farah.
'' Aman '' jawab Gus Faaz.
Ya dirinya benar benar membuat Farah yang menjadi sekertarisnya ia buat sibuk dengan pekerjaannya , dan hanya istirahat di waktu jam makan siang saja.
__ADS_1
'' Bang , Mbak ipar mana ?'' tanya Gus Faaz karna ketika masuk ke dalam ruang Abangnya dirinya tak melihat Mbak Iparnya.
'' Di kamar mandi '' jawab Gus Ilzam sembari melihat buku catatan sang istri.
'' Buku apa itu Zam ?'' kini Akaml yang bertanya.
'' Buku catatan Humaira , untuk mencatat poin poin pelajaran yang menurutnya penting buat ujian nanti '' jawab Gus Ilzam menutup kembali bukunya dan menaruhnya di atas meja.
'' Masak Mbak ipar masih butuh begituan ?'' Heran Gus Faaz bahkan dirinya sangat yakin jika Mbak iparnya itu cukup baca satu kali langsung hafal , karna otak cerdasnya yang tak di ragukan lagi.
'' Humaira itu bukan tipe yang suka menganggap enteng sesuatu , meski kenyataannya dirinya sanggup '' ujar Gus Ilzam membanggakan istrinya.
'' Benar , bahkan dia juga tak suka mengumbar kelebihannya yang sangat menyeramkan itu '' gumam Akmal yang masih di dengar oleh dua pria kaka beradik itu.
'' Em , benar sekali '' timpal Gus Faaz yang mengingat dengan perusahaan yang memfitnah Farizi Corps , langsung di buat bangkrut dan gulung tikar dalam waktu sehari oleh Ana.
'' Kalian sedang membicarakanku ''
Ketiga pria di sofa langsung terkejut melihat Ana yang sudah berdiri tak jauh dari mereka.
'' Sayang sudah selesai ke kamar mandinya '' ujar Gus Ilzam yang juga tak menyadari keberadaan istrinya.
'' Iya ''
Ana berjalan ke sofa dan duduk kembali di tempat yang semula ia duduki tadi di samping Gus Ilzam.
'' Mbak Ipar , nanti kalau sudah tamat di madrasahnya mau gabung di perusahaan tidak ?'' tanya Gus Faaz.
'' Tidak '' jawab Ana.
'' Kenapa ?''
'' Di dalam rumah tangga itu , tugas suami adalah mencari uang dan tugas istri adalah menikmati uangnya '' jawab Ana bergurau dengan tampang bocilnya ,yang mana membuat ketiga pria di ruangan itu tertawa.
'' Kakak akan bekerja lebih keras lagi , agar Humaira bisa menikmati uang Kakak setiap hari '' ucap Gus Ilzam mengelus pucuk kepala istrinya dengan sayang.
Meski Gus Ilzam tahu yang di katakan istrinya hanya gurauan semata , tapi dirinya berjanji akan bekerja lebih keras lagi agar istrinya benar benar bisa menikmati uangnya dengan sepuasnya.
Gus Faaz dan Akmal menatap pasangan suami istri di depannya dengan pikirannya masing masing.
" Keduanya adalah pasangan suhu ,kedua duanya ahli dalam bisnis , di tambah satunya adalah hacker " batin Akmal.
__ADS_1
" Kedudukan bang Ilzam yang sebagai ceo saja sudah mampu membuat perusahaan lawan ketakutan , apa lagi jika mereka tahu kalau istri kecilnya lebih menakutkan dari Bang Ilzam " batin Gus Faaz.