
'' Humaira ''
Seketika ketiga wanita yang berada di ruang santai langsung menoleh ke arah sumber suara . Melihat suaminya yang berdiri tak jauh dari mereka Ana langsung beranjak mendekati Gus Ilzam.
'' Assalamualaikum Humaira '' ucap Gus Ilzam yang tatapannya hanya tertuju pada Ana seorang.
'' Waalaikumsalam kak '' balas Ana tersenyum lalu mencium punggung tangan suaminya , begitu juga dengan Gus Ilzam yang mengelus pucuk kepala istrinya.
Kedua pasangan pengantin itu tak menghiraukan keberadaan dua orang yang kini menatap mereka dengan berbeda beda , jika Neng Aisyah menatap dengan tersenyum maka berbeda lagi dengan Farah yang menatap penuh dengan kecemburuan.
Ekor mata Ana yang tak sengaja melihat pergerakan Farah yang berjalan ke arahnya , tiba tiba Ana reflek memeluk Gus Ilzam dengan erat , bahkan kepalanya ia tenggelamkan di dada bidang suaminya.
Plukkk
Gus Ilzam langsung terkejut ketika mendapat pelukan tiba tiba dari istrinya , tapi sedetik kemudian Gus Ilzam tersenyum lalu membalas pelukan istrinya ,padahal selama menikah Ana tak pernah mau memeluknya di depan orang meski keluarga sendiri , tapi berbeda lagi jika hanya berdua saja , maka Ana akan menunjukkan sifat manjanya.
Gus Ilzam membalas pelukan Ana tak kalah erat , bahkan Gus Ilzam juga mengelus pucuk kepala Ana , seakan menenangkan Ana entah karna apa.
'' Assalamualaikum Gus ''. ucap Farah yang sudah berdiri di belakang Ana , dan tak lupa dengan tatapan Farah yang terlihat jelas jika mengagumi sosok Gus Ilzam.
'' Waalaikumsalam '' . balas Gus Ilzam datar tanpa melepas pelukannya pada istri kecilnya ,bahkan Gus Ilzam hanya melirik Farah sekilas.
'' Emm... Kenalkan saya Farah ,saya keponakan Umi Jamila '' ucap Farah dengan suara di buat selembut dan seanggun mungkin.
'' Hem '' sahut Gus Ilzam dingin yang mana membuat Farah gugup seketika.
'' Kak Il '' rengek Ana mendongakkan kepalanya menatap Gus Ilzam.
'' Iya Humaira , ada apa hem?'' tanya Gua Ilzam yang menundukkan kepalanya agar bisa melihat wajah cantik istrinya karna tinggi Ana yang hanya sebahunya , bahkan suara Gus Ilzam langsung berubah lembut saat berbicara dengan Ana.
'' Pulang '' jawab Ana.
'' Emm.... ayok '' balas Gus Ilzam.
Ana langsung melepaskan pelukannya dan membalikkan badannya menatap dua orang yang berdiri di depannya.
'' Mbak Ais , Kak Farah , aku pulang dulu ya '' ucap Ana berpamitan.
'' Iya dek '' Neng Aisyah yang menjawab sedangkan Farah hanya diam saja lebih tepatnya Farah hanya fokus menatap Gus Ilzam , yang mana membuat Gus Ilzam risih.
''Ya sudah Assalamualaikum ''
'' Waalaikumsalam '' balas keduanya.
Gus Ilzam segera merangkul bahu Ana dan membawanya pergi meninggalkan ruang santai , sedangakan Neng Aisyah memperhatikan Farah yang terus menatap kepergian Gus Ilzam dan Ana dan lebih tepatnya hanya Gus Ilzam yang ia perhatikan.
'' Kak Farah '' panggil Neng Asiyah yang seketika membuat Farah menoleh pada adik sepupunya.
__ADS_1
'' Iya Syah ada apa ?'' tanya Farah.
'' Apa Kak Farah menyukai Dek Ilzam ?'' tanya Neng Aisyah yang tak suka bertele tele.
Farah yang di tanya seperti itu seketika gelagapan , Farah mengakui jika dirinya sudah jatuh cinta pada pandangan pertama pada Gus Ilzam lima tahun lalu ketika dirinya berkunjung ke sini untuk berpamitan akan meneruskan studynya di London , dan waktu itu kebetulan Gus Ilzam juga berada di rumah Umi Jamila , dan seketika itu Farah ingin membatalkan kepergiannya ke London dan ingin tinggal di pesantren , tapi itu semua tidak mungkin , jika sampai dirinya membatalkan kepergiannya pasti Ayahnya akan marah besar apa lagi uang yang sudah ia habiskan untuk pendaftaran di Universitas London tidaklah kecil.Apa lagi ketika Farah di beritahu oleh Umi Jamila jika Gus Ilzam bekerja sebagai wakil direktur di perusahaan Abinya yang bernama Farizi Corp , yang mana membuat Farah kembali semangat untuk menyelesaikan studnya di London lalu melamar pekerjaan di Farizi Corps agar bisa lebih dekat dengan Gus Ilzam pikirnya.
'' Apa salah jika aku mengaguminya ? bahkan pasti semua santriwati juga sama sepertiku '' jawab Farah.
Neng Asiyah menghela nafasnya mendengar jawaban dari kaka sepupunya itu , Neng Aisyah yakin jika kakak sepupunya itu bukan hanya mengagumi Gus Ilzam tapi lebih dari itu . '' Aku harap kak Farah memang benar benar hanya menggumi dek Ilzam saja , bukan mencintainya '' ujar Neng Aisyah menusuk.
*
*
*
*
Setiba di rumahnya Ana segera masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamarnya ,karna merasa tubuhnya sudah lengket semua , sekalian Ana juga ingin berendam untuk mendinginkan pikirannya.
'' Huft.... Sepertinya Kak Farah menyukai Kak Ilzam '' gumam Ana dengan kedua mata terpejam.
Lima menit kemudian karna merasa waktu berendamnya sudah cukup , Ana segera beranjak dari bak mandi lalu mengguyur tubuhnya di bawah sower , sebelum keluar dari kamar mandi Ana lebih dulu memakai baju daster dengan panjang lengannya hanya sampai batas siku sedangkan panjang kebawahnya hanya sampai betis , dan Gus Ilzam mengizinkannya memakai daster yang seperti itu jika habis mandi saja.
Kini Ana sedang berdiri menatap pantulan dirinya di cermin yang berada di dalam kamar mandi.
'' tapi tunggu,,,, kalau di ingat ingat selama kami menikah Kak Ilzam tidak pernah membahas anak , iya tidak pernah sama sekali , kenapa ya ?'' gumam Ana penasaran.
'' Ah,,, lebih baik aku tanya langsung saja sama kak Ilzam '' putusnya.
Sedangkan di sofa Gus Ilzam yang sedang menunggu Ana mandi memilih mengecek email pekerjaannya yang di kirim oleh Akmal.
Saat sedang serius mengotak atik laptopnya tiba tiba ponselnya berdering , Gus Ilzam segera melihat siapa yang menelfonnya dan ternyata Umi Hana.
'' Assalamualaikum Umi ''
'',,,,,,,''
'' Oh... Baik Umi , nanti Ilzam sampaikan pada Humaira ''
'',,,,,,,''
'' Walaikumsalam Umi ''
Tut
Ckelek
__ADS_1
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Gus Ilzam langsung menoleh dan muncullah istri cantiknya dengan wajah yang terlihat lebih fress , bahkan kini Ana juga tidak memakai kerudung membiarkan rambutnya yang ia sanggul sembarangan di lihat oleh suaminya lagian juga halal.
'' Sudah selesai mandinya ?'' tanya Gus Ilzam lembut sembari menjulurkan tangannya pada Ana , agar Ana mendekat ke arahnya.
'' Sudah , kak Il gak mandi ?'' tanya Ana balik yang sudah duduk di dekat Ilzam.
'' Nanti saja kalau mau sholat maghrib '' jawab Gus Ilzam. '' Oh ya sayang , nanti Umi Hana meminta kita untuk datang ke mansion Farizi , Umi ingin kita makan malam di sana '' tambah Gus Ilzam yang mengingat pesan Uminya bebrapa menit yang lalu.
Ana menganggukan kepalanya . '' baik Kak , Humaira juga kangen sama Umi '' timpal Ana .Gus Ilzam tersenyum lalu mengelus pucuk kepala istrinya kebiasaan yang sangat di sukai Gus Ilzam.
Ana yang melihat Gus Ilzam kembali fokus pada layar laptopnya , membuat Ana ragu dengan pertanyaan yang ingin ia tanyakan pada Gus Ilzam , karna Ana tahu jika Gus Ilzam sudah membuka laptopnya itu berarrti sedang mengerjakan perkerjaan kantornya . Tapi karna rasa penasaran yang sudah menumpuk di otaknya mau tak mau Ana mengatakannya pada Gus Ilzam.
'' Kak Il sibuk gak ?'' pertanyaan aneh sudah jelas jelas Gus Ilzam sedang fokus pada laptop masih di tanya.
'' Tidak '' jawab Gus Ilzam yang selalu meninggalkan pekerjaannya dan mengutamakan istrinya meski sibuk , bahkan jika benar benar sangat sibuk jika Ana bertanya '' sibuk tidak '' maka Gus Ilzam akan menjawab '' tidak terlalu '' , karna Gus Ilzam tidak ingin membuat Ana merasa kalau dirinya mengganggu pekerjaannya.
'' Em..... Humaira boleh tanya sesuatu gak sama kak Il ?'' tanya Ana.
Gus Ilzam langsung menutup laptopnya dan menaruhnya di atas meja.
'' Boleh , Humaira mau tanya apa ?''
'' Tapi Kak Il janji , kak Il harus jawab dengan jujur '' tukas Ana dengan mode manjanya yang mana membuat Gus Ilzam tersenyum gemas.
'' Inshaallah , kalau kakak bisa jawab , kakak akan jawab dengan jujur '' timpal Gus Ilzam mengelus suari hitam istrinya.
'' Em... Kak Il pingin punya anak gak ?'' tanya Ana yang mana membuat Gus Ilzam mengrinyit.
'' Maksudnya ?'' tanya Ilzam tidak paham.
''Em.. Kan gini , Humaira ingat ingat selama kita menikah Kak Il gak pernah bahas anak sama Humaira , jadi Humaira tanya Kak Il pingin punya anak apa tidak '' ucap Ana menjelaskan yang seketika membuat Gus Ilzam tersenyum.
Gus Ilzam lalu meraih tangan Ana dan ia genggam dengan sangat erat.
'' Sayang , kalau Kakak di tanya ,ingin apa tidak punya anak maka jawaban Kakak pasti ingin , apa lagi anak dari Humaira , tapi Kaka tidak ingin membebani fikiran Humaira dengan pembahasan masalah Anak ,Kakak hanya ingin Humaira fokus pada pelajaran madrasah dulu , tidak usah memikirkan kapan Humaira hamil , tapi jika suatu saat nanti Allah menakdirkan Humaira hamil ketika masih sekolah , maka kita harus menerimanya dan menjaganya , Humaira paham kan maksud Kakak '' terang Gus Ilzam dan Ana mengangguk lalu memeluk Gus Ilzam.
'' Terimakasih kak , Humaira bahagia sekali bisa memiliki suami seperti kak Ilzam '' ujar Ana yang merasa beruntung bisa mendapatkan suami seperti Gus Ilzam.
'' Sama sama sayang , Kaka juga bahagia memiliki istri kecil seperti Humaira '' balas Gus Ilzam tak kalah bahagia.
'' Tapi , kenapa Humaira tiba tiba bahas masalah anak hem ?'' tanya Gus Ilzam penasaran ketika Ana sudah melepaskan pelukannya.
'' Tadi kak Farah bilang sama Humaira , jika kebahagiaan suami adalah memiliki anak dari istrinya '' jawab Ana jujur , yang memang selalu terus terang pada Gus Ilzam.
Gus Ilzam mengangguk anggukkan kepalanya , pantas saja tadi strinya terlihat aneh karna tiba tiba memeluk dirinya di depan orang pikirnya.Tapi Gus Ilzam sendiri juga sedikit tidak menyukai dengan sikap Farah yang di buat buat anggun di depannya.Karna Gus Ilzam bisa merasakan siapa yang bertingkah pura pura dan tulus di depannya.
'' Kakak hanya akan bahagia jika melihat Humaira bahagia '' ujar Gus Ilzam yang membuat senyum Ana mengembang.
__ADS_1