Menikah Dengan Ustadzku

Menikah Dengan Ustadzku
Bab 30


__ADS_3

Malam minggu adalah malam yang selalu di sukai oleh muda mudi yang memiliki pasangan untuk pergi jalan jalan dll , begitu juga dengan Gus Ilzam dan Ana malam ini yang juga sedang menikmati malam minggu di taman kota , meski sebenarnya sudah setiap malam kedua pasangan halal itu selalu jalan jalan keluar.


Ana dan Gus Ilzam yang sedang jalan jalan di taman memilih untuk duduk di kursi panjang yang di sediakan di pinggiran taman.


'' Humaira gak ingin beli sesuatu ?'' tanya Gus Ilzam.


'' Em... Humaira ingin cilok itu '' jawab Ana menunjuk penjual cilok yang duduk termenung di trotoar taman karna tak ada satupun orang yang membelinya.


Sebenarnya sejak keduanya sampai di taman kota dua puluh menit yang lalu , Ana sudah memperhatikan penjual cilok itu yang sepi tak ada satupun orang yang membelinya , padahal penjual lainnya pada ramai pembeli termasuk yang sama sama penjual cilok yang berada di samping orang itu.


'' Ya sudah Humaira tunggu sini , Kakak beli cilok dulu ya '' tukas Gus Ilzam yang beranjak berdiri tapi langsung di tahan oleh Ana.


'' Humaira ikut '' Gus Ilzam mengangguk lalu menggandeng tangan Ana dan keduanya berjalan kearah si penjual cilok yang di inginkan oleh Ana.


Sebenarnya Ana ingin membeli cilok hanya karna merasa kasihan ketika melihat si penujal cilok yang hanya duduk termenung menunggu pembeli yang tak kunjung datang , Ana tidak bisa membayangkan jika suaminya berada di posisi orang itu. Dan benar saja ketika Ana dan Gus Ilzam sudah berdiri di depan grobak wajah si penjual cilok langsung berbinar.


'' Pak ciloknya lima ribu '' ucap Ana.


'' Siap Neng '' sahut si penjual cilok yang segera membuka penutup panci yang memperlihatkan berbagai cilok yang masih banyak.


'' Kak Ilzam mau tidak ?'' tanya Ana menoleh ke samping.


'' Iya ''


'' Tambah lima ribu pak , jadi dua , yang satu pedas ya '' ucap Ana mengingat Gus Ilzam tak suka makan pedas maka hanya meminta ciloknya yang di berai sambal.


'' Humaira jangan pedas pedas '' tegur Gus Ilzam yang membuat Ana langsung cemberut.


'' Kakak gak mau Humaira sakit perut '' tambah Gus Ilzam.


'' Iya ya '' sahut Ana mengalah.


Si penjual cilok tersenyum mendengar perdebatan sepasang manusia di depannya , yang si pria terlihat sangat tampan dan si perempuan juga sangat cantik meski memakai jilbab tapi tetap memancarkan aura kecantikannya.


'' Pacarnya ya mas ?'' tanya si penjual cilok di sela sela membungkus cilok pesanan Ana.


'' Bukan pak , tapi istri saya '' jawab Gus Ilzam bangga.


'' Wahhh ,,, alhamdulillah , semoga Mas dan Nengnya menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah '' do'a si penjual cilok.


'' Aminnnn '' sahut Ana dan Gus Ilzam.

__ADS_1


'' Ini Neng ciloknya '' ucap si penjual cilok memberikan dua bungkus cilok pada Ana.


'' Oh iya , ini uangnya , kembaliannya untuk bapak saja '' Ana memberikan uang seratus ribuan untuk membayar ciloknya.


'' Alhamdulillah terimaksih Neng , semoga rizeki Eneng sama suaminya semakin lancar dan berkah '' ucap syukur si penjual cilok.


'' Aminnn pak '' jawab Ana tersenyum begitu juga dengan Gus Ilzam.


Lalu keduanya kembali ke tempat semula yang mereka sempat duduki tadi , Ana terlihat memakan ciloknya dengan nikmat begitu juga dengan Gus Ilzam.


Dan ketika keduanya masih asik menikmati sebungkus cilok tiba tiba terdengar suara teriakan seseorang , dan ketika suara itu semakin dekat dengan mereka tiba tiba seseorang jatuh tersungkur di depan mereka.


Brukkk


Dan Ana lah pelakunya yang sengaja memajukan salah satu kakinya untuk menjegal seseorang yang berlari karna di teriaki copet oleh orang yang mengejarnya.


'' Rasain '' cetus Ana beranjak berdiri.


'' Dasar anak kecil sialan '' maki si copet yang sektika ingin menyerang Ana , dan Gus Ilzam yang melihat pergerekan si copet segera maju tapi tiba tiba....


Bughhhh


Sebenarnya Gus Ilzam sudah pernah mendengar cerita dari Bibi mertuanya tentang kehidupan sang istri ketika masih di Jogja , istrinya yang terkenal sebagai gadis bar bar , bahkan di SMAnya istrinya juga hampir setiap hari berkelahi dengan murid pria . Tapi selama menikah Gus Ilzam hanya melihat sifat istrinya yang selalu manja padanya , dan kini dirinya benar benar melihat sendiri bagaimana istrinya yang bar bar dan itu membuat Gus Ilzam syok.


'' Huf.. Huf... '' seorang wanita datang dengan nafas ngos ngosan.


'' Ini punya Mbak ?'' tanya Ana menyodorkan tas selempang yang ia ambil dari si pencopet , sedangkan si pencopet sudah di ringkus oleh scurity.


'' Ah ,,,, iya '' jawab si wanita mengambil tas selempang miliknya dari tangan Ana dan segera memeriksa barang di dalamnya masih utuh apa tidak.


'' Humaira '' panggil Gus Ilzam yang mana membuat si wanita yang sibuk memeriksa isi dalam tasnya menoleh dan seketika langsung terkejut.


'' Pak ,,,,, Pak Ilzam '' ucap si wanita gugup sekaligus takut karna melihat wakil direktur perusahan tempatnya bekerja.


Gus Ilzam yang namanya di panggil hanya melirik sekilas lalu kembali melihat Humaira lebih tepatnya pada jari jemari Humaira.


'' Kaka lihat tangannya sebentar '' pinta Gus Ilzam lalu mengambil tangan Ana dan meniup jari jemari Ana.


'' ini sakit tidak ?'' tanya Gus Ilzam yang mana membuat Ana mengrinyit heran.


'' Tidak sama sekali Kak '' jawab Ana membiarkan Gus Ilzam yang masih meniup punggung tangannya yang baik baik saja.

__ADS_1


" Tangan ini sangat imut dan lembut kalau aku pegang , tapi sangat menyeramkan jika di buat meninju orang " batin Gus Ilzam.


Sedangkan seorang wanita yang barusan di tolong oleh Ana hanya menjadi penonton setia adegan mesra wadirnya pada istrinya.


" Ya tuhan.... Ternyata Pak Ilzam yang terkenal dingin bisa romantis juga ya " batin si wanita.


'' Eh... Mbak , tadi kayaknya Mbak manggil suami saya dengan sebutan Pak Ilzam , apa Mbak kenal dengan Suami saya ?'' tanya Ana.


Si wanita yang mendengar Ana menyebut Gus Ilzam sebagai suaminya seketika terprangah , dirinya tahu kalau Gus Ilzam sudah menikah bahkan dirinya juga hadir di acara pernikahan itu , hanya saja dirinya tidak tahu dengan wajah asli istri sang Wadir tanpa riasan full make up saat menikah waktu itu.


" Apaa,,,!! Jadi gadis di depanku ini istrinya Pak Ilzam , ya tuhan aku kira saudarnya , ternyata masih muda sekali , cantik banget pula " batin si wanita karyawan Farizi Corps.


'' Mbak , kok bengong '' ucap Ana melambaikan tangannya di depan wajah si wanita.


'' Eh,,, iya saya salah satu karyawan di Farizi Corps '' ucap si wanita menundukkan kepalanya takut salah bicara pada istri si Wadirinya.


'' Oh gitu , ya sudah Mbak lain kali hati hati bawa barangnya , biar gak di copet lagi '' pesan Ana.


'' I... Iya Bu ''


'' Hah,,. Ibu ? Saya masih muda Mbak , bukan Ibu ibu '' ketus Ana yang mana membuat si wanita gugup.


'' Em,, A,,, Maaf , saya tidak tahu harus bagaimaan memanggil anda '' tukas si wanita.


'' Panggil saja aku Ana '' sahut Ana cepat.


Seketika si wanita langsung mendongak memberanikan diri menatap Ana dan tak sengaja dirinya melihat sang Wadir yang menganggukkan kepalanya , yang menandakan dirinya tak boleh membantah permintaan Ana.


'' Em,,,. Baiklah ANA '' putusnya dengan perasaan tertekan.


'' Nah , gitu kan enak , ya sudah kalau begitu Ana sama suami Ana pamit pulang dulu ya Mbak '' pamit Ana.


'' Iya Ana '' balas si wanita.


'' Assalamualaikum '' ucap Ana


'' Waalaikumsalam Ana '' balasnya.


Si wanita langsung bernafas lega setelah melihat kepergian Wadir dan istrinya.


'' Ya tuhan , kenap juga harus istri Wadir yang menolongku , bukannya senang tapi malah ketakutan '' gumam si wanita yang juga beranjak pulang.

__ADS_1


__ADS_2