
Pagi harinya Ana langsung di rujuk di rumah sakit besar milik keluarga Farizi,karna demamnya semakin tinggi dan Ana juga terus memuntahkan makanan yang masuk ke dalam perutnya yang mana membuat kondisi tubuh Ana semakin melemah.
Setiba di rumah sakit Ana langsung di bawa ke kamar rawat yang lumayan luas untuk di pasangkan infus di punggung tangannya.
'' Bagaimana Ndre ?'' tanya Paman Danu pada dokter Anadre yang menangani Ana.
'' Apa kemarn Ana kehujanan ?'' dokter Andre balik bertanya.
'' Iya dok,kemaren saat pulang dari madrasah Ana kehujanan '' Bibi Fida yang menjawab.
'' Sepertinya tubuh Ana rentan dengan air hujan yang menyebabkan demam tinggi '' ujar dokter Andre. '' tapi kalian berdua tenang saja,setelah Ana mengahbiskan satu kantong cairan infusnya inshaallah Ana akan mendingan '' sambung dokter Andre yang membuat Paman Danu dan Bibi Fida bernafas lega.
'' Ya sudah aku pamit dulu,ada pasien yang harus aku tangani '' pamit Dokter Andre.
Paman Danu mengangguk. '' Terimakasih Ndre '' ujar Paman Danu. '' Sama sama,itu sudah tanggung jawabku '' balas Dokter Andre.
Setelah kepergian dokter Andre ,Paman Danu dan Bibi Fida masuk ke dalam kamar rawat Ana.Bibi Fida duduk di kursi yang berada di dekat ranjang pasien.Sedangkan Paman Danu berdiri di dekat sang istri sembari memegang bahu sang istri.
'' Sayang cepat sembuh ya '' ujar Bibi Fida sedih sembari memegang tangan Ana dengan penuh kasih sayang.
🍁🍁🍁
Siang hari saat menyelesaikan rapat Gus Ilzam berjalan kembali ke ruangannya dengan perasaan resah.
'' Kenapa ?'' tanya Akmal yang menyadari gerak gerik aneh sang bos sejak rapat berlangsung tadi.
'' Entahlah tiba tiba perasaanku gak enak '' jawab Gus Ilzam.
Akmal diam tak kembali bersuara dirinya juga tidak tahu mau bertanya apa setelah mendengar jawaban dari Gus Ilzam.
Jam dua siang Gus Ilzam sudah siap untuk berangkat ke madrasah,sedangakan Akmal masih berada di perusahaan menggantikan pekerjaan sang bos yang selalu ia lakukan selama ini.
Gus Ilzam yang sudah masuk di dalam kelas santriwati sedikit heran saat melihat bangku yang di tempati oleh calon istirinya kosong.
Gus Ilzam sengaja tak langsung mengabsen nama nama santriwati setelah mengucapkan salam tadi hanya untuk menunggu kedatangan Ana,karna Gus Ilzam berfikir jika Ana datang terlambat.
Dan setelah menunggu hingga sepuluh menit yang datang bukanlah Ana melainkan kepala madrasah Mbak Marwah.Gus Ilzam sempat merasa kecewa karna orang yang di tunggunya belum juga datang.
Sedangkan Mbak Marwah yang datang dengan tujuan mengantarkan surat izin santriwati yang tidak bisa masuk sekolah sedikit takut untuk memberikannya pada Gus Ilzam.
__ADS_1
'' Ada apa ?'' tanya Gus Ilzam datar tanap menatap pada Mbak Marwah.
'' Sa,,,, saya mengantarkan surat izin santriwati Gus '' jawab Mbak Marwah gugup sangking takutnya.
'' Taruh di sini '' tukas Gus Ilzam.
Mbak Marwah segera menaruh selembar surat izin milik santriwati itu di atas meja Gus Ilzam,lalu Mbak Marwa segera keluar dan tak lupa mengucap salam.
Setelah Mbak Marwah keluar Gus Ilzam segera mengabsen nama nama santriwati tanpa melihat surat izin yang di antarkan oleh Mbak Marwah tadi.
Tiba tiba Gus Ilzam tersentak saat mengabsen semua nama nama santriwati yang ternyata hadir , hanya nama di urutan paling akhir yang tidak menjawab yang berarti surat izin itu adalah pemilik nama di absen paling belakang yang tak lain adalah Ana Humaira.
Gus Ilzam segera melihat selembar surat izin itu dan seketika hatinya di rundung rasa gelisah dan hawatir karna di surat izin itu tertulis jika Ana Humaira izin tak masuk madrasah di karnakan sakit.
Gus Ilzam memulai pelajarannya dengan sedikit gelisah,tetapi dirinya juga tidak mungkin langsung meninggalkan kelas begitu saja,dan akhirnya Gus Ilzam memutuskan akan mengajar di jam pertama saja dan setelah itu dirinya akan pergi menjenguk calon istrinya.
Waktu mengajar Gus Ilzam sudah berlangsung selam satu jam dan selama itu Gus Ilzam terus memikirkan calon istrinya.dan saat jam istirahat kedua berbunyi Gus Ilzam bergegas keluar dari kelas bahkan sampai lupa mengucapkan salam yang mana membuat santriwati heran termasuk Neng Aisyah.
Karna Neng Asiyah juga penasaran kenapa Ana tidak masuk madrasah Neng Aisyah segera melihat surat izinnya.
" ternyata ini yang membuat Dek Ilzam tak tenang selam mengajar tadi " batin Neng Aisyah tersenyum.dan seketika senyum Neng Aisyah menghilang karna juga hawatir dengan keadaan Ana.
Gus Ilzam semakin di buat hawatir ketika Umi Hana mengatakan jika Ana di rawat di rumah sakit besar milik keluarganya.
'' Ya Allah,,, dia sakit apa ? kenapa samapi di bawa ke rumah sakit '' guamam Gus Ilzam hawatir.
Gus Ilzam segera tancap gas menuju ruma sakit bahkan masih memakai baju koko dan sarung beserta peci hitamnya.Gus Ilzam mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi karna ingin segera melihat keadaan calon istrinya.
Dan secara kebetulan Gus Ilzam dan Umu Hana tiba di rumah sakit secara bersamaan,Umi Hana datang dengan di antarkan oleh Gus Faaz yang kebetulan ada di mansion.
Setelah turun dari mobil Gus Ilzam bergegas mengahmpiri Umi Hana dan Gus Faaz yang baru keluar dari dalam mobil.
'' Assalamualaikum Umi,Az '' ucap Gus Ilzam sembari mencium punggung tangan Umi Hana,lalu berpindah bersalaman dengan Faaz.
'' Waalaikumsalam '' balas Umi Hana dan Gus Faaz bersamaan.
'' Ayo kita masuk ke dalam '' ajak Umi Hana dan di angguki oleh kedua putra tampannya.
Kedatangan Umi Hana istri pemilik rumah sakit saat ini dengan kedua putranya membuat para dokter dan staf rumah sakit kalang kabut,karna tak seperti biasanya yang akan memberi kabar dahulu jika datang ke rumah sakit.
__ADS_1
Dokter Andre yang sebagai pemimpin rumah sakit berlari tergopoh gopoh ketika mengetahui kedatangan istri pemilik rumah sakit.
'' Selamat datang Bu Hana, Tuan Ilzam dan Tuan Faaz '' ucap Dokter Andre sedikit ngosngosan.
'' Assalamualaikum dokter Andre '' ucap Umi Hana tersenyum.
'' Eh..Waalaikumsalam '' balas dokter Andre malu,karna sangking gugupnya mendengar kedatangan sang pemilik rumah sakit hingga membuat dokter Andre lupa mengucap salam.
'' Dimana ruangan Ana ?'' tanya Gus Ilzam datar tapi Umi Hana dan Gus Faaz bisa melihat raut hawatir di wajah Gus Ilzam.
'' Ana siapa Tuan ?'' tanya Dokter Andre yang masih merasa gugup apa lagi yang bertanya adalah Gus Ilzam orang yang dokter Andre takuti setelah Abi Umar karna sikapnya yang dingin dan tegas.
'' Ana Humaira '' jawab Gus Ilzam.
'' Eh,, Ana keponakannya Pak Danu '' uajar dokter Andre menebak.
'' Iya,dimana ruangannya ?'' tanya Gus Ilzam lagi bahkan nadanya terlihat tak bersahabat.
'' Di,,, di kamar mawar nomer 13 Tuan '' jawab dokter Andre.
Gus Ilzam segera bergegas menuju ruangan yang di tunjukan oleh dokter Andre dengan Umi Hana yang mengikutinya dengan terkekeh,sedangkan Gus Faaz masih berdiri di tempatnya dengan dokter Andre di sampingnya.
'' Apakah anda Dokter yang memeriksa Ana Humaira ?'' tanya Gus Faaz.
'' Iya Tuan '' jawab dokter Andre dengan persaan tak segugup saat berbicara dengan Gus Ilzam.
'' Dokter juga kenal dengan paman Danu ?'' tanya Gus Faaz lagi.
'' Iya Tuan Pak Danu sahabat saya saat kuliah ''jawab dokter Andre,Gus Faaz mengangguk anggukkan kepalanya.
'' Apa Dokter juga tahu kalau Ana adalah tunangan Bang Ilzam ?'' tanya Gus Faaz yang berhasil membuat dokter Andre terkejut.
'' A,,,apa,,!! apa saya gak salah dengar Taun,tapi Pak Danu tidak bicara apa apa sama saya '' ujar dokter Andre.
'' Saya juga gak tahu,ya sudah saya mau nyusul Abang dan Umi saya, Assalamualaikum '' pamit Gus Faaz.
'' Waalaikumsalam '' balas dokter Andre tersenyum.
Setelah kepergian Gus Faaz Dokter Andre masih berdiri di tempatnya,karna masih terkejut dengan perktaan Gus Faaz yang mengatakan jika Ana adalah calon istri Tuan Ilzam.
__ADS_1
'' Pantas saja Tuan Ilzam terlihat hawatir,ternyata Ana tuangannya Tuan Ilzam. '' gumam Dokter Andre lalu kembali ke ruangannya.