Menikah Dengan Ustadzku

Menikah Dengan Ustadzku
Bab 5


__ADS_3

'' Eh Mbak Marwa '' sapa seseorang yang berdiri di depan Marwa . '' Ini siapa Mbak ?'' sambung orang itu lagi.


'' Ini Ana calon santriwati baru di madrasah Neng '' jawab Marwa sangat sopan yang mengetahui siapa orang yang berdiri di depannya yang tak lain dan tak bukan adalah putri bungsu Kiyai Abdullah yang sering di panggil Neng Aisyah oleh santriwati.


Para Ustadzah juga pengurus pesantren entah di kalangan santriwan atau santriwati mereka selalu menerapkan ajaran di kitab Akhlaq untuk menghormati keluarga guru (Kiyai) entah itu keluarga dekat atau keluarga jauh yang jelas semuanya harus di hormati terlebih putra dan putri Kiyai Abdullah.


Sedangkan Ana yang di sebut namanya sedikit mendongak dan tak sengaja kedua matanya saling bertemu dengan Neng Aisyah.


Ana reflek tersenyum ke Neng Aisyah dengan canggung begitu juga dengan Neng Aisyah yang juga ikut tersenyum.


'' Assalamualaikum kak,kenalkan aku Asiyah '' sapa Neng Aisyah ramah sembari menjulurkan tangannya.


'' Waalaikumsalam Neng,saya Ana Humaira, Neng Ais bisa panggil saya Ana '' balas Ana yang ikut ikutan Mbak Marwa memanggil Aisyah dengan sebutan Neng.


'' Ya sudah kalau begitu Ais pamit ke madrasah dulu ya kak,bentar lagi masuk '' pamit Aisyah.


'' Assalamualaikum Kak Ana, Mbak Marwa '' ucap Aisyah.


'' Waalaikumsalam '' balas keduanya bersamaan.


Ana terus menatap kepergian Aisyah yang menuju ke madrasah pesantren,siapa gadis itu pikir Ana,karna setahu dirinya hanya anak Kiyai yang memiliki pesantren yang di panggil dengan sebutan Neng waktu dirinya masih di Jogja.


'' Itu barusan putri bungsu Kiyai Abdullah '' ujar Mbak Marwa yang mengerti dengan arti tatapan Ana pada Neng Aisyah.


'' Oh iya Mbak '' timpal Ana yang akan mengingat ngingiat wajahnya jika nanti dirinya bertemu lagi jika sudah masuk madrasah.


'' Ayo masuk ke dalam '' ajak Mbak Marwa.


Ana mengangguk dan mengikuti langkah Mbak Marwa yang sudah masuk ke dalam sebuah ruangan yang bertuliskan kantor madrasah pengurus santriwati.


Marwa membawa Ana duduk di salah satu meja yang bertuliskan kepala madrasah santriwati yang ternyata adalah Marwah sendiri orangnya.


'' Silahkan duduk dulu Ana '' pinta Mbak Marwa mempersilahkan. Ana segera duduk di kursi di depan meja Mbak Marwa.


'' Ana kamu isi formulir pendaftarannya dulu. '' ujar Mbak Marwa sembari menyodorkan selembar kertas warna putih pada Ana . '' kamu juga bisa memilih kelas mana yang ingin kamu masuki,nanti akan di test terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas yang kamu inginkan '' terang Mbak Marwa panjang kali lebar


Ana mengangguk dan segera mengisi formulir pendaftarannya,beberapa menit kemudian Ana sudah menyerahkan Formulir yang sudah ia isi pada Mbak Marwa.


Mbak Marwa menerimanya lalu mulai membaca setiap kolom kolom yang di isi oleh Ana takutnya ada yang terlewatkan,tetapi kedua mata Mbak Marwa langasung terbelalak saat melihat kolom kelas yang akan di pilih oleh Ana.

__ADS_1


'' Ana apa kamu yakin dengan kelas yang kamu pilih ?'' tanya Mbak Marwa meyakinkan lagi karan selama dia masuk madrasah dan kini sampai menjadi kepala mdarasah baru kali ini ada santriwati baru yang mendaftarkan diri masuk ke kelas yang tak tanggung tanggung yaitau kelasa satu aliyah yang benar saja pikirnya.


Ana yang mengerti dengan keraguan dari Mbak Marwa pada dirinya langsung tersenyum lalu berkata. '' Kan kata Mbak Marwa akan ada test dahulu sebelum masuk '' ujar Ana.Marwa menganggukkan kepalanya dengan masih rasa terkejutnya.


'' Kapan testenya akan di mulai Mbak ?'' tanya Ana.


'' Terserah kamu,kalau kamu sudah siap beberapa Ustadzah akan mengetest kamu '' jawab Mbak Marwa.


'' Pelajaran apa saja yang akan di jadikan test ?'' tanya Ana.


'' Karna kamu santriwati pertama yang mndaftarkan diri masuk ke kelas satu aliyah jadi Mbak harus musyawaroh dulu dengan keluarga Kiyai '' jawab Mbak Marwa tersenyum karna dirinya benar benar melihat keseriusan di mata gadis yang duduk di depannya.


'' Baiklah Mbak '' Ana juga ikut tersenyum.


'' Ya sudah Ayo,Mbak ajak kamu keliling pesantren kebetulan sekarang lumyan sepi, karna santriwati semuanya pada masuk sekolah diniah '' ajak Mbak Marwa.


Ana mengangguk dan segera mengikuti langkah Mbak Marwa yang membawanya ke area pesantren santriwati.


Di mansion Farizi setelah selesai sholat duhur Faaz segera pergi ke pesantren karna Abangnya meminta dirinya untuk menggantikan mengajar di madrasah pesantren.


'' Umi Faaz berangkat dulu,Assalamualaikum '' pamitnya mencium punggung tangan Umi Hana.


Faaz berangkat ke pesantren dengan mengendarai mobil miliknya yang di belikan oleh sang Abang tepat di hari ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun.


Saat Faaz tiba di pesantren Faaz memakirkan mobilnya di halaman sang Paman, yang sama di lakukan oleh Ilzam biasanya.


'' Assalamualaikum '' ucapnya saat memasuki rumah sang Paman.


'' Waalaikumsalam '' balas Kiyai Abdullah dan Paman Danu yang masih betamu di rumah Kiyai Abdullah.


Kiyai Abdullah seketika berdiri dari duduknya saat tahu siapa yang datang. '' Faaz bagaimana kabar kamu nak ?'' tanya Kiyai Abdullah.


'' Alhamdulillah Paman Faaz sehat walafiat '' jawab Faaz lalu mencium punggung tangan Pamannya dan juga bersalaman dengan tamu sang Paman.


'' Ini keponakan saya namanya Faaz,dia baru pulang dari Kairo '' ujar Kiyai Abdullah memperkenalkan Faaz pada Pak Danu.


'' Wah,, pasti pintar sekali Gus Faaz ya '' timpal Pak Danu kagum.


'' Ah,, biasa saja kok Pak '' ungkap Faaz malu. '' Ya sudah Paman,Bapak saya permisi dulu ke madrasah '' lanjutnya berpamitan.

__ADS_1


'' Iya ya pergilah,nanti kemari Bibi sama kakak kakak kamu merindukanmu '' kata Kiyai Abdullah.


'' Iya Paman,nanti Faaz akan ke sini lagi ,mari Assalamualaikum ''


'' Waalaikumsalam '' balas Kiyai Abdullah dan Paman Danu.


Setelah Faaz pergi Kiyai Abdullah dan Paman Danu kembali melanjutkan berbincangnya.Bahkan Paman Danu tidak menyadari jika Faaz adalah putra bungsu bosnya di perusahaan.


Selama ini Pak Danu hanya bekerja dan bekerja tidak pernah memperdulikan urusan pribadi sang bos,Pak Danu juga belum tahu hubungan sang bos dan Kiyai Abdullah yang merupakan saudara ipar.Pak Danu hanya tahu jika Ilzam anak tertua sang bos,dan mengenai anak kedua Pak Danu hanya tahu saja tapi tidak tahu prihal nama dan rupanya.


Pak Danu dan Kiyai Abdullah menghentikan obrolan ringannya saat Ana dan Mbak Marwa sudah kembali.


'' Bagaimana nak ?'' tanya Kiyai Abdullah. '' Apa kamu mau masuk pesantren sekalian ?'' tanya Kiyai Abdullah lagi yang sudah tahu dari Pak Danu jika Ana hanya ingin masuk di madrasah saja.


'' Ana ingin masuk madrasah saja Kiyai '' jawab Ana sopan.


Kiyai Abdullah hanya manggut manggut. '' Nak Ana mau masuk ke kelas berapa ?'' tanya Kiyai Abdullah lagi.


'' Ana mau masuk ke kelas satu aliyah Kiyai ,tapi kata Mbak Marwa akan di test terlebih dahulu '' jawab Ana jujur yang mana membuat Mbak Marwa yang masih berada di situ tersenyum canggung.


Pak Danu sendiri tidak terkejut dengan keinginan sang keponakan yang memilih masuk ke kelas satu aliyah,karna dirinya sudah tahu jika keponakannya itu selalu mendapat nilai bagus saat sekolah di madrasah ketika di Jogja,dan memang sekarang seharusnya Ana juga sudah masuk ke kelas satu aliya.


'' Baiklah Abah akan mengetest Nak Ana sekarang dengan nadzom ALFIAH IBNU MALIK apa Nak Ana siap ?'' tanya Kiayi Abdullah.


Mbak Marwah dan Pak Danu sedikit terkejut ketika mendengar perkataan Kiyai Abdullah yang ingin langsung mengetest Ana sendiri.Keduanya juga menunggu jawaban dari Ana,apakah sanggup atau membutuhkan waktu dahulu pikir mereka.


Tapi keduanya juag termasuk Kiyai Abdullah sendiri di buat terkejut saat Ana mengatakan sanggup.


'' Insyaallah sanggup Kiyai '' jawab Ana.


'' Kamu yakin Nak ?'' tanya Kiyai Abdullah ragu.


'' Tidak tahu Kiyai,tapi bisa di coba dulu,jika saya tidak bisa saya akan belajar lagi '' jawab Ana yang memiliki perasaan peka di saat dirinya di ragukan oleh seseorang.


'' Baiklah '' Kiyai Abdullah menyerah.


Kiyai Abdullah mualai mengetest dengan menyuruh Ana membaca bait bait Nadzom Alfiyah di bab bab yang berbeda tidak berurutan.


Dan tak di sangka sangka Ana bisa menyelesaikan test dari Kiyai Abdullah dengan lancar tanpa ada kesalahan sedikitpun.Yang mana membuat Kiyai Abdullah kagum begitu juga Pak Danu dan Mbak Marwah yang juga ikut kagum.

__ADS_1


__ADS_2